Dewa Sang Patriot

Dewa Sang Patriot
Mencari Sang Sniper


__ADS_3

Naia perlahan mulai terbiasa dengan keberadaan Yuma, walau kadang masih ada rasa takut, terutama saat mendengar suara Yuma yang berat dan kasar, sehingga Naia selalu memeluk lengan Dewa. Yuma pun berusaha mengakrabkan diri dengan mengajak bercanda Naia.


Dewa membuka diskusinya dengan mengatakan siapa orang yang menyewa dia, "Yud, aku sudah tau siapa orang yang menyewamu. Dia adalah Karman, paman calon istriku sendiri.." ucap Dewa sambil menoleh kepada Naia.


Yuma terkejut, dia tidak menyangka disewa oleh orang terdekat dari calon korbannya, "Bangsat..!! Kok ada ya orang yang tega dengan darah dagingnya sendiri seperti itu..? Tapi bos sudah tau apa tujuan dia sebenarnya..?" tanya Yuma sambil mengepalkan tangan.


"Aku juga tidak yakin, sepertinya masalah internal keluarga.. Tapi tenang aja, gak lama juga akan ketahuan tujuannya.." jawab Dewa.


Yuma merasa tidak enak hati terhadap Naia, lalu dia berkata kepada Naia, "Nyonya bos maaf, saya benar-benar tidak tau kalau targetnya adalah nyonya bos.." ucap Yuma memelas dan malah membuat tertawa Naia.


"Hihihihi.. Iya bang. Mas Dewa udah cerita sama aku tadi. Ternyata Tuhan masih sayang sama aku, ternyata om Karman menyewa teman mas Dewa untuk menculikku, dengan begini rencana om Karman bisa dipastikan akan gagal.." ucap Naia.


Dewa terlihat sedang memikirkan sesuatu, hingga dia bertanya kepada Roni, "Ron, apa kamu tau tempat yang tersembuyi di wilayah ini..? Misalnya gudang yang terbengkalai atau apapun lah, yang penting jauh dari pemukiman dan jarang orang beraktifitas disana.. Kamu paham kan maksud ku..?" tanyaku kepada Roni.


"Sebentar bos, saya akan menghubungi beberapa teman, mungkin mereka bisa bantu mencarikan tempatnya.. Tapi untuk apa bos..?" jawab Roni yang terlihat bingung.


"Udah laksanakan aja perintah bosmu, kau cari aja, jangan banyak tanya. Daripada lidahmu tergigit.." hardik Yuma sambil memelototi Roni.


"I-iya bang.." jawab Roni sambil tersenyum untuk menutupi rasa takutnya.


Roni segera pergi ke meja lain untuk menelepon beberapa temannya menanyakan lokasi seperti yang Dewa katakan, sedangkan Dewa melanjutkan menyusun rencana dengan Yuma, "Yud, aku mendapat informasi bahwa Santoso beberapa hari ini terlihat di GOR untuk melihat kompetisi tarung bebas. Besok pasti dia akan melihat juga, terlebih pertandingan final.." ucap Dewa memulai diskusi.


"Ada ribuan orang di dalam GOR, lalu bagaimana rencanamu untuk mencari dia bos..?" tanya Yuma.


"Gampang, manfaatkan saja orang-orang yang dikirimkan Karman, suruh mereka mencari Santoso di dalam GOR. Kalau sudah ketemu, suruh orang-orang itu mengantarkan Santoso untuk bertemu dengan Roni, dia akan berpura-pura menjadi bos yang membutuhkan jasa Santoso. Katakan saja ada pekerjaan yang harus dia kerjakan. Selanjutnya kamu pasti tau apa yang harus kamu lakukan, karena kamu ahlinya dalam hal ini.." Dewa menjelaskan rencananya.


"Bos memang benar-benar luar biasa. Dalam waktu singkat bisa membuat rencana.." puji Yuma.


