
Setelah berusaha keras merayu, akhirnya Dewa berhasil membuat mbah Sastro mau menerima keinginan Dewa yaitu menjadi komisaris di perusahaan yang akan Dewa dirikan. Bersama dengan Naia, Silvia dan Nuraini, mereka berlima pergi ke kantor notaris yang berada di sebelah barat sekolah Kartika.
Tak butuh waktu lama mereka sampai di kantor notaris. Disana sudah menunggu Roni dan Loreng bersama dengan pemilik tanah dan gudang. Dewa segera menjelaskan maksud kedatangan mereka di kantor itu kepada sang notaris, "Jadi kami akan mengurus proses jual beli aset tanah yang berada di samping sasana Lerengwilis dan bekas gudang yang ada di dekat pasar Lerengwilis. Sekalian saya juga mau mengurus akta pendirian perusahaan.." ucap Dewa.
"Oh baiklah, apa kelengkapan dokumennya sudah dibawa dan bisa saya periksa..?" ucap sang Notaris kemudian menjelaskan dokumen apa saja yang dibutuhkan untuk proses tersebut.
Setelah beberapa saat, proses pemeriksaan pun selesai dan sang Notaris menyatakan dokumen tersebut lengkap dan meminta waktu untuk membuat dokumen akta jual beli. Sambil menunggu proses pembuatan akta jual beli, Dewa mengobrol dengan Roni, Loreng dan mbah Sastro di ruang tamu kantor Notaris.
"Kalian adalah orang-orang terpilih. Tidak perduli bagaimana masa lalu kalian, selama kalian punya keinginan untuk berubah menjadi baik, maka hal baik akan selalu menanti kalian di depan. Maka dari itu, tetaplah istiqomah berada di jalan yang baik.." ucap mbah Sastro kepada Loreng dan Roni.
"Pasti mbah, aku benar-benar kapok dan bertobat dari pekerjaan lamaku sebagai preman. Alhamdulillah ini semua berkat bos Dede, mungkin kalau tidak bertemu dengannya, kehidupanku juga tidak akan berubah.." ucap Roni.
"Benar mbah, aku juga merasakan hal yang sama. Meskipun aku harus bekerja lebih keras untuk mendapatkan uang, tapi keluargaku kini menjadi lebih tentram.. Ini semua memang berkat bos Dede.." sambung Loreng.
"Maaf guru, bukan aku yang membuat mereka seperti ini. Semua ini karena mereka sendiri yang ingin mengubah hidup mereka.." sahut Dewa.
"Hehhehhehhe.. Sudahlah, semua ini sudah ada yang mengatur.. Tapi ingat, jalan kedepan bukan semakin mudah, tapi semakin terjal dan membutuhkan kesabaran serta keikhlasan hati kalian untuk melaluinya. Aku berharap kalian tidak pernah putus asa dalam menjalaninya.." ucap mbah Sastro.
"Aku akan berusaha tetap istiqomah menjalaninya guru.." jawab Dewa.
"Hehhehhehe.. Bagus itulah yang selalu ingin aku dengar. Tapi jangan hanya berhenti di ucapan saja tapi wujudkan dalam tindakan. Oiya, sudah waktunya istri dan adikmu memasuki jalan spiritual. Tidak lama lagi, perempuan tua yang kamu temui di rest area akan mendatangimu. Biarkan istri dan adikmu dibimbingnya.." ucap mbah Sastro.
Dewa tidak begitu terkejut dengan ucapan mbah Sastro, sepertinya dia memang sudah merasakan bahwa sudah waktunya bagi Naia, Silvia dan Nuraini mempelajari jalan spiritual, "Baik guru, aku pasti akan mendukung mereka berada di jalan spiritual.." ucap Dewa.
Cukup lama mereka berbincang, hingga sang Notaris kembali menemui mereka untuk melakukan penandatanganan akta jual beli, "Baik silahkan, pihak pertama bapak Dede Ramadhan dan pihak kedua Ibu Sumini bersama dua orang saksi dari masing-masing pihak..........." sang Notaris menjelaskan dimana saja mereka harus membubuhkan tanda tangannya. Setelah selesai dengan ibu Sumini, budhe dari Roni, giliran Dewa dengan pemilik gudang untuk menandatangani dokumen akta jual beli.
"Baik, setelah ini silahkan pak Dede melakukan pembayaran kepada penjual sesuai kesepakatan dan pembayaran pajak pembelian, dan setelah itu secara hukum kepemilikan kedua aset akan sah berpindah kepada pak Dede.. Jangan lupa juga, pihak penjual agar membayar pajak penjualan juga.." ucap Sang Notaris.
