Dewa Sang Patriot

Dewa Sang Patriot
Ujian buat Niko


__ADS_3

Sementara itu Dewa yang telah sampai di hotel segera mendatangi resepsionis untuk memesan kamar. Dia memilih kamar bertype Deluxe karena memiliki ruangan yang lebih besar dari ruangan kamar Standart. Dia sengaja memilih kamar type itu agar bisa leluasa bergerak saat terjadi hal-hal yang diluar dugaan. Setelah menyelesaikan urusan administrasi di meja resepsionis, dengan diantar oleh petugas hotel Dewa berjalan menuju kamar yang dipesannya, kamar nomor 123.


Dewa langsung merebahkan tubuhnya di kasur setelah sampai di kamar yang dipesannya. Masih terbayang di matanya senyuman di wajah ayah dan ibunya saat mereka berpapasan tadi, "Mengapa aku merasa ibu memanggilku ya..? Apa mungkin hanya perasaanku saja..? Mungkin karena aku sangat merindukan ibu.." gumamnya dalam hati.


Dewa membuka dompetnya lagi dan melihat foto ayah dan ibunya waktu Dewa lulus pendidikan di akademi militer. Dewa teringat kembali saat dipeluk ibunya karena telah berhasil menyelesaikan pendidikannya di akademi militer dan rasa bangga yang terpancar dari mata ayah Dewa karena memiliki anak yang akan menjadi perwira, sedangkan ayah Dewa hanyalah seorang bintara. Perasaan sedih menggelayuti hati Dewa saat mengenang momen-momen indah itu, "Aahhh.. Maafkan aku ayah, maafkan aku ibu, aku bukanlah anak yang baik, aku selalu saja membuat kalian susah.." pikirnya, lalu dia menarik nafas panjang untuk meredam emosinya, kemudian menutup dompetnya, "Sudahlah, lebih baik aku hubungi niko dulu.." gumamnya dalam hati lalu dia mengambil hpnya dan mengirim pesan kepada Niko.


[Dewa]  |Singgasana hotel, kamar 123, jam 11 malam|


[Niko]  |Oke. Aku kesana nanti malam|


"Sebaiknya aku keluar dulu mencari makan untuk mengisi perutku, sekalian aku beli cctv untuk sasana.." gumam Dewa dalam hati.


Setelah memastikan pintu kamarnya terkunci dengan benar, Dewa segera menuju tempat parkir dimana mobilnya berada. Dewa, dengan mengendarai mobil dia menuju pusat perbelanjaan elektronik yang ada di kota L.


*****


Sementara itu di rumah pak Wira, pak Gunawan dan bu Widya bersiap hendak berpamitan kepada pak Wira, "Terimakasih atas jamuan makan siangnya dik, karena sudah tidak ada lagi yang dibahas, kami mohon pamit dulu dik.." ucap pak Gunawan sambil menjabat pak Wira dan bu Santi


"Kami pamit dulu ya dik Santi, dik Wira.." sambung bu Widya sambil bersaman dengan pak Wira lalu berpelukan dengan bu Santi.


"Om, tante, Nur ikut ayah pulang dulu. Besok siang Nur kesini lagi persiapan balik ke tempat KKN.. Kak, Nur pulang dulu ya..?" pamit Nuraini sambil mencium tangan pak Wira dan bu Santi lalu berpamitan dengan Naia.


Naia berjalan ke arah pak Gunawan dan bu Widya, lalu bersalaman dan mencium tangan mereka berdua, "Om, tante, hati-hati dijalan ya..?" ucap Naia lalu mencium pipi bu Widya.


"Iya nak.. Kamu jaga diri baik-baik ya..?" ucap bu Widya lalu membalas mencium pipi Naia.


"Nur, besok jangan sampai telat ya..?" ucap Naia.


Merekapun masuk ke dalam mobil dan meninggalkan rumah pak Wira.


Setelah menutup pintu pagar, Naia segera masuk rumah dan membantu bi Asih, untuk membereskan piring bekas mereka makan tadi. Bi Asih adalah ART pak Wira, beliau sudah lama bekerja di rumah pak Wira mulai dari Naia SD sehingga pak Wira sudah menganggap bi Asih seperti keluarga sendiri. Bi Asih segera menegur Naia saat dia mengangkat piring kotor yang ada di meja makan, "Eh.. Udah non, biar bibi aja yang bereskan.. Non Naia mending lihat kartun aja di TV.." ucap bi Asih..


"Gak pa pa lagi bi.. Cuma bawa piring ke dapur aja kok.. Lah, kok disuruh lihat kartun sih..? Emang aku masih kecil bi..?" jawab Naia sambil mengangkat tumpukan piring ke dapur.


"Eh iya ya, non Naia sekarang udah jadi mahasiswa.. Hihihi.. Bibi jadi ingat, dulu kalau hari minggu atau hari libur, non Naia suka susah disuruh mandi karena nonton film kartun.. Hihihi..." ucap bi Asih sambil tertawa kecil.


