Dewa Sang Patriot

Dewa Sang Patriot
Akhirnya kutemukan kalian


__ADS_3

Dewa bergegas turun dari mobilnya saat melihat mbah Sastro dan mbah Sumi tergeletak di halaman rumahnya dengan luka di beberapa bagian tubuh mereka, "Guru...! Apa yang terjadi..? Siapa yang melukaimu..?!" tanya Dewa panik.


"C-cepat lin-lindungi istrimu.." ucap mbah Sastro kemudian pingsan.


"Kalian, bawa kedua guruku masuk dan rawat lukanya..!" perintah Dewa kepada kedua pengawalnya.


Dewa segera masuk ke dalam rumahnya dan melihat ayah dan mertuanya dalam kondisi pingsan. Keadaan di dalam rumahpun berantakan seperti ada bekas pertarungan disana, "Naia...! Naia...! Silvia..! Dimana kalian..?!" teriaknya.


Dewa segera menuju ruang tengah dan menjadi semakin panik. Dilihatnya Tiara terluka dan darah segar keluar dari hidungnya, Tiara...! Apa yang terjadi..? Dimana Naia dan Silvia..?"


"Maaf-maafkan a-aku bang.. Aku g-gagal men-menjalankan misi.." ucapnya terbata sambil menunjuk Silvia yang pingsan.


"Silvia..! Silvia..! Bangunlah.. Apa yang terjadi, dimana Naia..?!" ucapnya panik.


Dewa menarik dan menghembuskan nafas panjang dan pelan untuk menenangkan dirinya, "Tidak ada gunanya aku panik, sebaiknya aku bawa mereka ke ruang tamu dan mengobati mereka dengan kekuatan spiritualku.." gumam Dewa dalam hati, kemudian mengangkat mereka satu persatu ke ruang tamu.


Dewa mengalirkan kekuatan spiritualnya ke tubuh masing-masing orang yang terluka sambil membaca do'a kesembuhan untuk mereka.


"Salam tu-tuanku.." sapa Banaspati sambil membopong tubuh Gandarwamaya yang terluka. Banaspati sendiri juga dalam keadaan yang tidak begitu baik, api yang mengelilingi dirinya hampir padam


"Banaspati...! Apa yang terjadi denganmu dan Gandarwamaya..?" tanya Dewa.


"T-tolong s-selamatkan pangeran tuan, a-api suci bis-sa membuat daya hi-dup p-pangeran k-kembali.." ucapnya dengan terbata-bata.


"Tenang Banaspati, aku akan menyelamatkan kalian berdua.." sahut Dewa.


"T-tidak tuan, t-terima k-kasih s-sudah meng-ijinkanku me-ngabdi kepada tuan.." ucap Banaspati kemudian api yang mengelilinya padan dan Banaspati pun menghilang.


Dewa tidak bisa menyembunyikan kesedihannya, "Terimakasih atas pengabdianmu Banaspati. Aku pasti akan membalas siapapun yang melakukan ini kepada kalian.." gumamnya dalam hati.


Setelah beberapa saat, merekapun tersadar. Silvia membuka matanya dan langsung memeluk Dewa sambil menangis sesenggukan, "Na-naia mas, cepat tolong Naia mas.."


"Tenanglah Silvia, apa yang sebenarnya terjadi..? Dimana Naia..?" tanya Dewa berusaha tenang.


Mereka kemudian menceritakan kejadian saat itu, "Ini semua dilakukan oleh Sulam, salah satu jendral penguasa kegelapan. Aku juga tidak menduga bahwa kesaktian Sulam sangat tinggi.." ucap mbah Sastro mengawali cerita.


*****


Kejadian di rumah Dewa terjadi saat Baros mengumpulkan kekuatannya. Meningkatnya kekuatan kegelapan membuat mbah Sastro dan mbah Sumi keluar rumah untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi.


"Apa kau juga merasakannya Sastro..? Kekuatan kegelapan meningkat drastis, apakah penguasa kegelapan turun tangan..?" tanya mbah Sumi keheranan.


"Entahlah Sumi, tapi energi ini sepertinya mengarah ke tempat nak Dewa berada, tapi kita harus tetap waspada.." jawab mbah Sastro.


"Hati-hati Sastro.. Ada yang mengeluarkan aji sirep..!" ucap mbah Sumi


Tiba-tiba


Jluuuuuuggggg...


