
Aryo langsung mendekati meja dimana Naia dan Dewa sedang mengobrol sambil menikmati makanan mereka. Dilandasi rasa cemburu, dia mencoba untuk berbicara kepada Naia, "Oh, jadi begini caramu Nai..? Kamu sampai rela menyewa cowok agar berpura-pura menjadi pacarmu ya..?" ucap Aryo sambil mengamati Dewa, kemudian mencoba mengejek Dewa, "Heh cowok kampung, dibayar berapa kamu sama Naia untuk berpura-pura menjadi pacarnya..? Aku akan memberimu tiga kali lipat dari yang diberikan Naia asal kamu segera pergi dari sini.."
Mendengar ucapan Aryo, Naia tidak dapat lagi menahan emosinya, "Jaga mulutmu itu, atas dasar apa kamu mengatakan mas Dewa seperti itu..? Dibandingkan dengan mas Dewa, kamu bukanlah apa-apa. Dan satu hal lagi, aku akan segera menikah dengannya..!" bentak Naia.
"Hahahaha... Ingat Nai, aku belum menyerah untuk mendapatkanmu Nai, semua orang juga tau kalau aku suka sama kamu, jadi selama aku belum berhenti mengejarmu, tidak ada satu laki-lakipun yang boleh mendekati atau memilikimu..!" bentak Aryo dengan arogan
"Cih.. Siapa juga yang mau sama kamu..? Apa kamu pikir aku gak tau kelakuanmu..? Selain seorang pemabuk, penjudi, kamu juga orang yang suka mempermainkan perempuan. Jangan kamu pikir aku tidak tau bahwa ada banyak mahasiswi yang sudah kamu renggut kehormatannya, kamu rusak masa depannya, kemudian kamu campakkan mereka begitu saja.. Tidak hanya itu saja, bahkan kamu tega merenggut kehormatan anak yang masih masih SMA sampai dia akhirnya putus sekolah karena......" Naia tidak melanjutkan ucapannya karena Aryo segera memotongnya.
"Hah..? Siapa yang bilang hal itu kepadamu.. Aku sama sekali tidak mencampakkan mereka, tapi merekalah yang meninggalkanku. Aku juga pernah berjanji, kalau kamu mau menjadi kekasihku, maka aku akan meninggalkan semua perbuatan burukku itu.." ucap Aryo.
Dewa beranjak dari duduknya kemudian mengajak Naia pergi dari kantin, "Sudahlah sayang, gak perlu ditanggapi orang seperti dia. Sebaiknya kita pergi dan jemput Silvia di fakultasnya.." ucap Dewa kemudian menggandeng tangan Naia dan meninggalkan kantin.
Melihat Naia digandeng laki-laki lain, Aryo menjadi sangat emosi. Baru beberapa langkah Dewa dan Naia berjalan, Aryo berteriak kepada Dewa, "Hei pemuda kampung, kalau kau memang laki-laki sejati, aku tantang kamu untuk berduel di ring. Jika kamu menang, aku tidak akan lagi menganggu Naia, tapi jika kamu kalah, tinggalkan Naia..! Aku juga akan memberimu uang sebagai ganti ruginya.." teriak Aryo sambil menunjuk Dewa.
Dewa sama sekali tidak menghiraukan ucapan Aryo, dengan tetap menggandeng Naia, mereka meninggalkan kantin dan terus berjalan menuju mobil. Merasa tidak dihiraukan oleh Dewa, Aryo menjadi semakin marah. Dia segera keluar kantin dan mengambil batu sebesar kepalan tangannya, kemudian melemparkan batu itu ke arah Dewa. Tapi sayang sekali, lemparan Aryo meleset, batu itu mengarah ke kepala Naia.
"Awaaaaassssss....!!" teriak para mahasiswi yang melihat kejadian itu.
Dewa bergerak dengan cepat dan menangkap batu itu dengan satu tangannya.
Sreeeeeettt.. Slaaaaaaaappp....