"Ih.. Bi Asih ini masih inget aja.. Sekarang aku udah 20 tahun loh.." jawab Naia sambil meletakkan piring di tempat cuci piring.

__ADS_1


"Wah.. Gak kerasa ya non, ternyata non Naia sudah 20 tahun.." ucap bi Asih.


Sementara itu, pak Wira dan bu Santi duduk di sofa ruang tengah membahas sesuatu sebelum akhirnya mereka memanggil Naia, "Naia.. Sayang.. Sini gih. Papa sama mama mau ngomong.." panggil bu Santi.


"Iya ma.." jawab Naia, dia segera berjalan menemui mamanya dan duduk di sampingnya, "Iya ma, ada apa panggil Naia..?" ucapnya.


Bu Santi memeluk Naia lalu mencium pipinya, dan pak Wira bertanya, "Naia, kamu yakin dengan keputusanmu barusan..? Papa takut kalau keputusanmu tadi hanya keputusan sesaat karena emosi.." tanya pak Wira serius.


"Yakin, bahkan sangat yakin, emang aku tadi terlihat emosi ya pa..? Emang kenapa pa..?" tanya Naia dengan santai. Sepertinya Naia sudah tau maksud pembicaraan papanya.


"Eeemmm... Papa hanya ingin tau, apa yang membuat kamu yakin dan akhirnya memutuskan seperti itu..?" tanya pak Wira sambil menatap mata Naia.


Naia tersenyum dan mengambil nafas panjang lalu menjawab pertanyaan papanya, "Karena aku yakin bahwa apa yang sekarang tidak aku sukai, hal yang aku benci, mungkin itulah sebenarnya yang terbaik bagiku, bagi masa depanku. Akhirnya Naia percaya bahwa semua itu papa dan mama lakukan demi kebahagiaanku juga.. Eemmmm.. Papa kecewa dengan keputusanku..?" tanya Naia serius.


Pak Wira mengambil nafas panjang dan mengubah posisi duduknya, sambil tersenyum beliau menjawab, "Tidak. Sama sekali tidak. Justru papa bangga denganmu.." jawab pak Wira.


"Tapi mengapa papa masih mempertanyakannya..?" selidik Naia.


Bu Santi memegang tangan Naia dan mulai bercerita kepada Naia, "Begini sayang.. Setelah pulang dari Lerengwilis beberapa waktu lalu, mama menduga sepertinya kamu punya perasaan dengan Dede. Itu bisa mama lihat dari bagaimana kamu bercerita tentang dia, cara kamu memandangnya, cara kamu berkomunikasi dengan dia. Dari sanalah papa dan mama merasa bahwa selama ini kami telah merampas kebebasanmu dalam memilih laki-laki untuk menjadi pasanganmu. Akhirnya kemarin papamu berbicara dengan om Gunawan tentang pembatalan perjodohan antara kamu dan putranya. Om Gunawan merasa sangat lega dengan keputusan papamu. Sampai terjadi pembicaraan hari ini.." cerita bu Sinta.


"Papa pikir dengan pembatalan ini, kamu akan menerimanya dengan senang hati, sehingga kamu bisa melakukan pendekatan dengan Dede dan mengembangkan rasa diantara kalian.." sambung pak Wira.


Pak Wira menghela nafas panjang sebelum melanjutkan perkataan bu Santi, "Tapi kejadian hari ini menyadarkan papa, bahwa selama ini papa salah karena masih menganggapmu sebagai anak kecil yang manja. Ternyata kamu sudah dewasa.." sambung pak Wira.


Naia diam mendengarkan penjelasan orang tuanya. Tapi di dalam pikiran Naia sebenarnya, "Kalau saja papa dan mama tau bahwa mas Dede itu adalah mas Dewa, mungkin pembicaraan seperti ini tidak akan pernah terjadi. Maafin aku pa, ma, aku gak bermaksud membohongi kalian, ini semua Naia lakukan untuk melindungi mas Dewa.." Naia menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan sebelum bicara, "Pa, ma.. Memang sih masih ada satu rahasia yang aku gak bisa cerita ke papa dan mama. Tapi suatu saat papa dan mama akan mengetahui dengan sendirinya.." ucap Naia.


"Iihhhhh.. Anak nakal, pake rahasia segala sama mama.." jawab bu Santi sambil mencubit hidung Naia.


"Papa percaya sama kamu. Tapi tetap harus jaga diri ya..?" sambung pak Wira.


Mereka mengobrol dan bercanda hingga tak tak terasa waktu sudah hampir malam.


*****


Langit sudah gelap, Dewa segera kembali ke hotel setelah mendapatkan apa yang dia cari. Dewa segera menuju kamarnya sesaat setelah memarkir mobil. Dewa memeriksa keadaan di sekitar hotel dengan persepsi tubuh dan jiwanya sesaat setelah dia memasuki kamarnya, "Aku tidak merasakan tanda-tanda penyergapan di sekitar hotel. Ternyata Niko bisa dipercaya.. Hhmmm.. Lebih baik aku mandi dulu biar lebih segar dan capekku hilang.." gumamnya dalam hati sambil melangkah masuk kamar mandi.


