
Setelah membuka dan membaca gulungan yang diberikan oleh Gandarwa Raja, Dewa masuk ke dalam telaga kalbu yang ada di alam weningnya. Perlahan Sang Diri Sejati membabarkan makna dari aksara caraka yang ada di dalam gulungan itu. Kemudian tiba-tiba Dewa masuk ke dalam dimensi lain berupa gurun pasir yang sangat luas.
Belum hilang rasa penasarannya, sesosok makhluk yaksa yang sangat mirip dengan dirinya datang dan menyerang Dewa dengan sangat ganas dan cepat. Kehilangan kekuatan spiritual membuat Dewa sama sekali tidak mampu mengimbangi kemampuan dan kekuatan yaksa itu. Dewa harus beberapa kali terlempar dan memuntahkan darah segar saat pukulan yaksa itu mengenai dirinya.
"Bagaimana caraku mengalahkannya..? Dia sangat cepat dan sepertinya dia tau apa yang akan aku lakukan.." gumamnya dalam hati sambil berusaha bangkit.
"Hahahaha.. Sudahlah tidak ada gunanya kamu melawan. Sebaiknya bergabunglah dengan ku, kita pasti bisa menguasai dunia ini.. Kemarilah, terimalah uluran tanganku, jadilah bawahanku.." ucap yaksa itu sambil mengulurkan tangannya.
"Aku tidak akan tunduk kepada makhluk sepertimu..!!" teriak Dewa sambil menyerang yaksa itu dengan tinjunya.
Ctaaaaaappp....
Yaksa itu dengan mudah menangkap tinju Dewa sambil terus menyuruh Dewa menyerah kepadanya, "Sudahlah, jangan memaksakan diri. Kekuatan spiritualmu sekarang menjadi milikku, hanya dengan kamu menyerahkan diri, maka kekuatanmu akan kembali sepenuhnya.."
Meskipun serangannya tidak pernah berhasil mengenai tubuh yaksa itu, Dewa terus berusaha menyerangnya, hingga dia terjatuh tidak sadarkan diri dengan tubuh penuh luka. Yaksa itu mendekati tubuh Dewa, "Sudah aku katakan, sebaiknya engkau menyerah dan mengabdi kepadaku.."
Disaat yang bersamaan, di dalam ketidak sadaran Dewa, seorang kakek tua bertubuh pendek dengan perut besar dan berpotongan kuncung menemuinya, "Engkau tidak akan bisa mengalahkan yaksa itu hanya dengan mengandalkan kekuatan fisikmu saja.."
"K-kakek siapa..? Bagaimana aku bisa mengalahkan yaksa itu, sedangkan kekuatan spiritualku telah hilang dan dikuasai oleh yaksa itu. Tanpa kekuatan spiritual, maka mustahil aku bisa mengalahkannya.." jawab Dewa.
"Namaku Bathara Ismaya, orang juga mengenalku dengan sebutan Badranaya atau sering juga disebut Semar. Seharusnya kamu bisa dengan mudah mengalahkan yaksa itu dengan sebagian kitab kalimasada yang sudah kamu kuasai itu.."
"Bagaimana mungkin kek..? Bukankah sudah aku katakan kekuatan spiritualku telah hilang dan dikuasai oleh yaksa itu.." protes Dewa.
Badranaya melihat Dewa dengan tatapan mata tajam kemudian dia tersenyum dan berkata, "Hhmmmm... Pantas saja, kamu belum menguasai dengan sempurna aksara caraka. Baiklah, aku akan membantumu, sekarang duduk dan atur nafasmu.." kemudian Dewa mendengarkan setiap arahan yang diberikan oleh Bathara Ismaya. Setiap kata yang dikeluarkan oleh bathara Ismaya, membuat Dewa menyadari akan keberadaan Sang Pencipta di dalam dirinya.
