
Penonton terdiam, mereka tidak percaya Yuma yang bertubuh besar itu menyerah kepada Dewa yang berbadan lebih kecil dari Yuma. Suasana di dalam GOR mendadak hening. Suwarno yang sedang berteriak-teriak mengumpat Yuma terdengar di dalam GOR, dia sangat geram dengan kekalahan Yuma yang membuat uang taruhannya hilang, "Sialaaaann kau Yuma.. Bangsaaatt..!! Kau membuat uangku hilang begitu saja.. Keparaatt..!!" umpat Suwarno dengan penuh amarah.
Naia menoleh ke arah sumber suara itu, Naia sangat terkejut melihat melihat Rendi duduk bersama dengan Wawan. Tapi hal yang membuat Naia lebih terkejut dan sangat takut adalah saat dia melihat orang yang berpakaian serba hitam disamping Wawan memperagakan gerakan orang yang sedang berhubungan intim sambil tertawa dan menunjuk Naia.
Disamping ruangan Suwarno, enam orang keluar dan segera berlari menuju ruangan Naia. Mereka adalah orang-orang yang dikirim oleh Karman. Tak butuh waktu lama anak buah Karman sampai di depan pintu ruangan Naia, perkelahian mereka dengan Roni dan teman-temannya pun tak terhindarkan.
Jbuuuug.. Jduuuugg.. Jbuugggh..
Bruaaaakk.. Jbuuugg..
Meskipun menang jumlah, anak buah Karman tidak membuat Roni dan teman-temannya kesulitan menghajar mereka. Hasilnya sudah pasti anak buah Karman dihajar hingga tidak sadarkan diri. Setelah membereskan anak buah Karman, Roni memberikan instruksinya, "Perintah bos, bawa mereka semua dan masukkan ke mobil yang mereka bawa. Mobil itu aku parkirkan di sisi timur GOR. Jangan lupa ambil semua dompet mereka.." ucap Roni.
"Hheh..? Buat apa Ron..?" tanya Icong.
"Udah lakukan aja, itu perintah bos, jangan banyak tanya.." jawab Roni, kemudian mengangkat orang-orang itu ke mobil mereka yang terparkir di sisi timur GOR.
Pertandingan pun usai, penonton berebut keluar GOR sehingga membuat situasi menjadi sedikit kacau. Diatas gelanggang, Dewa menolong Yuma melancarkan peredaran darahnya yang tersumbat karena pukulan Dewa tadi, "Yud, kamu istirahat disini dulu sebentar. Sekitar 20 menit peredaran darahmu akan lancar dan keseimbanganmu akan kembali lagi. Jangan banyak bergerak.." perintah Dewa.
"Iya bos. Hheeh, akhir yang sama seperti dulu, aku gak pernah menang melawanmu.. Hihihihi.." jawab Yuma meringis dan dibalas senyuman oleh Dewa.
Tiba-tiba Dewa terlihat panik, dia merasakan perasaan tidak enak dan itu tertuju pada Naia, "Gawat..!! Naia dalam bahaya.." gumam Dewa dalam hati.
Dewa melihat ke arah tribun dimana Suwarno berada dan melihat rombongan Suwarno berjalan menuju ruangan Naia. Bukan Suwarno atau Wawan yang dia khawatirkan, tapi orang berbaju hitam itu, "Ternyata benar, mereka menuju ke tempat Naia. Bangsaaattt..!!" umpat Dewa dalam hati.
Ramainya penonton yang berebut keluar arena membuat Dewa harus mengambil jalan memutar melalui tribun barat, meskipun jauh, tapi hanya disana lokasi di dalam GOR yang tidak begitu ramai.
Sementara itu, Suwarno membuka pintu ruangan Naia, kemudian Sakri, orang berbaju hitam itu masuk. Melihat ad tamu tak diundang, Kosim langsung bangkit dari tempat duduknya untuk bertanya kepada Sakri, tapi tanpa diduga Kosim, satu pukulan dari Sakri mendarat di dada Kosim dan membuat Kosim terpental menabrak meja kayu di belakangnya.
