Dewa Sang Patriot

Dewa Sang Patriot
Mungkin ini saatnya


__ADS_3

Disaat Dewa dan yang lainnya berada di kafe Pinus, di rumah Suwarno ada puluhan polisi yang melakukan penangkapan terhadap Suwarno. Rendi yang ada di rumah Suwarno pun tidak luput dari darinya, "Pak, saya tidak ikut-ikut pak. Saya hanya kebetulan bertamu saja disini.." protes Rendi.


"Sudah.. Kalian jelaskan di kantor saja..!!" jawab salah satu polisi.


"Masuk kalian..!!" bentak polisi lainnya.


Suwarno dan Wawan dibawa ke kantor polisi tanpa perlawanan. Hanya umpatan dan makian kepada polisi yang bisa mereka lakukan. Rendi, Bagus dan Dimas yang saat itu sedang berada di rumah Suwarno juga ikut dibawa ke kantor polisi kota untuk dimintai keterangan.


****


Sementara itu, saat Dewa dan Naia tengah membicarakan sesuatu yang serius, Silvia dan Nuraini tiba-tiba berdiri di belakang mereka dan mengucapkan sesuatu, "Aku setuju dengan keputusan mas Dewa. Naia, tolong jangan mempersulit mas Dewa lagi dengan permintaanmu yang tidak wajar itu......... Aku akan mencintai mas Dewa dengan caraku sendiri.." ucap Silva dan disusul dengan ucapan Nuraini, "Apapun keputusan kalian, Nur hanya bisa mendukungnya. Nur akan selalu berdo'a untuk kebaikan kalian semua.. Kak, mungkin sudah saatnya ayah dan ibu tau keberadaan kakak.." sambung Nuraini


Ucapan Nuraini mengingatkan Dewa tentang perkataan mbah Sastro, "Yakinlah bahwa kebenaran akan menemukan jalannya sendiri. Saat dirimu ragu apakah kau melakukan sesuatu yang benar atau tidak, maka berserah dirilah. Sang Maha Benar akan menuntunmu kepada jalanNya."


"Eh.. kalian kok nyusul kesini..?" protes Silvia.


"Kalian lama banget sih, ini udah malam, teman-teman ingin pulang. Tuh lagi nungguin kalian di bawah.." jawab Nuraini.


Dewa melirik jam tangannya, "Eh.. Udah hampir jam sepuluh ternyata.." 


"Ih.. Cepet banget nih waktu. Gak krasa udah jam sepuluh aja.." protes Naia.


"Yaudah, lain kali kan juga masih bisa. Yuk pulang aja, kasihan teman-temanmu udah pada nunggu.." ucap Dewa sambil mengajak mereka turun.


*****


Dewa menyandarkan tubuhnya di kursi sesaat setelah masuk ke dalam rumah ditemani mereka bertiga. Nuraini melihat Dewa seperti memikirkan beban yang berat, "Nur tau banyak yang kakak pikirkan, maaf ya kak kalau yang Nur bilang tadi menambah beban pikiran kakak.." ucap Nuraini menyesal.


"Enggak kok Nur, kakak pasti akan menemui ayah dan ibu, cuma kakak harus mencari waktu yang tepat dulu.." jawab Dewa berusaha terlihat santai.


"Mungkin saat acara itu mas. Siapa tau bisa jadi hadiah terbaik buat mereka semua.." sahut Naia.


"Aku belum memikirkannya. Sudahlah, untuk yang satu ini biar aku pikirkan dulu bagaimana baiknya. Aku tidak ingin pertemuanku dengan ayah dan ibu merusak acara pak Wira.." jawab Dewa lalu terdiam.


Mendengar ucapan Dewa, mereka bertiga terdiam. Dewa merasakan batinnya sedang bergejolak hebat. Nuraini terlihat gelisah tapi dia juga tidak mengucapkan sepatah katapun. Cukup lama mereka saling berdiam diri, hingga akhirnya Naia berbicara sesuatu, "Aku gak ngerti dengan maksud mas Dewa, mengapa pertemuan mas dengan om Gunawan bisa merusah acara papa..?" tanya Naia bingung.


"Hehhhhhhh.. Entahlah, hanya saja aku takut pak Wira berfikir aku membohongi beliau. Bagaimanapun, beliau taunya aku adalah Dede bukan Dewa. Gak tau bagaimana aku menjelaskannya nanti.." jawab Dewa pelan.


"Mas gak perlu khawatir, kami pasti akan membantu menjelaskan kepada papa Wira.." sahut Silvia.


"Bener kak, kakak gak usah terlalu menghawatirkan hal itu. Mau sampai kapan kakak akan seperti ini..?" sambung Nuraini.


"Iya Nur, kakak tau. Terimakasih kalian sudah bersedia membantu ku.." ucap Dewa.

__ADS_1


"Yaudah, kami tidur dulu ya mas.. Mas Dewa jangan bergadang terus, kasihan tuh badan.." ucap Naia lalu pergi ke kamar bersama Nuraini dan Silvia.


