
Tiara berlari ke arah Dewa dan langsung memeluknya, "Bang, aku kangeeen banget sama bang Dewa, abang kangen juga gak sama aku..?" tanya Tiara sambil memeluk Dewa.
Semua yang ada di dalam sasana langsung mengalihkan pandangannya kepada Naia. Terlihat muka Naia merah menahan rasa cemburunya saat seorang perempuan muda yang tidak dikenalnya sedang memeluk Dewa. Naia langsung berteriak, "Mas Dewa...!!", saat hendak berjalan ke arah Dewa, Kosim menghentikan Naia, " Berhenti..! Sekarang masih waktunya pelatihan. Apakah aku sudah mengijinkanmu..?" ucap Kosim sambil menghadang Naia.
"Dia pasti calon kakak iparku.. Eh ternyata dia sangat cantik, memang cocok sama bang Dewa. Baik, aku akan menggodanya sebentar.. Hihihihi.." gumam Tiara dalam hati dan menjadi semakin manja kepada Dewa. Melihat emosi Naia yang semakin menjadi, Dewa menjadi salah tingkah, dia berusaha melepaskan pelukan Tiara, tapi Tiara semakin kencang memeluk Dewa.
Sesuatu hal terjadi yang membuat terkejut semua yang ada di dalam sasana. Naia yang sedang di puncak emosinya, langsung mendorong Kosim hingga terjatuh beberapa meter kebelakang. Naia tidak memperdulikan Kosim dan tetap
berjalan ke arah Dewa, "Hai perempuan penganggu..!! Lepaskan mas Dewaku..!!" bentak Naia.
"Mas Dewamu..? Atas dasar apa kamu menjadikan bang Dewa milikmu..? Kamu juga belum lama kenal sama dia, sedangkan aku hampir setiap hari mengurus segala kebutuhan bang Dewa. Ya bisa dibilang udah seperti istrinya.." ucap Tiara.
"Tiara..! Jaga ucapanmu. Bukankah kamu sudah berjanji tidak akan membuat masalah saat bertemu dengan bos..?" hardik Yuma.
Naia semakin menjadi emosi, air mata yang sudah menetes mendadak berhenti keluar, "K-kau..! Kalau seperti itu hanya ada satu jalan, aku menantangmu dalam pertarungan. Jika aku menang, jangan pernah dekati lagi mas Dewa.." ucap Naia serius.
"Sudah cukup Tiara..! Dia adalah calon istriku, jangan menggodanya lagi..! Naia sudah hentikan, tidak perlu sampai seperti ini, apa kamu lupa apa yang pernah aku katakan..? Tidak perlu sampai menantangnya, kamu juga baru saja berlatih. Kamu bukan lawan Tiara.." ucap Dewa berusaha menenangkan.
Tiara sama sekali tidak memperdulikan omongan Dewa, "Oh... Kalau aku yang menang bagaimana..?" tanya Tiara.
"Aku akan meninggalkan dia dan kamu bebas melakukan apapun dengan mas Dewa.." ucap Naia menjawab Tiara. Kemudian dengan tersenyum, Naia berkata kepada Dewa, "Tenang saja mas, tanpa seijinku tidak ada satupun yang bisa memilikimu. Aku akan buktikan aku pantas memilikimu.." ucap Naia dengan tatapan serius.
Dewa terkejut dengan ucapan Naia, tapi yang lebih membuat Dewa terkejut adalah dia melihat aura berwarna ungu keemasan keluar dari dalam tubuh Naia. Sedangkan Roni, Kosim, Yuma, Loreng dan Icong, walaupun mereka tidak bisa melihat aura itu, karena berlatih tenaga dalam, mereka merasakan tertekan hingga terada sesak di dada mereka.
Naia dan Tiara melakukan persiapan, kemudian mereka saling berhadapan. Suasana di dalam sasana menjadi tegang, hanya Silvia dan Nuraini yang terlihat tenang. Yuma mendekat kepada Dewa dan berbisik, "Bos hanya kamu yang bisa menghentikan mereka. Nyonya bos bukanlah lawan Tomboy, aku khawatir terjadi sesuatu sama nyonya bos.."
"Biarkan dulu, aku akan menghentikan mereka berdua kalau situasi tidak memungkinkan bagi istriku.." jawab Dewa berusaha tenang.
Tanpa menunggu aba-aba, Tiara maju dengan sangat cepat menyerang Naia dengan tinjunnya sambil mengucapkapkan beberapa kata, "Buktikan bahwa kamu pantas memiliki bang Dewa..."
Semua terkejut dengan kecepatan serangan Tiara, "Ternyata Tomboy serius ingin bertarung dengan nyonya bos, kalau seperti ini nyonya bos akan......" gumam Yuma dalam hati.
Naia tersenyum melihat serangan Tiara, kemudian....