Jdaaaaaaggg.. Braaaaaakk..
Santoso pun tak tinggal diam, dia segera maju menyerang Sakri. Tapi pukulan dan tendangan Santoso dapat ditangkis dan dihindarinya. Setelah bertarung dengan sengit, tendangan Santoso berhasil mengenai leher Sakri, tapi Sakri segera membalasnya dan pukulan Sakri telak mengenai dada Santoso yang membuatnya terpental lalu muntah darah.
Jbuuuuuugg…
"Huuuaaaakk.." Santoso muntah darah.
Santoso merasakan panas di dadanya dan susah bernafas, hingga beberapa kali dia harus batuk darah dan kemudian pingsan.
Melihat kedua pengawal Naia tidak berdaya, Suwarno segera masuk dan disusul Wawan sambil menutup pintu ruangan, sedangkan Rendi menunggu di depan pintu. Wawan maju ke arah Naia, sambil mengucapkan kata-kata melecehkan seperti biasanya, "Jangan takut sayang, tenang aja aku akan melakukannya dengan lembut.." ucap Wawan sambil berusaha meraih Naia.
"Bangsat..!! Pergi.. Mau apa kalian..?!" teriak Naia.
"Wan, jangan lakukan disini, buat dia pingsan dulu. Nanti kita bisa cari hotel untuk menikmatinya bersama. Aku akan memulihkan diriku dulu.." ucap Sakri lalu dia duduk bersila dengan berandar pada pintu ruangan. Sambil memulihkan dirinya, Sakri menggerutu dalam hatinya, "Sialan..!! Tubuh tua ini tidak mampu lagi menampung kekuatanku. Sepertinya aku perlu tubuh yang lebih muda.." ucap Sakri dalam hati.
Wawan melangkah maju ke arah Naia yang ketakutan. Dia sengaja mempermainkan Naia, "Sini sayang.. Hheeemmm, baumu udah buat aku terangsang.. Tenang aja, nanti juga kamu pasti akan minta lagi kok.." ucap Wawan.
"Bajingan kau.. Masih tidak kapok juga kau..?! Bangsaaatt.. Pergi.. Pergiiii. Jauhkan tangan kotormu itu..!!" teriak Naia. Suasana ramai penonton yang berebut keluar, membuat suara Naia tidak terdengar.
__ADS_1
Sementara itu, Dewa berlari dengan sekuat tenaga, saat sampai di depan ruangan dimana Naia berada, Dewa langsung melempar Rendi yang berjaga di depan pintu kemudian menendang pintu itu sekuat tenaganya
Jdaaaaaagg.. Braaaaaakkk..
Sakri yang bersandar di balik pintu langsung terpental, "Asuuuuu… Siapa yang melakukannya..?" hardik Sakri. Dewa sama sekali tidak memperdulikan Sakri, dengan secepat kilat, dia menendang pinggang Suwarno yang berdiri tidak jauh dari pintu
Jdaaaaaagg. Kraaaaakk..
Terdengar suara renyah pinggang Suwarno yang bergeser akibat tendangan Dewa. Suwarno berteriak sekeras-kerasnya, "Aaaaaarrgghhh.. Pinggangku, pingangku patah.." teriaknya.
Setelah itu Dewa langsung melompat ke arah Wawan, dan tidak sampai sampai satu detik Dewa mencengkeram leher Wawan dan melempar Wawan ke arah jendela kaca ruang VVIP.
Praaaaaangggg...
Wawan terjatuh ke tribun penonton dan membuat penonton yang hendak keluar GOR langsung panik dan berteriak mengetahui ada seseorang yang jatuh dari ruangan VVIP yang membuat suasana GOR semakin gaduh.
Sakri berdiri tertatih. Aura berwarna hitam pekat keluar dari dalam tubuhnya, "Hahahaha... Begini saja anak muda, daripada kita bertarung, lebih baik kita berbagi saja. Aku cuma butuh berhubungan badan sama dia sekali saja, sisanya terserah kamu. Toh walaupun aku sudah menyetubuhinya, dia akan kembali perawan lagi. Bagaimana..?" ucap Sakri lalu menjilat bibirnya.
