
Plok.. Plok.. Plok...
Terdengar suara tepuk tangan dari seseorang yang datang menghampiri mereka, "Hehhehhehhe.. Bagus, meskipun kalian sudah aku anggap menguasai kanuragan Kalimasada, tapi kalian terus berlatih untuk selalu meningkatkan kekuatan dan kemampuan kalian. Yudha, Loreng, Roni dan Kosim, kalian sudah berhasil menembus batasan pada diri kalian. Dan untuk yang lain, teruslah berusaha dan jangan pernah merasa putus asa.." ucap mbah Sastro
Mendengar suara gurunya, Dewa segera menghampiri mbah Sastro, "Guru, bagaimana kabarnya..? Maaf aku belum sempat menemui guru saat tiba di Lerengwilis.." ucap Dewa sambil mencium tangan gurunya.
"Hehhehhehhe.. Sudahlah, aku paham, ada banyak hal yang harus nak Dede selesaikan secepatnya. Dan aku sangat terkejut dengan perubahan pada dirimu. Apakah nak Dede sudah menguasai gulungan itu dengan sempurna..?" tanya mbah Sastro.
"Entahlah guru, aku sendiri tidak yakin apakah aku sudah menguasai sepenuhnya atau belum. Aku merasa mempelajari gulungan itu sama hal nya dengan mempelajari kitab kalimasada, bagaikan mempelajari alam semesta yang tidak terbatas dan tidak berujung.. Semakin aku menjelajahinya, semakin banyak hal yang membuatku tidak bisa memahaminya, seperti memasuki sebuah labirin raksasa yang aku sendiri tidak taub dimana ujungnya.." jawab Dewa.
"Hehhehhe.. Pantas saja pemahamanmu menjadi jauh lebih luas dan mendalam. Ingat, jangan terburu-buru dan harus bertahap dalam mempelajari dan memahami sesuatu. Hal yang tidak kamu mengerti dan pahami sekarang, mungkin akan terbuka dengan sendirinya jika sudah waktunya. Oiya, jika nak Dede ada waktu, ajari mereka untuk menapak jalan spiritual... Baiklah kalian teruskan saja, aku akan turun gunung dulu.." ucap mbah Sastro.
"Baik guru, tapi aku akan tetap merepotkan guru untuk mengawasi mereka.." ucap Dewa.
"Hehhehhehhe...." mbah Sastro pun pergi meninggalkan mereka.
Setelah kepergian mbah Sastro, Faruq yang sangat penasaran dengan kekuatan yang dimiliki Dewa, kemudian bertanya kepada Dewa, "Bagaimana bos bisa sangat kuat..? Bahkan kami berdelapan dengan kekuatan penuh masih bukan tandingan bos. Sebenarnya seberapa kuat kapten ini..?"
"Hhmmmm... Sebenarnya bukan seberapa kuat aku, tapi kalianlah yang belum mengenal diri sendiri sehingga kalian tidak bisa memaksimalkan potensi dan kemampuan yang ada di dalam diri kalian.. Kedepan aku akan mengajari kalian bagaimana agar kalian bisa lebih mengenal diri sendiri.." jawab Dewa.
"Bagaimana caranya bos..?" tanya Yuma penasaran.
"Simpan rasa penasaranmu sampai tiba saatnya.. Lusa aku akan kembali ke kota AB untuk menyelesaikan beberapa masalah disana, kalian lanjutkan pekerjaan disini.. Tiara, tolong kamu hubungi serigala merah, suruh Dunhill dan beberapa anak buahnya ke kota AB.." ucap Dewa.
"Siap bang, Dunhill pasti senang mendengar kabar ini.." jawab Tiara.
"Baiklah, sebentar lagi magrib, mari kita turun. Setelah sholat magrib di musholla, kalian bisa kembali ke sasana. Tiara kamu ngobrollah dengan Naia, Silvia dan Nur.." ucap Dewa.
Mereka segera meninggalkan puncak Wilis dan menuju musholla yang berada di dekat tempat tinggal Dewa.