Bathara Ismaya tersenyum melihat keberhasilan Dewa memahami intisari aksara caraka dengan cepat, "Bagus... Sekarang kembalilah, hadapi yaksa itu. Kamu akan mengetahui siapa yaksa itu sebenarnya. Kita akan bertemu lagi suatu saat nanti.." Bathara Ismaya mengelus kepala Dewa.
__ADS_1
Dewa tersadar, dia melihat yaksa itu hendak mencengkeram tubuhnya. Dewa segera menghindar dengan berguling ke belakang dan segera bangkit. Yaksa itu terkejut melihat perubahan di dalam tubuh Dewa, "Sepertinya engkau belum mau menyerah, apakah engkau akan terus melawanku..?"
"Aku tidak akan melawanmu, yang aku lakukan adalah mengendalikanmu. Karena sebenarnya engkau adalah perwujudan dari nafsuku sendiri. Aku tidak akan pernah bisa menang melawanmu, tapi aku bisa mengendalikanmu. Kamu adalah bagian dari diriku yang diberikan oleh Gusti Sang Penciptaku untuk selalu mendampingiku dalam setiap langkahku. Kamulah yang membuat aku bisa memacu duriku untuk lebih baik dari sebelumnya, kamu jugalah yang membuatku berani menghadapi apapun di dunia ini. Aku berterimakasih kepadamu yang selama ini sudah menjadi bagian dari diriku, sekarang mari aku ajak dirimu untuk manunggal tetunggalan bersama menghamba kepada Gusti Sang Maha Welas Asih.." ucap Dewa dengan santun.
Seperti kehilangan kekuatan, yaksa itu duduk bersimpuh, tubuhnya yang besar berangsur-angsur mengecil hingga seukuran jamtung manusia. Kemudian yaksa itu melesat masuk ke dalam tubuh Dewa, bersamaan dengan itu, gurun pasir tempat dimana Dewa berada juga masuk ke dalam tubuhnya. Dewa merasakan keadaan yang gelap gulita hingga tiba-tiba Sang Diri Sejati memberikan cahaya dan menuntun Dewa kembali ke telaga kalbunya, "Apa yang baru saja aku alami..? Sekarang aku berada di alam weningku. Dan kekuatan ini.." ucap Dewa dalam hati.
Dewa tidak lagi merasakan kekuatan spiritual di dalam telaga kalbunya, tapi dirinya lah yang menjadi pusat kekuatan spiritual memancar memenuhi telaga kalbunya dan membuat segala entitas yang hidup di dalamnya seperti menyatu dengan diri Dewa.
"Kamu sudah berhasil meruwat yaksa yang ada di dalam dirimu, itulah inti dari aksara caraka yang sudah kamu pelajari. Musuh terbesarmu adalah dirimu sendiri, dia sangat dekat denganmu berjarak antara logika dan hati yang bernama ego, kesombongan dan emosi. Itulah akar dari angkara murka di dalam diri manusia. Sastro Jendro Hayuningrat Pangruwating Diyu, itulah inti dari aksara caraka, sebuah ilmu yang digunakan untuk meruwat watak angkara di muka bumi ini.."
"Terimakasih Sang Sejati yang telah membimbingku, aku akan selalu mengingat dan mengamalkan ajaran ini.."
"Yamaraja Jaramaya, Yamarani Niramaya, Yasilapa Palasiya...... Yasihama Mahasiya, Ingatlah mantra kalacakra ini, gunakan saat kamu benar-benar membutuhkannya.."
Hoooooooonngggg...
"I-ini suara kakek Bathara Ismaya. J-jadi yang aku alami itu nyata dan aku benar-benar bertemu dengan beliau.. Aku sangat ingin berbincang dengan beliau, tapi entahlah kapan aku bisa betemu dengan Badranaya.." gumam Dewa dalam hati.
