
Dewa kembali duduk di kursinya dan melanjutkan diskusi dengan Yuma dan Kosim. Dewa terlihat serius melihat data yang diserahkan oleh Yuma kepadanya.
"Bagaimana bos, apakah grafik yang aku buat bisa membantu bos mengukur kemampuan mereka..? Grafik itu aku buat berdasarkan kondisi rata-rata dari masing-masing orang.." Yuma mengawali diskusi.
"Atau mungkin perlu ditingkatkan lagi porsi latihan mereka bos..?" sambung Kosim.
Dewa meletakkan laporan, "Dari data yang baru saja aku baca, memang benar yang kamu ucapkan tadi, dari grafik ini terlihat bahwa kemampuan dari masing-masing individu tidak sama. Begini, aku ingin mereka dibagi mereka menjadi tiga kelompok berdasarkan kemampuan mereka.." ucap Dewa.
"Oh.., tapi untuk apa bos..? Bukankah akan ada perbedaan kekuatan dan kemampuan antar kelompok nantinya..?" tanya Yuma heran.
Dewa kemudian menjelaskan kepada Yuma dan Kosim, Dewa ingin membagi personel pengamanan menjadi tiga kelompok besar seperti pada militer yaitu pasukan pengamanan, pasukan khusus dan pasukan elit. Pasukan pengamanan mempunyai kemampuan setara dengan dua orang petarung profesional. Personel pasukan khusus adalah mereka yang memiliki kemampuan setara dengan lima pasukan pengamanan. Adapun di pasukan elit, mereka setidaknya memiliki kemampuan setara dengan lima orang pasukan khusus. Artinya seseorang yang berada pada pasukan elit memiliki kemampuan setara dengan 25 orang pasukan pengamanan. Masing-masing pasukan ditandai dengan lencana perunggu, perak dan emas.
"Jadi bos ingin membaginya seperti pada militer..? Lalu apa fungsinya bos..? Bukankah mereka akan disewa oleh perusahaan lain..?" tanya Yuma.
"Tiap-tiap pasukan khusus akan membawahi setidaknya sepuluh orang pasukan pengamanan. Yang pasti kita tidak akan memasang harga murah untuk mereka. Sedangkan untuk pasukan elit, mereka akan bekerja secara tim berjumlah tiga orang dan mereka akan bekerja di perusahaan kita sendiri.. Aku ingin membangun pasukanku sendiri Yud, dan kalian adalah jendral mereka.." jawab Dewa.
"Wah sepertinya tidak lama lagi akan ada kejadian besar. Apakah bos mempersiapkan ini untuk menghadapi orang yang menjebak kalian..?" tanya Kosim penasaran.
"Benar bang, tapi mungkin tidak secepat yang bang Kosim pikirkan. Dalam jangka pendek, aku merasa bahwa usaha kemitraan kita akan mempunyai banyak musuh, terutama mafia pangan dan mafia tanah. Paling tidak kita punya persiapan yang cukup untuk menghadapi mereka.." jawab Dewa.
"Baik bos, jika seperti itu maka untuk pasukan khusus, Petruk yang akan bertanggung jawab sedangkan pasukan elit biar aku sendiri yang menghandle. Bang Kosim urus yang pasukan pengamanan bersama Icong.." ucap Yuma.
"Siap bos Yuma.." ucap Kosim.
"Aku sudah memesan beberapa unit air gun untuk latihan menembak bagi pasukan khusus dan elit. Dan rencananya dalam dua atau tiga hari bang Santoso dan Niko akan bergabung untuk menjadi instruktur bersama dengan kalian.. Oiya Yud, sisihkan dua atau tiga orang di pasukan elit yang berusia dibawah 26 tahun, aku akan mendidiknya sendiri.." ucap Dewa dan dijawab dengan anggukan kepala Yuma dan Kosim.
