Dewa Sang Patriot

Dewa Sang Patriot
Bank of Asia (Bag. 1)


__ADS_3

Pagi ini mereka berempat berencana untuk ke bank yang berada di pusat Kota AG. Silvia dan Nuraini terlihat sibuk mempersiapkan barang yang akan mereka bawa, Silvia tampak sibuk mencari dompetnya dan Nuraini menyiapkan tas kecil yang biasa dia bawa jalan-jalan, sedangkan Naia hanya duduk saja di ruang tamu ditemani Dewa. Setelah beberapa saat, mereka pun berangkat menuju pusat Kota AG.


Setelah memasuki jalan raya antar kota, Dewa memacu mobilnya pada kecepatan sedang. Jalanan yang sepi membuat Dewa bisa menyetir dengan santai sambil sesekali menggoda Naia, "Kenapa kamu nunduk aja Naia..? Emang lagi lihat semut main petak umpet ya..?" goda Dewa.


"Iihhhh.. aku malu lah gara-gara mas tadi.. Mas Dewa juga masuk kamar mandi main nyelonong aja, gak dilihat ada orang apa gak gitu.." protes Naia lalu menggembungkan pipinya.


"Siapa yang tau, lagian pintu gak ditutup, terus gak ada suara orang lagi mandi juga. Yaaaa, aku pikir ya gak ada orang.." Dewa menjelaskan.


"Lha emang pas lagi pakai sabun kok.. Terus tadi apa yang mas lihat..? Gak mungkin kalau mas gak lihat apa-apa..?!" tanya Naia.


"Apa ya..? Cuma bo-botol shampoo aja.." jawab Dewa sekenanya.


Mendengar jawaban Dewa yang sekenanya, membuat Naia penasaran dan terus bertanya kepada Dewa, "Iihh.. ayo ngaku apa yang mas lihat tadi..? rengeknya yang membuat Silvia dan Nuraini hanya tersenyum menahan tawa mereka.


"Eh beneran, cuma botol shampoo aja, oh bukan-bukan. Itu s-s-sabun putih aja.. hihihi.." ucap Dewa sambil tertawa kecil.


"Iihhhh.. Yang bener ah.. Apa yang mas lihat tadi..?" tanyanya mulai gemes.


"Gak ada, gak lihat apa-apa, lha wong kamar mandi gelap gitu jadi ya gak kelihatan apa-apa.." jawab Dewa.


"Alaaaahh.. bohong. Pasti lihat tubuh Naia kan..? Hayo ngaku, bagian mana yang mas lihat tadi..?" desak Naia tidak percaya.


"Iya.. Beneran gak lihat apa-apa non, gak percaya amat sih. Udah gini aja, nanti kalau lampunya udah diganti, diulang aja kejadian tadi, kalau terang kan jadi bisa kelihatan.." jawab Dewa sekenanya.


"Yeeeee... Enak aja.. Gak mau ah.. Weeekk.." jawab Naia.


"Eee.. Kalau Naia gak mau, aku aja deh mas. Gimana..?" Silvia mulai ikut menggoda Naia.


"Silviaaaa.. kamu kok gitu sih..? Iiiihh.. Gak-gak-gak gak boleh-gak boleh.." sahut Naia.


"Loh.. Kamu gak mau, aku gak boleh, yaudah kita berdua aja gimana..? Gimana mas..?" tanya Silvia.


Mendengar gurauan mereka yang makin panas, Nuraini ikut bicara, "Kak Naia, kak Silvi kalian ini apaan sih.. Pagi-pagi udah ngomongin pornografi.." ucap Nuraini sambil menahan tawanya.


Naia dan Silvia kompak menoleh kepada Nuraini dan tertawa bersama.


"Hahahaha..."


"Hheeehh.. Satu aja sudah bikin pusing, gini kok malah mau disuruh tambah lagi satu. Tapi memang lebih baik seperti ini, bisa melihat mereka selalu tertawa bersama.." gumam Dewa dalam hati.


