Dewa Sang Patriot

Dewa Sang Patriot
Akui semua kejahatanmu


__ADS_3

"Ternyata bajingan sepertimu yang mengunjungiku. Bagaimana kabarmu tua bangka, apa yang membuatmu tersenyum..? Apakah bisnis narkotika dan perjudianmu sedang untung besar..?" tanya Dewa dengan nada sinis kemudian duduk berhadapan dengan Baros.


"Jaga mulutmu itu anak muda..!! Siapa kau..? Apakah aku mengenalmu..?" sahut Baros sambil menunjuk Dewa.


"Hahahaha... Ternyata kau sudah mulai pikun ya..? Baiklah, akan aku beritahu siapa aku. Dengarkan baik-baik, buka telinga tulimu itu..! Aku adalah mantan komandan regu III Ganendra yang selama ini kau cari. Apakah kau sudah ingat..?!" ucap Dewa sambil menatap mata Baros.


"Hahahaha... Sebuah kebetulan ternyata. Orang yang selama ini bersembunyi layaknya tikus sekarang berani beradu muka denganku. Sungguh sekali dayung dua pulau terlewati, tubuh Kilisuci dan juga penghianat negara.. Sepertinya presiden akan sibuk menyiapkan tanda jasa atas prestasiku menangkap penghianat.. Hahahahaha..." balas Baros dengan sinis.


"Oh..., itu sudah pasti. Mungkin saat ini pak presiden sedang sibuk menyiapkan hadiah luar biasa buat keparat sepertimu. Sebuah kamar mewah di hotel prodeo di pulau Nusakambangan dan medali berbentuk peluru yang akan menembus jantungmu.. Bersiaplah, aku memiliki semua bukti kejahatanmu bersama dengan beberapa perwira militer dan polisi.." sahut Dewa.


"Bangun anak muda, ini sudah siang. Jangan terbuai dalam mimpimu.." balas Baros.


Dewa mengeluarkan secarik kertas dari sakunya kemudian membaca beberapa tulisan yang ada di kertas itu, "Lima ratus milliar dari rekening Man Tio yang berasal dari rekening Junianto dari PT. Tambang Perkasa......." Dewa membaca runtutan uang yang masuk ke dalam rekening Baros, yang berasal dari tindak pidana pencucian uang dari hasil penjualan Narkoba di kota DK, "Dan masih banyak lagi bukti yang seperti ini di tanganku.." ucap Dewa.


"Bagaimana dia mengetahui hal ini..? Apakah ada penghianat di sekitarku..?" ucap Baros dalam hati.


"Erina Safitri, seorang perempuan berusia 20 tahun. Kau mengira dia memiliki tubuh kilisuci, sehingga engkau menangkapnya. Tapi kau sangat kecewa, ternyata dia bukanlah pemilik tubuh istimewa itu. Dan masih banyak wanita muda yang bernasib sama seperti Erina bukan..?!" tanya Dewa.


"S-siapa dia, aku sama sekali tidak mengenalnya. Kurang ajar, beraninya kamu memfitnahku..!!" Baros mulai murka.


Dewa tidak menghiraukan sama sekali ucapan Baros. Dia terus menyebutkan nama-nama yang tertulis di kertas yang ada di tangannya, "Itu baru sebagian dari semua nama yang tertulis di kertas ini. Terserah apa yang kau katakan tua bangka, karena sebentar lagi kau pasti akan mengakuinya. Oh iya aku hampir lupa satu hal, apakah nikmat rasanya bersetubuh dengan siluman ular..?" ejek Dewa.


"Bajingaan..!! bagaimana dia tau semuanya..? Siapa sebenarnya dia..? Tidak..., tidak boleh dibiarkan, dia harus mati. Hanya orang mati yang tidak bisa bersaksi.." gumam Baros dalam hati.


Dewa tersenyum mengetahui apa yang dipikirkan Baros, "Sudahlah tidak perlu berkelit lagi.. Akui saja semua kejahatanmu itu.." ucap Dewa sinis.


Baros terlihat sangat khawatir setelah apa yang dia rahasiakan selama ini bisa diketahui Dewa. Tiba-tiba Baros mencabut pistol yang ada di pinggangnya dan kemudian menembak Dewa.