*****
Setelah mengantar Dewa, Yuma segera menjalankan sesuai dengan perintah Dewa, dan eleksipun dilaksanakan. Yuma menerapkan pelatihan kepada 40 orang anak didiknya jauh lebih extrim dari sebelumnya. Mereka harus berlari tiga kali putaran menaiki gunung Wilis dengan beban 3 Kg di masing-masing kaki dan tangan mereka juga 10 Kg di punggung mereka. Setelah itu mereka masih harus melakukan pelatihan fisik lainnya.
"Yang kalian jalani sekarang tidak ada apa-apanya dengan pelatihanku dulu, bahkan tidak sampai 30% dari pelatihan bos besar. Bagi yang merasa tidak mampu melanjutkan ke level berikutnya silahkan kalian keluar dari barisan..!!" ucap Yuma tegas.
__ADS_1
Sekitar separuh dari mereka keluar meninggalkan barisan dan berkumpul bersama Kosim.
"Apakah kalian yang berada di barisan masih sanggup menjalani pelatihan ini..?!" ucap Yuma.
"Siap.. Kami masih sanggup..!" ucap mereka serempak.
"Sekarang kalian dirikan tenda, malam ini kita akan menginap di tempat ini. Setelah itu, kalian bisa makan dan istirahat untuk memulihkan tenaga.." ucap Yuma kemudian meninggalkan mereka menuju tempat dimana Kosim dan anak didiknya berada.
"Setelah istirahat, kalian bisa meninggalkan tempat ini..!" ucap Yuma dengan tatapan mata tajam.
"Maaf kapten, apakah kami semua dipecat..?" salah seorang peserta memberanikan diri bertanya.
"Mulai sekarang bang Kosim dan bang Icong adalah kapten kalian. Selebihnya ikuti saja arahan dari mereka berdua.." jawab Yuma tegas, kemudian Kosim mengajak mereka kembali ke asrama untuk beristirahat.
Teeng... Teeeeenggg.. Teeengggg...
Tepat jam tiga pagi Faruq memukul lonceng tanda para peserta harus berkumpul.
Dengan menahan rasa kantuk, para peserta didik segera berlari dan berbaris.
"Di depan sana ada sungai, segera kalian bersihkan diri kalian, aku memberi kalian waktu lima belas menit, dihitung mulai dari sekarang..!" ucap Yuma sambil menekan timer di jam tangannya.
Para peserta didik segera berlari menuju sungai yang dimaksud. Dengan menahan dingin, mereka mulai membasuh muka dan kemudian membersihkan diri mereka.
"Aahhh.. Tau begini aku keluar barisan kemaren.." gerutu salah satu peserta.
"Iya benar, pelatihan kali ini jauh lebih extrim seperti biasanya. Untuk apa semua ini, bukankah kita hanya jadi satpam saja nantinya, mengapa harus berlatih seperti ini..?" sahut lainnya.
"Hush..! Jangan sembarangan ngomong. Kalau sampai kapten tau, kita semua bisa kena hukuman. Aku yakin ada hal baik yang sudah disiapkan untuk kita nantinya. Walaupun satpam, setidaknya kita bukan satpam biasa, pastinya gaji kita akan jauh lebih besar dari satpam biasa.." ucap yang lainnya.
Banyak keluhan dari para peserta didik, meskipun sebagian dari mereka juga yang bersemangat dengan pelatihan yang diterapkan Yuma. Obrolan merekapun terhenti ketika mendengar suara Yuma, "Waktu kurang satu menit..!!"
__ADS_1
Obrolan merekapun terhenti dan segera bergegas kembali menuju lokasi kumpul. Wajah mereka terlihat segar, meskipun hanya beberapa saja yang terlihat juga bersemangat.
"Masih ada yang mengantuk..?!" tanya Yuma.
"Tidak kapten..!" jawab mereka serempak.
