Dewa Sang Patriot

Dewa Sang Patriot
Terimakasih guru..


__ADS_3

Pagi itu di rumah pak Wira, Naia terlihat anggun memakai pakaian pengantin adat jawa berwarna biru muda, dia berulang kali melihat hp nya dan sesekali melihat keluar jendela rumahnya, "Tenanglah, tidak usah tegang, rileks saja. Sebentar lagi kita berangkat kesana. Wajar kalau kamu merasa tegang, mama dulu juga seperti itu.. Ya bagaimanapun ini adalah momen sekali seumur hidup.." ucap bu Santi.


"Bukan itu masalahnya ma, aku lagi menunggu seseorang, beliau sudah berjanji akan mendampingiku juga.." ucap Naia sedikit kesal.


"Loh, bukankah pendampingmu itu mama dan Silvia..? Emang siapa lagi yang akan mendampingimu..?" tanya bu Santi penasaran.


Naia tersenyum lega setelah melihat sebuah mobil sedan berwarna hitam berhenti di depan rumahnya dan melihat Sandhi turun bersama dengan mbah Sumi, "Alhamdulillah, itu ma yang Naia maksud.." jawab Naia.


"Siapa..? Nenek itu..? Siapa beliau nak..? Mama belum pernah melihat sebelumnya..?" tanya bu Santi makin penasaran.


"Assalamu'alaikum.." mbah Sumiati menyapa.


"Wa'alaikumsalam, bagaimana perjalannya nek..? Oiya nek, ini ibu saya.. Ma, ini nenek Sumiati, beliau adalah guru yang mengajari aku, Silvia dan Nuraini tentang kehidupan.." ucap Naia, kemudian Naia dan Silvia bergiliran mencium tangan mbah Sumi.


Bu Santi menggenggam tangan mbah Sumi dengan kedua tangannya, "Saya Santi, mamanya Naia dan Silvia, Nuraini pun juga sudah seperti anak saya sendiri. Terima kasih sudah memberikan pengajaran kepada anak-anak saya. Mungkin mereka sudah banyak merepotkan, saya sebagai mamanya meminta maaf kepada mbah Sumiati atas perilaku mereka.." ucap bu Santi.


"Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, pantas saja mereka begitu cantik dan santun, ternyata sifat itu diturunkan dari ibu nya. Mereka sudah bercerita tentang latar belakang keluarganya, sayang sekali aku tidak sempat berkenalan dengan ibunya Silvia.." ucap mbah Sumi.


Setelah saling berkenalan, mereka berangkat menuju masjid Ar-Rahim. Sementara itu disaat yang sama, Nuraini bersama dengan rombongan juga berangkat menuju masjid Ar-Rahim untuk mengikuti prosesi ijab qabul.


*****


Sementara itu, di halaman masjid Ar-Rahim, pak Gunawan meneteskan air matanya saat melihat orang tua yang sangat dia kenal, berjalan ke arahnya. Dengan setengah berlari, pak Gunawan menyambut kedatangan mbah Sastro kemudian segera meraih tangan mbah Sastro dan menciumnya, "Kang-kang Sastro, akhirnya kita bisa bertemu lagi, aku sudah mencarimu selama bertahun-tahun, aku tidak menyangka bisa bertemu disini.. Tapi bagaimana kamu tau kalau aku sedang menikahkan anakku..?" ucap pak Gunawan penasaran.

__ADS_1


Dewa cukup terkejut mengetahui bahwa ayahnya mengenal mbah Sastro, "Loh ayah kenal sama mbah Sastro..? Bagaimana ceritanya..?" tanya Dewa heran.


"Hehhehhe.. Dunia ini ternyata begitu sempit. Itu cerita lama yang tidak perlu diungkit.. Aku benar-benar tidak menyangka bahwa nak Dede adalah putramu. Dialah yang mengundang dan memintaku menjadi saksi pernikahannya, dan sebagai guru aku harus memenuhi permintaan muridku ini.." ucap mbah Sastro.


"J-jadi Dewa.... Aahhhh. Segala sesuatu di dunia ini memang tidak bisa diduga, ternyata putraku adalah muridmu.. Oiya Wa, gurumu ini adalah orang yang menyelamatkan ayah saat ayah mendapat tugas di hutan Borneo. Jika tidak ada beliau, entahlah apa yang terjadi pada ayah.." jawab pak Gunawan.


Tak lama berselang, petugas dari KUA bersama rombongan keluarga Niko, calon suami Nuraini memasuki halaman masjid. Pak Gunawan segera menyambut mereka dan memperilahkan semua yang berada di halaman masjid untuk bergegas masuk masjid, "Alhamdulillah bapak-bapak dari KUA sudah datang, monggo kita langsung kedalam dan memulai ijab qabulnya.." ucap pak Gunawan.


