
Roni langsung pergi ke GOR setelah mengantar Dewa ke hotel, Dewa segera menuju kamar tempatnya menginap. Naia menyambut kedatangan Dewa dengan berbagai pertanyaan, "Sudah selesai urusannya..? Gimana semua lancar..? Lalu apa hasilnya..?" tanya Naia ingin tau.
"Alhamdulillah semua berjalan lancar sesuai dengan rencana. Hasilnya beberapa fakta baru aku dapatkan, setidaknya bisa sedikit memberikan petunjuk buatku.." jawab Dewa, lalu dia menceritakan apa yang terjadi tadi.
Naia hanya sesekali mangut-manggut mendengar cerita Dewa, rasa khawatir yang tadi sempat terlihat di wajah Naia, berangsur hilang berganti kelegaan setelah mendengar apa yang terjadi secara utuh. Dewa tersenyum dan berkata, "Maaf ya, udah buat kamu kepikiran.." ucap Dewa sambil membelai rambut Naia.
"Iya gak pa pa mas. Yang penting sekarang aku udah lega mas baik-baik aja. Teruuuuss sekarang kita ngapain..? Eh maksudnya rencananya apa..?" tanya Naia sedikit gugup.
"Kita selesaikan masalah kedua, masalah yang dibuat om kamu.. Sebentar lagi kita ke tempat pertarungan, kita memancing ikan besar.." ujar Dewa.
"Eeee, aku nanti harus melakukan apa mas..?" tanya Naia bingung.
"Udah kamu gak usah bingung. Cuma duduk aja di tribun VVIP lihat pertarunganku dengan Yudha. Nanti Loreng, Icong, Roni dan ketiga petarungnya akan melindungi kamu dari luar ruangan, sedangkan di dalam ada Santoso sama Kosim. Melihat kamu sendiri, mereka pasti akan bertindak. Ya saat itu kita sikat mereka.." Dewa menjelaskan garis besar dari rencananya kepada Naia.
"Emang bang Loreng kemari mas, bukannya lagi awasi renovasi rumah mbah Binti..?" tanya Naia.
"Iya, tadi jam sembilan dia berangkat. Mungkin sudah sampai dia.. Yuk kita siap-siap ke GOR.." ucap Dewa.
Dewa dan Naia bersiap berangkat ke tempat pertarungan sekalian check out dari hotel. Naia berkemas, sedangkan Dewa hanya membaringkan dirinya diatas kasur. Tidak butuh waktu lama untuk berkemas, karena memang mereka tidak membawa barang terlalu banyak, hanya pakaian ganti saja, "Eh.. Malah tiduran.. Udah selesai nih.." ucap Naia, Dewa segera bangkit dari tidurnya.
"Udah semua..? Yaudah kita ke tempat pertarungan sekarang.." ucap Dewa sambil melangkah keluar kamar menuju ke resepsionis.
Setelah menyelesaikan urusan di hotel, mereka segera menuju ke GOR tempat diadakannya kompetisi tarung bebas.
*****
Dewa memarkir mobilnya di sisi utara GOR, terlihat Roni dan Loreng sedang gelisah menunggu Dewa di depan pintu utara GOR. Dewa dan Naia segera berjalan menuju ke arah mereka. Suara sorak sorai penonton terdengar sampai luar GOR. Mereka sedang melihat pertarungan babak final Huda dari sasana Lerengwilis melawan petarung tuan rumah.
Melihat kedatangan Dewa, perasaan lega terlihat di wajah Roni dan Loreng, "Aaahhh.. Syukurlah bos sudah datang. Sekarang babak final Huda bos, berarti setelah ini bos yang akan bertarung melawan Yuma.." ucap Roni.
"Oke.. Lalu bagaimana dengan rencana kita, semua sudah siap kan..?" tanya Dewa.