Setelah selesai menghubungi beberapa temannya, Roni kembali ke meja Dewa dan menunjukkan lokasi terbaik menurut dia sesuai dengan kriteria Dewa, "I-ini bos, mungkin lokasi ini sesuai dengan permintaan bos. Bekas pos polisi hutan, di bagian selatan Kabupaten AE, sekitar 30 kilometer dari GOR. Daerah itu sangat sepi, tidak ada warga yang berani mendekatinya. Katanya sih angker karena pernah terjadi pembunuhan di tempat itu empat tahun lalu. Bagaimana menurut bos..?


"Bagus. Semakin sepi semakin bagus.. Terimakasih Ron.. Oiya Ron, aku juga butuh bantuanmu. Setelah ini kamu diskusikan dengan Yuma bagaimana teknis yang harus kalian lakukan besok. Tadi aku sudah menjelaskan garis besarnya kepada Yudha.. Satu lagi, kamu pastikan tempat itu seperti apa, terus jangan lupa kirimkan lokasinya juga.." ucap Dewa.


"Siap bos.. Sesuai perintah.." jawab Roni singkat.


"Besok, berhasil atau tidak, tergantung kalian.." ucap Dewa.


"Siap bos. Setelah ini kami akan memeriksa lokasi itu untuk memeriksa keadaan disana.." jawab Roni.


"Satu lagi, saat pertarunganku besok, kamu, Kosim, Icong dan ketiga petarungmu lindungi Naia. Besok juga ada Loreng yang akan bantu.." ucap Dewa serius.


"Siap bos.." ucap Roni.

__ADS_1


Meskipun Dewa sudah menjamin bahwa pertarungannya dengan Yuma sudah diatur, tapi tetap saja Naia khawatir, "Eeee.. Mas, besok bertarungnya jangan terlalu serius ya..? Jangan sampai kalian cidera karena terlalu serius bertarung.." ucap Naia.


"Wah, ternyata nyonya bos perhatian juga ya..? Temang saja, nyonya bos tidak perlu khawatir.." sahut Yuma


"Eh dari tadi bang Yudha panggil aku nyonya bos, kan aku juga belum nikah sama mas Dewa, masih rencana mau nikah.. Lalu kalau kalau aku nyonya bos, terus yang satunya lagi dipanggil siapa dong..? Nyonya muda bos..? Hihihihi.." ucap Naia sambil menempelkan kepalanya di bahuku.


Ucapan Naia membuat Dewa bertanya, "Eh.. Apa maksudnya sayang..? Satunya siapa..? Kok aku malah gak tau..?" tanya Dewa keheranan, tapi Naia hanya mengangkat bahunya lalu tersenyum kepadaku dan makin erat memeluk tanganku.


"Hahahaha... Ternyata sungguh hebat kapten ini, benar-benar layak menjadi nomor satu.." ucap Yuma, dan Roni hanya mengacungkan dua jempolnya ke arahku.


"Eh.. Kalian ini malah dukung dia, makin gak jelas kalian ini.."


Mereka pun mengakhiri obrolannya di kafe. Dewa dan Naia kembali ke hotel, sedangkan Roni dan Yuma pergi melihat lokasi itu.


*****


Naia langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur, sedangkan Dewa duduk di kursi sofa panjang disamping kasur. Naia bangun dari tidurnya dan duduk di depan Dewa ketika Dewa mulai bicara, "Eee, Naia, besok pagi kamu jangan kemana-mana, tunggu aja di kamar, begitu selesai aku akan langsung kembali. Itu jauh lebih aman buatmu.." ucap Dewa.


Naia menganggukkan kepalanya lalu berkata, "Iya.. Tapi mas harus hati-hati ya..? Jangan sampai kenapa-kenapa.. Janji..?" ucapnya lalu duduk di sebelah Dewa.


"Iya janji.. Doain aja besok bisa lancar semua.."