Mereka segera menempati posisi masing-masing. Petugas KUA sekali lagi memeriksa berkas-berkas pernikahan dan memastikan syarat-syarat pernikahan terpenuhi, "Baik ini berkasnya lengkap, untuk mas kawinnya ada..? Wali nikah dari saudari Nuraini..? Saksi dari kedua mempelai..?" tanya petugas KUA memastikan.


Niko menunjukkan mas kawin yang akan dia serahkan kepada mempelai wanita, "Ini pak mas kawinnya, seperangkat alat sholat dan satu set perhiasan dengan berat keseluruhan 32 gram.."


"Saya wali nikah dari Nuriani dan beliau berdua adalah saksi nikahnya.." jawab pak Gunawan.


Rombongan Naia dan Nuraini telah sampai di masjid Ar-Rahim. Mereka menunggu proses ijab qabul di teras samping masjid, tempat jamaah putri biasa melakukan sholat. Mereka akan masuk dengan pendamping pengantin wanita saat acara penyerahan mas kawin oleh suami mereka masing-masing. Wajah Nuraini terlihat tegang saat dia mendengar suara Niko mengucapkan Ijab Qabul dihadapan ayahnya.


Saahhhh... Saaaahhhh..


Terdengar suara orang yang menyaksikan prosesi ijab qabul yang dilakukan Niko dan pak Gunawan. Suara yang membuat Nuraini tersenyum bahagia hingga tak terasa air mata menetes melalui sudut matanya, "Alhamdulillah yaa Allah.. Engkau telah memenuhi permintaan hambamu ini.." ucap Nuraini dalam hati.


Pak Wira dan Dewa duduk saling berhadapan, sama hal nya dengan pak Gunawan, pak Wira memilih untuk mengijabkan putrinya sendiri. Dengan berjabat tangan, pak Wira mulai mengucapkan kalimat ijab kepada Dewa, "Ananda Dewangga Ramadhan, aku nikahkan engkau dengan putriku Naia Wulandari dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan satu set perhiasan seberat 50 gram dibayar tuuuuunai.."


Dengan satu tarikan nafas Dewa menjawab, "Saya terima nikahnya Naia Wulandari binti Wirakusuma dengan mas kawin tersebut dibayar tuuunaiii.."

__ADS_1


"Bagaimana saksi..?" tanya petugas KUA.


Saaahhhhh... Saaaahhhhh... Saaaaahhh...


Teriakan semua yang hadir di dalam masjid membuat Naia dan Silvia tersenyum lega. Silvia memeluk Naia, "Selamat Nai, akhirnya kamu sekarang resmi menjadi nyonya Dewa.." ucap Silvia kemudian mencium pipi Naia.


"Selamat mbak, aku senang akhirnya ada yang mendampingi bang Dewa.." sahut Tiara.


"Terimakasih Vi, terimakasih Tiara.." jawab Naia.


Dengan didampingi bu Santi, bu Widya, mbah Sumi juga Silvia dan Tiara, Naia dan Nuraini keluar menuju tempat dimana ijab qabul dilaksanakan untuk menerima mas kawin dari suami mereka.


"Akhirnya bos dan nyonya bos, juga bos kecil akhirnya mereka menikah.. Aku akan menjadi penjaga pernikahan mereka. Siapapun yang berani menganggu ketentraman rumah tangga mereka, aku Yudha sang Raja Neraka yang akan menghukumnya.." teriak Yuma.


Setelah penyerahan mas kawin kepada mempelai wanita, mereka menuju salah satu hotel di kota L untuk mengadakan resepsi sederhana. Pak Wira dan pak Gunawan hanya mengundang beberapa koleganya. Meakipun sederhana, tidak mengurangi kekhidmatan dari acara resepsi pernikahan kedua pasangan itu.


******


Sementara itu di salah satu gedung kosong di kota AB, Sulam yang berhari-hari mencari keberadaan tubuh Kilisuci dan Candrakirana, tiba-tiba merasakan sesuatu, "Hahahaha.. Akhirnya aku bisa merasakan keberadaan mereka berdua. Ternyata mereka ada di sebelah timur, di kota L. Aku harus segera menyusul kesana.."


Sulam duduk bersila untuk memastikan keberadaan keduanya, wajah Sulam yang semula senang mendadak menjadi tegang, "I-ini tidak mungkin. Mengapa aku merasakan sang Adhimurti..? Apakah mereka sudah menikah..? Sepertinya sang Adhimurti hanya menikahi pemilik tubuh Kilisuci, aku masih punya kesempatan. Pemilik tubuh Candrakirana, aku pasti akan mendapatkanmu.."


Dhuuaaaaarrrr...

__ADS_1


Tiba-tiba kekuatan yang sangat besar menghantam Sulam, beruntung Sulam sudah bersiap, sehingga dia bisa memgeluarkan kekuatannya tepat waktu dan menahan serangan itu, "Bajingan kau Adhimurti, aku akan membalasmu nanti.." gumam Sulam kemudian tubuhnya berubah menjadi asap hitam dan menghilang.


__ADS_2