
Silvia mendengarkan penjelasan pak Wira dengan perasaan tidak percaya, tapi perasaan itu seakan sirna setelah tau bahwa Nuraini ternyata sudah menjadi salah satu komisaris di grup Wiryawan menggantikan pak Gunawan, ayahnya. Naia juga sangat bahagia dengan berita itu.
"Udah-udah bercandanya.. Papa yuk sekarang kita potong tumpengnya sebagai simbol rasa syukur kita kepada Tuhan.." ucap bu Santi sambil menyerahkan piring dan centong nasi yang terbuat dari kayu.
Pak Wira memotong tumpengnya dan menyerahkan potongannya kepada bu Santi, "Semoga kebahagiaan selalu menyertai kita semua ya pa.." ucap bu Santi sambil menyuapi pak Wira. Selanjutnya bu Santi memberikan suapan berikutnya kepada Naia dan terakhir kepada Silvia.
Setelah itu, bu Widya mengeluarkan roti berukuran cukup besar untuk merayakan 30 tahun persahabatan keluarga mereka sekaligus merayakan ulang tahun suaminya. Pak Gunawan memotong kue tersebut dan menyerahkannya kepada pak Wira, "Dik Wira, ini sebagai rasa syukurku atas 30 tahun ikatan persaudaraan kita.." ucap pak Gunawan sambil menyerahkan piring kepada pak Wira.
"Tidak terasa ya mas Gun, sudah tiga puluh tahun ya persaudaraan kita. Selanjutnya kita serahkan kepada anak-anak kita, sekaligus saya ucapkan selamat ulang tahun mas Gun, semoga selalu sehat dan dalam lindungan Tuhan.." jawab pak Wira.
"Aamiin.. Iya dik, benar yang dik Wira bilang, serahkan selanjutnya kepada anak-anak kita. Kita tunggu saja cucu-cucu kita lahir, merekalah yang akan menjadi kebanggaan kita nantinya.." jawab ayah Dewa disambut pelukan pak Wira.
Naia tersenyum kecil melihat adegan kedua orang tuanya itu sambil mencoba mencari cara untuk mengungkapkan apa yang ada di dalam pikirannya. Kemudian, "Eh.. Dari tadi papa sama ayah ngomongin cucu aja..? Tenang, kalian akan mendapat langsung dua cucu nanti, jadi nanti papa sama ayah gak perlu rebutan cucu.. Hihihi..." ucap Naia seneng.
"Iya benar juga ya, sebentar lagi Nuraini kan juga menikah. Apa sebaiknya kita langsungkan bersama saja ya pernikahan mereka..?" tanya bu Santi.
"Sebenarnya itu usul yang bagus dek, tapi sampai sekarang kita juga belum tau kabar tentang Dewa. Entahlah bagaimana keadaan dia sekarang.." ucap bu Widya sedih.
"Sudahlah mbak, gak usah terlalu dipikan. Kita sama-sama berdo'a semoga Dewa segera kembali dan dalam kondisi yang baik-baik saja.." sahut pak Wira.
Mereka terlihat mengobrol santai dengan suasana kekeluargaan di ruang tengah sambil menikmati makanan dan minuman yang ada di meja. Setelah beberapa saat, bu Santi bertanya kepada Naia, "Loh Dede dimana sayang..? Kok gak diajak gabung sekalian..?"
"Eee, tadi habis anter aku, dia langsung pergi ke tempat temannya ma, katanya ada urusan sedikit.." sahut Silvia.
"Aaahhh.. Loh, emang kamu gak kasih tau dia kalau kita lagi adakan acara syukuran..? Coba Nai, kamu telepon dia, suruh dia kesini buat bergabung sama kita.." ucap pak Wira.
Naia segera menuju kamarnya untuk mengambil hp dan menelepon Dewa. Sementara itu di ruang tengah, pak Wira dan yang lainnya melanjutkan obrolan mereka.
"Silvia, kamu sudah punya pacar kah..?" tanya pak Wira dan dijawab dengan gelengan kepala oleh Silvia.
"Ah masak sih, gadis secantik kamu belum punya pacar..?" sambung bu Santi.
"Iya bener ma, aku belum punya pacar, tepatnya belum mau pacaran dulu ma.." jawab Silvia santun.
"Seandainya saja Robi belum bertunangan, mungkin kamu akan kujodohkan sama Robi.. Semoga kamu mendapat jodoh yang baik ya nduk.." sahut pak Gunawan disambut anggukan Silvia.
