
Mereka menikmati sarapan dengan mengobrol. tak jarang Naia menghora Silvia dan seperti biasa Silvia selalu berhasil membalas Naia hingga beberapa kali Naia harus merengek kepada Dewa. Hingga pada suatu kesempatan, Nuraini berbisik kepada Dewa, "Kak, kalau melihat mereka seperti itu, menurut kakak bagaimana..?" bisik Nuraini.
"Justru inilah yang membuat kakak tidak mau mengambil pilihan itu. Kakak takut keadaannya tidak akan seperti ini nantinya, justru akan malah menyakiti Naia.." jawab Dewa sambil berbisik.
"Semua keputusan ada di tangan kakak, tapi sepertinya Nur mulai ngerti maksud dari mbah Sastro.." bisik Nuraini.
"Emang maksud mbah Sastro gimana Nur..? tanya Dewa penasaran. Belum sempat Nuraini menjawab, Naia dan Silvia menghentikan bercandanya lalu melihat Dewa dan Nuraini yang sedang berbisik, "Eh..kalian saling berbisik apa..?" tanya Naia dan Silvia hampir bersamaan.
"Bukan apa-apa, cuma bahas masalah renovasi mbah Binti aja.." jawab Dewa lalu menghabiskan makanannya.
Setelah makan, mereka pun bersiap. Naia, Silvia dan Nuraini kembali ke basecamp untuk bersiap melakukan kegiatan KKN mereka, sedangkan Dewa menuju sasana untuk bertemu dengan Roni dan yang lainnya.
*****
Tak butuh waktu lama untuk mereka sampai ke basecam, terlihat Rendi yang sedang merokok di teras. Mereka bertiga sama sekali tidak menghiraukan Rendi, sehingga Rendi pun mengejar Silvia, "Silvia, tunggu sebentar. Aku pengen ngomong.." teriak Rendi, tapi Silvia sama sekali tidak meresponnya. Rendi kembali berteriak "Silvia, aku pengen ngomong sama kamu..!!"
Mereka menghentikan langkahnya, Silvia berbalik menatap Rendi, "Hei.. Punya hak apa kamu bentak aku..? Aku sudah bilang, tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Semuanya sudah cukup jelas bukan..?" jawab Silvia tenang.
"Ini pasti kamu cerita yang enggak-enggak sama Silvia. Benar kan..? Kamu salah paham, aku hanya diajak saja sama Wawan.." ucapnya sambil menunjuk Naia.
"Lho apa hubungannya denganku..? Masalahmu sama Silvia emang ada kaitannya sama aku..? Kamu mau pergi sama siapapun itu juga bukan urusanku. Terus kamu mau nyalahin aku gitu..?" jawab Naia protes.
"Udah lah Ren, semua udah jelas, jangan salahkan orang lain. Masalah ini gak ada hubungannya sama sekali dengan Naia. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri apa yang kamu lakukan waktu di kamar kos mu, dan hal itu yang membuat aku tidak lagi mau menerimamu. Aku sudah memberimu kesempatan untuk menjadi teman, jangan minta lebih..!!" jawab Silvia tegas.
Mendengar ribut-ribut di dalam basecamp, Dewa turun dari mobil dan melihat ke dalam.
"Oke.. Kalau begitu baiklah, tapi aku tidak akan menyerah Vi, tunggu saja apa yang akan aku lakukan.." ancam Rendi.
"Woi.. Kalau berani jangan sama cewek. Carilah yang sepadan. Sana pakai BH sama rok dulu kalau mau melawan cewek..!!" bentak Dewa.
Rendi terkejut mendengar suara Dewa, dengan suara pelan dia menjawab, "Maaf bang, ini urusanku sama Silvia. Abang gak ada hubungannya dengan masalah ini, jadi mohon jangan ikut campur.." jawab Rendi merendah.
Dewa berjalan ke arah Naia dan Silvia, "Oh.. Jadi menurutmu aku tak ada hubungannya..? Asal kamu tau, mereka ini orang yang harus aku lindungi. Kau menyakiti mereka, berarti kamu sudah berurusan denganku.. Paham..?!" ucap Dewa dengan tatapan mata tajam.
"Udah lah Ren, lebih baik simpan saja penjelasanmu. Aku sama sekali gak butuh, dan apapun yang akan kamu lakukan aku sama sekali tidak perduli..!!" jawab Silvia tegas. Mendengar ucapan Silvia, Rendi pergi dengan perasaan emosi dan dongkol meninggalkan mereka.
*****
Masalah dengan Rendi sementara sudah teratasi, Dewa segera pergi ke sasana setelah sebelumnya mengantar Nuraini ke lokasi proyek Renovasi rumah mbah Binti. Suasana sasana tampak sepi, hanya terlihat Roni yang sedang merokok di dalam ruang kantor, "Tumben sepi Ron..? Mana yang lainnya..?" tanya Dewa kepada Roni.
"Bang Yuma, Kosim dan Icong pergi ke warung beli makan bos.." jawab Roni.