Doooorrrr.. Doooorrrr...


*****


Sementara itu disaat yang bersamaan, Yuma dan dua orang pasukan elitnya menghampiri Benny yang sedang berjaga di depan pintu bersama dengan dua orang pengawal Baros.


"Siapa kalian..?" ucap salah satu pengawal Baros, kemudian mereka menodongkan pistolnya ke arah Yuma dan anak buahnya.


Yuma mengangkat tangannya, "Tenanglah kalian, aku hanya ingin menyapa sahabat lama.. Bagaimana kabarmu kapten Benny..? Apakah kamu masih berperilaku seperti anjing yang suka menjilat..?" ejek Yuma.


"Ooohhhh... Aku ingat, bukankah ini raja neraka yang terkenal tanpa belas kasihan itu..? Tapi sayang sekali aku tidak ada waktu untuk meladenimu, karena kamu harus segera bertemu dengan Raja Neraka yang sesungguhnya.." ucap Benny kemudian memberi tanda kepada anak buahnya untuk menembak Yuma.


Dzuuuuuppp... Dzuuuuuppp...


Ctaaaangg.. Ctaaangggg...


Sebuah peluru menerjang pistol yang dibawa pengawal Baros hingga pistol itupun terjatuh.


"Ohhh kapten, sepertinya penembak jitumu mulai rabun. Mereka tidak bisa lagi mengenali kawan sendiri ya..? Sepertinya kamu perlu mengajak mereka ke dokter mata.. Hahahaha..." ejek Yuma.

__ADS_1


Benny memegang alat komunikasinya dan berusaha memghubungi anak buahnya, "Apa yang kalian lakukan..?! Cepat tembak orang yang berdiri di depanku ini..!!" teriak Benny dengan marah.


"Tenanglah kapten, anak buahmu sekarang mungkin sedang bercanda dengan raja Yama di meraka. Tidak lama lagi giliran kalian untuk menyusul mereka semua.." Yuma memberi kode kepada pasukan elitnya untuk menghadapi pengawal Baros.


Kedua anak buah Yuma langsung bergerak menyerang kedua pengawal Baros. Sebaliknya, kedua pengawal Baros tidak tinggal diam, mereka berdua memberi perlawanan yang sengit.


Jbuuugggg... Ctaaaakkk.. Sreeeettt..


Bweeetttt.. Jbuuuuugg.. Jdaaaaagg..


Pengawal Baros mundur beberapa langkah setelah tendangan dari anal buah Yuma mendarat di perut dan dada mereka.


"Ternyata hanya seperti ini kemampuan kalian.." ejek salah satu anak buah Yuma.


"Sudah segera saja selesaikan, jangan kasih mereka kesempatan buat bernafas.." sahut lainnya.


Ctaaaaakk.. Ctaaaapp.. Jdaaaagg..


Pemgawal Baros berhasil mendaratkan pukulannya di wajah anak buah Yuma, tapi mereka hanya tersenyum setelah menerima pukulan pengawal Baros.


"Kalian belum makan..? Kalau begitu rasakan kami punya tendangan.." ucap salah satu anak buah Yuma sambil maju menyerang.


Kemampuan bertarung dan ketahanan fisik yang dimiliki anak buah Yuma berada diatas kedua pengawal Baros. Sehingga tidak butuh waktu lama, dua buah pukulan mendarat di titik vital masing-masing pengawal Baros yang membuat keduanya tidak sadarkan diri.


Jdaaaaaaggg... Praaaaaaakkk..


Jbuuuuuggg.. Kraaaaakk..


Setelah memerintah anak buahnya, Yuma juga terlibat pertarungan dengan Benny. Keduanya adalah musuh abadi saat masih berada di pasukan Ganendra. Benny yang tidak pernah menang saat melawan Yuma, bertarung dengan segala kemampuan yang dimilikinya dan ingin membalas semua kekalahannya.


Whusssss.. Bweeeetttt.. Taaappppp


Benny menyerang Yuma dengan membabi buta, tapi pukulan maupun tendangan Benny dengan mudah dihindari dan ditangkis Yuma.


"Hahahaha... Ternyata hanya seperti ini saja kemampuanmu, sungguh-sungguh membuatku kecewa. Bahkan aku hanya membutuhkan satu tanganku saja untuk menghadapimu.." ejek Yuma.


