
Dewa menyodorkan salah satu rokok yang dibelinya kepada pramusaji yang selalu mengawasinya itu. Pramusaji itu pun terlihat terlihat sangat terkejut mendengar ucapan Dewa, "Kamu belum berhenti merokok kan Sersan..?" tanya Dewa dengan menatap tajam sambil tersenyum kepada pramusaji itu.
"A-Apa maksudmu..? A-aku tidak merokok, mungkin kamu salah mengenali orang.." jawabnya panik.
Dewa mengambil kembali rokok yang disodorkan kepada pramusaji itu dan kemudian membukanya. Setelah itu dia menyodorkan kembali pada pramusaji yang duduk di depannya itu, "Orang yang sedang sembunyi tidak akan sepanik itu saat ada yang mengenalinya. Benar kan Sersan Lukman..? Eeemm.. Mungkin lebih akrab kalau kupanggil Luki saja.. Ayolah, ini kan rokok favoritmu, sayang juga, terlanjur aku buka.." ucap Dewa dengan tetap menatapnya.
Pramusaji itu menghela nafas panjang, "Heehhhhhh.. Aku memang tidak bisa menipu anda Kapten. Tapi bagaimana anda bisa mengenali saya..?" jawabnya sambil melepas kaca mata, lensa kontak, kumis dan wig nya.
Dewa tidak salah menebaknya, pramusaji itu adalah Lukman Hakim, pria berumur 27 tahun berpangkat sersan satu itu adalah salah satu anak buahnya di regu III Ganendra. Pria dengan tinggi badan 170 cm itu adalah seorang yang ahli dalam menyusup. Kelenturan tubuhnya juga membuat dia sangat gesit dan luwes dalam bergerak. Bahkan saat menyamar sebagi perempuan, dia dengan mudah mengubah suaranya seperti perempuan. Orang tidak akan mudah mengenalinya, walaupun itu rekan satu timnya. Seandainya tidak memakai persepsi jiwanya, mungkin Dewa juga tidak akan mudah mengenalinya, dan Dewa selalu memanggilnya dengan nama Luki
"Hahahaha.. Tidak ada satupun manusia di dunia ini yang bau parfumnya seperti pertamax.. Hahahaha.." jawab Dewa kemudian tertawa.
"Hahahaha.. Memang tidak mudah bersembunyi dari anda. Bagaimana kabarnya kapten, mengapa anda bisa berada disini dan apakah anda sengaja kemari untuk mencariku..?" tanyanya.
"Hheeh.. Jangan terlalu sopan lah, dan jangan panggil aku dengan sebutan itu. Panggil aja dengan sebutan lain, bang, mas, bos, apalah asal jangan koptan kapten.." bisikku.
"Eeee.. Baiklah Kap.. Eh.. Eee... bos.." ucapnya.
"Kamu bisa lihat sendiri bagaimana kabarku. Kebetulan aja aku kemari, dan gak gak sengaja juga aku menemukanmu disini. Daripada bekerja disini, lebih baik kamu ikut aku saja, bantu aku mencari kebenaran peristiwa yang menimpa kita.." Dewa menawarkan kepada Luki
Luki tampak berfikir, ada keraguan tersirat di wajahnya. Dewa bisa memahami karena keterbatasan informasi yang mereka terima dan sepertinya tidak ada yang memperdulikan tentang apa yang menimpa mereka. Dewa kembali meyakinkan Luki, "Apalagi yang kamu pikirkan..? Aku tau kamu ragu, tapi setidaknya kita berusaha mencari tau daripada harus terima nasib seperti ini.." ucap Dewa.
"Terus terang bos, aku tidak tau harus bagaimana. Aku yakin apa yang menimpa kita itu sudah direncanakan oleh petinggi-petinggi sialan itu. Kita ini orang kecil, terus kita bisa apa..? Tidak ada yang perduli dengan keadaan kita, bahkan komandan kita saja seperti tidak peduli dengan kita, atau mungkin saja dia malah ikut merencanakannya..? Satu hal lagi bos, rekeningku diblokir, aku tidak punya uang dan aku sendiri butuh makan." jawabnya putus asa.