"Semua sesuai perintah bos. Loreng juga sudah aku beritahu rencananya. Bang Santoso juga sudah menunggu nyonya bos di pintu masuk ruang VVIP utara bersama Junet dan Barno. Nanti setelah pertarungan final, Huda akan langsung menuju posisinya.." jawab Roni menjelaskan rencananya.
GOR tempat dilaksanakan kompetisi ini mempunyai ruang VVIP dan VIP, yaitu ruangan yang berada pada tribun paling atas dimana penonton yang berada di ruang tersebut dapat langsung melihat ke gelanggang tanpa terhalangi apapun. Ruangan VVIP lebih luas dibandingkan dengan ruang VIP. Ada empat ruang VVIP yang berada di tribun utara dan selatan dengan masing-masing dua ruangan, sedangkan ruang VIP berada di tribun barat dan timur dengan masing-masing empat ruangan.
Suara gemuruh dan sorak sorai penonton pecah saat wasit menghentikan pertandingan final. Juri juga memukul bel tanda pertandingan dihentikan.
Ting.. ting.. ting.. tingg..
Penonton terdiam saat pembawa acara memberikan pengumuman pemenang partai final kompetisi semi pro tersebut, "Partai final ini antara Huda dari sasana Lerengwilis kota AG yang berada di sudut biru melawan Agung dari sasana Singapati Kabupaten AE yang berada di sudut merah, pada partai ini dimenangkan oleeeehh Huda dari Sasana Lerengwilis Kota AG dengan kemenangan TKO pada ronde pertama.." disambut tepuk tangan dan sorak sorai penonton.
Dewa segera memasuki GOR dan langsung menuju ruang petarung, sedangkan Naia bersama Roni dan Loreng menuju ruang VVIP disambut oleh Junet dan Barno yang berdiri di depan pintu VVIP. Setelah perayaan kemenangan di gelanggang, Kosim, Icong dan Huda segera menuju tempat mereka sesuai rencana.
Naia masuk ke dalam ruangan VVIP dengan dikawal Santoso, sesaat kemudian Kosim menyusul masuk ke dalam ruangan. Sedangkan lainnya berjaga di depan pintu ruangan. Melihat kedatangan Silvia, Santoso segera menyalaminya, "Silahkan duduk nyonya kapten, saya Santoso, saya diperintahkan oleh kapten Dewa untuk mengawal anda.." ucap Santoso pelan dan sopan dan dibalas senyuman Naia.
Naia duduk di kursi tengah, sedangkan Santoso dan Kosim duduk di sebelahnya agak ke belakang, "Terimakasih bang. Eeee, jadi abang ini yang itu ya..?" ucap Naia bingung menyampaikan.
__ADS_1
"Benar nyonya. Tapi semua sudah selesai sekarang. Saya sangat berterima kasih sama kapten Dewa atas kemurahan hatinya memaafkan saya.." jawab Santoso.
Disaat yang sama, Dewa berdiri di pintu masuk menuju arena dan bersiap memasuki arena pertandingan. Tapi tiba-tiba dia merasakan sesuatu yang aneh, Dewa merasakan ada energi yang sangat jahat menyebar di seluruh ruangan GOR. Dewa menoleh ke kanan-kiri mencari sumber energi itu dan ternyata dari salah satu orang yang duduk di ruang VIP tribun timur. Di dalam ruangan itu, duduk empat orang, Wawan, Suwarno, Rendi dan seorang lagi berpakaian serba hitam dengan ikat kepala berwarna hitam juga. Dewa merasakan bahwa energi jahat itu berasal dari orang yang berpakaian serba hitam itu, "Orang itu bagaimana punya energi sejahat ini..? Siapa dia..? Mengapa bersama mereka..?" gumam Dewa dalam hati.
Wawan melihat ke seluruh tribun yang ada di dalam GOR, hingga dia menemukan keberadaan Naia, "Pak.. I-itu perempuan yang jadi penyebab tanganku patah.." ucap Wawan sambil menunjuk Naia.