Seseorang melompat ke arah mereka sambil tertawa. Dialah Sulam, salah satu jendral kepercayaan penguasa kegelapan, "Hahahahaha... Ternyata masih ada dua orang hebat yang berhasil menahan ajian sirep geni milikku.. Kalian..., cepat serahkan dewi Kilisuci dan Candrakirana..!!"

__ADS_1


Ajian sirep geni adalah ilmu yang digunakan Sulam untuk membuat seseorang tertidur dalam jangka waktu yang lama.


"Kau.. Siapa kau dan mengapa kami harus menyerahkan keduanya kepadamu..?" sahut mbah Sumi.


"Demi kebangkitan tuanku Penguasa Kegelapan.. Hahahaha..." jawab Sulam.


"Hati-hati Sumi, dia bukan siluman biasa. Dia sudah memiliki tubuh fisik manusia. Setidaknya usianya belasan abad.." bisik mbah Sastro.


"Menyerahkan padamu..? Hadapi kami dulu makhluk laknat..!!" hardik mbah Sumi.


"Hahahaha... Hanya dengan kemampuan seperti ini, kalian berdua mau menghalangiku..?! Kalian belum pantas menjadi lawanku..!" ejek Sulam.


"Tidak hanya mereka berdua, tapi masih ada aku.." Gandarwamaya tiba-tiba berada di samping mbah Sastro.


"Hahahaha... Jin muda, bahkan kakekmu saja bukan lawanku. Lebih baik pulang dan menyusulah pada ibumu..!!" ejek Sulam.


Gandarwamaya tidak terima dengan ejekan Sulam, dia mengumpulkan kekuatan di telapak tangannya, kemudian Gandarwamaya melempar bola energi yang ada di telapak tangannya itu, "Rasakan ini keparaaatt..!! Brajamustiii..!!"


Shuuuuuhhh... Jdaaaaaaarrrrr.....


Bola energi itu mengenai dada Sulam, tapi ledakan bola energi Gandarwamaya tidak berpengaruh pada Sulam, "Lumayan..., sedikit gatal saja di tubuhku.. Hahahaha.." ejek Sulam.


"Sombong..!!" hardik Gandarwamaya, kemudian bersama dengan Mbah Sastro dan mbah Sumi, mereka maju bersamaan untuk menyerang Sulam.


Bweeeett.. Bweeeett.. Whuuuggg..


Sreettt.. Whussss.. Ctaaaaakk..


Mereka bertiga sama sekali tidak mendengarkan ucapan Sulam dan terus menyerang Sulam.


Bweeeettt.. Whuuuuggg.. Whuuuuugg..


Ctaaaaappp.. Taaaaakkk... Sreeeettt..


Sangat mudah bagi Sulam menghindari dan menangkis serangan mereka bertiga. Mbah Sumi, mbah Sastro dan Gandarwamaya, mereka sama sekali tidak memberikan kesempatan pada Sulam untuk membalas. Mereka terus memojokkan Sulam dengan kombinasi serangan mereka. Sulam melompat kebelakang beberapa meter untuk menjaga jarak dan kembali memprofokasi mereka dengan ucapannya.


"Gandarwamaya, sebaiknya jangan buang-buang tenagamu. Mengabdilan padaku, maka aku akan membantumu menyingkirkan Gandarwa Raja dan kamu bisa menjadi penguasa gunung Wilis.. Hahahaha.. Dan kalian orang tua, apakah kalian mulai rabun, sehingga tidak ada satupun serangan kalian yang mengenaiku..?!" ucap Sulam.


Gandarwamaya murka mendengar ucapan Sulam, dia mengerahkan seluruh kekuatannya untuk membentuk bola energi di telapak tangannya, "Diamlah kau keparaattt..!!"


"Sumi kerahkan seluruh kekuatan, semoga kita bisa mengulur waktu sampai muridku datang.." bisik mbah Sastro.


Mbah Sastro dan mbah Sumi mengalirkan kekuatan spiritualnya ke seluruh tubuhnya dan kembali menyerang Sulam. Mereka bertarung sengit, puluhan bahkan ratusan tendangan dan pukulan sudah mereka keluarkan.


Bweeeettt.. Whuuuuutt.. Wheeeeettt..


Buggggg.. Daaaaaggg.. Jdaaaaarrrr..


Beberapa pukulan dan tendangan pun mendarat di tubuh Sulam, bola energi milik Gandarwamaya juga berhasil mengenai dada Sulam. Serangan ketiganya membuat Sulam terpental beberapa meter, tapi tidak bisa mengalahkan Sulam.