Dewa bersandar sambil memejamkan matanya kemudian menarik nafas panjang dan berkata dalam hatinya, "Lebih baik aku akan fokuskan dulu pada masalah utamaku, mencari keadilan untukku dan anggota reguku. Masalah lain, akan aku kesampingkan dulu.." kemudian Dewa membuka laptopnya.


Ada beberapa email yang masuk dari Niko berisi beberapa informasi yang mempertegas dan memperjelas informasi yang Dewa dapatkan dari berkas yang diupload Kolonel Sunardi. Selain itu ada beberapa adalah informasi yang benar-benar baru, diantaranya informasi nama-nama perwira bintang di kepolisian dalam lingkaran mafia judi dan narkoba yang ikut merencanakan skenario pada kasus yang dialami Regu III, "Sepertinya semakin dalam aku menelusuri, semakin rumit dan berat masalah yang aku hadapi. Itulah mengapa Niko dan komandanku mengatakan akan ada banyak pihak yang akan aku singgung nantinya. Baiklah, akan aku mulai dari luar saja, sekalian memancing induk keluar sarangnya. Terlalu beresiko mencari induk di dalam sarangnya. Sikat anak-anaknya dulu, maka induknya pasti akan menampakkan diri.." gumam Dewa dalam hati.


Dewa mempelajari file-file yang dikirimkan Niko hingga tak memperhatikan waktu. Kalau saja Nuraini tidak keluar kamar untuk berwudhu, mungkin Dewa tidak tau kalau sudah jam tiga dini hari.


"Kakak belum tidur..?" tanya Nuraini setelah berwudhu.


"Belum, barusan selesai ini, mempelajari file-file yang dikirimkan Niko.." jawab Dewa sambil mematikan laptopnya.


"Mas Niko kirim file apaan kak..? Sesuatu yang berhubungan dengan kasus kakak..?" tanya Nuraini dan dijawab dengan anggukan kepala oleh Dewa.


Melihat reaksi Dewa, Nuraini memutuskan untuk tidak bertanya lebih jauh, lalu pergi ke ruang tengah untuk melakukan sholat malam.


Tak terasa, matahari sudah mulai menampakkan dirinya, pagi itu Naia sibuk menerima telepon, "Pagi-pagi gini siapa yang telepon..? Kayaknya penting gitu..?" tanya Dewa


"Mama telepon, lusa kan acara perayaan ulang tahun pernikahan mereka, nah rencananya berubah, gak jadi diadakan di kota N. Ada teman papa yang meminjamkan villanya di desa Candi kota AB.." jawab Naia.


"Wah.. Jauh nya.. Terus berangkat kapan rencananya..?" tanyaku.


"Lusa pagi mereka kesini, jemput aku, Silvia dana Nuraini. Mereka berangkat dua mobil, satu mobil buat papa dan mama, satu lagi buat ayah sama ibu mas Dewa.. Terus tadi mama bilang mas ikuti rombongan kita dengan mobil sendiri, karena sepulang dari sana, papa langsung ke kota H, mama balik lagi ke kota L bareng sama ayah dan ibu mas Dewa.." jawab Naia.


"Lusa itu berarti hari Sabtu ya..? Jam berapa papa sama mama kesini Nai..? Aku sabtu pagi sampai siang kasih materi akuntansi buat Badan Usaha Desa. Gimana dong..?" tanya Silvia bingung.


"Gak bisa, semua punya materi sendiri-sendiri, aku bagian ajari mereka membuat laporan keuangannya. Lagian gak enak juga kalau mau nyerahin sama yang lain.." jawab Silvia.


Silvia dan Naia terlibat perdebatan, Nuraini pun berusaha menengahi mereka, "Udah gini aja, biar kak Silvia bareng sama mas Dewa. Siang setelah acara kan bisa..?" ucap Nuraini.


"Emang bisa sore udah sampai sana..? Setidaknya sebelum isya' udah sampai sana.." tanya Naia ragu-ragu.


"Bisa lah, orang sekarang ada jalan tol, jadi lebih cepet juga kan..?" jawab Dewa santai, kemudian dia memberikan penjelasan kepada Naia. Akhirnya Naia pun bisa mengerti dan mengijinkan Silvia menyusul ke kota AB bersama Dewa.


Dua hari berlalu dengan cepat, pagi itu Naia dan Nuraini terlihat sibuk menyiapkan dirinya, karena hari ini pak Wira dan bu Santi akan menjemput mereka di basecamp.


"Habis ini kakak antar kamu ke basecamp, lalu kakak langsung pulang aja. Belum saatnya kakak bertemu dengan ayah dan ibu.." ucap Dewa kepada adiknya.


"Iya kak. Terserah kakak gimana baiknya.." jawab Nuraini.


"Terus nanti kalau papa atau mama tanya aku harus jawab gimana sayang..?" tanya Naia.


"Kamu kan lebih pintar dari aku kalau masalah alasan. Aku percayakan semua sama kamu.." ucap Dewa sambil mencubit hidung Naia.

__ADS_1


"Iihhh.. Sakit tau.."


"Iya deh, nanti biar aku cari alasannya ke papa.." jawab Naia.


