
Melihat pak Hendra datang, Sarko sangat terkejut, dia sama sekali tidak menyangka bahwa sang Bupati akan datang ke tempat itu. Dengan berpakaian seperti warga biasa, pak Hendra menemui Dewa dan memainkan peran sebagai om nya. Sandirwara mereka mainkan, Dewa berpura-pura tidak mengetahui bahwa pak Hendra adalah kepala daerah kota AG. "Jadi begitulah om ceritanya.." ucap Dewa mengakhiri ceritanya.
"Oh.. Benarkah..? Siapa yang mengatakannya..?" tanya pak Hendra.
"Pak Sarko sendiri yang mengatakannya kepadaku. Tapi kok ada ya om, kepala daerah yang seperti itu..?" ucap Dewa.
Mendengar namanya disebut di hadapan pimpinannya, wajah Sarko pucat pasi. Dengan tergagap dia langsung membantah ucapan Dewa, "S-siapa..? A-aku tidak berkata demikian, m-maksudku bukan seperti itu mas.. M-mas Dewa jangan asal b-bicara.."
"Loh, bukannya bapak sendiri tadi yang bilang..? Aku juga mendengarnya.." sahut Naia.
"Sebentar-sebentar.. Pak Sarko benar Wa, kamu jangan asal menuduh kalau tidak memiliki bukti.. Sebenarnya bagaimana yang benar pak Sarko..? Tidak mungkin juga keponakanku mengatakan hal itu kalau tidak ada penyebabnya kan..? Begini saja, masalah ini kita bahas saja di kantor.." ucap pak Hendra dengan tatapan mata tajam.
Semua sesuai dengan rencana Dewa, pak Hendra mengajak ke kantornya agar lebih mudah memberikan sangsi kepada Sarko. Sebelum pergi meninggalkan kafe, Dewa meminta kepada Sandhi untuk menyiapkan semua bukti yang sudah mereka dapatkan.
*****
Sementara itu di sekitar air terjun Rondhosewu, Gandarwamaya dengan membawa perintah dari ayahnya Gandarwa Raja mendatangi rumah mbah Brewok bersama dengan para senopatinya, seorang dukun santet yang berniat mencelakai Mutiara.
"Gandarwamaya, apa tujuanmu datang kemari..? Kamu ingin berperang melawanku..?!" hardik Brewok.
"Perbuatanmu sungguh sudah melebihi batas Brewok. Selama ini aku dan ayahandaku diam bukan berarti kami takut kepadamu, tapi kali ini kamu sudah mencelakai keluarga tuanku. Aku sudah tidak bisa mengampunimu lagi, dan aku membawa perintah dari Raja Gunung Wilis untuk menghukummu..!!" sahut Gandarwamaya.
"Tuanmu..? Kamu jangan membuat alasan, bukankah tuanmu Badranaya sudah tidak ada lagi di dunia ini..? Apa kamu sengaja ingin melanggar janji..? Lebih baik bersekutu saja denganku, aku akan selalu memuja dan memberikan hal yang kalian inginkan.." ucap Brewok.
"Cih.. Aku tidak sudi menjadi budak penguasa kegelapan. Apa yang kamu tau. ? Tuanku Badranaya tumimbal lahir dan sekarang menjadi tuanku yang baru.." ucap Gandarwamaya.
Mbah Brewok terkejut mendengar ucapan Gandarwamaya, karena Bathari Uma pernah memberitahunya bahwa akan ada seseorang yang mewarisi kekuatan Badranaya. Dengan segera dia memerintahkan kepada para siluman yang menjadi budaknya, "Banaspati, Bajulseto, dan semua budakku, habisi mereka semua..!!" teriaknya.
Banaspati dan Bajulseto memimpin anak buahnya menyerang Gandarwamaya, tapi dengan sigap Singo Barong bersama senopatinya menghadang siluman suruhan mbah Brewok. Perang pun tidak dapat terhindarkan.
Boooomm.. Baaaannggg.. Blaaaaammm..
Berhadapan dengan Banaspati, Singo Barong bertarung cukup seimbang. Keduanya sama-sama memiliki pangkat sebagai panglima perang, "Banaspati, kamu sungguh sangat memalukan. Sebagai salah satu jin penguasa api, kamu bersedia tunduk kepada penguasa kegelapan dan menjadi siluman.. Cih.." ucap Singo Barong sambil menyerang Banaspati.
Blaaaaamm.. Whuuunggg.. Booomm..
Sambil menahan serangan Singo Barong, Banaspati menjawab, "Aku sudah dikalahkan oleh mbah Brewok. Lihatlah mantra pengikat yang ada di jantungku, karena inilah aku tunduk kepada mbah Brewok. Kalau kamu bisa menghancurkannya, aku pasti akan membalas penghinaan ini.." jawabnya.