"Ya alasanmu cukup klasik dan realistis. Tapi bagaimana kalau aku bilang bahwa aku bisa memberimu makan dan membantumu mendapat uang..? Kemudian apakah kamu percaya kalau aku punya semua data orang yang terlibat dalam skenario ini..? Kalau kamu tidak percaya, ya aku tidak memaksa. Mungkin aku akan melakukan ini semua bersama Yudha, Faruq dan Sandhi saja, tanpa Luki.." Dewa berkata dengan serius yang membuat Luki menjadi terkejut.
"Eh, beneran bos..? Kamu sudah ketemu sama si buto ijo itu..? Lalu Sandhi, b-bukannya dia sudah......." Luki tidak meneruskan ucapannya.
"Hhhhmmm.. Sandhi masih hidup dan sekarang mereka bertiga berkumpul di kota AB menunggu rencana selanjutnya. Dan setelah ini rencanaku adalah menemukan Tiara. Aku ingin kita semua berkumpul lagi, kita balas mereka. Sekarang terserah kamu mau bagaimana.." sahut Dewa.
"Baik bos, aku percaya padamu, aku ikut..!! Tapi eeeee…" ucap Luki dan langsung dipotong oleh Dewa, "Tapi kenapa lagi..?" sahut Dewa.
"Itu bos, bayar dulu bonnya, dan ini akan jadi pekerjaan terakhirku disini. Satu hal lagi, hhehhhh.. bos itu kebiasaan, memberi rokok gak pernah sama koreknya. Emang nunggu petir buat nyalakan rokok..?" protesnya sambil berdiri dan meminta uang pembayaran.
Luki segera pergi ke meja kasir untuk menyerahkan uang pembayaran sekaligus mengajukan resign. Setelah selesai dengan urusan di kasir, Dewa dan Luki melanjutkan obrolan mereka hingga Roni dan yang lainnya datang, "Ron, kalian ngopi dulu atau langsung saja..?" tanya Dewa.
"Langsung saja bos, masalahnya sebantar lagi nyonya bos kan latihan, takutnya kita terlambat sampai di sasana, kan bisa gawat bos.." jawabnya,
__ADS_1
Dewa menepuk jidatnya, "Ahhh.. Aku sampai lupa masalah ini. Iya kamu benar Ron, sebaiknya kita langsung pulang aja.." jawab Dewa kemudian mereka meninggalkan tempat itu.
*****
Setelah mengabari pak Yan, Dewa memperkenalkan Luki kepada Roni dan yang lainnya. Sifat supel Luki membuatnya cepat akrab dengan Roni, Loreng, Kosim dan Icong. Luki penasaran dengan ucapan Roni saat mereka masih di kafe itu, "Lah ternyata bos udah nikah..? Kapan bos, kok kami gak tau..? Apa baru saja menikahnya..?" tanya Luki.
"Bos belum nikah bang, tapi udah ada calon istri. Tapi jangan coba-coba bikin masalah sama mereka, karena garangnya minta ampun bang. Bos saja kalau udah di hadapan mereka kayak krupuk kena air.. Hahahah.." gurau Loreng.
"Mereka..? Kok mereka..? Eh.. Yang bener bos.." tanya Luki kepada Dewa yang pura-pura tidur.
"Iya, ada dua nyonya bos kita itu, nanti bang Luki juga akan ketemu sama mereka.." jawab Loreng.
"Hush.. Kamu itu bicara apa Reng..? Calon istriku itu cuma satu, satunya adalah sahabat dia. Aku sama Silvia itu gak ada apa-apa.." ucap Dewa menjelaskan.