*****


Setelah sekitar tiga puluh lima menit perjalanan, mereka sampai di pusat kota AG. Dewa segera memasuki area pusat perbelanjaan untuk memarkirkan mobilnya disana. Kemudian dengan berjalan kaki, mereka menuju Bank of Asia, dimana rekening bank Naia dan Silvia dibuat. Kondisi bank cukup ramai hari itu, Naia dan Silvia mendapat nomor antrian yang lumayan panjang. Untuk mengusir rasa bosannya, Nuraini memilih untuk pergi ke toko jilbab, "Eh kak, aku tinggal dulu ke sana ya..? Aku mau lihat model jilbab terbaru.." ucap Nuraini kepada Naia sambil menunjuk sebuah toko jilbab di depan bank.


"Iya, lagian kita juga masih antri lumayan ini. Hati-hati ya Nur.." jawab Naia.


Nuraini pergi meninggalkan bank. Sekitar tiga puluh menit menunggu, akhirnya giliran nomor antrian Naia dan Silvia dipanggil ke meja CS yang berbeda, sedangkan Dewa menunggu sambil membaca tabloid di lobby bank. Tidak butuh waktu lama, sekitar lima belas menit, permasalahan Naia dapat siselesaikan, "Sudah bisa ya mbak, mungkin ada lagi yang bisa saya bantu..?" ucap customer service.


"Oh.. Tidak mbak. Terimakasih atas bantuannya.." jawab Naia disambut senyum cs tersebut.


Naiapun segera menemui Dewa di lobby sambil menunggu Silvia. Hanya berselang lima menit urusan Silvia pun juga selesai. "Yuk, kita susul Nur aja di toko jilbab itu, terus kita jalan-jalan ke mall.." ucap Silvia. Dewa hanya menganggukkan kepalanya.


Saat hendak menuju pintu keluar bank, tiba-tiba lima orang bermasker dengan memakai rompi anti peluru masuk ke dalam bank. Seorang dari mereka menembak kaki petugas keamanan bank dan empat lainnya menembak kamera cctv yang ada di dalam bank.


Dooorr.. Doooorr.. Dooorrr.


Dooorr.. Doooorrr.. Praaangg..

__ADS_1


Petugas keamanan bank itu langsung roboh dan berteriak kesakitan sambil memegangi kakinya, "Aaaaaah.. S-sakiitt.. Sssshhhh.. T-tolooong.."


Suara tembakan membuat semua pengunjung bank menjadi panik panik dan berteriak, "Aaaaaa... Toloooongg.. Tolooooongg.."


"Aaaaaaa... Perampokan ini perampokan.. Tolooooongg.. Rampooookk.." pengunjung bank saling berteriak dan membuat suasana menjadi kacau sampai salah seorang dari perampok menembakkan senjatanya beberapa kali ke arah langit-langit bank.


Doorrrr.. Doooorrr..


Kemudian pemimpin mereka berteriak, "Semua diam dan menunduk, jangan ada yang bergerak..!! Atau aku tidak akan segan-segan menembak kalian..!!" 


Pemimpin mereka, orang dengan perawakan tinggi besar dan membawa tas dipunggungnya memberi perintah, "Dul, Man, kalian kumpulkan mereka di sudut situ, biar gampang mengawasi mereka. Pastikan tidak ada yang merekam kita.. Lainnya segera eksekusi.." ucapnya.


"Siap ndan.." jawab mereka.


Mereka berdua kemudian mengumpulkan para pengunjung, tak terkecuali Dewa, Naia dan Silvia, di salah satu sudut dekat dengan meja security. Mereka bertindak cukup rapi dan terorganisir, mereka membagi tugas dengan sangat baik. Satu orang bertugas menjaga sandra, satu orang mendekati meja teller, dan dua orang langsung masuk ke ruangan di belakang ruangan teller.


"Ayo cepat, masukkan uang-uang itu ke dalam tas hitam itu, lalu serahkan kepada kami..!!" hardiknya sambil menodongkan senjata.


"I-iya, b-baik jangan tembak saya.." ucap salah satu teller laki-laki sambil memasukkan uang ke dalam tas hitam di belakangnya.


"Cepaaatt..!! Jangan lelet, tinggal masukkan aja lambat banget..!!" bentaknya.


