Dewa Sang Patriot

Dewa Sang Patriot
Beraksi diam-diam


__ADS_3

Mereka menikmati makanan dan minuman yang mereka pesan dengan santai. Suasana di rest area pagi itu juga tidak terlalu ramai, mungkin karena masih pagi sekitar jam 7 kurang, sehingga kebanyakan para pengguna jalan tol memilih untuk tidak memasuki rest area dimana Dewa dan yang lainnya sedang beristirahat. Pada saat sedang asik mengobrol tiba-tiba terdengar suara gaduh dari dalam mini market yang tidak jauh dari tempat mereka duduk.


Braaaaaakkk.. Praaaaaaangg.. Praaaaaangg..


Perhatian mereka langsung beralih pada sumber suara sambil memperhatikan apa yang sedang terjadi, "Eh.. Ada apa ya..? Kayaknya ada ribut-ribut dalam mini market.." ucap Silvia sambil menunjuk minimarket.


Tak lama berselang, dari dalam minimarket keluar seorang pria berusia sekitar 35 tahunan yang sedang menyeret wanita berjilbab berusia sekitar 30 tahunan sambil berteriak marah dan memaki wanita tersebut, "Dasar kau perempuan tak tau diri..!! Suami sedang bekerja kau malah selingkuh..!! Dasar wanita murahan..!!" bentak pria itu.


Wanita yang diseret itupun menangis sambil berusaha menjelaskan, "Enggak mas, kamu salah paham, aku gak seperti yang kamu pikirkan.. A-aduuhh.. S-sakiit bang, lepaskan aku bang.." ucapnya mengiba.


Tak lama kemudian, seorang laki-laki berumur 25 tahunan keluar dari dalam mini market diikuti oleh beberapa karyawan minimarket. Dia berusaha menenangkan suami wanita itu, "Tolong mas.. Lepaskan dia, mas salah paham. Biar kami akan jelaskan semuanya. Tolong mas, kasihan dia mas, ini gak seperti yang mas pikirkan.." jawab laki-laki itu mengiba.


"Benar mas, semua bisa dibicarakan baik-baik.." sahut salah satu karyawan minimarket.


"Perempuan seperti ini tidak layak dikasihani.. Dan kamu anjing...!! Asu kowe..!! . Apa kamu gak tau kalau dia itu punya suami..? Kamu masih muda, kamu seharusnya cari wanita yang single, bukannya malah ganggu istri orang.. Bajingan kowe..!!" bentak pria itu.


"Mas salah paham, tolong lepaskan dulu istri mas. Kami tidak berselingkuh, dan aku tidak seperti yang mas katakan.." jawab laki-laki muda itu.


Perempuan itu, sambil menangis berusaha menjelaskan kepada suaminya, "Bukan mas.. Ini bukan seperti yang mas pikirkan.." ucap perempuan dengan suara bergetar.


Laki-laki itu semakin emosi mendengar ucapan istrinya, "Alaaaahhh.. Kau sama saja. Dasar perempuan murahan, sialan kau itu..!! Perempuan gak bermoral, sudah ketahuan selingkuh masih saja ngeles.. Jelas-jelas kamu keluar rumah bersama selingkuhanmu itu dan aku berhasil memergoki kalian disini.." ucapnya dengan penuh amarah.


Laki-laki itu lalu menarik baju istrinya hingga beberapa kancingnya terlepas. Diajuga menarik jilbab wanita itu, tapi sang istri berusaha mempertahankan jilbabnya agar tidak terlepas, "Percuma kau pakai jilbab, lebih baik lepas saja biar semua orang tau. Berlagak suci tapi kelakuanmu bejat.." hardiknya.


Melihat keributan itu, dua petugas keamanan rest area datang bermaksud menenangkan pria tersebut. Mengetahui kedatangan petugas keamanan, membuat pria itu semakin nekat, dia mengambil pisau yang sudah disembunyikannya dari balik bajunya dan mulai mengancam, "Kalau kalian maju, aku bunuh dia..!!" ucapnya sambil mendekap wanita itu dari belakang dan mengarahkan ujung pisaunya ke arah perempuan itu.


"Mas tenang mas. Semua bisa dibicarakan baik-baik.." ucap salah satu pengunjung


"Benar mas, sabar mas, sampean yang sabar. Bahaya itu pisaunya. Semua bisa dibicarakan baik-baik.." sahut pengunjung lainnya.


Nuraini melihat kejadian itu dengan mata merah seperti mau menangis, sedangkan Naia dan Silvia memalingkan wajahnya karena tidak kuat melihat perlakuan laki-laki itu terhadap wanita yang sebenarnya adalah istrinya sendiri.


Dengan mata sembab dan suara yang bergetar, Nuraini mengucapkan sesuatu kepada Dewa, "Kak.. Mbak nya itu gak bersalah. Bantuin dia kak.." ucap Nuraini memohon dengan air mata meleleh jatuh ke pipinya.