"Silvia, bagaimana kalau kamu papa jodohkan sama Dede..? Jangan dilihat pekerjaannya, kalau papa lihat dia itu anak yang bertanggung jawab, sholeh dan punya rasa kemanusiaan yang tinggi.." ucap pak Wira serius.
__ADS_1
Ucapan pak Wira membuat Silvia terkejut hingga tidak tau harus bagaimana menjawab pertanyaan papanya itu. Disaat yang bersamaan, Naia yang baru saja selesai menelepon Dewa, berjalan ke arah mereka sambil berkata, "Aku sangat setuju kalau papa menjodohkan Silvia dengan mas Dede. Sebenarnya sih Silvia itu juga cinta sama mas Dede pa.." ucap Naia.
Mendengar ucapan Naia, Silvia langsung melakukan protes kepada Naia, "Naia, apa-apaan sih..?! Jangan asal deh kalau ngomong.. Maaf pa, tapi aku ingin mencari jodohku sendiri dan tidak ingin merepotkan papa dalam masalah ini.."
"Iya kalau kamu tidak ingin juga gak pa pa. Gak usah terlalu dimasukkan hati.. Oiya Nai, gimana Dede bisa kemari..?" tanya pak Wira.
"Tadi mas Dede bilang masih ada urusan sama temannya pa, jadi sepertinya malam ini tidak bisa bergabung dengan kita. Mungkin besok pagi baru kesini sekalian jemput kita.." jawab Naia.
Pak Gunawan penasaran dengan orang yang dimaksud oleh pak Wira, "Dede itu diapa dik..?"
"Oh, dia itu pengawalnya Naia selama KKN di Lerengwilis mas.." ucap pak Wira kemudian menceritakan pertemuannya dengan Dewa waktu itu. Pak Gunawan mendengarkan cerita pak Wira dengan seksama.
Setelah mendengar cerita pak Wira, Pak Gunawan memberikan pendapatnya, "Ya kalau mendengar dari cerita dik Wira, sepertinya Dede ini anak yang punya kepribadian yang baik. Kalau seperti itu, aku juga setuju kalau nak Silvia dijodohkan sama dia.. Iya to bu..?" ucap pak Gunawan disambut anggukan bu Widya.
"Tuh.. Ayah sama ibu juga setuju. Apa susahnya sih nurut sama orang tua.." ucap Naia yang membuat Silvia semakin bingung menjelaskan.
"Sudah-sudah.. Wis gak usah diperpanjang lagi, biarkan Silvia memikirkannya dulu. Mungkin ini terlalu mendadak juga buat dia.. Oiya Silvia, papa dan mama akan selalu mendukung apapun keputusanmu. Kalau memang sudah saling cinta, kami pasti akan merestui hubungan kalian.." sahut bu Santi.
"Eh.. T-tapi ma....." Silvia tidak melanjutkan ucapannya. Dia takut apa yang dikatakannya akan membuka identitas Dewa.
"Nai, kenapa sih kamu masih aja ngeyel masalah itu..? Kan aku juga udah jelasin alasannya..?" tanya Silvia.
"Aku juga gak tau alasannya, keinginan itu selalu muncul dalam pikiranku. Aku berfikir bahwa dengan kamu juga menjadi istri mas Dewa, bisa membawa kebahagian buat kita.." ucap Naia.
"Bukan itu yang buat aku bahagia, justru keinginanmu itu membuat aku tertekan. Aku jadi merasa seperti seorang penganggu, seorang pelakor, apa kamu ingin aku selalu merasa seperti itu..?" tanya Silvia, kemudian dijawab dengan gelengan pelan oleh Naia.
Tanpa mereka sadari, sebuah mobil van berwarna hitam berhenti tidak jauh dari villa yang mereka tempati. Empat orang turun dari mobil tersebut dan segera memasuki taman dimana Naia dan Silvia mengobrol. Tiba-tiba mereka menyergap Naia dan Silvia dari belakang dan membungkam mulut mereka dengan kain, "Mmmmhhh.. Mmmmhhhh... Eemmm...." Naia dan Silvia berusaha berteriak.
Obat bius yang disemprotkan di kain membuat Naia dan Silvia ambruk kehilangan kesadarannya. Dibantu oleh dua orang lainnya, mereka membawa Naia dan Silvia ke dalam mobil van yang terparkir tidak jauh dari villa dan pergi meninggalkan villa tersebut. Keadaan yang sepi membuat apa yang mereka lakukan tidak diketahui oleh orang lain.
Setelah beberapa saat, mereka tiba di suatu tempat kemudian seseorang memerintahkan untuk mengikat kaki dan tangan Naia, "Cepat ikat kakinya, itu juga ikat tangannya ke belakang.." ucap salah seorang dari mereka.
