Dewa Sang Patriot

Dewa Sang Patriot
Mencari bukti kejahatan


__ADS_3

Meningkatnya kekuatan Baros membuat ekornya yang semula terlihat seperti kumpulan asap, kini menjadi semakin nyata dengan kilatan petir berwarna kemerahan.


Baros yang murka dengan ucapan Dewa, kemudian menyerang Dewa dengan kibasan ekornya. Serangan ekor Baros sangat cepat hingga terdengar suara gemuruh seperti suara petir yang hendak menyambar, dan membuat angin yang bertiup kencang ke arah Dewa.


Rruuuuggghhhhh... Shuuuuuu...


Dewa melompat ke luar dari halaman rumah untuk menghindari serangan Baros. Baros mengejar Dewa, dia melompat sambil menyerang Dewa dengan cakarnya.


Bweeeett.. Bweeeettt.. Whuuusss...


Dewa dengan gesit menghindari serangan Baros, bahkan beberapa kali membalas serangan Baros dengan pukulan ataupun tendangannya.


Jbuuuugggg.. Jtaaaakkk.. Jdaaaggg..


Beberapa kali serangan Dewa mendarat di tubuh Baros, akan tetapi sama sekali tidak berefek apapun pada Baros. Baros tertawa dengan sombongnya, "Hahahaha... Aku sudah mengatakannya kepadamu, bahwa siapapun yang melihat wujudku ini pasti akan mati.."


"Bagaimana mungkin..? Kekuatan kalimasada sama sekali tidak berefek padanya.. Ahhhh..., mungkinkah..." gumam Dewa dalam hati kemudian memejamkan matanya dan mengatur nafasnya.


"Hahaha... Kenapa, apa kamu mulai takut..? Tenang saja, mereka semua yang ada disini akan menemanimu menemui raja neraka.." ejek Baros kemudian dia bersiap untuk menyerang Dewa dengan ekornya.


Dewa melafalkan mantra kalacakra untuk membangkitkan api suci di dalam dirinya, "Yamaraja Jaramaya, Yamarani Niramaya, Yasilapa Palasiya, Yasihama Mahasiya.............."


Api suci bangkit dari dasar telaga kalbu Dewa dan bercampur dengan kekuatan spiritualnya. Dewa membuka matanya, dia melihat ekor Baros mengarah kepada dirinya dengan cepat. Dewa tersenyum, kemudian mengangkat tangannya dan bersiap menahan serangan dari ekor Baros.


Blaaaaaarrrr.....


Benturan antara keduanya menimbulkan suara ledakan yang sangat keras. Baros sangat terkejut mengetahui Dewa bisa menahan serangannya, bahkan menangkap ekornya.


"Apa..?! Tidak mungkin... Bagaimana kamu bisa menahan seranganku..?!" teriak Baros.


"Bukan urusanmu.. Kekuatanmu bukan apa-apa bagiku.." ucap Dewa, kemudian api suci Dewi Agni membakar ekor Baros.


"Aaaarrgghhh... Pa-Panaaaasss... T-tidak mungkin, bagaimana bisa kamu menguasai aji kulhu geni..?! Aaarrrrggg.. Panaaaasssss... Hentikan...!!" teriak Baros.


"Itu juga bukan urusanmu. Yang pasti aku akan membakar seluruh kekuatanmu dan jiwa iblis yang merasukimu itu.." sahut Dewa.


Dewa mencengkeram bahu Baros dan meletekkan telapak tangannya di dada Baros. Api suci merasuk ke dalam tubuh Baros dan membakar energi hitam yang ada di tubuh Baros dan entitas yang merasuki Baros.


"Aaarrrgggg... Tidaaaaakkk..., aku tidak terima....!! Ratu bukankah kamu bilang kalsu sudah menghancurkan tulisan tentang ajian kulhu geni..?!" teriak Baros.


"Aku juga tidak tau dari mana dia mendapatkan ilmu itu. Sebaiknya aku pergi saja dari tubuhmu Baros, kamu sudah tidak berguna lagi.." ucap Ratu kegelapan.


Baros mendongak ke atas sambil membuka mulutnya. Tiba-tiba sesuatu berbentuk bola berwarna merah kehitaman keluar dari mulut Baros dan melesat ke langit.