Dewa terdiam sesaat dan berfikir "Kalau aku langsung membantunya, banyak cctv disini selain itu banyak orang yang merekam.. Aku harus membantu dengan cara lain.." ucapnya dalam hati sambil mengamati sekitarnya. Dewa melihat di sebelah Silvia ada pot tanaman dengan hiasan batu yang di cat untuk menutup tanahnya. Dewa mendekatkan kepalanya ke arah Silvia, "Silvia, tolong ambilkan batu itu dua saja.." bisiknya sambil menunjuk ke arah pot.


Silvia mengambil lalu menyerahkan dua buah batu berukuran sebesar ibu jari. Dewa menggenggam dan menyalurkan energi spiritualnya ke dalam batu itu, kemudian dengan satu tarikan nafas Dewa menjentikkan batu yang ada di tangannya ke arah pria itu. Jarak yang tidak terlalu jauh membuatnya dengan tepat mengenai sasaran.


Whiiiiinngg.. Ctaaaaakkkk...

__ADS_1


Batu yang dijentikkan Dewa tepat mengenai pergalangan tangan yang memegang pisau, "Aaaahhhhhh..." teriak pria itu dan pisau yang digenggamnya pun terlepas dan jatuh, kemudian Dewa langsung menjentikkan batu keduanya dan tepat mengenai kening pria itu,


Bletaaaaaakkk… Bruuugg..


Pria itupun roboh tidak sardarkan diri. Melihat pria itu terjatuh, petugas keamanan rest area dengan cepat meringkus dan memborgol pria itu, lalu membawa dia ke pos keamanan, sedangkan petugas keamanan lainnya menelepon polisi.


Pengunjung pun dibuat bingung melihat kejadian itu, "Eh.. Kenapa orang itu..? Kok tiba-tiba jatuh..?" tanya salah satu pengunjung.


"Kayaknya mendadak pingsan karena saking emosinya.." sahut lainnya.


Wanita itu langsung terduduk lemas, beberapa pengunjung lain pun terlihat mendekati perempuan itu, ada yang memberikan jaketnya, memberi minum dan menenangkannya. Selanjutnya seorang petugas keamanan perempuan mendatangi wanita itu dan memintanya ikut ke pos keamanan untuk dilakukan pemeriksaan.


Setelah semuanya beres, Dewa ingin segera pergi dari rest area, "Sebaiknya cepat pergi saja. Sebentar lagi mungkin polisi akan datang.." gumam Dewa dalam hati, kemudian mengajak Naia, Silvia dan Nuraini segera meninggalkan rest area. Dewa meminta Naia, Silvia dan Nuraini untuk langsung menuju mobil, "Kalian tunggu di mobil saja, aku ke toilet dulu. Ini kunci mobilnya.." ucap Dewa sambil menyerahkan kunci mobil kepada Naia.


Setelah selesai buang air, Dewa segera menuju wastafel untuk mencuci tangannya. Dia dikejutkan dengan adanya seorang wanita berumur sekitar 70 tahunan berdiri di salah satu wastafel di depan kamar kecil, "Loh ini kan toilet pria..? Kok ada nenek-nenek disini..? Hhmmmm.. Mungkin dia salah masuk kamar mandi.." gumamnya dalam hati.


Dewa tidak terlalu memperdulikannya, Dewa hanya berfikir bahwa itu hanya seorang nenek-nenek yang salah masuk toilet. Lalu Dewa menuju wastafel di samping nenek itu untuk mencuci tangan dan muka.


Disaat Dewa selesai mencuci mukanya, nenek itu berkata kepadanya, "Kalau kamu tidak melakukannya tadi, pasti aku yang melakukannya.." ucapnya sambil meletakkan tusuk gigi di samping wastafel lalu pergi.


Dewa tidak memperdulikan ucapannya dan membiarkannya pergi, pada saat berada di samping pintu keluar nenek itu berkata, "Ternyata Sastro memiliki murid yang begitu hebat.. Hehhehhehhe.."


Setelah beberapa saat mencari, Dewa tetap tidak menemukan nenek itu. Dewa segera menuju tempat parkir, dia melihat sekeliling dan memastikan keberadaan nenek itu dengan persepsi jiwanya, tapi Dewa tetap tidak bisa menemukannya. Dewa segera memasuki mobilnya dan terdiam beberapa saat sambil memikirkan sesuatu, "Aku sama sekali tidak bisa merasakan energi spiritualnya selain yang ada di tusuk gigi ini.." ucapnya dalam hati sambil menyimpan tusuk gigi itu di laci mobil.


"Cari siapa mas..?" tanya Silvia.


"Oh.. Enggak, gak ada.." jawab Dewa.


Dewa segera menjalankan mobilnya meninggalkan rest area KM 45. Di dalam mobil, Nuraini terlihat sudah bisa menguasai dirinya, sedangkan Naia menangis karena shock dengan kejadian di dekat mini market tadi, "Kok nangis sayang..? Ada apa..?" tanya Dewa sambil mengusap air mata Naia.