Claaaaaaapppp...
Semua terkejut melihat serangan Tiara dapat ditangkap Naia, bahkan Naia tidak bergerak sedikitpun dari posisinya. Naia tersenyum kemudian mendorong Tiara hingga dia terjatuh,
Bruuuuuugggg...
__ADS_1
"Lakukan yang lebih kuat lagi.." ucap Naia dingin.
Tiara mulai terpancing emosinya. Dia kembali menyerang Naia dengan sekuat tenaga dengan tendangannya. Kecepatan serangannya pun menjadi lebih cepat. Dan lagi-lagi Naia dengan mudah menangkap kaki Tiara dan kembali mendorong Tiara hingga jatuh ke belakang.
Ctaaaaappp.... Bruuggggg..
"Sekarang giliranku menyerang.." ucap Naia kemudian bergerak sangat cepat ke arah Tiara dan menampar pipi kanan Tiara.
Plaaaakkkkkk..
Tiara terlempar beberapa meter dan terjatuh..
Brugggg..
Tidak berhenti sampai disitu, Naia langsung mengarahkan tendangannya ke arah Tiata. Melihat kondisinya, Tiara segera bersimpuh dan meminta maaf kepada Naia, "Maafkan aku kak, aku mengaku kalah.." ucap Tiara.
Tapi, Naia sama sekali tidak memperdulikan ucapan Tiara. Dia tetap menyerang Tiara.
"Kalau seperti ini, Tiara bisa cidera parah.." gumam Dewa dalam hati, kemudian dengan langkah Kalimasada dia bergerak menghalangi tendangan Naia, "Cukup Naia, dia sudah menyerah.." teriak Dewa.
Dewa menghalangi tendangan Naia, meskipun dia berhasil menangkisnya, tapi Dewa tetap terpental beberapa meter kebelakang hingga menabrak tembok sasana.
Jtaaaaaakkk.. Braaaakkk..
Dewa berusaha bangkit, dia merasa tangannya mati rasa karena tendangan Naia, "Tendangannya sangat kuat, kalau saja bukan karena energi spiritual, mungkin tanganku sudah retak.. Mereka berdua memang diciptakan berpasangan, Entah apa yang dibisikkan Silvia, aura ungu keemasan itu masuk kembali ke dalam tubuh Naia.." gumam Dewa dalam hati, kemudian menghampiri Naia. Selain itu tekanan yang dirasakan Yuma, Roni, Kosim, Loreng dan Icong sebelumnya juga menghilang.
Mereka yang ada di dalam sasana hanya bisa melongo tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka lihat.
"Ny-nyonya bos luar biasa, bahkan bos saja tidak bisa menahan satu tendangannya.. Padalah aku selalu saja membentaknya saat berlatih, apakah aku masih pantas melatihnya..?" gumam Kosim dalam hati.
"Tiara sangat beruntung hanya mendapat tamparan, kalau saja tendangan itu mengenainya, mungkin dia akan cidera parah.." gumam Yuma dalam hati.
"Maafkan aku mas, aku tidak sengaja menendang mas Dewa.." ucap Naia pelan.
"Sudahlah, aku tidak apa-apa. Hanya saja tendanganmu tadi sangat cepat dan keras.." ucap Dewa sambil membelai Naia.
"Aku mengaku kalah, aku minta maaf karena telah membuatmu semarah ini. Sebenarnya aku hanya ingin mengodamu saja, apa yang aku ucapkan tidak sungguh-sungguh. Bagaimanapun, bang Dewa sudah seperti abangku sendiri.." ucap Tiara kemudian memeluk Naia.
"Tidak perlu meminta maaf, aku sangat berterimakasih karena ucapanmu tadi menyadarkanku bahwa memiliki mas Dewa tidak cukup hanya dengan mencintainya saja, tapi aku juga harus bisa mempertahankannya. Maaf kalau tamparanku menyakitimu.." ucap Naia kemudian memegang pipi Tiara yang terkena tamparannya.
__ADS_1
"Terimakasih kak.... Eeeee....."
"Namaku Naia.." sahut Naia sambil tersenyum.
"Eh... Terimakasih kak Naia.. Maaf bang, karena melindungiku abang harus terkena tendangan kak Naia.." ucap Tiara.
"Iya, tidak apa-apa. Makanya lain kali kalau berbuat sesuatu pikirkan dulu akibatnya. Kalau terjadi sesuatu dengan dirimu, bagaimana aku bertanggung jawab kepada abangmu di surga nanti..?" ucap Dewa.
Naia bingung mendengar perkataan Dewa, "Maksudnya gimana mas..?"
"Nanti saja aku akan ceritakan. Ada hal yang lebih penting untuk dilakukan sekarang adalah membicarakan masalah bagaimana perusahaan akan kita jalankan nanti.." ucap Dewa.