Setelah selesai proses penandatanganan akta jual beli, Dewa melanjutkan untuk pengurusan akta notaris pendirian perusahaan. Dewa menjelaskan konsep perusahaannya kepada sang Notaris. Setelah mendengar penjelasan Dewa, Notaris itu memberikan saran kepada Dewa, "Sebaiknya bidang usaha diperluas saja pak. Jadi perusahaan bapak nanti bisa mencakup berbagai bidang pekerjaan.." saran Notaris.
"Baiklah.. Ibu lebih paham daripada saya, jadi saya ikut saja saran dari ibu Notaris.." jawab Dewa.
Sang Notaris kemudian memberikan formulir yang harus diisi oleh Dewa, "Tolong yang diisi nama perusahaan, dan siapa yang mendirikannya, dan modal awal perusahaan. Sebaiknya modal awal diisi 250 juta rupiah saja pak.." ucap sang Notaris.
__ADS_1
Dewa meminta Naia menuliskan nama perusahaan dan pendiri perusahaan itu. Dewa memasukkan namanya, mbah Sastro dan Roni sebagai pendiri perusahaan, kemudian menjadikan mbah Sastro sebagai komisarisnya.
"Untuk bukti pembayaran aset, pembayaran pajak penjual dan pembeli, segera diserahkan kepada kami agar bisa segera kami proses. Untuk biaya pendirian perusahaan bisa nanti setelah akte notaris jadi.. Oiya, saya masih mbak lho.. Jangan dipanggil ibu.." ucap Notaris itu saat mereka akan pergi dari kantornya.
Hanya butuh waktu beberpa menit, pengurusan pembuatan akta perusahaan selesai dan Sang Notaris meminta waktu 3 hari untuk menyelesaikannya. Kemudian Dewa mengajak pemilik tanah dan gudang ke bank yang berada di sekitar pasar Lerengwilis untuk melakukan pembayaran. Hanya dalam satu hari Dewa menyelesaikan urusannya itu.
*****
Disaat yang sama Luki dan Tiara sampai di stasiun kota AB, dengan dijemput Petruk mereka menuju sasana Yamadipati. Sandhi menyambut mereka di depan ruangan kantor, "Tomboy.. Gimana kabarmu..?" sapa Sandhi.
Tiara memeluk Sandhi sambil menangis, "Syukurlah aku masih bisa melihatmu. Aku pikir kamu sudah....." Tiara tidak melanjutkan ucapannya dan melepas pelukannya.
"Kamu pikir aku mati..? Sudahlah, kamu bisa bertanya sendiri nanti kepada kapten bagaimana cerita yang sebenarnya.." ucap Sandhi sambil mengelus kepala Tiara.
Yudha dan Faruq segera keluar setelah mendengar suara Tiara, "Kalian mau diluar terus..? Sini kita ngobrol di dalam saja.." ucap Yuma.
"Bang.. Gendooooong.." ucap Tiara manja, kemudian Yuma mendatangi Tiara dan menyodorkan punggungnya. Tiara segera melompat ke punggung Yuma sambil tertawa.
"Kalau saja Kapten tidak memerintahku untuk menuruti semua maumu, aku juga gak sudi menggendongmu. Dasar..!!" gerutu Yuma sambil menggendong Tiara masuk ke dalam kantor sasana.
"Nanti siang kita berangkat ke Lerengwilis untuk menemuinya.." jawab Yuma.
"Lerengwilis, dimana itu..? Ngapain bang Dewa disana, gak disini aja bersama kalian..?" tanya Tiara bingung.
"Di kota AG, bos sedang menemani calon istrinya yang sedang KKN di Lerengwilis.. Oiya, kamu jaga sikap kalau ketemu bos, jangan sampai nyonya bos cemburu.." ucap Yuma.
"Aku malah ingin membuatnya cemburu, ya siapa tau mereka putus dan aku bisa jadi calon istri bang Dewa, jadi nyonya bos kalian.. Hahahahaa.. Weeeekk.." ucap Tiara.
"Hush..!! Jangan asal ngomong dan jangan mikir yang aneh-aneh..! Sekarang mending kamu makan dulu, Petruk udah siapkan makanan buatmu, terus nanti siang kita bareng-bareng kesana.." ucap Yuma.
"Iya bang, aku cuma bercanda aja. Lagian mana mungkin aku merusak kebahagiaan bang Dewa..? Aku hanya ingin ngerjain calon istri bang Dewa aja.." jawab Tiara.
Setelah mempersiapkan semuanya mereka berlima berangkat menuju desa Lerengwilis untuk berkumpul kembali bersama pemimpin mereka.