Setelah apa yang dialaminya, Dewa merasakan ketenangan di dalam batinnya dan fisiknya menjadi lebih bugar dari sebelumnya. Dia juga dapat merasakan kekuatan spiritualnya mengalir di dalam nadi prananya secara terus menerus tanpa perlu dia mengalirkannya, "Aku merasa kekuatan spiritualku terus aktif di dalam tubuhku dan seperti tidak ada habisnya.. Sudahlah, sebaiknya aku membersihkan badanku dulu baru kemudian pergi ke sasana.." gumam Dewa dalam hati.
*****
Setelah memarkirkan sepedanya, Dewa segera memasuki sasana untuk bertemu dengan Roni dan yang lainnya. Suasana di sasana cukup ramai, banyak yang sedang berlatih di bawah bimbingan Kosim dan Icong.
"Siang bos.." sapa Kosim dan Icong.
"Udah gak usah terlalu formal, kalian lanjutkan aja berlatih.." jawab Dewa sambil tersenyum kemudian masuk ke dalam ruangan kantornya.
__ADS_1
"Bagaimana urusan di kantor bupati bos..? Sandhi bilang sepertinya kepala daerah membela Sarko, apa benar bos..?" tanya Yuma.
"Enggak, justru sebaliknya. Sarko menuai apa yang dia tanam.." kemudian Dewa menceritakan kejadian di ruangan kantor pak Hendra, "Terima kasih atas kerja keras kalian, kalau tanpa bantuan kalian, rencana ini tidak mungkin berhasil.." ucap Dewa mengakhiri ceritanya.
"Ahh.. Jangan begitu bos, gak perlu berterima kasih. Semua juga demi usaha kita bos.." sahut Yuma.
"Dalam seminggu kedepan pusat pelatihan sudah mulai dibangun, juga tanah sebelah akan dibangun untuk perluasan sasana dan asrama bagi orang yang kita didik nanti. Jadi aku minta kepada Roni untuk menjadi pengawas proyek, Loreng bersama Yuma, kalian bertanggung jawab atas keamanan di lokasi proyek. Luki dan Faruq, kalian bertanggung jawab pada keamanan logistiknya. Tiara aku percayakan masalah administrasi kepadamu saja....." ucap Dewa.
"Waduh, untuk pengawasnya apa gak sebaiknya bos kecil saja bos, aku mana bisa ngawasi yang seperti itu..?" protes Roni.
"Administrasi itu tugasnya ngapain bang..? Aku mana ngerti yang begituan..?" protes Tiara.
"Terus aku bos..?" tanya Sandhi.
"Sudah pertanyaan kalian..? Aku kan belum selesai menjelaskan..? Jadi begini, dalam dua hari kedepan, KKN Naia sudah selesai, jadi aku harus mengawal mereka kembali ke kota AB. Ron, untuk sementara pengawas proyek kamu handle dulu sampai adikku kembali lagi kesini, dan kamu gak perlu khawatir karena dari pihak kontraktor sudah menyiapkan pemgawas proyek. Jadi tugasmu adalah berkomunikasi dengan pengawas yang ada di lokasi proyek saja. Setiap hari kamu bikin laporan kepada Nuraini tentang progres pembangunnnya, caranya biar nanti adikku yang ajari.."
"Oh.. Jadi seperti itu.. Oke siap bos, sesuai perintah.." jawan Roni.
"Tiara, untuk urusan administrasi biar Naia dan Silvia nanti yang ajari kamu bagaimana caranya. Bagaimanapun kamu juga harus mulai belajar tentang administrasi.." sambung Dewa.
"Ya baiklah, padahal aku ingin jadi pengawal kak Naia saja daripada harus melakukan pekerjaan membosankan.." gerutu Tiara.
"Udah jangan banyak protes..!" ucap Yuma.
"Sandhi, kamu ikut aku ke kota AB untuk menyiapkan yang disana.." sambung Dewa.
"Oke, siap bos.." jawab Sandhi.
__ADS_1
Tak lama kemudian Naia, Silvia dan Nuraini sampai di sasana. Sesuai dengan rencana Dewa, Roni belajar bagaimana membuat laporan progres harian, sedangkan Naia dan Silvia mengajari Tiara tentang administrasi.