"Baik, sekarang yang harus kalian lakukan adalah melakukan ibadah pagi. Bagi yang muslim, silahkan melakukan sholat tahajud dan dilanjutkan sholat shubuh bersama bang Faruq. Sedangkan yang beragama lain, lakukan sesuai tuntunan agama kalian.." ucap Yuma tegas.
Merekapun membubarkan diri dan mengambil peralatan ibadah mereka kemudian menuju lokasi dimana Faruq berada. Mereka menjalani ibadah dengan khusyu', hal yang sama juga dilakukan dua orang yang non muslim, mereka juga terlihat berdo'a dengan sangat khidmad dibelakang teman-teman muslim mereka yang sedang berjamaah.
Tak terasa semburat cahaya merah tampak di langit timur yang menandakan mereka harus memulai aktifitas pelatihan mereka. Yuma menjelaskan aturan pelatihan, mereka harus menambah beban di kaki dan tangan mereka menjadi 5 Kg dan beban di punggung mereka seberat 15 Kg. Yuma juga mengubah rute lari mereka melalui jalur yang lebih extrim dari sebelumnya. Tidak hanya memberi instruksi, Yuma dan Faruq pun melakukan hal yang sama, memberi beban pada kaki dan mereka 5 Kg lebih berat sedangkan beban di punggung mereka 10 Kg lebih berat dari peserta didik. Yuma dan Faruq pun juga ikut berlari menelusuri rute yang sudah ditentukan.
Selama dua hari berturut-turut Yuma melakukan pelatihan untuk kedua puluh orang peserta didik. Hasilnya hanya tinggal delapan orang saja yang tersisa untuk mengikuti seleksi level selanjutnya. Hal yang sama diberlakukan untuk kelompok kedua ini, mereka harus keluar dari seleksi bersama dan menunjuk Faruq sebagai kapten mereka.
"Hanya kalian berdelapan yang lolos menuju level selanjutnya. Apakah masih ada yang ingin keluar barisan..? Aku beri kalian waktu 30 detik untuk memutuskan apakah kalian akan lanjut atau mundur.." ucap Yuma.
"Kapten, tidak usah membuang waktu lagi, aku akan melanjutkan untuk seleksi level selanjutnya.." ucap Indri, satu-satunya peserta perempuan yang masih bertahan.
"Bagus.. Karena Indri yang bicara, siapapun yang meninggalkan barisan, maka dia akan kembali ke kamp dengan memakai rok dan beha.." ucap Yuma.
Kemudian Yuma memberikan penjelasan tentang tujuan dari pelatihan itu, "Jadi itulah yang diinginkan bos besar. Tapi kalian berdelapan ini bukan lantas lolos menjadi pasukan elit, kalian harus tetap mengikuti seleksi tahap terakhir ini. Bagi yang gagal, maka otomatis akan dicoret dan akan bergabung dengan pasukan khusus yang dipimpin oleh bang Faruq. Jangan khawatir, bos besar pasti akan memberikan penghargaan yang pantas buat kalian, sebagai pasukan elit, gaji kalian bisa beberapa kali lipat dari pasukan khusus.." ucap Yuma memgakhiri penjelasannya.
"Aku pasti bisa melewati ujian kali ini..!!"
"Yaa.. Aku juga akan berusaha sekuat tenaga.."
"Aku akan tunjukkan bahwa aku layak berada di pasukan ini.. Kapten Yuma, terimakasih..!" ucap para peserta saling bersahutan.
Yuma mengangkat tangannya, semua peserta didik terdiam, "Baik aku bangga dengan kalian. Tapi setelah ini, pelatihan yang kalian hadapi tidak beda dengan berada di neraka, kalian tidak lagi merasakan pelatihan tapi lebih pada penyiksaan. Apakah kalian siap mengikuti pelatihan seperti layaknya di neraka..?!" tanya Yuma tegas.
"Kami siap kapten..!" jawab mereka serempak.
__ADS_1
"Baiklah, sekarang kalian istirahatlah. Besok kita akan mulai hidup bagai di neraka.." ucap Yuma.