__ADS_1
Boooommm.. Booommm.. Blaaaaamm..
"Kalau begitu maaf Banaspati, terpaksa aku harus membunuhmu.." jawab Singo Barong sambil mengarahkan kakuatannya ke arah Banaspati.
Jdaaaaaarrrr...
Pukulan Singo Barong membuat Banaspati terpental, Singo Barong segera merapalkan ajiannya dan bersiap menyerang Banaspati. Gandarwamaya yang berhadapan dengan Bajulseto melihat serangan Singo Barong menyerang Banaspati, kemudian dia berteriak, "Hentikan Barong..!! Jangan bunuh dia, tuanku bisa membebaskannya dari mantra itu..!!" teriak Gandarwamaya.
"Baik pangeran..!"
Baaaammm.. Booommm.. Jduaaaarr..
Banaspati terkena pukulan kedua Singo Barong, perlahan api yang menyelimutinya redup dan Singo Barong segera menangkap Banaspati dan menyegel kekuatannya.
Sementara itu, Bajulseto terus berusaha menyerang Gandarwamaya dengan sekuat tenaga, tapi kekuatan Gandarwamaya yang berada jauh diatas Bajulseto membuatnya dengan mudah menghindar. Tanpa membuang banyak waktu, Gandarwamaya mendaratkan pukulannya tepat di kepala Bajulseto dan membuat Bajulseto tewas seketika. Melihat pemimpinnya dikalahkan, membuat anak buah kedua siluman itu kocar-kacir dan dengan mudah dikalahkan.
"Semua budakmu sudah kalah, sebaiknya kamu menyerah dan mendapatkan hukumanmu.." ucap Gandarwamaya.
"Hahahaha.. Jangan kamu pikir aku sudah kalah.." ucap mbah Brewok kemudian membaca mantra, dan tiba-tiba asap hitam pekat penyelimuti tubuh mbah Brewok, "Hahahaha... Aku menyerahkan jiwaku kepadamu wahai Bathati Uma..!!" teriak mbah Brewok.
"Pangeran.. cepat kau serang dia dengan keris pusakamu sekarang, atau tidak akan ada kesempatan lagi..!!" teriak Banaspati.
Swuuuunggggg... Sleeeeeebb..
"Aaarrgggghhh..... Aku tidak terima, aku tidak terimaaaa..!!" teriak mbah Brewok.
Asap hitam itu perlahan menghilang, dan tubuh mbah Brewok terlihat terbakar. Meskipun pertarungan mereka berada di dimensi yang berbeda, tapi berdampak pada terbakarnya tubuh fisik dan rumah mbah Brewok yang membuat warga di sekitarnya menjadi panik.
"Semua sudah berakhir, Brewok sudah mendapat balasannya. Banaspati sementara aku akan memenjarakanmu.." ucap Gandarwamaya.
"Aku akan menebus kesalahanku, tapi bagaimana dengan mantra ini pangeran..?" tanya Banaspati.
"Aku akan meminta kepada tuanku untuk menghapus mantra itu. Yang terpenting, sadari kesalahanmu agar tidak lagi terulang di masa mendatang.." jawab Gandarwamaya.
Kemudian mereka meninggalkan wilayah Rondosewu dan kembali ke kerajaan Gunung Wilis.
*****
__ADS_1
Disaat yang sama, Dewa bersama dengan tim nya telah sampai di kantor bupati. Sarko sudah berada di dalam ruangan kepala daerah saat Dewa dan Naia masuk ke dalam ruangan itu, "Silahkan duduk, kita lanjutkan pembahasan di kafe tadi. Coba pak Sarko ceritakan bagaimana kejadian yang sebenarnya.." ucap pak Hendra mengawali pembicaraan.
"Jadi begini pak, mas Dewa ini ingin mengurus ijin usaha, dan sesuai peraturan, kita harus melakukan pemeriksaan pada analisis usaha dan dampak lingkungannya sehingga membutuhkan waktu yang sedikit lebih lama. Tapi beliau ingin mempercepat prosesnya dan mau mengeluarkan biaya lebih untuk itu....." ucapan Sarko terhenti setelah Naia memotong ucapannya.
"Loh.. Kok bisa-bisanya bapak berkata seperti itu..? Bukannya tadi bapak......." Dewa segera memegang tangan Naia untuk menghentikannya.
Kemudian melanjutkan menceritakan kejadian yang dialaminya mulai pertama bertemu Sarko hingga kejadian di kafe sebelum pak Hendra datang, "Begitulah kejadian yang sebenarnya pak.."