*****
__ADS_1
Sementara itu di ruang kerjanya Baros terlihat berbincang dengan Sulam, siluman harimau yang berhasil dalam pertapaannya dan berubah menyerupai manusia.
"Bagus Sulam, meskipun lebih lama dari waktu yang aku berikan, tapi kamu sudah berhasil membunuh Nurdiono. Dengan begini, aku bisa memulai rencanaku.." ucap Baros sedikit kecewa.
"Maafkan hamba pangeran. Nurdiono memiliki orang-orang sakti di sekitarnya. Selain itu dia juga membawa pusaka sakti yamg selalu menghalangiku, sehingga sedikit sulit bagiku untuk menghabisinya.." sahut Sulam.
"Sudahlah, tugasmu selanjutnya adalah menemukan tubuh Dewi Kilisuci dan Candrakirana. Lakukan secepat mungkin, beberapa waktu lalu kamu pasti juga sudah merasakan kebangkitan Dewi Kilisuci.." ucap Baros.
"Benar pangeran, kalau begitu hamba akan segera pergi untuk melaksanakan perintah pangeran.." jawab Sulam kemudian tubuhnya berubah menjadi asap hitam dan menghilang.
Meskipun memiliki tubuh manusia, dengan kesaktiannya, Sulam mampu mengubah tubuh fisiknya menjadi asap hitam, sehingga dia bisa bebas pergi kemanapun.
"Aku percayakan saja urusan tubuh Dewi Kilisuci kepada Sulam, selanjutnya aku harus segera menekan parlemen agar segera mencari pengganti wapres. Aku juga sudah melakukan lobby ke beberapa orang di parlemen agar posisi wapres jatuh ke tanganku.." gumam Baros dalam hati sambil tersenyum.
Kemudian Baros masuk ke dalam kamar pemujaan, setelah melepas seluruh pakaian yang melekat di tubuhnya, dia mulai melakukan ritual pemujaan kepada Sang Ratu Kegelapan.
*****
Keesokan paginya, setelah mendapatkan kabar dari Tiara, Dunhill segera berangkat ke kota AB bersama dengan beberapa anak buahnya untuk bertemu dengan Dewa, "Sudah lumayan lama bos besar tidak memberiku perintah, tapi kali ini dia memintaku untuk berangkat ke kota AB. Apa yang sebenarnya ingin bos besar lakukan disana..? Sudahlah, sebaiknya jangan banyak berfikir.." gumam Dunhill dalam hati.
"Semua sudah siap ya..? Kita berangkat sekarang.. Black, kau handle dulu masalah disini, aku akan memenuhi panggilan bos besar.." ucap Dunhill kepada Black, salah satu orang kepercayaannya.
"Baik bos.. Tolong sampaikan salamku kepada bos besar. Ahhh, aku masih punya hutang dua juta kepada bos besar, semoga saja bos besar lupa.." ucap Black.
Setelah memberikan beberapa instruksi kepada Black dan anak buahnya, Dunhill berangkat menuju kota AB.
*****
Malam itu Dewa duduk di depan teras rumahnya menikmati sunyinya malam ditemani secangkir kopi tanpa gula favoritnya. Dewa merasakan suasana malam itu tidak seperti biasanya, "Ada apa ini..? Mengapa aku merasakan keadaan tidak lagi damai seperti biasanya..? Apakah alam sedang menahan amarahnya..?" gumam Dewa dalam hati.
Dewa berjalan ke depan rumahnya dan memperhatikan langit malam di desa Lerengwilis. Gelap gulita tidak terlihat satu bintangpun di langit, "Ada apa ini..? Cuaca secerah ini, tapi tidak satu bintangpun muncul di langit.. Energi ini, mengapa aku merasakan energi gelap semakin kuat..?" perasaan khawatir mulai memghantui Dewa.
__ADS_1
"Salam tuanku, aku datang menghadap.." Gandarwa Raja memberi hormat.
"Ada apa kamu datang menemuiku..? Adakah hal penting yang akan kamu sampaikan..?" tanya Dewa.
