
*****
Tepat jam sembilan pagi mereka bertiga sampai di hotel Royal Palace, tempat dimana pertemuan itu diadakan. Tidak menunggu lama pak Wira datang bersama dengan dua orang tenaga ahli teknik sipil dan arsitektur PT. Wiratama Building, salah satu anak perusahaan dari Wiryawan Grup. Dewa segera menyambut kedatangan calon mertuanya itu, "Bagaimana perjalannya pa..?"
Pak Wira memeluk Dewa dan berkata, "Alhamdulillah lancar. Bagaimana kabarmu, sudah lama menunggu..?" tanya pak Wira.
"Alhamdulillah baik pa, seperti yang papa lihat. Ya walaupun ada beberapa masalah kecil, tapi semua masih dalam kendali.. Kami juga baru saja sampai, mari kita langsung saja ke dalam, Naia sudah menunggu di dalam.." jawab Dewa kemudian mereka menuju salah satu ruangan yang sudah di booking oleh Dewa.
Setelah Naia, Silvia dan Nuraini saling berbagi kabar dengan pak Wira, mereka melanjutkan pembahasan kerja sama pembangunan tempat pendidikan dan pelatihan tenaga profesional di bidang keamanan dan pengawalan. Dibantu dengan desain yang sudah dibuat oleh Nuraini, Dewa menjelaskan secara terperinci konsep bangunan yang diinginkannya, "Jadi seperti itulah detail bangunan yang ada di tempat pelatihan dan pendidikannya. Sedangkan yang ada di samping sasana rencananya akan digunakan sebagai asrama. Selanjutnya untuk detail spesifikasi teknik dari bangunan, akan dijelaskan oleh Nuraini dan masalah perhitungan nilai kontraknya akan diwakili oleh Silvia.." ucap Dewa mengakhiri paparannya.
Setelah sekitar satu jam berdiskusi, akhirnya kedua belah pihak setuju dan kemudian menandatangani kontrak kerjasama pembangunan pusat pelatihan. Kemudian Dewa melanjutkan membahas beberapa hal dengan pak Wira, "Tadi kamu bilang ingin mendiskusikan sesuatu dengan papa, ada masalah apa..?" tanya pak Wira.
Dewa kemudian menceritakan apa yang dialaminya saat mengurus surat ijin usaha di kantor pemerintah kota. Pak Wira hanya mendengarkan keluh kesah calon menantunya itu dengan sabar sambil tersenyum.
"Oknum pejabatnya memang kurang ajar itu pa, dia dengan seenaknya memanfaatkan jabatannya untuk mencari keuntungan pribadi. Pokoknya papa harus bantu mas Dewa..!" sahut Naia emosi.
"Benar pa, rencananya aku ingin menjebak pejabat itu. Tapi aku sendiri tidak tau apakah dia itu beneran mencari keuntungan pribadinya sendiri atau memang bekerja secara tersistem. Aku juga tidak tau bagaimana kepala daerah disini, apakah memang orang yang berintegritas atau malah dia yang menjadi pusat sistem bobrok ini.." keluh Dewa.
"Sebenarnya kepala daerah disini teman papa SMP, dan setau papa beliau adalah orang yang sangat berintegritas. Terakhir kali ketemu itu acara reuni sekolah beberapa waktu lalu. Tapi papa gak tau apa dia bisa membantu atau tidak, karena sudah beberapa bulan ini anaknya menderita sakit yang aneh.." ucap pak Wira.
"Sakit aneh seperti apa pa..?" tanya Dewa penasaran.
"Sudah beberapa bulan ini badannya sangat dingin saat menjelang magrib, bahkan sampai dia tidak sadarkan diri sampai menjelang tengah malam dia terbangun dan berteriak histeris. Kondisi fisiknya baik, beberapa kali menjalani pemeriksaan di rumah sakit, semuanya normal. Hingga sekitar dua minggu yang lalu, beliau menghubungi papa dan bilang kondisi putrinya semakin parah. Dia tidak lagi mau makan makanan yang matang, selalu minta setengah makan.." ucap pak Wira.
"Apakah dia kerasukan roh jahat pa..? Sudah coba diobati dengan cara rukyah..?" tanya Naia.
"Itulah yang papa katakan padanya. Mereka sudah mengundang beberapa guru spiritual dan pemuka agama untuk merukyah, tapi hasilnya sia-sia.. Tujuan papa ikut kemari adalah dulu kamu pernah bilang kalau punya guru. Papa ingin mencoba berkonsultasi dengan beliau, siapa tau gurumu bisa membantu masalah teman papa itu, selain itu pasti akan membawa keuntungan juga buatmu.." ucap pak Wira sambil menepuk pundak Dewa.