Shuuuutttttt....


Srenggi yang dari awal bersembunyi di balik awan dan mengamati pertarungan tuannya, tiba-tiba muncul dan menendang bola itu ke bawah, "Tuanku..., jangan biarkan dia lolos lagi..! Bakarlah jiwa iblis ini tuanku..!!" teriak Srenggi.

__ADS_1


Dhaaaaasssshhh.. Shuuuuuttt...


Dewa melemparkan api suci Dewi Agni ke arah bola berwarna merah kehitaman itu dan


Whuuuussssssshh.. Brrrrtttttt....


Terdengar suara teriakan perempuan, "Aaaarrggggg... Panaaaaasssss.... Aku tidak terima..!! Tuanku penguasa kegelapan pasti akan membalaskan dendamku ini.. Aaaaarrhhhhh......!!" bola berwarna merah kehitaman itupun lenyap tak bersisa.


Sementara itu, Baros duduk bersimpuh karena kekuatan hitam yang selama ini disombongkannya oleh habis terbakar oleh api suci Dewi Agni. Tubuhnya sangat lemah dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi.


"Aku tidak percaya akan dikalahkan olehmu.." gumam Baros.


"Akui semua perbuatanmu dan pertanggung jawabkan semuanya di hadapan hukum negara ini. Mungkin itu bisa menjadi penebus dosa-dosamu.." ucap Dewa.


Hilangnya kekuatan Baros membuat tekanan udara menjadi normal kembali dan membuat Yuma dan yang lainnya tersadar dan segera menemui Dewa di depan rumah.


"Salam tuanku.." ucap Srenggi.


"Terimakasih atas bantuanmu Srenggi.." jawab Dewa


"Akhirnya bos menang, tapi bagaimana ceritanya bos..?" tanya Yuma.


"Pak Sutiyono, silahkan bawa Baros dan lakukan seperti rencana kita.. Yud, bantu pak Sutiyono membereskan masalah disini, segera susul aku di rumah setelah semuanya beres. Sandhi, hubungi Niko, katakan untuk menjalankan sesuai dengan rencana.." ucap Dewa.


"Baik mas, dalam perjalanan ke kota L nanti, aku akan menghubungi pak Gatot dan pak Handoko untuk menjalankan rencana selanjutnya.." ucap pak Sutiyono.


Pak Sutiyono memborgol Baros dan membawanya ke dalam mobil patwal yang sudah bersiap. Yuma juga segera membereskan anak buah Benny dan kemudian pak Sutiyono membawa mereka ke pangkalan militer di kota L.


******


Setelah mendapatkan berita bahwa Baros dan pasukannya berhasil ditaklukkan oleh Dewa, pak Handoko yang seorang perwira bintang angkatan darat, memimpin pasukannya menggeledah rumah Baros.


Sempat dihalang-halangi oleh petugas keamanan rumah Baros, akhirnya dengan bantuan beberapa perwira kepolisian dan petinggi Lembaga Anti Suap dan Korupsi, akhirnya pak Handoko berhasil memasuki rumah Baros.


"Kalian berempat, geledah ruang kerjanya. Dia pasti menyembunyikan semua catatan transaksi keuangannya di ruang kerjanya, dan yang lainnya periksa kamar pribadi Baros dan setiap ruangan yang ada di rumah ini.." ucap pak Handoko.


Mereka menggeledah setiap ruangan yang ada di dalam rumah Baros, dan mengumpulkan barang seperti buku agenda, media penyimpanan digital dan beberapa foto yang bisa dijadikan bukti kejahatan Baros.


"Pak..., lihat ini...,, ternyata Baros juga suka mengkoleksi hal-hal seperti ini.." ucap salah satu penyidik sambil menunjukkan beberapa foto telanjang wanita muda.


Salah satu perwira polisi mengamati foti yang ditunjukkan anak buahnya itu sambil mengerutkan dahinya, "Sebentar-sebentar.., bukankah mereka wanita yang pernah dilaporkan hilang oleh keluarganya..? Cepat cari bukti lainnya..!" perintah sang Perwira.