"Kapan saya mengatakan seperti itu mas..? Apa mas punya bukti..?!" Sarko terlihat panik.
"Bukankah cek satu miliar sudah bapak bawa..? Itu buktinya.." jawab Dewa santai.
Sarko mengeluarkan cek dari dalam buku agendanya, "Nah ini pak Bupati yang saya bilang. Mereka berniat menyuap saya, sebenarnya ini akan saya jadikan bukti ke bapak bahwa ada perusahaan yang ingin menyuap perijinan.." Sarko memutar balikkan fakta.
"Wah ternyata pandai juga bapak ini berbohong, bapak ini pejabat lho, seharusnya ucapan bapak bisa dijadikan panutan.." ejek Naia.
"Begini mas Dewa, cek ini tidak bisa membuktikan yang mas tuduhkan, justru ini bisa jadi bukti penyuapan kepada pejabat pemerintah daerah. Apa mas Dewa ada bukti lain..?" tanya pak Hendra.
"Ada pak.." Dewa mengeluarkan laptop yang ada di tas nya, kemudian memutar video kejadian di dalam kafe. Dewa sengaja menyambungkan laptopnya ke speaker portabel yang dibawanya dan mengeraskan volumenya, sehingga siapapun yang berada di sekitar ruangan sang Bupati dapat mendengarnya.
Wajah Sarko pucat pasi, dia tidak menyangka akan dijebak oleh Dewa. Keringat dingin mengalir di dahinya, tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya untuk membantah isi video itu.
Setelah melihat video itu, Pak Hendra mengambil dokumen yang ada di dalam tasnya dan meletakkan di atas meja. Sarko terkejut melihat dokumen itu, dokumen analisis usaha dan dampak lingkungan PT. Perkutut Emas, "Aku benar-benar tidak menyangka bahwa bawahanku sangat tidak tau malu berbuat seperti ini. Pak Sarko bagaiman kamu menjelaskannya..?" tanya pak Hendra.
Sarko terdiam dan tertunduk. Suasana hening untuk beberapa saat, pak Hendra menarik nafas panjang, "Mulai saat ini jabatanmu akan saya copot, dan kamu harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu ini. Kamu sudah mencemarkan nama baik saya dan menyalahgunakan jabatan dan wewenangmu untuk kepentingan pribadimu. Mulai hari ini, kamu akan dalam pengawasan.." ucap pak Hendra kemudian memanggil ajudannya.
Sang ajudan pun dengan segera menemui pak Hendra di ruangannya, "Iya bapak, ada perintah apa..?"
"Dalam tiga hari kedepan, siapkan pergantian pimpinan dinas perijinan dan perombakan jajaran staf di lingkunan dinas perijinan.. Setelah ini kita lakukan sidak di lingkungan dinas perijinan.." ucap pak Hendra sambil memberikan secarik kertas kepada ajudannya. Kemudian pak Hendra terlihat menguhungi seseorang melalui ponselnya.
"Maafkan saya mas Dewa, saya sungguh-sungguh malu dengan adanya kejadian ini. Saya juga berterima kasih kepada mas Dewa dan mbak Naia, kalau bukan karena kalian, aku tidak akan tau kelakuan dari bawahanku. Semoga saja ini bisa menjadi contoh bagi pejabat lain agar tidak menyalahgunakan wewenangnya.." ucap sang Bupati.
"Sama-sama pak, saya senang bisa membantu pejabat yang berintegritas seperti bapak. Kalau saja semua pejabat seperti bapak, menjunjung tinggi sumpah jabatannya, saya yakin negara ini akan sejahtera dan rakyat pasti dengan suka rela mau berkorban untuk negara ini.." ucap Dewa.
"Ya apa yang mas Dewa ucapkan benar.. Tapi sayangnya banyak oknum pejabat mengira mereka akan hidup abadi, sehingga mereka dengan mudahnya menganggap sumpah jabatan itu hanya formalitas saja.. Oiya, besok saya akan perintahkan dinas perijinan untuk mengeluarkan ijin usaha mas Dewa.." sambung pak Hendra.
"Tidak perlu seperti itu pak, saya akan mulai dari awal saja mengurus perijinannya. Meskipun prosesnya sedikit lebih lama, tapi bukan masalah. Yang penting kalau memang layak diberikan ijin, ya harus diberikan, tapi kalau memang tidak layak seharusnya ada pembinaan dari dinas terkait agar perusahaan memperbaiki analisis usaha dan dampak lingkungannya.." jawab Dewa disambut acungan jempol oleh sang Bupati.
__ADS_1
Tak lama kemudian, beberapa orang berpakaian kejaksaan masuk ke ruangan pak Hendra untuk menjemput Sarko.