Tidak lama kemudian, dengan ditodong senjata, dari dalam ruangan di belakang teller keluar empat orang berkumpul bersama kami.


Dewa mengamati gerak gerik gerombolan perampok itu, "Dilihat dari gaya dan gerakan mereka, sepertinya mereka bukan perampok biasa, mereka sangat terlatih dan terorganisir. Kalau dilihat dari cara mereka menggunakan senjata, mereka seperti anggota militer. Apakah mereka tentara..?" gumam Dewa dalam hati.


"Mas gimana ini..?" bisik Naia.


"Tenang dulu, lihat dulu situasinya. Mereka bersenjata, akan sangat berbahaya bila mereka asal menembak.." ucap Dewa sambil berbisik.


"Gak bisakah seperti waktu di rest area dulu itu mas..?" tanya Silvia.


Saat Dewa dan Naia saling berbisik, datang salah seorang dari mereka mendekat, sambil berteriak,"Siapa kepala cabang disini..? Cepat siapa kepala cabangnya..?" hardiknya.


"S-saya, saya kepala cabang.." jawabnya sambil berdiri gemetaran.


"Cepat tunjukkan dimana brangkasnya.." jawabnya sambil mendorong kepala cabang itu masuk ke ruangan dimana brangkas berada.


Suara tembakan yang terdengar sampai jalan raya membuat warga menghubungi polisi. Tidak butuh waktu lama, polisi pun mulai berdatangan.


Wiuu.. Wiuu.. Wiuu...


Suara sirine mobil polisi terdengar, diluar satu pasukan khusus polisi telah mengepung bank dan terlihat memenuhi halaman depan bank. Tapi hal itu sama sekali tidak membuat gerombolan perampok itu takut, "Ndan, itu polisi datang, sepertinya mereka dari pasukan khusus kepolisian.." ucap orang yang dipanggil Dul.


"Hahahaha... Tenang aja, mau darimana pun mereka, aku tidak peduli. Mereka hanyalah sekelompok semut saja, kecuali ada orang itu di kelompok mereka.." ujar pemimpin kelompok itu.


Pemimpin itu membuka tas besar yang dibawanya, dan mengeluarkan beberapa senjata sergap berjenis SMG MP5. Dewa yang terbiasa dengan senjata langsung mengetahui jenis senjata yang mereka pegang itu dengan sekali lihat, "Tidak salah lagi, itu senjata pasukan elite angkatan laut negara Paman Sam..? Siapa sebenarnya mereka..?" tanya Dewa dalam hati.


Pemimpin itu terlihat membagikan senjata kepada anak buahnya, "Ini senjata kalian, kita habisi saja mereka.." ucap pemimpin itu sambil melempar senjata-senjataitu kepada anak buahnya.


Sementara itu diluar, dengan menggunakan pengeras suara, komandan polisi mencoba berkomunikasi dengan para perampok itu, "Sebaiknya kalian menyerah, kalian sudah terkepung, tidak ada lagi celah bagi kalian untuk melarikan diri.." teriaknya


"Hahahahaha… Memangnya kalian tidak punya kata-kata lain..? Kalian anggap ini lagi syuting film..?" ejek pemimpin itu.


Bersamaan dengan itu, terdengar suara tembakan dari ruangan di belakang ruang teller. 


Dorr.. Dooorrr.. Dorr..

__ADS_1


Kemudian tak lama berselang, seseorang perampok yang masuk bersama kepala cabang, kembali dengan membawa tas yang lumayan besar sambil berkata, "Polisi masuk lewat pintu belakang ndan. Tapi mereka semua sudah kubereskan.." ujarnya.


"Bagus. Jaga pintu itu, mereka pasti akan masuk lagi.." perintah pemimpin perampok itu sambil menyerahkan senjata MP5 kepadanya.


Mengetahui tiga orang anggotanya tertembak, polisi yang mengepung dari belakang pun menahan diri untuk masuk. Mereka menunggu di luar pintu sambil menunggu perintah selanjutnya 


Pimpinan perampok itu kemudian menembaki mobil polisi yang berada di depan bank.


Door.. dor.. door..


