Dewa Sang Patriot

Dewa Sang Patriot
Meminta bantuan


__ADS_3

Para polisi yang bertugas di mobil patwal hanya diam saja sambil menikmati pertarungan antara Yuma dan Benny.


"Apakah tidak apa-apa kita tidak turun untuk melerai mereka..? Kalau salah satu dari mereka sampai terluka parah, apakah pimpinan tidak menyalahkan kita nanti..?" tanya seorang polisi kepada temannya.


"Tenang saja, komandan memerintahkan kita untuk tidak melakukan tindakan apapaun yang terjadi diantara mereka. Yang jelas, level mereka juga jauh diatas kita. Sebaiknya ikuti saja perintah komandan Husain.." jawab temannya.


Tiba-tiba kaca mobil mereka digedor oleh Benny yang terlihat panik dan dari mulutnya keluar darah segar, "I-itu, dia terluka. Apa kita hanya diam saja..?" salah satu polisi terlihat kebingungan dan panik.


"Sudahlah, aku sudah mengirimkan informasi kepada komandan. Sekali lagi komandan memerintahkan kita untuk tidak ikut campur. Sebaiknya kamu diam saja dan jangan lihat mereka.." jawab kawannya.


*****


Beberapa waktu sebelumnya, setelah Dewa mendapatkan informasi dari Suko, Arman dan Ardi tentang rencana Baros, Dewa meminta kepada Roni untuk menghubungi Husain. Roni saat itu juga menghubungi Husain dan mereka akhirnya bertemu di salah satu ruangan di kantor polres di kota AG.


"Jadi ini Ron orang yang kamu maksud itu..? Apa benar dia yang melumpuhkan para perampok di Bank of Asia itu..?" bisik Husain.


"Ssstttt.. Jangan melihat dari penampilannya om. Dia adalah teman sekaligus bos ku. Sebenarnya PT. Perkutut Emas adalah miliknya, aku hanya sebagai pelaksana saja om. Aku tau om tidak akan langsung percaya saat melihatnya, tapi kemampuan bos ku ini sangatlah hebat.." jawab Roni.


"Sepertinya pak Husain tidak percaya dengan cerita Roni. Tapi bagi saya tidak penting pak Husain percaya atau tidak.." sahut Dewa.


"Begini mas, jujur saja memang saya meragukan cerita dari keponakanku, hanya mas seorang diri bisa mengalahkan para begal di alas jati Carupan dan gerombolan perampok di BoA.. Saya pikir sedikit mustahil mas bisa melakukannya seorang diri.." ucap Husain memyelidik.


Dewa tersenyum mendengar penuturan Husain, kemudian dia mengambil bolpen yang ada di meja dan menjentikkan bolpen tersebut ke tempok.


Whuuuungggg.. Slaaaaaappp...


Bolpen itu melesat menancap lebih dari setengahnya di dinding yang berada di belakang Husain.

__ADS_1


"Bbb-bagaimana bisa..?" Husain sangat terkejut dengan yang baru saja dilihatnya.


"Bagaimana om..? Sudah percaya..?" ucap Roni


"Bukankah sama seperti saat bolpen dan tusuk rambut menancap di tangan dan kaki para perampok itu..?" tanya Dewa.


"Aahhhh.. Maafkan saya sudah meragukan mas Dewa, ini baru pertama kali aku melihatnya. Ternyata.... Ahhh sudahlah... Oiya, Roni bilang mas Dewa membutuhkan bantuan, apa itu..?" tanya Husain.


"Dalam beberapa hari kedepan Baros akan meminta pengawalan polisi.." ucap Dewa.


"Baros..? Pak Baros menteri itu..? Untuk apa beliau meminta pengawalan kepada kami..?" tanya Husain heran.


Dewa menceritakan panjang lebar tentang siapa dan apa rencana Baros, "Jadi begitulah ceritanya. Jadi tujuanku menemui bapak adalah aku ingin meminta bantuan kepada pak Husain.."


"Bantuan seperti apa maksudnya..?" sahut Husain.


"Begini pak, aku harap bapak bisa mengatur para pengemudi mobil patwal adalah anak buah yang paling bapak percaya. Dan pastikan mereka tidak ikut campur apapun yang terjadi nanti saat mereka berada di lokasi kejadian. Mereka cukup diam saja dan menyaksikan pertunjukan dari kami. Yang pasti apa yang kami lakukan adalah hanya ingin menggagalkan rencana Baros.." ucap Dewa mengakhiri ceritanya.