Kemudian Dewa berjalan menuju ruangan kantor diikuti oleh Yuma dan yang lainnya. Naia, Silvia dan Nuraini pun segera menyusul setelah kepergian Oki, Risa dan Ivan. Dewa memulai pembicaraannya, "Semua telah berkumpul, mari kita mulai rapat ini.." ucap Dewa kemudian dia menjelaskan tujuannya.
Dewa membuka dengan membuka identitas dirinya kepada Loreng, Kosim dan Icong, kemudian memperkenalkan anggota regu III lainnya kepada mereka bertiga, "Jadi itulah latar belakang kami. Bang Kosim, Loreng dan Icong, aku minta maaf karena selama ini telah menyembunyikan hal ini kepada kalian, hanya Roni yang kebetulan mengetahui saat dia membantuku di kota AE waktu itu.." ucap Dewa.
Loreng, Kosim dan Icong hanya terdiam mendengar penjelasan Dewa. Walaupun terkejut, mereka bertiga berusaha menutupi keterkejutannya, "Tidak masalah bos, kami bisa mengerti alasan bos menutupinya dari kami.. Dan justru menjadi kehormatan bagi kami bisa membantu bos selama ini.." ucap Loreng dan dianggukkan oleh Kosim dan Icong.
Kemudian Dewa menjelaskan konsep usaha yang akan mereka jalankan kedepannya juga membagi apa tugas mereka masing-masing nantinya, "Jadi untuk kelancaran usaha kita aku sudah membagi tugas untuk kalian. Yudha dibantu oleh Faruq dan Luki, kalian akan memegang kendali pusat pendidikan dan pelatihan tenaga keamanan dan pengawalan. Sedangkan Loreng dibantu dengan bang Kosim akan bertanggung jawab pada kemitraan pertanian. Icong bertanggung jawab untuk keamanan. Kalian yang sudah aku sebutkan tadi akan bertanggung jawab kepada Roni selaku manager operasional.." ucap Dewa.
"M-manager bos..? T-tapi aku sama sekali belum memahami tentang hal yang bos sebutkan tadi.." ucap Roni.
"Sudahlah pria kecil, kamu terima saja. Hal itu bisa kita pelajari bersama-sama nanti. Aku yakin bos sudah mempersiapkan semuanya.." sahut Yuma.
"Benar apa yang Yudha bilang, aku sedang menyusun buku panduan operasional untuk kalian, nanti bisa kita pelajari bersama-sama.." sahut Dewa.
"lalu apa tugasku bos..?" tanya Sandhi.
"Sandhi dibantu oleh Tiara, dengan keahlian kalian, aku memberi tanggung jawab masalah IT perusahaan. Kalian akan bertanggung jawab kepada Naia selaku GM. Dan keuangan aku serahkan kepada Silvia karena hanya dia yang ahli dalam akuntansi.. Dan aku menunjuk Nuraini sebagai konsultan teknik sekaligus menyerahkan proyek pembangunan pusat pendidikan dan pelatihan kepada Nuraini.." ucap Dewa.
"Untuk proyek sebesar itu, Nur masih belum mampu kak.." ucap Nuraini.
"Bukankah kamu komisaris Wiryawan Grup..? Ya kamu bisa menggunakan anak perusahaan Wiryawan Grup untuk mengerjakan proyek ini. Kita buat nanti perjanjiannya saat legalitas perusahaan ini jadi.." ucap Dewa.
"Baik, aku akan konsultasikan dulu sama ayah dan om Wira tentang bagaimana teknis dan mekanismenya.." ucap Nuraini.
Dewa menjelaskan dengan detail apapun yang mereka tanyakan. Setelah tidak ada lagi pertanyaan, Dewa mengakhiri rapat hari itu, "Kalau sudah jelas semua, rapat hari ini aku akhiri. Dalam beberapa hari aku akan menyelesaikan buku panduan operasional untuk kalian pelajari selanjutnya.."
*****
__ADS_1
Sementara itu jauh di sebuah goa di lereng gunung klotok, seseorang tertawa kegirangan, "Hahahahaha... Akhirnya Dewi Kilisuci telah bangkit. Aku akan menyelesaikan semediku sebentar lagi agar macanku sepenuhnya tertutup sehingga aku bisa serupa dengan manusia.."
Sedangkan di tempat lain, tepatnya di Padeokan Tunjung Seto, seorang wanita tua yang pernah menemui Dewa di rest area juga bergumam, "Ternyata sudah waktunya. Aku merasakan Dewi Kilisuci telah bangkit. Penguasa kegelapan pasti akan mengerahkan anak buahnya untuk mendapatkan tubuh fisik Dewi Kilisuci, aku harus melindunginya untuk sementara waktu.. Aku harus bertemu dengan Sastro, bagaimanapun Sang Adhimurti adalah muridnya.."