"Gak ngerti, sedih ngelihat kejadian tadi, kalaupun si mbaknya tadi salah, kan gak harus juga sampai mau dibuka jilbabnya, bajunya ditarik sampai seperti itu.. Kasihan mbak nya tadi diperlakukan seperti itu, gak ada kemanusiannya sama sekali.." ucap Naia emosi.


Setelah mendengarkan ucapan Naia, Dewa teringat wejangan mbah Sastro pagi itu, "Jadi ini mungkin salah satu contoh nyata dari wejangan guru. Berpegang pada prinsip kemanusiaan, memanusiakan manusia dan keadilan, tidak berlebihan.." ucap Dewa dalam hati.


"Mas Dewa, aku juga nangis. Usap juga dong air mataku.." Silvia mulai menggoda Naia.


"Iiiihh.. Silvia mesti gitu deh.." jawab Naia.


"Hihihihi... Seneeeeeng deh lihat Naia ngambek.." jawab Silvia.

__ADS_1


Mobil yang mereka kendarai pun keluar dari rest area. Terlihat dari spion mobil, dua mobil polisi memasuki rest area, tapi Dewa tidak begitu memperdulikan hal itu.


"Nur, gimana kamu tau kalau mbak itu gak salah..?" tanya Dewa.


"Gak tau mas. Sepertinya hatiku bilang kalau wanita itu gak salah.. Terus Nur ngerasa sakit lihat baju dan jilbab mbaknya ditarik sampai terlihat auratnya. laki-laki tadi memang gak ada otak.." jawab Nuraini emosi.


"Ya.. Kalaupun mbak nya tadi salah, kan yang salah perilakunya, bukan pakaiannya. Terlebih lagi kamu yakin kalau dia gak salah, jadi wajar sebagai sesama perempuan kamu merasa gak tega dia diperlakukan seperti itu.." ucap Dewa.


"Kalau laki-laki yang selingkuh dan jelas ketahuan dia selingkuh, dia pasti nunduk-nunduk minta dimaafkan lah, minta dikasih kesempatan lah.. Coba aja kalau perempuan yang selingkuh, belum tentu selingkuh aja udah diperlakukan seperti binatang.. Aaahhhhh.. Sampah lah laki-laki yang seperti itu.." ucap Silvia emosional.


"Udah-udah gak usah dibahas lagi. Kalian jadi mengutuk laki-laki tadi, itu akan jadi penyakit hati kalian.. Istighfar gih.." ucap Dewa


"Astaghfirullah.." sahut mereka.


"Tapi mas Dewa keren lah. Bisa ajarin Silvia yang jentikkan batu tadi gak mas..?" ucap Silvia.


"Tadi itu hanya kebetulan aja, kebetulan tadi pas kena titik rawan orang itu Vi, kalau diulang belum tentu kena juga.." ucap Dewa.


"Tapi kenapa kakak tadi gak langsung bantu mbak nya..?" tanya Nuraini.


"Banyak cctv dan orang yang merekam Nur.. Mereka pasti akan upload di sosmed, kalau sampai viral, posisi kakak pasti akan ketahuan.." jawab Dewa.


Kemudian Dewa memacu mobil lebih cepat dari sebelumnya. Dia hanya ingin segera sampai kota L, mengantar mereka dan bertemu dengan Niko. Setelah satu jam perjalanan, mereka memasuki kota L. Suasana jalanan kota L yang padat membuat mobil melaju dengan lambat.


"Eh.. Beneran kata mas Dewa, kejadian di rest area tadi langsung viral di sosmed.." ucap Silvia.


"Ah.. Males lihatnya.." sahut Naia.


"Eh.. Ternyata bener si mbak nya gak salah. Jadi gini kronologinya, si mbak nya itu dapat telepon sama wa dari orang gak dikenal, katanya suaminya kecelakaan di kota L. Dia panik lalu pesan mobil sewaan untuk menyusul suaminya. Pas baru masuk tol, suaminya telepon, karena masih di jalan tol, mereka janjian di rest area sini. Alih-alih pengen lihat kondisi suaminya, eh dia malah dihajar seperti tadi.." Silvia menjelaskan dari berita tersebut.


"Kalian gak usah ikut komen ya, biar itu urusan rumah tangga mereka..? Udah lebih baik diam saja.." ucap Dewa.


Setelah sekitar  satu jam, mereka pun sampai di rumah Silvia di perumahan sekitar masjid Al Akbar. Setelah itu Dewa mengantar Naia dan Nuraini ke daerah Gunungsari di sebuah perumahan elit kawasan Villa Bukit Mas. Dewa menghentikan mobilnya di depan rumah Naia.


"Kakak beneran gak ikut turun..?" tanya Nuraini.


"Kakak langsung aja ya Nur..? Naia maaf ya.., aku langsung aja. Udah kamu tenang aja.." ucap Dewa


Merekapun menganggukkan kepala dan Dewa langsung meninggalkan mereka.

__ADS_1


__ADS_2