__ADS_1
*****
Di sasana Lerengwilis, seperti biasa, Dewa menunggu latihan Naia dan teman-temannya sambil berbincang dengan Roni dan Loreng. Roni masih bertanya-tanya alasan Dewa memasukkan namanya di dalam akta pendirian perusahaan, "Maaf bos, tapi mengapa bos memasukkan namaku ke dalam akta pendirian perusahaan..? Apa tidak sebaiknya memasukkan nama nyonya bos, nyonya muda bos sama bos kecil saja..?" tanya Roni heran.
"Sudah aku bilang, kalau perusahaan ini adalah perusahaan kita bersama. Kamu sebagai perwakilan dari Loreng dan yang lainnya, sedangkan mbah Sastro aku jadikan sebagai pengawas untuk kita.." jawab Dewa.
"Kalau memang seperti itu, mengapa tidak bang Yuma saja yang bos pilih..? Aku rasa bang Yuma lebih berhak namanya berada di dalam akta pendirian itu.." protes Roni.
"Awalnya memang aku berencana memasukkan nama Yudha, tapi setelah aku memberitahunya, Yudha malah menolaknya. Justru dia memintaku untuk memasukkan namamu, bahkan semua juga setuju dengan keputusan Yudha.. Ron, mereka menyerahkannya padamu, artinya mereka percaya bahwa kamu mampu. Jangan jadikan ini sebagai beban, tapi jadilanlah hal ini sebagai tantangan untuk terus melangkah maju dan maju.." ucap Dewa memberikan semangat.
"Baik bos.. Aku akan berusaha untuk tidak mengecewakan mereka.." jawab Roni dengan penuh keyakinan.
"Terus apa yang harus kami kerjakan nantinya bos..? Jujur saja, bahkan aku tidak pernah membayangkan bekerja di perusahaan. Aku hanya mantan preman yang berpendidikan rendah.." ucap Loreng.
"Loreng, buang jauh-jauh pemikiran pesimismu itu. Selama kita tidak pernah takut gagal dan terus mencoba, kita pasti bisa. Justru pemikiran pesimis seperti itu yang membuat kamu tidak akan pernah maju. Banyak pengusaha sukses di negeri ini yang tidak berpendidikan tinggi. Modal mereka adalah tekun dan pantang menyerah.." ucap Dewa dengan nada tegas.
"Maaf bos, aku sudah berfikiran sempit. Tapi beneran aku tidak tau harus melakukan apa di perusahaan bos nanti. Sama sekali aku tidak bisa membayangkan, selain hanya harus memakai kemeja dan sepatu saja.." ucap Loreng polos.
"Aku memang belum menjelaskan apa-apa tentang konsep usahaku, jadi wajar kamu tidak tau harus berbuat seperti apa. Aku akan menjelaskannya nanti saat Yuma dan yang lainnya datang. Kalau tidak ada halangan, seharusnya mereka sebentar lagi akan sampai.." ucap Dewa.
Sementara Dewa memberikan arahan kepada Roni dan Loreng, Naia dan teman-temannya terlihat antusias mengikuti pelatihan beladiri yang diberikan oleh Kosim dan Icong. Naia sangat senang saat dia berhasil menjatuhkan Icong dalam peragaan teknik jatuhan yang baru saja diajarkan oleh Kosim.
"Bagus... Sekarang lanjut lainnya untuk memperagakan teknik yang baru saja saya ajarkan.." ucap Kosim tegas.
Mereka satu per satu memperagakan teknik tersebut bersama Icong. Icong dengan serius membantu mereka menguasai teknik dari Kosim. Meskipun melawan Naia, Icong juga tidak mudah mengalah. Tapi Naia yang sudah memahami teknik itu, tetap bisa menjatuhkan Icong.
Waktu berjalan dengan cepat, waktu berlatihpun segera berakhir. Seperti biasa, sebelum mengakhiri latihan, Kosim selalu memberikan evaluasi kepada Naia dan teman-temannya tentang teknik yang diajarkannya. Pada saat yang sama, Yuma memasuki sasana Lerengwilis diikuti oleh Tiara, Sandhi, Faruq dan Luki.
"Assalamu'alaikum.. Bos kami sudah sampai.." teriak Yuma.
Mendengar salam dari Yuma, Dewa segera menjawab dan menyambut kedatangan mereka, "Wa'alaikumsalam.. Bagaimana perjalanan kalian..?"
"Alhamdulillah lancar bos.." jawab Faruq sambil menjabat tangan Dewa.
__ADS_1
"Bang Dewaaaa...., aku kangen banget sama bang Dewa.." teriak Tiara sambil berlari memeluk Dewa.
"Eh.. Tiara...!" teriak Yuma bermaksud menghentikan Tiara.