"Mana..? Yang di tribun utara itu ya..?" tanya Suwarno sambil memperhatikan Naia tanpa berkedip, lalu melanjutkan ucapannya, "Oh.. Pantesan kamu begitu bernafsu sama dia, lha wong tubuhnya aja seksi begitu, cantik lagi.. Hahaha"
Waah.. Mbah Sukri sampai gak kedip juga lihatnya.." ledek Wawan.
Laki-laki dengan pakaian serba hitam itu bernama Sukri berumur sekitar 65 tahunan dan berprofesi sebagai paranormal, "Hehehehe.. Luar biasa, aku sungguh beruntung bisa bertemu wanita dengan tubuh Dewi Kilisuci.. Sungguh berkah luar biasa kalau aku bisa bercinta dengannya.." ujar mbah Sukri.
"Tubuh dewi kilisuci..? Apa itu mbah..?" tanya Suwarno.
"Tubuh perawan abadi. Kamu bercinta berapa kalipun, dia akan kembali perawan. Dia akan tetap mengeluarkan darah setiap kali berhubungan intim, sama seperti saat pertama kali melakukannya. Kulitnya juga akan tetap singset walaupun dia sudah melahirkan.. Siapa yang tahan dengan godaan seperti itu..? Hahahaha.." ujar mbah Sukri diikuti senyum lebar Wawan dan Suwarno.
"Hei bro, itu kan temanmu..? Masak kamu gak pengen tidurin dia..?" tanya Wawan, Rendi hanya tersenyum saja mendengarnya. Dalam pikiran Rendi hanyalah bagaimana dia bisa tidur dengan Silvia.
"Tapi tunggu, seharusnya ada satu lagi pasangannya. Dimana dia, gak mungkin mereka bisa berpisah, pasti satunya ada di sekitar sini.." gumam mbah Sukri.
"Siapa mbah..? Siapa yang mbah cari..?" tanya Wawan.
"Pemilik tubuh Dewi Candrakirana, pasangan dari tubuh Dewi Kilisuci.." jawab mbah Sukri.
"Apalagi itu..?" tanya Suwarno.
"Pemilik tubuh Dewi Candrakirana hampir sama dengan tubuh Dewi Kilisuci, mereka perawan abadi.. Mungkin kalian hanya tertarik pada perawannya saja, tapi bagi orang seperti aku, mereka berdua adalah kekuatan dan kejayaan yang tidak ada batasnya.. Tubuh Dewi Kilisuci adalah sumber kekuatan dalam, sedangkan tubuh Dewi Candrakirana adalah sumber kekuatan luar.. Hhmmmm, Seharusnya mereka tidak mungkin bisa terpisah jauh, atau mereka akan sakit.." jawab mbah Sukri.
"Mari pak, kita seret saja wanita itu.." jawab Wawan.
"Goblok.. Otakmu pindah ke dengkul .? Lihat di samping perempuan itu, itu Kosim.." bentak Suwarno.
"Mengapa takut, mbah Sukri bisa mengatasi Kosim itu kan..?" tanya Wawan.
"Kalau Kosim bukan masalah, masalahnya ada pada orang yang disebelah kanan wanita itu, dia bukan orang sembarangan. Sepertinya dia sangat terlatih.." jawab mbah Sukri.
Sementara itu di gelanggang, suara pembawa acara menggema di seluruh area GOR untuk mengumumkan pertarungan puncak, "Dari sudut biru petarung yang sangat cepat dan kuat, tidak ada yang berani menantangnya dalam beberapa pertarungan terakhir. Perarung yang tidak diketahui latar belakangnya, YUMAAAA.."
Yuma masuk dengan menggunakan masker di wajahnya. Dia melompat untuk masuk ke dalam arena.
"Dan penantangnya, dari sudut merah seorang petarung misterius yang juga tidak diketahui latar belakangnya. Mamba Hitaaaaamm.."
Dewa juga mengenakan masker untuk menyembunyikan identitasnya. Dia berjalan dengan santai hingga masuk ke dalam ring dan disambut dengan ejekan dari penonton.