"Besar juga mulutmu bangsat..!! Yang tadi itu masih pemanasan..!" bentak Beni sambil menyerang Yuma.


Serangan Benny berubah menjadi lebih cepat dan ganas yang membuat beberapa tendangan dan pukulan Benny mendarat telak di tubuh Yuma dan membuat Yuma mundur beberapa langkah.


Jbuuugg.. Jdaaaagggg..


"Ada apa..? Apakah tendanganku membuat tubuhmu sakit..?" ejek Benny.


Tiba-tiba terdengar suara tembakan dari dalam rumah.


Dor... Dor...

__ADS_1


"Boss..!!" teriak Yuma.


"Hahahaha... Kau berteriak memanggil siapa..? Siapapun yang menghalangi tuan besar, pasti akan berakhir dengan kematian.." ejek Benny.


Yuma mengepalkan tangannya dan kemudian merangsek maju menyerang Benny.


Sreeettt.. Bweeeett.. Ctaaaaapp..


Mereka bertarung dengan sengit, dalam beberapa menit, sudah puluhan jurus mereka keluarkan.


Jbuuuggg.. Jdaaaaaggg.. Bruuuuggg..


Beberapa tendangan Yuma mengenai perut dan dada Benny dan membuatnya jatuh. Yuma yang khawatir dengan Dewa, segera berlari ke arah pintu rumah, akan tetapi dengan cepat Benny berlari dan menerjang Yuma.


Sraaaatt.. Graaaaapp..


Yuma berusaha mepaskan tubuhnya dari kuncian Benny, "Lepaskan bangsat..!!" ucap Yuma sambil beberapa kali memukul punggung Benny.


Jbuuugg.. Jbuuugg... Jbaaaaggg..


Pukulan Yuma membuat kuncian Benny melemah. Sebagai seorang petarung yang berpengalaman, Yuma memanfaatkan momentum itu untuk melepaskan diri. Benny mengambil jarak dan mundur beberapa langkah. Terlihat darah segar mengalir di sudut bibir Benny.


"Apakah kamu sudah bersiap untuk menyerah..?" ejek Yuma.


Benny mencabut pisau yang terselip di pinggangnya dan langsung menyerang Yuma dengan membabi buta.


Bweeettt.. Whuuusss..


Yuma menghindari serangan Benny sambil berusaha mencari titik lemah Benny.


"Wooiii buto ijo, kamu itu bodoh apa lupa sih..? Gunakan kekuatan spiritualmu.." teriak Luki dari alat komunikasinya..


"Dasar karet, kamu berani mengatakan kalau aku bodoh..? Tunggu sampai semua ini selesai, aku akan lem mulutmu nanti.." ucap Yuma jengkel.


Yuma mundur beberapa langkah dan kemudian mengatur nafasnya untuk mengalirkan kekuatan spiritualnya. Yuma merasakan aliran hangat dan dingin silih berganti mengalir di seluruh tubuhnya dan membuat fisiknya kembali bugar.


Benny tidak mengambil kesempatan itu untuk menyerang Yuma, tapi tubuh Yuma bergerak bagaikan angin, mengindari setiap serangan Benny.


"Apakah kamu hanya bisa menghindar keparat..?! Ayo kalau berani hadapi aku..!!" bentak Benny sambil memyerang Yuma dengan pisaunya.


Ctaaaaapppp...


Yuma menangkap pergelangan tangan Benny, kemudian dengan kekuatan kalimasada, pukulan Yuma menghantam dada Benny.


Jdaaaaaggg.. Kraaaaakk..


"Uhhuaaaaakkkk..." Benny terpental dan memuntahkan darah segar.

__ADS_1


Sebagai seorang anggota pasukan elit, tentunya ketahanan fisik Benny cukup bagus. Benny segera berlari ke arah mobil patwal polisi dan mengetuk jendela mobil itu, "Kalian mengapa diam saja..? Segera tangkap orang itu..!! Bukankah itu tugas kalian..?" ucap Benny sambil menahan sakit di dadanya.


Kedua polisi yang ada di dalam mobil patwal tetap duduk dan tidak memperdulikan Benny.


__ADS_2