"Hahahaha.. Bagus-bagus sekali. Sekarang giliranku menyerang.." ucap Sulam serius.

__ADS_1


Gerakan Sulam lebih cepat dari sebelumnya. Pertarungan berlanjut, dengan kecepatannya, Sulam menyerang mbah Sastro, mbah Sumi dan Gandarwamaya secara bergantian. Kecepatan Sulam membuat mereka bertiga tidak bisa menahan serangan Sulam dengan sempurna.


Sreeeettt.. Jdaaagggghh.. Jbuuuuuggg..


whuuusssshh.. Jbaaaaggg.. Sraaaaakkk..


Bruuuuggg.. Braaaakk.. Braaaaakkk..


Pukulan, tendangan dan cakaran Sulam berhasil mendarat di tubuh ketiganya hingga membuat ketiganya terluka cukup parah. Sulam melangkah masuk ke dalam rumah Dewa, pak Wira dan pak Gunawan terlelap karena ajian sirep geni yang dikeluarkan oleh Sulam.


Mendengar suara langkah kaki, Tiara keluar dari ruang tengah dimana Naia dan Silvia berada, "Berhenti, siapa kamu..?!" hardik Tiara sambil menodongkan pistolnya.


"Hahahaha... Serahkan kedua dewi itu, aku akan mengampunimu nyawa kecilmu. Sayang sekali jika tubuh indahmu harus terluka.." sahut Sulam sambil melangkah maju.


"Aku sudah memperingatkanmu..!!" hardik Tiara


Doooorrrr.. Dooorrrr...


Peluru dari pistol Tiara mengenai dada Sulam, tapi sama sekali tidak dapat menembus tubuh fisiknya. Sulam bergerak dengan cepat ke arah Tiara, kemudian mencengkeram leher Tiara, memukul perutnya dan melempar Tiara hingga menabrak kursi yang ada di ruang tamu.


Jbuuuuuuugggggg... Bruaaaaakkkk...


"Bwuaaaahhh... Keparaaattt...!!" teriak Tiara setelah memuntahkan darah segar dari mulutnya.


Tiara mengabaikan rasa sakit di perutnya, dia segera bangkit dan menyerang Sulam, "Aku harus menjaga kak Naia dan kak Silvia meskipun nyawaku taruhannya.." pikir Tiara.


Bweeett.. Jbuuuugggg.. Jdaaaaaggg..


Tiara menyerang Sulam dengan pukulan dan tendangannya dan membuat Sulam mundur beberapa langkah kebelakang.


"Daripada dua orang yang di depan tadi, ternyata kamu lebih punya kemampuan. Aku merasa sedikit sakit saat tendanganmu mengenai tubuhku.. Hahahaha..." ucap Sulam.


Tiara menyadari bahwa lawannya sangat kuat sehingga tidak memberikan kesempatan kepada Sulam untuk bersiap-siap. Tiara maju dan menyerang Sulam.


Bweeeeettt.. Whuuuuuttt.. Ctaaaaapp..


Tiara menyerang dengan ganas, tendangan dan pukulan diarahkan ke titik vital Sulam. Akan tetapi, Sulam dengan mudah menangkis dan menghindari serangan Tiara. Tidak ingin berlama-lama, Sulam membalas serangan Tiara.


Ctaaaaappp.. Jdaaaaaggg.. Jbuuuugg..


Bweeettt.. Jbuuuuggg.. Braaaaaakkk...


Serangan Sulam membuat Tiara terbatuk dan darah segar keluar dari mulut dan hidungnya. Tiara berusaha bangkit, tapi tenaganya seakan hilang hingga membuatnya terjatuh lagi.


"Tubuhmu sangat bagus, seandainya aku tidak terburu-buru, mungkin akan kunikmati dulu tubuhmu.. Hahahaha..." ucap Sulam sambil berjalan ke ruang tengah.


Di ruang tengah, Naia dan Silvia tertidur pulas setelah terkena aji sirep geni. Kekuatan spiritual yang terfokus pada kedua bayi yang ada perut Naia, membuat keduanya tidak bisa menahan kekuatan aji sirep geni.


"Hahahaha.... Akhirnya kutemukan kalian.." ucap Sulam senang.


Sulam mendekati Naia dan Silvia, kemudian memegang tangan Naia dan Silvia dan bersiap untuk pergi membawa mereka.

__ADS_1


"Jika dari awal aku tau kalian bersembunyi disini, tidak perlu aku repot-repot menghadapi mereka semua.." gumam Sulam dalam hati.


__ADS_2