"Bisa sih pa, tapi rasanya kurang etis kalau membiarkan guruku yang mengobati tapi akhirnya aku yang mengambil keuntungan. Begini saja pa, biar aku periksa saja putri bupati itu, meskipun tidak sehebat guruku, aku sedikit menguasai ilmu yang diberikan guruku.." Dewa mencoba menawarkan diri.
"Benar pa, mas Dewa itu sebenarnya hebat. Pria yang menculikku dulu punya kekuatan ilmu hitam, itu saja kalah sama mas Dewaku.." sahut Naia.
Pak Wira tertawa mendengar ucapan putrinya. Sambil mengelus kepala putrinya, pak Wira memberikan komentarnya, "Hahahaha... Mana ada kecap nomor dua, pasti nomor satu. Jelas bagimu Dewa itu paling hebat, karena dia adalah orang yang kamu cintai.. Tapi kalau memang Dewa bisa, itu malah lebih baik. Sebentar papa akan coba hubungi beliau.." ucap pak Wira.
__ADS_1
Pak Wira mengambil hp nya dan segera menghubungi sang Bupati. Tidak sampai menunggu lama, telepon dari pak Wira mendapat jawaban.
[Bupati] "Assalamu'alaikum. Tumben mas Wira memghubungiku, ada apa mas..?"
[Wira] "Wa'alaikumsalam. Aku hanya ingin tau kabar dari putrimu, apakah sudah sehat..?"
[Bupati] "Semakin parah mas. Sekarang setiap saat dia selalu berteriak-teriak, dan selalu ingin disediakan daging mentah dan darah ayam. Kalau tidak dituruti, dia akan menghisap darahnya sendiri. Rencana besok aku akan kirimkan ke rumah sakit jiwa saja.."
[Wira] "Tenang dulu, aku akan membawa seseorang untuk mengobati putrimu. Apakah kamu bersedia..?"
[Bupati] "Tidak perlu mas, tidak ada satupun yang bisa mengobati putriku. Aku khawatir sakit putriku malah semakin menyebar di masyarakat.."
[Wira] "Kamu tenang saja, dia yang aku bawa adalah calon menantuku sendiri. Begini, biarkan dia memeriksa putrimu, aku yakin dengan kemampuannya, dan semoga saja putrimu bisa disembuhkan. Kalau kamu bersedia, siang ini aku akan ke rumahmu, Bagaimana..?"
[Bupati] "Baiklah, siang ini aku tunggu di rumah.."
Setelah mengakhiri teleponnya, pak Wira menganggukkan kepala kepada Dewa sambil mengucapkan, "Siang ini, nanti setelah dzuhur saja kita kesana.."
Sambil menunggu waktu dzuhur, mereka menikmati makanan dan minuman yang sudah dipesan sebelumnya sambil membicarakan beberapa hal tentang usaha yang akan dijalankan oleh Dewa. Pak Wira pun tidak pelit membagikan pengalaman yang sudah didapatkannya selama menjalankan usahanya kepada Dewa.
*****
Dewa segera turun dari mobilnya sesaat setelah sampai di rumah sang bupati. Dia merasakan energi negatif memancar kuat dari dalam rumah mewah tersebut, dengan persepsi jiwanya dia mencari sumber dari energi negatif itu. Dia menemukan seorang gadis berumur sekitar 18 tahun, dari sanalah energi negatif itu berpendar, "Siapa yang berusaha mencelakai putri pak bupati..?" gumam Dewa dalam hati.
Setelah menunggu beberapa saat, seorang perempuan setengah baya membuka pintu rumah dan mempersilahkan mereka masuk, "Mas Wira, monggo mas masuk.. Silahkan duduk mas, sebentar mas Hendra masih bersiap.." ucapnya.
"Iya, santai saja mbak Win.." jawab pak Wira.
Hendra Kurnia adalah nama dari kepala daerah kota AG, pria berumur 52 tahun itu memiliki seorang istri bernama Ibu Winarti dan dua orang putri. Mutiara, adalah anak gadis sang Bupati yang sedang menderita penyakit aneh tersebut.
"Bagaimana kabarnya mas..?" sapa pak Hendra.
"Alhamdulillah baik, perkenalkan ini Dewa calon menantuku, dan mereka berdua adalah Nuraini, adiknya Dewa dan Silvia putri mas Sanjaya yang dulu pernah aku ceritakan kepadamu.." ucap pak Wira.