Dua orang lainnya segera mengikuti perintah orang itu, kemudian membiarkan Naia dan Silvia tergeletak di atas tumpukan kardus.
*****
Di ruang tengah villa,
__ADS_1
"Kira-kira apa yang membuat Silvia ragu-ragu saat dijodohkan sama Dede ya pa..? Apa sebenarnya Silvia sudah punya pacar..? Atau mungkin Dede sudah melukai hati Silvia..?" tanya bu Santi.
"Papa juga gak tau ma, tapi Naia bilang Silvia mencintai Dede, papa rasa ada alasan lain mengapa dia tidak mau dijodohkan sama Dede..? Ya bisa saja Dede sudah membuat kecewa Silvia.. Sudahlah besok pagi saja sekalian ada Dede, kita ajak ngobrol lagi mereka.." ucap Pak Wira.
"Iya mama juga berfikir begitu. Silvia anak yang baik, bagaimanapun dia juga harus mendapat jodoh orang yang baik juga.." ucap bu Santi.
"Mama istirahat saja dulu, papa mau siapkan bahan untuk pertemuan besok dengan rekan bisnis papa.." ucap pak Wira.
Bu Santi tidak ingin menganggu suaminya bekerja, setelah membuatkan secangkir kopi, bu Santi segera menuju kamarnya untuk beristirahat. Sementara itu pak Wira terlihat sibuk dengan laptopnya mempersiapkan bahan untuk pertemuan dengan seorang pengusaha di kota H. Tak terasa waktu berjalan begitu cepat, jam dinding menunjukkan jam 2 dini hari. Tiba-tiba pak Wira dikejutkan dengan panggilan video dari nomor yang tidak dikenalnya. Dengan ragu-ragu, pak Wira mengangkatnya dan akhirnya mengetahui Karman yang menghubunginya.
[Karman] "Selamat pagi mas Wira, maaf pagi-pagi buta saya sudah menghubungimu.."
[Wira] "Apa maumu..? Kamu ingin mengancamku lagi..? Sudahlah apapun ancamanmu, aku tidak takut dan aku tidak akan memberikan apa-apa kepadamu.."
[Karman] "ssstttt, tenang... Jangan marah dulu abangku, benarkah kamu tidak peduli dengan mereka..?"
Karman mempetlihatkan Naia dan Silvia dalam posisi terikat kaki dan tangan di belakang dengan kondisi masih pingsan. Pak Wira sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya, tanpa disadari dia berteriak mengumpat Karman
[Wira] "bajingan kau Karman..!! Cepat lepaskan mereka.. Keparat kau..!!"
[Karman] "kalau kau ingin putrimu selamat, mudah saja, buat surat pernyataan pengalihan kepemilikan saham. Aku tidak akan serakah, alihkan saja saham Sanjaya kepadaku, dan aku jamin keselamatan mereka. Jam enam tepat, aku akan menghubungimu lagi. Ingat jangan lapor polisi, atau anakmu dan temannya ini jadi santapan anak buahku.. Hahahahha.."
Karman segera menutup saluran video call nya.
Teriakan pak Wira membuat semua yang ada di villa tersebut terbangun dan menjadi panik, terutama bu Santi, "Ada apa pa..? Siapa yang menghubungi tadi..?" tanya bu Santi.
"Karman.. Naia dan Silvia diculik oleh bajingan itu. Sebagai tebusannya dia minta saham milik mas Sanjaya dialihkan kepadanya.." ucap pak Wira geram.
"Asal bisa menyelamatkan Naia, alihkan saja sahamku kepada Karman. Aku akan segera membuat pernyataannya.." ucap pak Gunawan.
"Tidak mas, aku yakin bisa menyelamatkan kedua putriku tanpa melakukan keinginan Karman.." jawab pak Wira kemudian pak Wira menghubungi Dewa untuk mengabarkan bahwa Naia dan Silvia diculik oleh Karman.
*****
Setelah mendapat telepon dari pak Wira, Dewa segera membangunkan Sandhi, Yuma dan Faruq. Sandhi adalah seorang yang juga ahli dalam bidang IT dan pelacakan, sedangkan Faruq dia ahli dalam pengintaian dan penyergapan.
Setelah mendengar cerita dari Dewa, mereka segera bersiap, Sandhi mengeluarkan peralatan pelacakannya, sedangkan Yuma dan Faruq mempersiapkan senjata mereka. Mereka berempat langsung menuju villa dimana pak Wira menginap.
__ADS_1