"Woooooo... Buuuuuuuu…"
"Hancurkan dia Yuma.. Badan kerempeng gitu..."
__ADS_1
"Ayo Yumaaaa.. Kalahkan dia…"
"Yaaaa... Kalahkan dia, aku bertaruh besar untukmu..." sorak penonton.
Dewa dan Yuma melangkah maju saat wasit meminta mereka mendekat kemudian menjelaskan aturan pertarungan kepada petarung. Setelah itu terdengar bunyi bel tanda pertarungan dimulai..
Tiinggg...
Dewa sengaja hanya menggunakan kekuatan fisiknya saja untuk melawan Yuma. Dia ingin tau sejauh mana kekuatan fisik yang dimilikinya sekarang, "Yudha sangat cocok untuk mengetahui hasil latihan fisikku.." gumam Dewa dalam hati.
"Ayo bos, aku datang.." ucap Yuma sambil menendang ke arah perut Dewa
Ctaaaaapp..
Dewa menangkisnya lalu Dewa membalas serangan Yuma dan mengarahkan sikunya keperut Yuma. Siku Dewa telak mengenai perut Yuma dan membuat dia mundur beberapa langkah.
Jbuuuuggg.. Sreeeeeeett..
Dewa dengan cepat mengejar Yuma dan menyerang Yuma dengan tendangannya, tapi Yuma berhasil menghindarinya bahkan membalas serangan Dewa dengan tendangan ke arah perut, dengan cepat Dewa menghindari serangan Yuma dengan bersalto ke belakang.
Whussss.. Claap.. Claaap..
Yuma tidak membuang kesempatan, dia segera maju untuk menyerang Dewa. Mereka bertarung cukup sengit, entah sudah berapa ratus pukulan, tendangan, tangkisan dan hindaran yang sudah mereka keluarkan.
Sreeettt.. Ctaaaapp.. Jbuuuugg..
Jduuugg.. Ctaaaaapp.. Jduuuugg..
Hingga Yuma melihat kesempatan menyerang Dewa, dia mengerahkan seluruh kekuatannya pada satu pukulan. Tapi Dewa berhasil menghindarinya, dia memutar tubuhnya ke belakang Yuma dan aku berhasil memasukkan kuncian tangannya ke arah leher Yuma.
Graaaaaappp...
Sorak penonton bergemuruh di dalam GOR.
Di tengah kuncian lehernya, Dewa membisikkan sesuatu kepada Yuma, "Yud, kita harus cepat menyelesaikan ini. Situasi diluar rencana kita. Sesuatu yang gawat sedang mengancam.." ucap Dewa kepada Yuma.
"Baik bos. Mari selesaikan dengan satu serangan terakhir. Bersiaplah bos.." jawab Yuma yang berhasil melepaskan diri dari kuncian lalu melemparkan Dewa ke sudut arena.
Yuma maju dengan mengarahkan tinjunya kepada Dewa dan Dewa memanfaatkan pembatas arena untuk berbalik dan menyerang Yuma. Di detik terakhir Dewa berhasil menghindari pukulan Yuma dan mengarahkan tinjunya ke perut Yuma dan membuat Yuma terpental ke sisi arena.
Seetttt.. Jduaaaaaaaggg..
Yuma terjatuh, dan mencoba berdiri tapi pukulan Dewa mempengaruhi keseimbangan tubuhnya dan membuat Yuma terjatuh kembali.
Bruuugggg..
Yuma merasa tenaga di kakinya hilang, dengan tetap pada posisi duduk, Yuma mengangkat tangannya, "Aku menyerah.. Aku kalah.." teriak Yuma.
__ADS_1
Seluruh penonton terdiam dan membuat GOR menjadi hening. Mereka tidak percaya melihat Yuma kalah dan uang taruhan mereka hilang.
"Sialan kau Yumaaaaaa… Kau membuat uangku hilang.. Bangsaaattt..!!" teriak Suwarno dari dalam ruang VIP.