__ADS_1
"Maaf pak, saya langsung saja. Apakah sebelum sakit putri bapak menyinggung seseorang..? Saya bisa merasakan hawa negatif yang terpancar dari dalam diri putri bapak itu sengaja dikirimkan oleh seseorang untuk mencelakakan putri bapak.." tanya Dewa.
"M-maksudmu ada yang sengaja membuat putriku menjadi seperti itu..? Aahhhh.. Aku benar-benar orang tua yang tidak bertanggung jawab. Karena kesibukanku aku sampai tidak mengetahui dengan siapa saja putriku menjalin hubungan.." sesal pak Hendra.
Ibu Wina terlihat sedang mengingat semua kejadian sebelum putrinya sakit, kemudian menyampaikan sesuatu, "Seingatku sebelum sakit dia sempat bertengkar dengan pacarnya, kemudia beberapa hari setelahnya, pacarnya datang memberikan sebuah gelang sebagai permintaan maaf. Apakah karena itu Mutiara menjadi sakit..?" ucapnya.
Dewa menarik nafas panjang kemudian berkata, "Apakah saya bisa melihat keadaan putri bapak..? Sepertinya kepribadian putri ibu mulai menghilang dan digantikan oleh sesosok makhluk yang dikirimkan kepadanya.." ucap Dewa.
"Ya benar, kepribadian putriku terus berubah. Mari aku akan mengajakmu melihatnya, tapi putriku akan menyerang siapapun yang melihatnya, kecuali ibunya yang selalu membawakan makanan untuknya.." ucap pak Hendra.
Mereka berjalan menuju kamar paling belakang rumah itu. Dewa bisa merasakan energi negatif semakin kuat saat sampai di depan sebuah kamar yang terkunci, "Kami sengaja menempatkannya di kamar belakang, karena dia lebih tenang berada disini daripada di kamarnya sendiri.." ucap pak Hendra sambil membuka kunci kamar.
"Pergi kalian dari sini..!! Pergi..!!" teriak Mutiara histeris saat melihat beberapa orang datang melihatnya. Sambil menatap tajam kepada Dewa dia kembali berteriak, "Kau.. Pasti kau datang untuk mengusirku..!! Hahahaha.. Kau tidak akan bisa mengusirku dari tubuh gadis ini, atau dia akan kehilangan jiwanya.." suara lain keluar dari mulut Mutiara.
Dewa sama sekali tidak menghiraukannya, dia melangkah masuk ke dalam kamar dan tiba-tiba Mutiara menyerang Dewa bertubi-tubi dengan cakarnya.
Bweeeettt.. Whusssss.. Bweeeettt..
Dengan sigap Dewa menghindar dan menangkis serangan Mutiara, hingga di satu kesempatan, Dewa menangkap salah satu tangan Mutiara dan menyerang perut Mutiara dengan kekuatan spiritualnya hingga dia terpental ke belakang.
Seeeett.. Taaaappp..
Jbuuuuugg..
Dengan secepat angin, Dewa mendekati Mutiara dan memegang kepala Mutiara, "Siapa kamu dan apa tujuanmu berada di dalam tubuh gadis ini..!!" bentak Dewa.
"Hahahaha.. Buat apa aku memberitahumu..? Yang pasti kamu tidak akan bisa mengusirku..!!" ucapnya.
Dewa tersenyum, kemudian dia mengeluarkan api putih di telapak tangannya hingga Mutiara berteriak, "Aaarrggghh.. Panaaaassss.. Panaaaasss.. Hentikan atau jiwa anak ini akan terbakar juga..!! Aaarrggghh..." teriaknya.
"Apa kau yakin jiwa anak ini akan ikut terbakar..?" Dewa terus mengeluarkan api putihnya.
"Meskipun kamu berhasil membakarku, kamu tidak akan bisa menemukan jiwa gadis ini. Gadis ini pasti akan mati.. Aaarrrggghh.. Panaaaasss..." teriaknya.
__ADS_1
Kemudian Dewa meminta kepada Nuraini, Naia dan Silvia untuk membaca beberapa ayat suci Al-Qur'an, kemudian meminta kepada ibu Wina untuk terus memanggil nama putrinya. Dengan tetap memegang kepala Mutiara, Dewa memejamkan matanya, dia kemudian masuk ke dalam ruang jiwa Mutiara untuk mencari keberadaan jiwa Mutiara dan menangkap jin yang merasukinya.