
*****
Setelah mandi dan melakukan sholat, mereka duduk di ruang tengah untuk menikmati makan malam sambil sesekali berbincang. Dewa mulai membuka obrolan tentang kejadian di sasana sore tadi, "Sebenarnya apa yang terjadi sama kamu sayang..? Bagaimana kamu memiliki kekuatan yang sangat besar seperti itu..? Bahkan aku hampir tidak bisa menahannya.." tanya Dewa penasaran.
"Aku juga gak ngerti mas, semua terjadi tiba-tiba. Awalnya aku gak terima mas dipeluk sama Tiara seperti itu. Tapi setelah aku mendengar ucapan Tiara, tiba-tiba aku mendengar suara seorang wanita memintaku untuk membuktikan bahwa tidak ada yang bisa merebutmu dariku. Aku pikir itu seperti suara Silvia.." ucap Naia.
"Eh kok aku..? Mana mungkin aku meminta hal seperti itu..?" protes Silvia.
"Aku gak bilang itu kamu, tapi suara itu mirip sekali dengan suaramu. Juga saat kamu memelukku, apa yang kamu katakan sama persis dengan suara yang aku dengar di pikiranku.." sahut Naia.
"Tapi kamu sadar melakukan hal seperti tadi..?" tanya Dewa penasaran.
"Ya sadarlah sayang.. Emang aku kesurupan sampai gak sadar..? Hanya saja aku tidak bisa mengendalikan kekuatan itu, sehingga tubuhku seperti bergerak sendiri. Karena itu aku tadi sampai membuat mas terpental. Maafin aku ya sayang.." ucap Naia.
"Iya gak pa pa. Sudahlah, aku akan bertanya kepada guru masalah yang tadi terjadi.." jawab Dewa sambil membelai rambut Naia.
Mereka melanjutkan obrolan hingga malam. Kemudian saat Naia, Silvia dan Nuraini tidur, Dewa pergi ke rumah mbah Sastro bermaksud untuk mencari tau hal yang terjadi pada Naia. Mengetahui maksud muridnya, mbah Sastro mengajak Dewa ke goa yang biasa dia gunakan untuk berlatih, "Jangan bicarakan disini, kita ke goa saja.." ucap mbah Sastro.
Dengan langkah Kalimasada, mbah Sastro dan Dewa bagai angin menyusuri jalan pegunungan Wilis menuju goa. Hanya butuh beberapa menit saja mereka berdua sampai di mulut goa dan segera memasukinya. Dewa segera menceritakan apa yang terjadi dengan Naia sore tadi, "Jadi begitulah ceritanya guru. Apa guru tau apa yang sebenarnya terjadi dengan calon istriku..?" tanya Dewa mengakhiri ceritanya.
Mbah Sastro terdiam beberapa saat, kemudian menarik nafas panjang dan mulai terkekeh, "Hehhehhehhe.. Seperti yang aku katakan, sudah saatnya bagi calon istrimu untuk memasuki jalan spiritual. Sama halnya yang dialami oleh adikmu, bukankah dia sudah cerita bahwa seorang Dewi membimbingnya..? Aku yakin hal yang sama juga dialami oleh pemilik tubuh Dewi Candrakirana.." ucap mbah Sastro.
__ADS_1
"Lalu sebenarnya siapakah sang Dewi yang membimbing mereka itu guru..? Apakah mereka itu termasuk dari golongan makhluk juga..?" tanya Dewa ingin tau.
"Apakah nak Dede masih ingat penjelasanku tentang Sang Diri Sejati..? Nah sang Dewi yang kamu maksudkan itu sebenarnya adalah manifestasi dari Sang Maha Hidup yang mempribadi menjadi Sang Diri Sejati itu sendiri.." ucap mbah Sastro.
"Maksudnya bagaimana guru..? Bukankah sang Dewi itu perempuan, sedangkan Sang Diri Sejati adalah laki-laki..?" tanya Dewa penasaran.