Tidak berselang lama, seorang anggota tentara mendatangi pak Handoko, "Lapor ndan, kami menemukan sebuah kamar yang terkunci. Tapi ada aroma seperti dupa tercium di sekitar kamar itu.." lapornya.


Pak Handoko dan beberapa perwira polisi, bergegas menuju kamar yang dimaksud oleh anak buahnya itu, "Dobrak saja..!!" perintah pak Handoko.


Dua orang anak buah pak Handoko membuka paksa pintu kamar itu.

__ADS_1


Braaaakkk.. Braaaakk...


Secara bergantian, anak buah pak Handoko mendobrak pintu kamar itu, tapi pintu tidak mau terbuka. Seperti ada sesuatu yang menahan pintu itu dari dalam. Pak Handoko kehilangan kesabarannya, kemudian "Minggir... Biar aku saja yang membuka.. Bismillah..."


Dooorrrr.. Dorrrr...


Pak Handoko menembak anak kunci pintu itu dan dengan sekali tendangan pintu kamar itu terbuka.


Braaaaaakkkk...


Bau dupa yang menyengat keluar dari dalam ruangan itu. Sambil menutup hidungnya, pak Handoko memasuki kamar itu. Mereka sangat terkejut dengan apa yang mereka lihat.


"Astaghfirullah... Ternyata benar yang diucapkan mas Dewa, Baros bersekuti dengan iblis.. Tapi mengapa patung tembaga ini bisa terbelah..?" gumam pak Handoko dalam hati.


"Hei kalian.., cepat kalian foto ruangan ini. Pastikan tidak ada yang terlewatkan..!" perintah seorang perwira polisi kepada anak buahnya.


Disaat mereka mengambil gambar, tiba-tiba


Daaaaagggg... Dhuaaaaaggg..


"Suara apa itu..?" tanya salah seorang penyidik kepada rekannya.


"Entahlah, sepertinya berasal dari lemari ini.. Eh.., kenapa mendadak merinding ya..?" jawab rekannya sambil menunjuk lemari besi berukuran besar.


"Sudahlah, cepat laporkan kepada komandan.." sahut temannya.


Pak Handoko segera menuju lemari besar itu, "Cepat buka lemari ini.." perintahnya.


Dengan sedikit berusaha, akhirnya lemari besar itu terbuka dan membuat semua yang melihat isinya terkejut, belasan mayat wanita yang diawetkan.


"Innalillahi... Benar-benar biadap dan bukan manusia Baros ini.." gumam pak Handoko.


"B-bukankah ini para wanita yang dilaporkan hilang itu..?" ujar salah satu perwira polisi.


"Cepat keluarkan mayat mereka dan lakukan standar prosedur penanganan mayat korban pembunuhan.." sahut perwira lainnya.


Sekitar enam jam mereka melakukan penggeledahan dan berhasil mengumpulkan puluhan bukti kejahatan Baros. Selain itu, beberapa petugas jaga juga dibawa ke kantor polisi untuk selanjutnya dimintai keterangan. Rumah mewah itupun disegel dan diberikan garis polisi. Beberapa anggota militer juga ditempatkan disana untuk menjaga rumah itu sampai proses menyelidikan berakhir. Dengan dikawal oleh militer, tidak ada satupun perwira polisi, bahkan pimpinan tertinggi polisi, yang berani mengganggu jalannya pemeriksaan.


*****


Sementara itu, beberapa jam sebelumnya, setelah menyelesaikan pertarungan dengan Baros, Dewa bergegas pulang untuk melindungi istrinya. Dewa segera turun dari mobilnya, dilihatnya mbah Sastro dan mbah Sumi yang tergeletak di halaman rumah dengan luka yang cukup parah.


"C-cepat lin-lindungi istrimu.." ucap mbah Sastro kemudian pingsan.


Dewa segera masuk ke dalam rumahnya, dia melihat kondisi rumah yang berantakan dan ayah dan mertuanya tidak sadarkan diri.


"Naia... Naia..., Silvia... Dimana kalian..? Apa kalian baik-baik saja..?!" teriak Dewa panik.

__ADS_1


Tidak ada jawaban dari keduanya. Dewa bergegas menuju ruang tengah, "Tiara.... Silvia....!! Siapa yang melakukan ini..?!!" teriaknya.


__ADS_2