Kemudian dia berteriak, "Aku mempunyai banyak sandra disini. Kalian punya waktu lima belas menit untuk meninggalkan tempat ini dan berikan akses jalan kepada kami untuk pergi dari sini.." teriak pimpinan perampok.


"Baik-baik. Segera akan kami siapkan.." jawaban komandan itu.


"Hahahaha.. Selama orang itu tidak ada, mereka tidak akan bisa mereka menangkap kita. Cepat segera selesaikan urusan disini, kemudian kita pergi dari sini..!!" ucap pemimpin itu kepada anak buahnya.


Dewa terus mengamati dan mempelajari situasi mencari kesempatan yang bagus untuk menyerang mereka, "Kalau saja mereka tidak membawa senjata api, mungkin sudah dari tadi aku melumpuhkannya. Aku hanya khawatir dengan keselamatan orang-orang ini, mereka bisa saja menjadi korban salah tembak.." gumam Dewa dalam hati.


Sikap jumawa pimpinan perampok membuatnya sedikit lengah. Seorang polisi membidik dan menembaknya.


Dor.. Dor...


Pimpinan perampok itu pun refleks bergerak sambil tertawa,  "Hahahah.. Peluru kecilmu ini tidak akan bisa membunuhku.." jawab pimpinan perampok itu sambil menjatuhkan dua proyektil peluru yang ditangkapnya.


Melihat pimpinan itu berhasil menangkap proyektil peluru pilisi, membawa Dewa pada kesimpulan siapa gerombolan perampok itu sebenarnya, "Dia bisa menangkap peluru itu..? Sekarang aku yakin, mereka jelas bukan perampok biasa, mereka sangat terlatih. Bisa jadi mereka adalah tentara bayaran, pantas saja mereka memiliki senjata itu.. Ini akan sedikit merepotkan.." gumam Dewa dalam hati.


Tentara bayaran biasanya dilatih dan dibiayai oleh pihak swasta, mereka dilatih oleh tentara profesional di luar negeri dan akan disewakan untuk berperang atau melakukan hal-hal lainnya. Pelatihan yang mereka terima juga tergolong extrim seperti pelatihan pada pasukan khusus atau bahkan pasukan elit, sehingga mereka memiliki kemampuan diatas prajurit biasa.


Pemimpin perampok itu membalas tembakan polisi yang menembaknya dengan beberapa kali tembakan dan membuat polisi itu tertembak di bagian dada kirinya.


Dor.. dor.. dorr....


Dor.. doorr.. dorr..


Mengetahui temannya tertembak, beberapa polisi dengan membawa tameng bergerak untuk melindungi temannya yang tertembak itu, Para perampok itu pun langsung menembaki polisi yang membawa tameng tersebut.


Dor.. dor.. dorr.. klangg..


Dor.. klaaang.. doorr.. dorr..


"Tembak di bagian kaki dan helm nya. Jangan tembak tamengnya.." perintah pemimpin perampok.


Dor.. dor.. dorr....


Dor.. doorr.. dorr..


Pasukan polisi pun membalas tembakan mereka, saling tembak pun tak dapat dihindari, sampai komandan polisi menghentikannya, "Berhenti, tahan tembakan..!! Di dalam ada banyak sandra..!! Cepat mundur..!! " teriak komandan polisi itu diikuti dengan berhentinya anggota polisi menembak.


Beberapa orang polisi berusaha masuk melalui pintu belakang bank, dan disambut dengan tembakan dua orang yang berjaga di pintu belakang.


Dor.. dor.. dorr....


Dor.. doorr.. dorr..


"Aaaaahhh... Aku tertembak.." teriak salah seorang polisi.


"Hahahaha.. Mari habisi saja mereka.." teriak seorang perampok.

__ADS_1


"Mundur.. Mundur.. Unit 2 segera mundur.." terdengar suara dari HT yang dibawa polisi.


Pengunjung bank yang menjadi sandra pun hanya bisa ketakutan dan menangis. Mereka tidak tau harus berbuat apa. Mungkin selama ini mereka hanya melihat kejadian seperti ini di film-film dan tidak menyangka akan mengalaminya sendiri. Pengalaman yang mungkin akan membawa trauma mendalam bagi mereka.


__ADS_2