"Tutup mulutmu itu keparat..!!" hardik Dewa.
"Baik.. Kalau begitu kau memang mencari kematianmu sendiri.." Sakri mengangkat tangan kanannya, lalu terlihat asap hitam pekat keluar dari telapak tangan Sakri.
Dengan menggunakan langkah kalimasada, Dewa bergerak ke sisi kanan Sakri kemudian melakukan gerakan patahan ke atas pada sikunya kanan Sakri.
Kraaaaaakk...
"Ini karena kau mencari masalah denganku.." ucap Dewa dengan tatapan mata tajam. Kemudian Dewa melanjutkan memukul lengan bawah Sakri hingga tulang pundaknya terangkat.
Krataaaaaakkk..
"Aaaaarghhhh... B-bangsaatt..!! S-sakiiiiiitttt…teriaknya
"Yang ini karena kau menganggu gadisku.." ucap Dewa, kemudian Dewa menendang lutut Sakri hingga dia langsung bersimpuh.
Kraaaaaaaakkk..
"Aaaaaaaaa... Sakit-sakit.. Aaaaaa.." teriaknya Sakri lalu dia tidak sadarkan diri.
"Itu karena kau menghajar orangku.." ucap Dewa sambil menarik nafas panjang untuk meredakan emosinya.
Dewa segera mendatangi Naia yang tampak terguncang dengan kejadian yang baru saja dialaminya. Naia memeluk Dewa dan menangis sejadinya. Dewa mendekap Naia dan membiarkan dia untuk beberapa saat, lalu Dewa berkata, "Sudah.. Tenang, aku akan selalu melindungimu, jangan takut.. Semuanya sudah berakhir.." ucapnya menenangkan Naia.
"Iya.. Terimakasih sudah melindungiku mas.. Maafkan aku mas, aku selalu menjadi beban buat mas Dewa.." jawabnya sesenggukan.
"Enggak, bukan, kamu bukanlah beban buatku..? Sayang, dengerin ya, kamu adalah segalanya bagiku, kamu adalah hal yang paling berharga milikku.. Jadi jangan berfikir kamu beban buatku.. Ya..?" ucap Dewa lalu mencium kening Naia.
Setelah Naia lebih tenang, Dewa membantu Santoso untuk menetralisir energi jahat yang ada di dada Santoso. Sekali lagi, Santoso muntah darah berwarna hitam pertanda bahwa seluruh energi jahat yang ada di dalam diri Santoso keluar. Kemudian Dewa membantu Kosim memperbaiki tulang punggungnya yang bergeser karena menabrak meja. Setelah selesai dengan Kosim, Dewa mendekati Suwarno yang merintih kesakitan, "A-aduh.. Pinggangku s-sakiit.. Aku tidak bisa merasakan apapun di kakiku.." rintihnya.
__ADS_1
"Woi.. Namamu Suwarno bukan..? Ingat, mulai saat ini aku tidak akan tinggal diam. Aku akan menghancurkanmu..!! Kali ini aku bantu kau, aku tidak mau punya musuh cacat.." ucap Dewa sambil menekan pinggang Suwarno.
Kraaaaaakkk..
"Aaaaaarrghhhhhhh..." teriaknya.
"Ingat, kau punya waktu 3 bulan untuk operasi. Setidaknya sekarang kau bisa merasakan lagi kakimu. Kutunggu kau sembuh, baru aku akan menghancurkanmu. Oiya, anakmu, kalau dia tidak mati mungkin dia akan sedikit menjadi idiot. Terjatuh dari ketinggian seperti ini, ya wajar lah.." ujar Dewa dingin.
"K-kau memang iblis.." umpatnya.
"Hahahaha… Jika iblis ada disini, dia pasti akan memanggilku Sang Dewa. Ingat itu.." jawab Dewa sambil menatap tajam Suwarno.
Dewa berjalan menuju arah tangga untuk keluar GOR, Rendi terlihat masih pingsan karena menabrak dinding. Sedangkan Yuma, setelah keseimbangannya kembali, dia segera menyusul Dewa, "Bos.. Gimana keadaanmu..? Siapa yang jatuh tadi..?" tanya Yuma khawatir.