"Sebenarnya Sang Maha Hidup tidaklah laki-laki ataupun perempuan, yang dalam ajaran leluhur kita disebut tan keno kiniro tan keno kingoyonopo atau Dzat yang tidak dapat diserupakan apapun. Agar manusia dapat mengenali-Nya, maka Sang Maha Hidup mempribadi dengan semua sifat-Nya, dan laki-laki atau perempuan adalah hasil personifikasi manusia terhadap sifat Sang Maha Hidup itu sendiri. Sebagai contoh, karena nak Dede adalah laki-laki, maka hasil personifikasi-Nya adalah Sang Diri Sejati dengan wujud laki-laki, demikian pula sebaliknya.." mbah Sastro menjelaskan.
"Lalu mengapa disebut dengan Dewi guru..? Dan mengapa ada banyak nama..?" tanya Dewa makin penasaran.
"Hehhehhehhe.. Itu hanya penamaan saja nak Dede, agar lebih mudah seseorang mengenal Sang Diri Sejati, mengenal Gustinya. Jika personifikasinya perempuan disebut dengan Dewi, kalau laki-laki disebut dengan Dewa. Di setiap tempat, setiap jaman, Sang Diri Sejati memiliki penamaan yang berbeda, tapi sesungguhnya Dia tetaplah manifestasi Sang Maha Hidup itu sendiri.." ucap mbah Sastro.
"Kalau untuk yang laki-laki, contohnya seperti siapa guru..?" tanya Dewa ingin tau.
"Hehhehhehhe, yang paling dikenal orang adalah Sang Wisnu. Di waktu dan tempat yang berbeda biasa disebut Sang Adhimurti, Sang Anantayasana, Sang Narayana dan lain sebagainya. Ada juga dalam kisah pewayangan, disebut bahwa Sang Diri Sejati dari Brontoseno atau Bima disebut sebagai Sang Dewa Ruci, kamu pasti pernah mendengar atau melihat cerita ini. Semuanya itu tergantung bagaimana orang mempersepsikannya.. Jadi apapun nama dan penyebutannya, sesungguhnya sumber dari itu semua adalah satu, Sang Maha Hidup lagi Menghidupi, Dialah Tuhan Semesta Alam.." jawab mbah Sastro. Mbah Sastro berdiri berjalan menuju pintu goa, dia berdiri di depan pintu goa dan melanjutkan ucapannya, "Yang terpenting bukanlah bagaimana kita menyebut dan memberi nama dari manifestasi Gusti itu. Hal yang paling penting adalah bagaimana kita bisa selalu jumbuh, manunggal tinunggalan dengan Sang Diri Sejati, mengenal Sang Maha Pencipta, sehingga dalam setiap langkah kita adalah kehendak dari Sang Maha Hidup itu sendiri, dengan seperti itu maka akan selalu terjaga kesembangan dan keharmonisan di muka bumi ini. Bukankah juga dikatakan dalam agama yang nak Dede anut bahwa sholat mencegah perbuatan keji dan mungkar..? Sedangkan sholat itu sendiri adalah salah satu cara agar jumbuh dengan Sang Maha Hidup. Dan itulah sebenarnya tugas dari manusia di muka bumi ini.." ucap mbah Sastro.
"Aku sekarang mengerti, lalu apa yang harus aku lakukan selanjutnya guru..?" tanya Dewa.
"Semakin jumbuh dengan Gustimu dan tingkatkan kekuatan, musuh yang akan kamu hadapi kedepannya akan lebih kuat lagi. Sebenarnya masih banyak rahasia yang belum terungkap dari kitab Kalimasada, tapi sayang sekali aku sudah tidak bisa mengajarimu apa-apa lagi. Hanya dengan mengandalkan kejumbuhanmu dengan Sang Diri Sejati, kamu akan bisa mengungkap dan mempelajari rahasia yang terkandung dalam kitab itu. Sering-seringlah berkomunikasi dengan Sang Maha Cerdas melalui Sang Diri Sejati.. Sudah mau shubuh, mari kita pulang.." ucap mbah Sastro.
Dewa menganggukkan kepalanya, kemudian beranjak dari duduknya. Hanya dalam waktu singkat, mereka telah sampai di depan rumah Dewa. Mbah Sastro mengucapkan beberapa kata sebelum pergi meninggalkan Dewa, "Di dalam kitab Kalimasada sebenarnya ada dua ilmu pamungkas, Aji Caraka Balik dan Mantra Kalacakra. Tapi kedua ilmu itu sudah tidak tercatat lagi di dalam kitab yang nak Dede bawa, tapi bukan tidak mungkin masih ada seseorang yang menguasainya. Semoga saja engkau berjodoh untuk bisa mempelajarinya.."