"Lha tapi nyonya bos sendiri yang bilang kalau mbak Silvia itu nyonya bos muda, berarti kan memang nyonya bos kasih ijin.." ucap Loreng heran.
"Jadi gini, Naia itu sangat sayang dengan Silvia. Mereka itu sudah seperti saudara kandung. Nah alasan Naia itu agar Silvia gak diganggu oleh kalian, terlebih setelah dia melihat si Yuma. Dan satu hal lagi. perempuan kalau sudah bilang seperti itu, maka terjemahkan terbalik. Kalau dia bilang boleh, berarti itu tandanya dilarang. Sekarang paham kan..?" ucap Dewa.
"Oh.. Jadi seperti itu bos..? Tapi jujur ya bos, kayaknya seru dan asik kalau mereka berdua itu jadi istri bos.." celetuk Kosim.
"Waduh.. Beraaaat bang.. Satu aja udah bikin pusing, apalagi dua.. Mending bertarung lawan puluhan orang deh daripada menghadapi mereka berdua langsung.." jawab Dewa, kemudian disambut tawa mereka.
*****
"Selamat datang di rumah baru. Kamu nanti bisa tinggal sementara bersama Kosim dan Icong.." ucap Dewa kepada Luki.
"Ini tempat siapa bos..? Wah keren lah, bisa latihan lagi nih.." ucap Luki.
"Eeee.. Dulu ini tempatku, bos lah yang mengubahnya menjadi seperti ini, sehingga otomatis sasana ini menjadi milik bos dan kami yang mengelolanya.." jawab Roni.
"Yudha dan yang lainnya juga sedang mengembangkan tempat seperti ini di kota AB. Kedepannya aku ingin membuat perusahaan yang menyediakan personel keamanan dan pengawalan pribadi. Rencanaku sih disini aku gunakan sebagai pusat pendidikan dan pelatihannya. Kita akan mendidik para preman dan petarung untuk menjadi petugas keamanan dan bodyguard.." ujar Dewa.
"Waaahh.. Keren bos.. Kira-kira kapan bos..?" tanya Loreng disambut antusias lainnya
"Sumber daya kita semakin lengkap dan kita mampu untuk mewujudkan itu. Setidaknya dalam dua bulan kedepan, semua harus sudah siap. Mungkin juga bisa lebih cepat dari itu.." ucap Dewa menjawab antusias mereka.
Saat Dewa sedang asik mengobrol, Naia dan teman-temannya datang. Naia dan yang lainnya langsung menghampiri Dewa, setelah berkenalan dengan Luki mereka segera mengikuti Kosim untuk mulai berlatih. Seperti biasa, Kosim melatih Naia dan teman-temannya dengan sangat tegas. Tidak ada rasa segan atau sungkan dalam diri Kosim. Dewa hanya tersenyum melihat pelatihan mereka, "Latihan seperti ini membuat mental mereka kuat, aku merasa mereka menjadi lebih kuat sekarang.." gumam Dewa dalam hati.
__ADS_1
Mereka berlatih dengan semangat dan tidak ada lagi perasaan takut atau tertekan dalam diri mereka terhadap ketegasan Kosim. Naia pun terlihat mulai bisa menerima pelatihan dari Kosim. Tidak terasa waktu mereka berlatih telah selesai. Dewa mengumpulkan mereka semua untuk duduk di atas matras, "Sesuai dengan janjiku kemarin, malam ini aku akan traktir kalian semua. Nanti jam 7 kita langsung berkumpul saja di kafe Pinus.. Risa, tolong kasih tau teman-temanmu lainnya tanpa kecuali..? Ron, kamu ajak sekalian Luki buat bergabung.."
Mereka pun bersorak mendengar ucapan Dewa, kemudian Dewa melanjutkan, "Oke, kalau begitu kita pulang dulu, jangan lupa jam 7 kita langsung kumpul disana.." ucap Dewa menegaskan.