"Eeemmm.. Rahasia, kasih tau enggak yaaa..? Eh.. Enggak-enggak, tadi itu cuma bercanda aja sayang.. Gitu aja ditanggapi serius sih.." jawab Naia manja.


"Hhheee..? Bercandanya kok gitu sih, bikin kaget aja. Lagian dihadapan mereka kamu bilang gitu, sekarang mereka jadi mikir aku ini playboy kan..?" protes Dewa.


"Biarin aja mereka mikirnya gitu. Yang penting kan mas Dewa gak gitu.. Cintanya mas kan cuma buat aku aja.." ucap Naia lalu tiba-tiba mencium pipi Dewa.


Dewa terkejut dengan yang dilakukan Naia, sudah kali kedua Naia mencium pipinya, dan kemudian dia tersenyum setelah melakukan itu, "Apakah Naia sedang menggodaku..?" pikir Dewa.  Dan entah setan mana yang mempengaruhi pikiran Dewa, dia memegang dagu Naia dan menengadahkan kepala Naia, kemudian mencium bibir Naia dengan lembut. Naia pun membalas ciuman Dewa dengan lembut hingga Dewa tersadar dan melepas ciumannya.


"Ihh.. Mas Dewa nakal ah.." protesnya dengan senyum manja sambil mencubit perut Dewa.


"Eh.. Aduh-aduh. Ampun-ampun.. Beneran ampun-ampun.. Eeee.. maaf-maaf aku tiba-tiba lepas kontrol.." ucap Dewa.


Naia tertawa kecil, "Hihihi... Gak pa pa kok mas, aku juga kaget mas Dewa tiba-tiba itu.... eeeeee.." ucapnya sambil tersenyum.


"Eh.. Udah tidur gih, kamu tidur kasur aja, biar aku disini.." ucap Dewa sambil merebahkan tubuhnya di sofa. Dewa terdiam dan terlihat memikirkan sesuatu, "Aduuuhhh... Hampir saja aku tidak bisa mengontrol diriku. Gak-gak gak boleh, aku gak akan melakukannya sebelum dia menjadi istriku. Aku mencintai dia, jadi aku harus menjaga dirinya dan kehormatannya.." janji Dewa dalam hati.


Malam semakin larut. Setelah memeriksa lokasi yang dibagikan Roni, Dewa memejamkan mata untuk mengistirahatkan fisik dan pikirannya.


*****

__ADS_1


Keesokan paginya, GOR terlihat sangat ramai, banyak penonton yang ingin melihat perebutan tempat ketiga dan partai final kompetisi semi pro tarung bebas, dan tentunya pertarungan terselubung antara Mamba Hitam melawan Yuma. Sementara itu, di salah satu ruangan official di GOR tempat kompetisi berlangsung, Yuma mulai menjalankan rencana. Yuma memberikan kunci mobil MVP milik anak buah Karman kepada Roni, dan menyuruh Roni untuk standby di tempat parkir GOR. Selanjutnya Yuma mengumpulkan anak buah Karman dan memberikan instruksi kepada enam orang itu untuk menemukan seseorang diantara ribuan penonton yang memadati tribun GOR, "Kalian periksa seluruh penonton, kalau bertemu orang ini segera ajak dia ke tempat parkir mobil sisi utara GOR. Bilang ada pekerjaan untuknya.." ucap Yuma sambil membagikan gambar ke hp masing-masing anak buah Karman.


"Siapa dia bang..?" tanya salah satu pengawal.


"Udah jangan banyak tanya, kalian ingin misi sukses apa gak..?" hardik Yuma yang diikuti anggukan keenam orang itu.


Mereka pun segera berpencar mencari orang yang dimaksud Yuma, sedangkan Roni berada di dalam mobil berpura-pura menjadi bos Yuma. Setelah sekitar hampir satu jam mencari, mereka berhasil menemukan Santoso, "Maaf bang Santoso, bos ku mencarimu, ada pekerjaan yang butuh kamu selesaikan.." ucap salah satu anak buah Karman.


