
Dewa berniat mendatangi gudang sendirian dengan tujuan melakukan ritual ruwat guna menenangkan entitas yang tidak senang dengan aktifitas tim nya membersihkan tempat itu agar mereka yang bekerja terbebas dari gangguan mereka.
Waktu berjalan dengan begitu cepatnya, tidak terasa jam dinding sudah menunjukkan jam 11 malam. Dewa bersiap untuk pergi ke gudang, "Sebaiknya aku pergi sendiri saja. Selain lebih leluasa, juga lebih aman buat yang lainnya. Sepertinya tadi siang aku melihat ada ribuan makhluk yang siap menyerang siapa saja yang mendekat di bangunan itu.." gumam Dewa dalam hati.
"Mas mau kemana malam-malam begini..?" tanya Naia mengejutkan Dewa saat dia akan mengeluarkan sepedanya.
"Loh, kok belum tidur..? Itu, aku akan ke gudang, aku ingin memeriksa apa yang sebenarnya yang menyebabkan Bagio dan teman-temannya tadi sampai kesurupan. Sepertinya ada sesuatu di gudang itu.." ucap Dewa.
"Malam-malam begini..? Kenapa gak besok aja..?" protes Naia.
"Ya memang harus malam periksanya. Udah, kamu tidur gih, aku cuma sebentar aja kok.." jawab Dewa.
"Mas hati-hati. Aku gak akan tidur sebelum mas pulang.." ucap Naia kemudian dia duduk di sofa ruang tamu.
Dewa tersenyum dan menganggukkan kepalanya, kemudian dia pergi ke gudang dengan sepedanya.
*****
Hanya beberapa menit Dewa sudah sampai di gudang, pemandangan yang belum pernah dia lihat sebelumnya, bangunan mewah itu terlihat lebih jelas. Bahkan dia bisa melihat ribuan orang dengan pakaian seperti prajurit kerajaan sedang berjaga di depan bangunan itu. Dewa berjalan perlahan ke arah bangunan itu, tiba-tiba seorang perempuan berbaju putih berteriak kepadanya, "Pergi kamu dari sini..!! pergi..!! Hihhihhihhi..." teriaknya kemudian tertawa melengking.
"Siapa kamu..? Apakah kamu orang yang gantung diri di gudang ini..? Apa yang kamu inginkan..?" tanya Dewa.
Perempuan itu tiba-tiba menangis, tangisan yang menyayat hati. Dia menatap Dewa kemudian bersimpuh, "Aku memilih jalan yang salah, aku pikir dengan kematian dapat membebaskanku dari penderitaan, tapi ternyata langit dan bumi tidak menerimaku sehingga aku hanya menjadi arwah sangsaran seperti ini. Tuan, aku mohon dengan kekuatanmu, bebaskan aku dari kutukan ini, sempurnakan aku tuan.." ucapnya memohon.
"Baiklah, aku akan membantumu. Tapi berhasil atau tidak itu tergantung dirimu apakah kamu bisa melepaskan semua belenggu dendam dan sakit hatimu.." Dewa membacakan lantunan ayat suci untuk menenangkan arwah perempuan itu, kemudian membaca salah satu mantra puji sesanti yang ada di dalam kitab kalimasada sambil menyalurkan kekuatan spiritualnya kepada perempuan itu untuk menyempurnakan arwahnya.
Perlahan, tubuh perempuan itupun memancarkan sinar kemerahan dan perlahan menghilang setelah mengucapkan terimakasih. Dewa kembali berjalan ke arah bangunan megah itu, tiba-tiba salah satu dari mereka menghadangnya, "Berhenti..!! Manusia mengapa kamu datang kesini..? Disini bukanlah tempatmu, sebaiknya engkau pergi..!!" hardiknya.
"Siapa kamu..? Apakah kamu penguasa disini..? Aku tidak akan pergi sebelum kalian memberikan penjelasan kejadian tadi siang. Apa alasan kalian menganggu temanku yang sedang bekerja..?" jawab Dewa.
"Kamu tidak pantas bertemu dengan penguasa kami..! Lihat itu, mereka merusak istana kami dan melukai anak dari salah satu prajurit kami.." ucapnya.
"Bukankah kami mamusia tidak bisa melihat kalian..? Jadi yang mereka tidak sengaja merusak dan melukai anak itu.. Tapi baiklah, aku minta maaf atas ketidak sengajaan ini. Jadi hari ini, ijinkan aku membuat pembatas antara dunia kalian dan duniaku.." jawab Dewa.