__ADS_1
"Oiya Ron, aku semalam udah transfer ke rekeningmu. Itu nanti kasihkan ke Kosim sama Icong masing-masing 10%, sisanya buat kebutuhan opersional sasana dan kebutuhanmu.." ucap Dewa.
"Wah, terimakasih bos.." jawab Roni.
Tidak lama kemudian Yuma kembali bersama Kosim dan Icong. Roni segera memberikan kabar gembira buat Kosim dan Icong, "Bang Kosim, Icong ada bonus dari bos nih.. Bentar aku kirim ke rekening kalian.." ucap Roni disusul dengan ucapan terimakasih Kosim dan Icong kepada Dewa.
"Aku gak ada bonus bos..?" tanya Yuma.
"Ada, tenang aja. Sebentar kemari dulu, ada yang ingin aku bicarakan.." ucap Dewa sambil mengajak Yuma keluar dari ruangan kantor, Yuma mengikuti Dewa di depan ruang kantor sasana, "Gimana bos, ada tugas buat aku..?" tanya Yuma.
"Aku udah transfer 150 juta ke rekeningmu. Aku ingin kamu pergi ke kota AB, tugasmu pertama adalah temukan Faruq dan yang kedua buat sasana seperti ini disana dan yang ketiga kelola preman-preman disana, buat mereka mengikutimu dan Faruq. Intinya lakukan seperti yang aku lakukan pada Roni dan Loreng. Aku hanya memberimu waktu satu bulan untuk semuanya siap. Bagaimana, kamu bisa..?" tanya Dewa dengan berbisik.
"Siap kapten.. Lalu kapan aku harus berangkat..?" tanya Yuma.
"Semakin cepat semakin baik.. Setelah KKN Naia dan teman-temannya selesai, aku akan menyusulmu kesana.." jawab Dewa.
"Siap kapten. Kalau begitu sore ini aku akan berangkat.." jawab Yuma tegas.
"Lebih baik kamu naik kereta api saja, sebentar aku akan menyuruh Roni untuk memesan tiketnya dan meminta seseorang untuk menjemputmu nanti sore.." ucap Dewa diikuti anggukan kepala Yuma.
Kemudian Dewa meminta Roni memesan tiket kereta api untuk Yuma dan menghubungi pak Yan untuk menjemput Yuma jam tiga sore di sasana, "Aku harus menyiapkan segala sesuatunya sebelum Naia, Silvia dan adikku kembali ke kota AB. Ini semua aku lakukan untuk melindungi mereka.." gumam Dewa dalam hati.
"Sekilas aku melihat mata orang itu tiba-tiba merah bos, wajahnya menjadi mengerikan. Itu yang membuatku kaget lalu tiba-tiba aku seperti dilempar. Tapi saat melawan bang Santoso, aku melihat ada seperti asap hitam yang menahan serangan bang Santoso. Lalu aku melihat asap hitam di telapak tangan orang itu saat memukul bang San, asap hitam itu masuk ke dalam dada bang San, lalu bang San terpental dan muntah darah.. Emangnya kenapa bos..?" tanya Kosim mengakhiri ceritanya.
Dewa menarik nafas panjang sebelum memulai ceritanya, "Dia mempelajari ajaran sesat, dia bersekutu dengan iblis. Pantas saja kalian tidak bisa mengalahkan dia.. Tapi sudahlah, semua sudah berakhir.. Oiya bang, mulai nanti sore ajari Naia dan teman-temannya teknik dasar serangan dan pertahanan Mua Thai.." ucap Dewa disambut anggukan kepala Kosim.
"Tapi ada yang aneh bos dari kejadian kemaren. Aku dikirimi foto sama bang San, ini bos. Di ruang nyonya bos kemaren ada orang tua gila yang tangan dan kakinya patah.." ucap Yuma menunjukkan foto di hp nya.
Setelah mendapat informasi dari Yuma, Dewa segera mengecek hpnya, ada beberapa pesan yang belum dia buka, pesan dari Santoso. Santoso mengirimi foto yang sama seperti yang dikirimkan ke Yuma.
[Santoso] |Polisi menemukan orang ini dalam kondisi tidak waras bos. Di sakunya juga ditemukan beberapa paket sabu-sabu.. Sedangkan dua orang yang bersamanya itu tidak diketahui keberadaannya sama sekali..|
[Dewa] |Terimakasih bang San. Maaf baru sempat membuka hp..|
Setelah membaca pesan dari Santoso, Dewa terdiam, dia terlihat sedang memikirkan sesuatu, "Sakri ditemukan gila, aneh padahal aku sama sekali tidak memukul bagian kepala. Mungkinkah dia terkena serangan balik dari ilmunya..? Atau mungkin dia kehilangan jiwanya..? Kalau dia kehilangan jiwanya, apa berarti dia ditinggalkan oleh energi iblis itu..? Lalu siapa yang dirasukinya sekarang..?" pertanyaan-pertanyaan itu muncul dalam pikiran Dewa.
"Ada apa bos..? Sepertinya ada hal yang menganggu pikiran bos.." tanya Roni.