"Benar tuanku, apakah tuan merasakan perubahan yang terjadi di alam ini..?" tanya Gandarwa Raja.
"Iya aku merasakannya. Energi gelap bertambah kuat, apakah kamu tau apa yang terjadi..?"
Gardarwa Raja diam beberapa saat sambil memejamkan matanya, seperti sedang memastikan sesuatu. Setelah beberapa saat, "Benar tuanku, tapi aku sama sekali tidak mengetahui penyebabnya, tapi berdasar energi yang aku tangkap, mungkin disebabkan segel yang membelenggu Ratu Kegelapan sudah mulai terbuka. Ada golongan manusia yang memuja dan memberikan pengorbanan darah untuk Bathari Uma..." Gandarwa Raja menjelaskan.
"Tapi siapa yang melakukannya..? Apakah kamu bisa menyelidikinya Raja..?" tanya Dewa.
"Biar aku yang menyelidikinya tuan.. Salam tuan, maaf aku menyela pembicaraan tuanku.." Banaspati tiba-tiba datang menghadap.
"Banaspati.., apa kamu yakin bisa..?" tanya Dewa.
"Hanya aku yang tidak mudah diketahui saat menyusup tuan. Dimana ada api, asalkan bukan api suci, disana aku bisa menyusup dan mencari informasi.." ucap Banaspati dengan penuh hormat.
"Oh jadi seperti itu, kalau begitu tugas ini aku serahkan kepadamu. Satu hal lagi, cari juga informasi tentang penyebab kematian Nurdiono sang Wakil Presiden. Entah mengapa aku merasa ada campur tangan kekuatan kegelapan pada kematian beliau.." jawab Dewa.
Setelah mendengar perintah Dewa, Banaspati segera pergi meminggalkan mereka berdua, "Baik tuanku, aku permisi dulu.."
"Gandarwa Raja, ceritakan semua yang kamu tau tentang Ratu Kegelapan dan Raja Kegelapan, kelebihan maupun kelemahannya.." ucap Dewa.
Gandarwa Raja kemudian menceritakan tentang penguasa kegelapan, "Jadi begitulah ceritanya tuanku. Aku mendengar cerita ini dari leluhur bangsa jin, dan salah satu utusan Sang Pencipta, yang berasal dari dari bangsa manusia. Jadi tidak ada satupun baik dari bangsa manusia maupun bangsa jin yang dapat membunuhnya karena itulah janji yang diberikan oleh Sang Pencipta kepadanya, hingga akhir dari dunia ini.. Tapi tuanku tidak perlu berkecil hati, penguasa kegelapan memang tidak bisa dibunuh, tapi bukan berarti tidak bisa dikalahkan seperti yang pernah dilakukan saudaraku Gandarwa Rajabali.." ucap Gandarwa Raja.
"Lalu siapakah Ratu Kegelapan..?" tanya Dewa.
"Ratu kegelapan, dia pada awalnya dari golongan manusia. Pada awalnya dia bersekutu dengan penguasa kegelapan untuk mendapatkan kekuatan. Karena penguasa kegelapan jatuh cinta kepadanya, dia memberikan kekuatan sehingga bisa hidup abadi. Tapi bagaimanapun kodrat manusia adalah raganya menjadi tua dan mati, sehingga ratu kegelapan harus mencari raga baru yang memenuhi syarat untuk melanjutkan hidupnya di dunia ini, dan tubuh yang dicarinya adalah tubuh Dewi Kilisuci dan tubuh Dewi Candrakirana.." ujar Gandarwa Raja.
"Mengapa harus kedua tubuh itu..?" tanya Dewa penasaran.
__ADS_1
"Aku juga tidak tau tuanku. Sampai sekarang seperti apa ciri-ciri kedua tubuh itu, hanya bangsa manusia yang mengetahuinya.." jawab Gandarwa Raja.
Dewa dan Gandarwa Raja terus berbincang hingga menjelang shubuh. Gandarwa Raja segera pergi ketiga ayam jantan mulai berkokok bersahut-sahutan.