"Lancang..!! Beraninya kamu membuat pembatas di wilayah kami..?" bentaknya.
"Mungkin inilah yang dikatakan Loreng, tanah dikatakan sebagai tanah sangar. Ternyata ada kerajaan jin disini.." gumam Dewa dalam hati.
__ADS_1
"Sudahlah senopati, bunuh saja manusia itu biar jiwanya bisa menjadi santapan kita.." teriak salah satu dari mereka.
Tiba-tiba makhluk itu menyerang Dewa dengan kekuatan berbentuk bola api..
Whooooosss.. Whoooosss.. Whoooosss..
Dengan kekuatan spiritualnya, Dewa mengembalikan serangan ketiga bola api itu.
Plaaaaaass.. Plaaaaaass.. Plaaaass...
Ketiga bola api itu mengarah kepada pemiliknya dan..
Boooooommm...
Suara ledakan terdengar saat ketiga bola api itu mengenai tubuh sang senopati dan membuatnya hilang tanpa bekas.
"Keparaaaattt..!! Kau berani membunuh salah satu senopatiku..!!" sesosok makhluk tinggi besar melompat dan menyerang Dewa dengan cakarnya.
Dewa tidak diam, dia menghindar dan hendak memukul makhluk itu. Saat pukulannya hampir mengenai sosok tinggi besar itu, datang seseorang untuk menahan pukulan Dewa dengan tinjunya.
Suara ledakan terdengat saat kedua tinju itu bertemu dan membuat seseorang itu mundur beberapa meter. Kedatangannya membuat seluruh prajurit dan sosok besar itu berlutut. Sosok yang terlihat tampan dan berwibawa juga mempunyai kekuatan yang besar itu berkata, "Pantas saja kamu berani kesini sendirian, ternyata kamu cukup mempunyai kemampuan.. Tapi jangan sombong, sudah puluhan manusia seperti kamu yang mati karena melawanku.." ucapnya.
"Siapa kamu..? Sepertinya kamu adalah pemimpin dari mereka semua.." sahut Dewa.
Tidak menjawab pertanyaan Dewa, sosok tersebut langsung menyerang Dewa. Tak ingin berlama-lama dalam pertarungan, Dewa membaca salah satu kidung sesanti yang ada di dalam kitab kalimasada, "Tan samar pamoring sukma sinuksmaya teguh hayu luputa sakkehing bilahi jim setan datan purun paneluh tan ana wani, temahan rahayu apan sarira ingsung ingederan widodari rineksa malaekat lan sagung para rasul.." kemudian api putih memancar di seluruh tubuh Dewa. Tiba-tiba sosok yang ada di depan Dewa, termasuk semua prajuritnya berteriak kepanasan dan menyerah.
"Aaaarrggg.. Panaaaassss... Ampun tuan, aku mengaku kalah, aku menyerah, aku tunduk kepadamu tuan. Aaaaahhhhh.. Ampuuuuunn.." rintihnya.
Dewa menarik kembali api putih ke dalam dirinya, kemudian berjalan mendekati sosok itu, "Aku datang kemari dengan baik-baik. Sebenarnya aku tidak ingin hal seperti ini terjadi, tapi kalianlah yang menginginkan hal seperti ini.." ucap Dewa.
"Ampun tuan, aku benar-benar tidak tau ternyata tuan menguasai aji kulhugeni. Aku dan seluruh prajuritku menyerah kepada tuan dan akan menjadi pengikut tuan.." ucapnya.
"Aku tidak butuh itu, tapi kalau kamu memang berniat seperti itu, aku tidak memaksa. Siapa kalian sebenarnya dan mengapa berada disini..?" tanya Dewa.
"Namaku pangeran Gandarwamaya, aku adalah putra dari Gandarwa Raja, penguasa gunung Wilis, dan mereka adalah prajuritku. Sosok besar ini adalah panglima Singo Barong, dia membawahi sepuluh senopati dan salah satunya yang tuan bunuh tadi.." jawabnya.
"Jika kerajaanmu ada di gunung Wilis, mengapa kamu disini dengan sekian banyak prajurit..? Apa yang sebenarnya ingin kalian lakukan..?" tanya Dewa.
__ADS_1
"Kami sedang menunggumu tuanku.." jawabnya.
"Menungguku..? Apa maksudmu..?" sahut Dewa.