*****
Dewa, bersama Naia, Silvia dan Nuraini sampai di kafe pinus. Beberapa teman Naia bahkan sudah menunggu di tempat parkir kafe itu, "Loh.. Kalian sudah datang..? Kok gak masuk..? Aku udah pesan tempat di dalam, udah aku share di grup juga tuh.." ucap Naia.
"Kami nunggu yang lainnya aja Nai.." jawab Ivan.
"Udah masuk aja yuk..? Umumkan aja di grup kita nunggu di dalam.." jawab Silvia.
Mereka masuk menuju meja yang telah Naia pesan sebelumnya. Tak butuh waktu lama, semua sudah berkumpul di meja yang kami pesan, kecuali Rendi.
Mereka larut dalam kegembiraan, suasana keakraban terjalin antara Roni dan teman-temannya dengan teman-teman Naia sambil mereka menikmati makanan dan minuman yang mereka pesan.
"Ternyata bang Kosim tidak segarang kalau waktu melatih ya..? Coba kalau melatih seperti ini, pasti enak bang.." ucap Oki.
"Hahahaha.. Kalau seperti ini, kalian gak akan serius berlatih. Bela diri itu kejam, makanya aku harus tegas.." jawab Kosim.
Setelah bercanda beberapa saat dengan mereka semua, Dewa naik ke lantai dua bersama Naia. Mereka pun mengobrol di lantai dua kafe sambil melihat kelap-kelip lampu yang berada jauh di kota AG, "Akhirnya mas Dewa ada waktu khusus juga buat aku.."
"Hehhh.. Kamu ini, padahal juga kita sering ketemu dan ngobrol dirumah.." ucap Dewa.
"Beda lah mas, kalau dirumah kan mas juga sibuk dengan semua masalah yang ada, harus perhatiin semuanya. Kalau disini kan waktu dan pikiran mas cuma buat aku aja.. Sebenarnya akan lebih asik lagi kalau ada Silvia disini.." sahut Naia.
Dewa terkejut dengan ucapan Naia, "Maksudmu gimana..? Katanya hanya kita berdua, kok harus ada Silvia..?" tanya Dewa
"Ya mas paham lah maksudku.. Gak tau sih mas, aku hanya ngerasa bahwa aku dan Silvia itu satu, apa yang dirasakan Silvia aku bisa merasakannya. Tapi semua itu terserah bagaimana keputusan mas Dewa. Baik aku dan Silvia akan menerima apapun itu.." ucap Naia.
"Naia, aku tidak bisa menuruti apa yang menjadi keinginanmu. Hatiku hanya mampu mencintaimu saja, jika aku harus mencintai orang lain lagi, aku takut itu hanya dorongan nafsu saja.." jawab Dewa.
"Jadi sudah tertutup kesempatan bagi Silvia untuk bisa mendampingi mas Dewa bersamaku..?" tanya Naia.
Dewa menghembuskan nafasnya perlahan sebelum menjawab, "Hhuuuuuffhh... Iya, tapi aku akan selalu melindungi kalian dengan nyawaku..!" jawab Dewa tegas
Naia menyandarkan kepalanya di bahu Dewa, "Terimakasih mas, walaupun sebenarnya aku sedikit kecewa, tapi aku menerima apapun itu.." ucap Silvia.
__ADS_1
"Aku setuju dengan keputusan mas Dewa. Naia, tolong jangan mempersulit mas Dewa lagi dengan permintaanmu yang tidak wajar itu. Karena hal itu tidak akan membawa kebahagiaan buatku, tapi justru akan menjadi beban seumur hidupku. Aku akan mencintai mas Dewa dengan caraku sendiri.." sahut Silvia yang tiba-tiba berdiri di belakang mereka berdua bersama dengan Nuraini.
"Apapun keputusan kalian, Nur hanya bisa mendukungnya. Nur akan selalu berdo'a untuk kebaikan kalian semua.." sambung Nuraini