"Siapa bos mu, dan pekerjaan apa yang harus aku lakukan..?" tanya Santoso.


"Kamu akan tau setelah bertemu dengannya. Masalah pekerjaan, bos ku sendiri yang akan memberitahukannya. Sekarang ikuti saja aku.." ucapnya kemudian dia menunjukkan jalan kepada Santoso.


Santoso pun mengikuti salah satu anak buah Karman menuju sebuah mobil untuk bertemu dengan Roni.  Dengan membuka setengah kaca mobilnya, Roni berbicara kepada Santoso, "Aku ada pekerjaan untukmu, jika berhasil, aku akan memberimu 250 juta.." ucap Roni meyakinkan. Disaat yang bersamaan, Yuma memberi kode kepada pengawal itu untuk meninggalkan lokasi.


"Bayaran besar pasti resiko juga besar. Apa pekerjaannya..?" tanya Santoso


Belum sempat Roni menjawab tiba-tiba sebuah pukulan mendarat di tengkuk Santoso.


Jbuuuuuugggg... Bruug..


Santoso ambruk tak sadarkan diri. Selanjurnya Yuma mengikat kaki dan tangan serta menutup mata Santoso. Yuma memasukkan Santoso ke dalam mobil, lalu Yuma menjalankan mobilnya menuju lokasi yang telah ditentukan. Roni segera memberi kabar kepada Dewa jika Santoso sudah berhasil dilumpuhkan dan mereka sedang menuju lokasi yang direncanakan. Dengan menggunakan taxi online, Dewa segera menyusul ke lokasi itu.


*****


Butuh waktu dua puluh menit untuk Roni dan Yuma sampai di Lokasi. Yuma mengangkat tubuh Santoso yang belum sadarkan diri ke dalam pos dan mengikatnya di salah satu kayu penyangga bangunan. Setelah beberapa saat, Santoso sudah sadar dan dia pun berteriak, "Wooii dimana ini..? Kenapa aku terikat seperti ini..?"


Dewa memasuki pos pantau polisi hutan, dari luar dia sudah bisa mendengar teriakan Santoso, "Apa kabar Letda Santoso, anggota pasukan khusus sniper angkatan laut yang kini sedang bersembunyi setelah melakukan kejahatannya.." ucap Dewa sinis.


"Siapa kalian..? Apa mau kalian sebenarnya..? Buka penutup mataku dan lepaskan ikatanku. Kalau memang ada dendam, mari kita selesaikan dengan bertarung.." jawabnya penuh emosi tapi sebenarnya dia ketakutan.


"Hahahahaha..." Dewa tertawa lalu memberi kode kepada Yuma untuk membuka penutup matanya.


"Kau yakin mau bertarung denganku Letnan..?" ucap Dewa.


Penutup mata Santoso terbuka, dan dia dapat melihat siapa orang yang berdiri di depannya, "K-kau.. K-kapten Dewa..? D-dan r-raja Yama..?" ucapnya terbata-bata, wajahnya pucat pasi karena takut.


"Ya.. Ingatanmu ternyata sangat bagus letnan, tapi sayangnya sebentar lagi kau akan menjadi salah satu penghuni pos ini selamanya.." gertak Yuma.


Seluruh tubuh Santoso bergetar. Dia dangat ketakutan melihat mereka berdua, "T-tunggu mengapa k-kalian mau membunuhku..? A-aku juga korban, a-aku akan menceritakan s-semua yang aku tau kepada kalian.. T-tolong beri aku kesempatan.." ucap Santoso memohon.


"Baik.. Aku akan memberimu kesempatan bercerita. Tapi kalau kau tidak berkata yang sebenarnya, maka kepalamu akan ku gantung di pintu itu.." ancam Dewa.

__ADS_1


__ADS_2