Tidak butuh lama untuk membersihkan diri. Setelah melaksanakan sholat magrib, Dewa berbaring di atas kasur menunggu kedatangan Niko. Waktu berjalan dengan cepat. Tepat jam 11 malam telepon yang berada di kamarku berdering.

__ADS_1


Riiiiiinngggg.. Rriiiiiinngggg..


[Dewa]  "Hallo.."


[Resepsionis]  "Maaf menganggu istirahat bapak. Ini ada tamu, namanya pak Niko, mencari bapak. Mau ditemui di lobby atau langsung ke kamar pak..?"


[Dewa]  "Berapa orang mbak..?"


[Resepsionis]  "Hanya satu orang saja pak.."


[Dewa]  "Tolong suruh temui saya di kamar ya mbak. Terimakasih.."


Hanya berselang beberapa saat, bel kamar Dewa berbunyi.


Tiinggg.. toongggg..


Dewa berjalan menuju pintu dan mengintip melalui lensa cembung yang berada di pintu. Dia melihat Niko berdiri di depan pintu kamarnya. Dewa memastikan lagi dengan persepsi jiwanya kalau Niko benar-benar datang sendiri dan tidak ada yang menemaninya, kecuali petugas hotel yang mengantarnya.


Dewa membuka pintu kamarnya, dengan cepat Niko masuk ke kamar dan menjabat tangan Dewa, "Dewa.. Gimana kabarmu Wa..?" ucapnya.


"Ya seperti yang kamu lihat sekarang.. Sini duduk dulu.." ucap Dewa sambil duduk si salah satu kursi diikuti Niko yang duduk di kursi yang lain.


"Wa.. Aku langsung saja, sebenarnya apa yang terjadi sampai kamu menjadi daftar teratas pencarian..?" tanya Niko.


Dewa mengambil nafas panjang untuk menahan emosinya, "Kamu pastinya sudah tau apa yang terjadi, dan pastinya mereka juga sudah menceritakan semuanya ke setiap divisi di lingkungn angkatan darat. Makanya aku bilang sama kamu, kalau mau tangkap aku jangan sendirian. Bawa 30-50 orang sekaligus. Lumayan kan kamu bisa naik pangkat atas prestasimu.." ucap Dewa sinis.


"Cih, apakah seperti itu anggapanmu kepadaku sekarang..?! Diamput kau Wa..!! Kau pikir aku teman macam apa Wa..? Kamu pikir aku mau mengorbankan hubungan trio Wajan hanya demi naik pangkat..? Sebegitu rendahkah aku di matamu Wa..?" umpat Niko dengan emosi.


Dewa terdiam mendengar jawaban Niko yang emosional, "Ternyata tidak salah aku mempercayainya. Dia mengingat trio wajan, artinya dia masih menganggapku temannya.." ucap Dewa dalam hati.


"Hahahahha.. Gak usah emosi begitu lah. Aku hanya mengujimu, apakah kau benar-benar bisa dipercaya atau tidak. Maaf Nik, untuk saat ini tidak ada satupun yang bisa aku percaya selain diriku sendiri.." ucap Dewa dengan santai.


Niko merasa Dewa sedang mengerjainya, sekali lagi, dia mengumpat Dewa, "Eh.. Apa maksudmu..? Jadi tadi kamu cuma nge tes aku..? Jangkrik kau itu Wa..." jawab Niko sambil duduk kembali.


"Ok. Sekarang aku pengen serius. Aku ingin tau bagaimana kejadian menurut versi mereka..?" tanya Dewa serius.


Niko menarik nafas panjang sebelum melanjutkan bercerita. Niko menjelaskan kepada Dewa, "Jadi pasukan regu III Ganendra melakukan penyelundupan senjata dari luar negeri untuk diperdagangkan dengan secara ilegal di dalam negeri. Kronologinya, saat itu, Pasukan regu III Ganendra dipergoki oleh pasukan gabungan yang sedang berpatroli di sekitar perairan Borneo. Terjadi baku tembak, empat orang anggota pasukan gabungan tewas, satu orang anggota regu III tewas dan dua orang berhasil ditahan. Sedangkan lima orang lainnya melarikan diri.." jawab Niko.

__ADS_1


"Jadi kami dituduh memperjual belikan senjata secara ilegal..? Pantas saja aku menjadi buronan mereka. Lalu apa lagi yang mereka katakan..?" tanya Dewa.


"Hanya itu cerita yang disebar melalui internal memo. Dari awal aku tidak percaya bahwa kalian melakukan penyelundupan dan perdagangan senjata ilegal.." Niko menutup ceritanya.


__ADS_2