"Tumben om langsung menyetujuinya..? Biasanya om akan menanyakan segala hal dengan detail, tapi mengapa kali ini om langsung setuju dengan rencana bos Dewa..? Padahal rencana bos Dewa menyangkut masalah dengan pejabat negara.." tanya Roni heran.


"Ada beberapa alasan sebenarnya.. Pertama, sebenarnya om sudah tau semua perbuatan Baros, hampir semua bisnis perjudian dan narkoba ada di bawah kendali dia. Tapi om sama sekali tidak bisa memprosesnya karena beberapa perwira tinggi pasti akan menghalangi om. Kedua, om yakin mas Dewa bukanlah orang jahat, kalau dia penjahat, maka tidak mungkin dia akan membantu melumpuhkan para perampok itu. Dan yang ketiga adalah kamu Ron. Bapakmu yang seorang anggota pasukan khusus dan om yang seorang perwira polisi saja tidak bisa merubahmu, tapi mas Dewa bisa merubahmu dalam waktu singkat.." ucap Husain.


"Jadi bapakmu seorang tentara Ron..?" tanya Dewa yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Roni.


Dewa kemudian menceritakan sedikit latar belakangnya kepada Husain yang membuat Husain terkejut mendengarnya, "Jadi mas Dewa juga tentara..? Pasukan Ganendra..? Maafkan saya kapten, saya benar-benar tidak mengenali anda.." ucap Husain sambil memberi hormat.


"Sudahlah pak Husain, jangan seperti itu. Sekarang aku bukan lagi tentara, jadi tidak perlu formal, malah membuatku tidak nyaman. Tetap seperti sebelumnya saja.." sahut Dewa.

__ADS_1


"Siap..., kap eh mas Dewa tenang saja, akan saya atur semuanya.." jawab pak Husain.


Dewa berdiri dari kursinya, "Aku ucapkan terimakasih sebelumnya atas bantuan yang akan pak Husain berikan kepada kami.." ucap Dewa sambil berjabat tangan dengan Husain.


*****


Benny terus berteriak memaki para polisi yang berada di dalam mobil patwal sehingga membuat Yuma semakin mengejek Benny, "Hahahaha... Berteriaklah hingga pita suaramu rusak, mereka tidak akan memperdulikan penjahat sepertimu.." ejek Yuma sambil berjalan ke arah Benny.


Benny sangat panik dan ketakutan melihat Yuma yang berjalan ke arahnya, "J-Jangan mendekat.. Aku-aku mengaku kalah, biarkan aku pergi.." ucap Benny kemudian membalikkan badan dan berlari.


Dengan langkah kalimasada yang diajarkan mbah Sastro, Yuma melesat maju hingga berada di depan Benny. Meskipun tidak secepat Dewa, tapi kecepatan Yuma cukup untuk menghentikan usaha Benny melarikan diri. Benny sangat terkejut tiba-tiba Yuma berada di depannya dan dalam sekali gerakan, Yuma mencengkeram leher Benny.


Claaaaaapppp...


"Aarrgggg.. L-lepaassskann aa-aku..." ucap Benny yang kesulitan bernafas.


"Apa..? Aku tidak mendengar dengan jelas ucapanmu.." sahut Yuma sambil memperkuat cengkramannya.


Kraaaaaakkkk...


Suara renyah tulang leher Benny membuat Benny tidak lagi bisa membuka matanya. Yuma menyeret tubuh Benny dan meletakkannya di samping tubuh kedua pengawal Baros yang tidak sadarkan diri.


Yuma bergegas menuju pintu rumahnya, dia khawatir dengan Dewa setelah mendengar dua kali suara tembakan. Yuma ingin segera membantu Dewa menghadapi Baros.


"Bos aku berharap kamu tidak apa-apa. Tenang saja bos, aku akan segera membantumu.. Kamu selalu mengatakan kekuatan Baros tidak bisa kita bayangkan, aku khawatir Baros akan menyulitkanmu bos.." gumam Yuma dalam hati.


Yuma segera memusatkan kekuatan pada kakinya dan bersiap untuk menendang pintu rumah tinggalnya, dan tiba-tiba.....

__ADS_1


Praaaaangggg.. Braaaaaakkk...


Yuma melihat seseorang terlempar dari jendela rumahnya hingga menabrak pagar rumahnya. Yuma melompat kebelakang dan memastikan siapa yang terlempar keluar jendela rumahnya.


__ADS_2