Dengan menggenggam batu yang dilempar Aryo, Dewa berjalan ke arah Aryo sambil melihatnya dengan tatapan mata tajam dan berhenti tepat di depan Aryo. Dewa mengangkat batu yang dipegangnya tepat di depan muka Aryo dan kemudian meremas batu itu dengan satu tangannya hingga batu itu hancur menjadi beberapa bagian kecil.
Kraaaaaakkkkk.....
Semua yang orang hanya melongo melihat apa yang dilakukan Dewa, tak terkecuali Aryo yang wajahnya mendadak menjadi pucat seperti kehilangan darah. Kemudian Dewa mendekatkan kepalanya di dekat telinga Aryo dan berbisik, "Mulai sekarang, jauhi calon istriku, atau seluruh persendianmu akan bernasib seperti batu itu. Paham..?" kemudian Dewa menepuk pipi Aryo sebagai bentuk peringatan sebelum dia pergi meninggalkan Aryo.
Dewa berjalan menghampiri Naia, tak lama kemudian Silviapun datang dan mereka menjemput Nuraini di fakultasnya dan pulang ke rumah kos Naia.
"Emang ada apa sih..? Aku lihat tadi sepertinya mas Dewa lagi ada masalah sama si Aryo itu..?" tanya Silvia, kemudian Naia menceritakan kejadian yang menimpa mereka berdua saat di kantin.
__ADS_1
"Jadi begitu ceritanya.." ucap Naia mengakhiri ceritanya.
"Kenapa gak langsung disikat aja sih mas..? Dari dulu tuh si Aryo itu selalu gangguin Naia, bahkan pernah hampir menyekap Naia di ruang kegiatan mahasiswa. Untung aja ada salah satu dosen yang lewat waktu itu, jadi Naia bisa pergi.." ujar Silvia.
"Sebenarnya sih pengen, tapi aku baru datang di kota ini, jadi aku gak ingin punya musuh. Setidaknya tadi bisa buat peringatan dia biar tidak lagi gangguin Naia.." jawab Dewa.
"Tapi aku yakin kalau si Aryo akan makin dendam sama mas. Dia pasti akan minta bantuan pelatihnya untuk balas dendam, dan pelatihnya pasti akan membantu dia.." ucap Naia.
"Hhmmm.., emang pelatihnya gak bisa bedain mana yang benar dan yang salah ya..? Sebagai seorang pebela diri, seharusnya dia berpegang teguh sama kebenaran dan harus bisa berlaku adil, terlebih dia seorang pelatih atau guru.." sahut Dewa.
"Aryo memanfaatkan posisi bapaknya yang seorang pejabat sekaligus pengusaha. Dia selalu memberikan uang kepada mereka yang ada di klub bela diri kampus, jadi apapun perintah Aryo akan mereka ikuti.." ucap Naia.
"Sudahlah, kalau mereka memang mau buat masalah, yaaaa tinggal dihadapi saja. Yang penting aku sudah peringatkan sebelumnya.. Oiya kalian masih ingin berlajar meditasi..?" ucap Dewa.
"Meditasi yang seperti kakak itu..? Iya pengen kak, emang kakak bisa ajari kami kah..?" sahut Nuraini.
"Bukan kakak yang ajari, tapi seorang guru, kebetulan beliau perempuan, jadi bisa jadi guru kalian.." jawab Dewa.
"Nanti kalian juga akan tau, yang penting sekarang pulang dulu ke rumah Naia. Kita istirahat sebentar, nanti sore kita berkunjung ke tempat beliau.." jawab Dewa.
Tak terasa mereka sudah sampai di rumah kos milik Naia. Bangunan dua lantai yang sangat besar, dengan total 6 kamar di masing-masing lantai dan satu ruangan luas untuk bersantai mahasiswi yang kos disana.
"Besar juga rumah ini, emang ada berapa yang tinggal disini..?" tanya Dewa.
"Sekarang ada delapan orang, mereka mahasiswi kampus Tri Dharma juga. Oiya, mas nanti tempati kamar ini aja, kamar ini udah lama kosong. Terus kamar yang dibelakang itu kamar pak Mardi.." ucap Naia kemudian membuka kamar itu.