__ADS_1
Dewa hanya menganggukkan kepala mendengar ucapan gurunya. Setelah pembicaraan dengan gurunya itu, selama beberapa hari Dewa memfokuskan diri untuk menyelesaikan panduan operasional perusahaan yang didirikannya. Pada malam hari, Dewa fokus melakukan meditasi dan berkomunikasi dengan Sang Diri Sejati di alam weningnya.
Hingga pada tiga hari setelahnya, Dewa bermeditasi masuk ke dalam alam weningnya. Dewa duduk bersila diatas telaga kalbunya. Energi spiritual yang pekat membuat energi fisiknya seperti terisi layaknya sebuah hp yang di charge. Dalam duduknya, Dewa berfikir, "Aku benar-benar tidak tau apa yang harus aku lakukan selanjutnya, semua masih samar dalam pandanganku.." gumamnya dalam hati.
Sang Diri Sejati mendekati Dewa dan membelainya, kemudian terdengar suara yang begitu lembut tapi merasuk ke dalam hati Dewa.
"Sirnakna semanging kalbu, den waspada ing pangeksi, Yeku dalaning kasidan, sinuda saka sethithik, pamothahing nafsu hawa, linalantih mamrih titih. Aywa mematuh nalutuh, tanpa tuwas tanpa kasil, kasalibuk ing srabeda, marma dipun ngati-ati, urip keh rencananira, sambekala den kaliling. Umpamane wong lumaku, marga gawat den liwati, lamun kurang ing pangarah, sayekti karendhet ing ri. apese kasandhung padhas, babak bundhas anemahi.."
"Aku paham sekarang, yang harus aku lakukan adalah menyingkirkan keraguan di dalam hatiku dan bersikap waspada terhadap penglihatanku. Berarti aku harus menggunakan mata hatiku untuk melihat dunia ini, karena godaan dan tipuan berasal dari mata fisikku ini.." gumam Dewa dalam hati.
"Tan dahwen pati openan, tan panasten nora jail, tan njurungi ing kahardan, amung eneng mamrih ening, aywa esak aywa serik. Yen yuwana ing salami, marga wimbuh ing nugraha, saking Gusti Kang Mahasuci, cinancang pucuking cipta, nora ucul ucul.."
"Aku harus menghindari sifat sombong, iri hati, dendam dan sakit hati, karena bisa menghalangi turunnya anugrah dari Sang Maha Suci walaupun anugrah itu sudah di ujung ciptaku.." gumam Dewa dalam hati.
Kemudian Sang Diri Sejati mengusap dada dan kepala Dewa, terlihat cahaya keemasan masuk ke dalam tubuh Dewa. Di dalam telaga kalbu Dewa, terlihat bunga lotus bermekaran memancarkan cahaya ungu, kemudian cahaya itu masuk ke dalam tubuh Dewa melalui pusat hatinya. Aroma wangi tercium di seluruh telaga kalbu Dewa. Sang Diri Sejati tersenyum dan melambaikan tangannya, sesaat sebelum kembali ke kesadaran jaganya, Dewa berkata, "Terimakasih Gusti, hamba akan berusaha menjalankan wejangan Sang Diri Sejati.."
Dewa membuka matanya, dia merasakan energi spiritualnya ratusan kali lebih kuat. Selain itu dia merasakan kekuatan fisiknya juga meningkat, "Hari ini aku akan mencetak buku panduan operasional perusahaan agar bisa segera dipelajari oleh Loreng dan yang lainnya. Seharusnya hari ini akta pendirian perusahaan jadi, berikutnya mengurus ijin usaha di kantor pemerintah daerah.. Semoga semua dimudahkan.." ucap Dewa dalam hati.
"Kak, besok pagi om Wira dan perwakilan dari perusahaan konstruksi akan datang untuk membicarakan masalah pembangunan pusat pelatihan itu.." ucap Nuraini saat Dewa keluar dari kamar mandi.
"Cepatnya.. Memang kalau udah komisaris yang bicara, pasti semua serba sat set dan wat wet.. Nanti kakak minta sama Naia untuk membuat draft kontrak kerjasamanya.." ucap Dewa.
__ADS_1