"Yaudah kalau udah siap, aku antar aja kalian ke basecamp. Silvia sekalian tunggu di basecamp kan..?" tanya Dewa yang dijawab dengan anggukan oleh Silvia.


Dewa mengantar mereka menuju basecamp, dan segera kembali ke rumahnya. Kemudian dia bersiap untuk melakukan latihan rutinnya, "Beberapa hari ini aku tidak melatih fisikku, sambil menunggu Silvia selesai, sebaiknya aku berlari untuk melatih stamina dan fisikku.." gumam Dewa dalam hati sambil bersiap-siap.


*****


Sekitar jam sembilan pagi pak rombongan pak Wira sampai di basecamp KKN Naia, bu Santi segera menghampiri Naia dan bertanya, "Gimana udah siap..?" tanya bu Santi begitu turun dari mobil.


"Udah dong.. Dari shubuh malahan kami udah siap.." jawab Naia.


Bu Widya pun ikut turun dari mobil satunya dan menghampiri Nuraini, "Kamu naik mobil sama ayah dan ibu saja nduk, biar kak Naiamu bisa ngobrol sama orang tuanya.." ucap ibu kepada Nuraini.


"Iya bu. Rencana Nur juga gitu kok.." jawab Nuraini.


"Loh Silvia mana, dia ikut juga kan..? Ayo sekalian ajak dia bareng sama kita.." tanya pak Wira.


"Silvia masih ada kegitan di balai desa sampai siang kayaknya pa, nanti dia nyusul sama mas Dede.." jawab Naia.


"Oh, yaudah, yang penting dia ikut juga. Yuk kita berangkat, udah siang ini.." ucap Pak Wira dari dalam mobil.


Setelah memberikan uang jajan kepada bendahara KKN, bu Santi beserta rombongannya berangkat menuju villa di desa Candi, kota AB.


*****


Sementara itu, di dusun Keramat, Dewa baru saja sampai rumahnya setelah menyelesaikan larinya. Dia melihat jam dinding di rumahnya menunjukkan jam 10 pagi. Segera setelah mandi, Dewa menunggu Silvia sambil menikmati minuman favoritnya. Setelah beberapa saat, Silvia pun datang dengan diantar oleh Risa, "Loh udah selesai acaranya..?" tanya Dewa.


"Udah mas. Tadi aku tukar sesi, ke sesi awal biar cepet selesai. Aku pikir bisa berangkat bareng Naia, ternyata mereka sudah berangkat dari jam sembilan.." jawabnya.


"Oh.. mereka berangkat jam 9 tadi..? Kita berangkat habis dhuhur aja gimnaa..?" tanya Dewa.


"Iya. Terserah mas aja berangkat jam berapa.. Eeee.. Kok perasaanku gak enak ya mas..? Apa mungkin akan terjadi sesatu di sana.?" ucap Silvia.


"Terjadi sesuatu apa..? Udah, jangan memikirkan terlalu jauh hal-hal yang belum terjadi. Nikmati aja saat ini dengan suka cita, apapun yang terjadi nanti ya dijalani dengan suka cita juga.." ucap Dewa.


Air mata Silvia tiba-tiba menetes. Entah apa yang ada di pikiran Silvia, Dewa menepuk pundak Silvia untuk menenangkannya. Setelah beberapa saat, sambil terus meneteskan air mata Silvia berkata, "Mas, aku minta maaf. Karena aku tidak bisa menyembunyikan perasaanku kepada mas Dewa dari Naia dan Nuraini sehingga membuat Naia meminta hal yang tidak wajar. Aku terpaksa berkata akan mencintai mas Dewa dengan caraku sendiri, karena aku bingung harus menjelaskan seperti apa kepada Naia agar dia tidak kecewa, tapi sungguh aku juga tidak menginginkan seperti yang diinginkan Naia. Aku sudah sangat bahagia melihat dia bisa bersama mas Dewa.." ucap Silvia sesenggukan.


Dewa menghembuskan nafas panjang sebelum menjawab, "Hhuuuufffhh.. Naia itu memang anak manja, tapi dia punya keinginan dan keyakinan yang kuat.. Udah kamu tenang aja, gak usah memikirkan hal-hal yang berlebihan. Yakin saja bahwa semua pasti ada jalannya masing-masing.." ucap Dewa sambil memberikan tisu kepada Silvia.


"Maaf mas kalau kami selalu menjadi beban buat Mas Dewa, aku juga memintakan maaf untuk Naia atas segala perilakunya selama ini.. Tolong jaga Naia mas.." Silvia tidak melanjutkan ucapannya setelah Dewa menggelengkan kepalanya. 

__ADS_1


Dewa menarik nafas panjang sebelum dia menjawab, "Sudahlah, jangan berfikir berlebihan, kalian sama sekali bukan beban bagiku. Dan aku pasti akan melindungi kalian dengan nyawaku.." sahut Dewa.


Setelah beberapa saat mereka mengobrol, adzan dhuhur berkumandang dari musholla sebelah rumah. Setelah sholat dhuhur mereka berangkat menyusul Naia ke kota AB.


__ADS_2