"Oh.. Gak pa pa Ron, hanya masalah kecil saja.."
"Oiya Yud, Karman menghubungimu..?" tanya Dewa kepada Yuma.
__ADS_1
"Iya bos. Aku memberitahu dia yang sebenarnya, ya bos pasti tau lah bagaimana reaksinya. Jadi sekarang intinya bos harus lebih hati-hati. Mungkin dia akan melakukan hal yang lebih ekstrim lagi.." jawab Yuma dan Dewa hanya menganggukkan kepalanya
*****
Waktu berlalu dengan cepat, Dewa melihat jam tangannya, waktu sudah menunjukkan jam 11 siang. Urusan Dewa dengan Roni dan Yuma sudah selesai, dia segera menyusul Nuraini di lokasi proyek renovasi sekalian ingin bertemu dengan Loreng. Tidak butuh waktu lama untuk sampai di rumah mbah Binti, "Wah.. Cepat juga pekerjaannya. Kalau seperti ini target dua minggu bisa tercapai.. Hhmmm.. Pantesan cepet kerjanya, lha mandornya cantik gitu, jadi ya pasti semangat pekerjanya.." ucap Dewa sesaat setelah melihat bangunan rumah mbah Binti.
"Eh.. Kakak, kapan sampai, kok Nur gak tau..?" ucap Nuraini dengan helm proyek di kepalanya.
"Ya mana bisa tau, kamu aja fokus sama kerjaan.. Lho mana Loreng..?" tanya Dewa.
Mendengar suara Dewa menyebut namanya, Loreng langsung menyapa, "Iya bos.. Ada apa bos..?" jawab Loreng sambil melambaikan tangannya.
"Eh.. Kamu ikut jadi pembantu tukang..? Sini aku ada tugas buatmu.." ucap Dewa, kemudian Loreng pun datang dengan setengah berlari, "Siap bos.. Ada tugas apa bos..?" tanyanya.
"Gini, aku tadi udah transfer 75 juta ke rekeningmu, tolong kamu beli satu set meja ruang tamu dan meja makan, kasur buat mbah Binti dan Kartika, perlengkapan dapur, televisi, lengkap pokoknya. Kamu paham kan yang aku maksudkan..? Jangan lupa meja belajar sama lemari pakaian juga. Terus kamu ke kantor PLN buat pengajuan pasang listrik baru, jadi mbah Binti gak ikut listrik tetangganya lagi.." ucap Dewa.
"Siap bos, sesuai perintah, tapi kalau hanya untuk itu, apa gak terlalu banyak bos uangnya..?" ucap Loreng.
"Aku belum selesai, nah sisa uangnya berikan ke anak istrimu, dan ambil secukupnya buat operasional kamu. Satu hal lagi, kamu atur lagi orang-orangmu yang jaga di tempat parkir sama yang bantu petugas keamanan pasar.." ucap Dewa.
"Siap bos. Sesuai perintah.." ucap Loreng.
Belum lama berada di lokasi renovasi, Naia meminta Dewa untuk menjemputnya di basecamp. Dewa segera mengajak pulang adiknya dan menyerahkan pengawasan renovasi kepada Loreng. Setelah menjemput Naia dan Silvia, mereka langsung pulang.
*****
Hari ini Naia, Silvia dan Nuraini akan mulai mendapat latihan teknik beladiri praktis dari Kosim, "Nanti kalian latihan berangkat bertiga aja ya, bawa aja mobilnya.. Nanti bang Kosim akan mengajari kalian teknik dasar beladiri. Aku mau ke rumah mbah Sastro, ada hal yang ingin aku tanyakan kepada beliau.." ucap Dewa kepada mereka bertiga.
"Yaaahh.. Gak diantar deh. Jadi gak semangat klo gini, emang gak bisa nanti malam ke rumah kakek Sastro..?" ucap Naia cemberut.
"Eehh.. Sekali ini aja ya..? Ada hal yang penting yang ingin aku bahas sama beliau.." jawab Dewa.
"Masalah yang aku bilang tadi kah..? Iya deh, mas tanyain sampai sejelas-jelasnya, jangan lupa tanyakan juga tanggalnya sekalian, terus aku pakai pakaian warna apa, Silvia warna apa, terus....eemmm.. Eeemmm.." Naia menghentikan ucapannya setelah Silvia membungkam mulutnya.
"Udah jangan nyerocos aja kayak mercon bantingan.. Yang penting sekarang kita harus semangat berlatih biar bisa jaga diri, gak ngandalkan mas Dewa terus.." ucap Silvia.
"Eh.. Bentar ih.. Bukannya itu udah janjinya mas Dewa buat lindungi kita..?" protes Naia.
"Hadeeehh.. Kakak iparku ini, memang bener-bener deh ya..? Yuk ikut ke belakang aja, buatin mas Dewa kopi.." ucap Nuraini sambil menarik tangan Naia. Silviapun menyusul mereka ke dapur.
Dewa hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan mereka.
__ADS_1