"Kalau kamarmu dimana Nur..?" tanya Dewa.
"Itu disebelah kamar Kak Naia, lalu sebelahnya lagi kamar Silvia.." jawab Nuraini sambil menunjuk kamarnya.
"Naia, jangan coba-coba menyelinap ke kamar mas Dewa ya, aku akan mengawasi kalian.." ucap Silvia menggoda Naia.
__ADS_1
"Eh.. Apaan sih..? Kamu itu mikirnya kok gitu sih..?" sahut Naia.
"Hihihihi... Mas, kalau mau masuk kamarku, langsung aja masuk, gak usah pakai ketuk pintu. Biar Naia gak tau kalau mas masuk kamarku.." ucap Silvia.
"Silviaaaaa...!! Kamu itu, Iiihhhh..." sahut Naia gemes.
Dewa hanya menggelengkan kepala, "Sudah jangan bercanda terus, sekarang sebaiknya istirahat dulu. Habis sholat ashar kita berangkat ke padepokan Tunjung Seto.." ucap Dewa kemudian masuk ke kamarnya.
*****
Sesuai dengan yang mereka rencanakan, setelah sholat Ashar Dewa bersama dengan Naia, Silvia dan Nuriani berkunjung ke padepokan Tunjung Seto di desa Prambanan. Setelah beberapa kali bertanya, akhirnya mereka menemukan padepokan Tunjung Seto. Dewa turun dari mobil dan melihat sebuah rumah bercorak jawa dengan pendopo yang cukup luas, "Permisi, apakah benar ini Padepokan Tunjung Seto..?" tanya Dewa kepada seseorang yang sedang membersihkan halaman.
"Iya benar mas, ini padepokan Tunjung Seto, ada keperluan apa ya mas..?" tanya orang itu.
"Kami ingin bertemu dengan Nyai Tunjung Seto, apakah beliau ada..?" sahut Dewa.
"Oh..., Monggo silahkan duduk dulu di pendopo mas, mbak.. Mas dan mbak ini siapa dan ada urusan apa bertemu dengan Nyai..?" tanyanya dengan sopan.
"Yang pertama kami ingin berkenalan dengan beliau, dan yang kedua aku membawa titipan dari guruku untuk aku serahkan langsung kepada Nyai Tunjung Seto.." jawab Dewa.
Tiba-tiba nyai Tunjung Seto berdiri di depan pintu yang memisahkan antara rumah dan pendopo, "Aku sudah menunggu kalian sejak lama, mari kita berbincang di dalam saja. Suko, buatkan para tamu ini minuman.." ucap nyai Tunjung Seto kepada laki-laki itu.
"Baik nyai.." jawab Suko kemudian dia pergi menuju dapur.
Dewa terkejut setelah mengetahui bahwa Nyai Tunjung Seto adalah nenek yang pernah menemuinya di rest area waktu itu. Kemudian bersama dengan Naia, Silvia dan Nuraini mengikuti nyai Tunjung Seto masuk ke dalam rumah.
"Silahkan duduk, tidak perlu sungkan.." ucap nyai Tunjung Seto sambil terus memperhatikan mereka secara bergantian.
"Terimakasih nyai, tapi bukankah anda yang di rest area waktu itu..? Guruku bilang bahwa waktu itu anda sengaja menungguku disana, bagaimana anda bisa tau aku akan berhenti di rest area itu dan bagaimana anda tau bahwa aku adalah murid mbah Sastro..?" tanya Dewa heran.
Nyai Tunjung Seto tersenyum, kemudian menarik nafas panjang, "Kalian jangan memanggilku nyai, namaku Sumiati. Kalian bisa memanggilku mbah Sum atau nenek Sum. Nyai Tunjung Seto hanyalah julukan yang diberikan warga desa sini.. Apakah gurumu tidak bercerita apapun tentangku..?" tanya mbah Sum.
__ADS_1