"Sudah berpuluh tahun kami menunggu seseorang yang menguasai aji kulhugeni disini, bahkan sebelum bangunan manusia ini dibangun. Semua ini atas saran dari penasehat kerajaan kami, seorang manusia juga yang berdiam di lereng gunung Wilis.." Gandarwamaya mulai menjelaskan.
"Penasehat kerajaan jin adalah manusia..? Tapi mengapa engkau mencari orang yang menguasai ilmu itu..? Dan apa kamu yakin kalau yang aku kuasai adalah kulhugeni..?" tanya Dewa.
"Benar tuan, penasehat kami adalah seorang kyai yang pemilik padepokan di lereng gunung. Dia mengatakan bahwa hanya kulhugeni yang bisa mematahkan rantai Bathari Uma yang menyiksa ayahandaku, dia juga menyebutkan bahwa api putih yang menjadi ciri-ciri dari kulhugeni.. Kami adalah bangsa Jin yang terbuat dari api, hanya api kulhugenilah yang bisa membakar kami.." jawab Gandarwamaya.
"Bathari Uma, siapa dia dan mengapa dia merantai ayahandamu..?" tanya Dewa.
"Tuan bisa menanyakan sendiri perihal itu kepada ayahanda Gandarwa Raja. Saya mohon tuan bantulah ayahandaku, jika tuan bersedia membantu, kerajaan Wilis akan mengabdi kepada tuan untuk selamanya.." pinta Gandarwamaya.
Dewa terdiam beberapa saat, walaupun sebenarnya dia tidak bersedia menerima pengabdian dari para jin itu, tapi dia berfikir bahwa tidak ada salahnya membantu jin penguasa gunung Wilis itu, "Baiklah, aku bersedia membantumu, tapi aku tidak ingin kalian mengabdi padaku. Kalian bebas menentukan nasib kalian sendiri. Tapi aku hanya ingin kalian berjanji melakukan beberapa hal.." ucap Dewa.
"Apapun perintah tuanku akan kami laksanakan. Bahkan jika tuan memerintahkan memindahkan kerajaan kecilku ini, saat ini juga aku akan pindahkan.." ucap Gandarwamaya.
"Tidak perlu, kalian bebas bertempat dimanapun sesuka kalian. Tapi yang harus kamu lakukan adalah pertama, buat pembatas antara duniaku dan duniamu agar tidak saling bersinggungan. Kedua, jangan pernah menganggu siapapun yang bekerja di tempat ini, karena mereka semua adalah keluargaku. Dan yang ketiga, kalian boleh menakuti, mengganggu bahkan mengusir siapapun yang berniat jahat di tempat ini, tapi jangan sampai melukai apalagi membunuhnya.." ucap Dewa.
Mendengar ucapan Dewa, Gandarwamaya kemudian berteriak kepada bawahannya, "Kalian sudah mendengar sendiri sabda tuanku, maka jika ada yang melanggarnya, aku sendiri yang akan menghukum kalian..!!"
"Kami akan melaksanakan sabda tuanku, nyawa kami taruhannya.." ucap mereka serempak.
"Baiklah Gandawamaya, aku akan menepati janjiku. Bawa aku ke kerajaanmu bertemu dengan ayahandamu.." ucap Dewa.
"Baik tuan.. Tuan pejamkan mata, aku akan menggunakan ilmu lempit bumi agar kita sampai disana dengan cepat.." ucap Gandarwamaya kemudian memegang pundak Dewa.
*****
Hanya dalam beberapa detik, mereka sampai di kerajaan Wilis. Gandarwamaya segera mengajak Dewa untuk bertemu dengan Gandarwa Raja, ayahandanya yang juga raja dari kerajaan Jin Wilis.
"Ayahanda, hamba menghadap bersama dengan tuanku pemilik aji kulhugeni. Tuanku, dia adalah ayahandaku.." ucap Gandarwamaya.
Dewa terkejut melihat penampakan Gandarwa Raja. Sosok yang sangat besar, bahkan singgasananya bisa dipakai untuk duduk puluhan orang. Gandarwa Raja adalah raja jin penguasa kerajaan di gunung Wilis, dengan kulit berwarna kemerahan dan wajah yang menyerupai yaksa dengan taring yang keluar dari mulutnya.
"Hahahahaha... Apakah benar manusia ini menguasai kulhugeni..? Dan mengapa kamu memanggilnya tuan, apakah kamu sudah dikalahkan olehnya, wahai putraku..?" ucapnya dengan suara yang menggema.
__ADS_1