"Oh.. Biasalah, udah gak usah dibahas. Kita pulang.., Yud kau ikut aku ke kota AG..?" ucap Dewa
"Lah kalau aku gak ikut, terus aku harus kemana..? Apa kau suruh aku ngemis..? Pengen dapat uang banyak malah ketemu sama orang gila.." gerutu Yuma.
"Eh.. Kau bilang aku gila..?" tanya Dewa pura-pura marah.
"Oh.. Enggak bos, aku gak bilang gitu. Aku bilang aku gila ketemu orang waras.. Hahahaha.." jawabnya.
Sesampai di depan pintu GOR, Roni dan teman-temannya datang menemui Dewa, "Bos ini dompet mereka.." ucap Roni sambil menyerahkan tas plastik berisi dompet.
"Ambil semua uangnya, berikan kepada bang Santoso. Lalu sisanya kalian bakar saja.." ucap Dewa.
"Eh maaf bos, kenapa begitu..? Jangan lah, aku tidak bisa menerimanya.." jawab Santoso.
"Gak pa pa bang, keluarga bang San juga pasti butuh.. Terima saja.." ucap Dewa.
Roni mengambil semua uang di dompet orang-orang Karman. Terkumpul uang 8 juta, lalu Roni menyerahkan uang itu kepada Santoso. Setelah berterimakasih, dia berkata, "Untuk masalah disini, bos gak perlu khawatir. Aku akan buat laporannya kalau memang polisi mengusut kasus ini.." ucap Santoso.
"Terimakasih bang San, lain waktu mainlah ke kota AG, kita ngobrol-ngobrol di sana.." ucap Dewa.
"Siap bos.. Pasti aku akan kesana.." jawabnya lalu pergi.
"Yud kamu bareng aku aja.." ucap Dewa.
"Gak lah.. Aku sama mereka aja.. Sekalian aku mau kenalan juga sama mereka.." jawab Yuma.
"Yaudahlah. Kalian duluan aja, aku masih mau mampir beli oleh-oleh buat yang dirumah.." ujarnya.
"Oleh-oleh buat nyonya muda bos..?" sahut Yuma. Naia pun bisa sedikit tersenyum mendengar ucapan Yuma, "Iya-iya bener buat nyonya muda bos.." jawab Naia.
"Eh.. Siapa emangnya nyonya muda bos..? Kalian ini aneh-aneh aja.. Udahlah yuk berangkat.." kata Dewa.
Santoso segera masuk ke dalam mobilnya, dia diam dan berfikir, "Aku jelas-jelas pukulan orang itu sangat mematikan, tapi Kapten Dewa dengan mudah menetralisirnya, dia memang benar-benar diluar dugaan. Aku merasa sangat beruntung menjadi teman anda kapten.." gumam Santoso dalam hati. Santoso menstater mobilnya lalu pergi meninggalkan lokasi GOR.
__ADS_1
Sementara itu di dalam GOR, tampak Rendi membawa Suwarno dan Wawan pergi dari GOR dibantu oleh seseorang. Sementara itu di dalam ruangan VVIP, tiba-tiba dari tubuh Sakri keluar asap hitam dan segera terbang keluar GOR berputar-putar hingga sampai di salah satu mobil anak buah Karman. Asap hitam itu lalu masuk ke dalam tubuh salah satu anak buah Karman sehingga membuat orang itu tiba-tiba tersadar, "Aahhhhh.. Tubuh ini jauh lebih baik dari Sakri.. Bangsat kau anak muda, baiklah sampai kapanpun akan ku kejar tubuh Dewi Kilisuci.. Hahahaha.." gummnya pelan. Kemudian orang itu melihat kepada teman-temannya yang masih pingsan, "Mumpung orang-orang ini tidak sadar, kuhisap saja jiwanya untuk memulihkan kekuatanku.." gumamnya. Asap berwarna merah mengepul dari anak buah Karman yang masih pingsan, dan selanjutnya masuk ke dalam mulut orang yang dirasuki asap hitam itu.