Dewa Sang Patriot

Dewa Sang Patriot
Rencana Sang Bupati


__ADS_3

Dengan keberhasilan menyelamatkan Mutiara, Dewa mendapatkan perhatian tersendiri di hati sang Bupati. Ini bisa menjadi langkah awal bagi Dewa untuk mempermudah urusannya kedepan. Setelah mendengarkan cerita dari Dewa pak Hendra bertanya, "Maaf mas, apakah mas tidak punya sesuatu yang bisa melindungi kami..? Seperti jimat atau pusaka, agar kami juga lebih tenang kedepannya.." ucapnya


"Begini pak, apakah bapak melihat saya menggunakan jimat atau pusaka tertentu untuk menyembuhkan Mutiara..?" tanya Dewa dusambut gelengan kepala sang Bupati. Dewa menarik nafas panjang sebelum melanjutkan ucapannya, "Aku sendiri tidak mengandalkan hal semacam itu karena ada yang jauh lebih dasyat daripada hanya sekedar jimat atau pusaka. Itulah do'a, permohonan keselamatan kepada Sang Maha Pemelihara. Hanya membutuhkan keyakinan dan kepasrahan tanpa syarat untuk berdo'a memohon kepada Nya, maka do'a kita akan memiliki kekuatan yang tidak terhingga.." ucap Dewa.


"Keyakinan dan kepasrahan..? Maksudnya apakah selama ini kami kurang yakin dan pasrah kepada Yang Maha Kuasa..?" tanya pak Hendra.


"Keyakinan dan kepasrahan tidak bisa diukur oleh orang lain, hanya diri kita yang bisa mengukurnya. Tapi tidak jarang kita justru tidak yakin akan kuasa Nya, kita justru sering mempertanyakan apakah Tuhan mengabulkan do'a kita, kapan dikabulkannya dan lain sebagainya bukan..? Hal seperti ini karena kita tidak pernah menyadari kehadiran Sang Maha Hadir itu sendiri di dalam diri kita, sehingga hilang sudah kepsrahan dalam diri kita kepada Sang Maha Hidup.." Dewa memberikan penjelasan.


"Iya benar yang mas Dewa ucapkan. Lalu bagaimana kita bisa menyadari Tuhan di dalam diri kita..?" tanya Sang Bupati.


"Dengan menyadari bahwa aliran nafas dan aliran darah kita adalah Kuasa dari Nya. Saat kita mampu menyadarinya, maka kita akan secara otomatis dapat mengendalikan nafsu yang ada di dalam diri kita, sehingga apa yang kita lakukan akan selaras dengan kehendaknya.." jawab Dewa.


"Lalu bagaimana kalau dukun itu kembali menyerang anak kami mas, sedangkan kami masih belum seperti yang mas katakan tadi..?" tanya pak Hendra.


"Pak, bukankah sudah diajarkan dalam agama kita bahwa kalau kita Sang Pencipta lebih dekat dari urat nadi kita..? Yakinlah bahwa pertolonganNya akan datang tepat waktu.. Bapak tidak perlu khawatir, aku pasti akan membasmi dukun itu.." ucap Dewa.


Pak Hendra merasa sangat bahagia, selain kesembuhan putrinya, penjelasan Dewa membuat sang Bupati mendapatkan pemahaman baru tentang bagaimana memandang kehidupan ini. Hal ini lah yang membuat pak Hendra lebih bijaksana dan berintegritas dalam menjalankan roda pemerintahan kedepannya. Setelah cukup lama membahas masalah Mutiara, pak Wira mengalihkan topik bahasan pada masalah yang sedang dihadapi Dewa, "Oiya mas, kebetulan kemaren menantuku mengurus surat ijin usaha, tapi sepertinya ad oknum pejabat yang sengaja memanfaatkan untuk mencari keuntungan pribadinya. Aku yakin, kalau itu terus terjadi, bukan tidak mungkin akan mencoreng nama baik mas Hendra sebagai kepala daerah.."


"Loh..? Bagaimana ceritanya mas..?" pak Hendra terkejut, karena selama ini laporan yang dia terima dari bawahannya, semua berjalan sesuai dengan aturan yang ada.


Dewa memulai cerita dengan menjelaskan rencana usaha yang akan dia lakukan, kemudian menceritakan kejadian saat dia dan Naia mengurus ijin usahanya. Raut muka sang Bupati berubah, amarah dan rasa malu mengetahui bawahannya melakukan hal yang sangat hina, "Sarko, lagi-lagi dia. Selama ini saya sudah curiga sama dia, tapi bukti apapun tentang yang dikerjakannya. Tapi mas Dewa tenang saja, aku akan bantu mengurusnya.."


"Begini, aku bukan bermaksud seperti itu, hanya aku butuh bantuan bapak untuk ikut serta dalam menjebak Sarko. Bukankah bapak juga ingin bukti kelakuan Sarko..?" ucap Dewa tenang.


"Lalu bagaimana rencananya, apa yang harus aku lakukan..?" tanya pak Hendra.


"Begini, besok aku akan membuat janji dengan Sarko di salah satu restoran di sekitar kantornya untuk bernegoisasi dengannya.. Beberapa temanku akan merekamnya dari berbagai sudut, sehingga akan ada bukti bahwa Sarko sengaja menggunakan wewenangnya untuk keuntungan pribadinya. Nanti pada saat kami bernogoisasi, bapak datang untuk menangkap basah Sarko.." Dewa menjelaskan garis besar rencananya.

__ADS_1


"Aku yakin Sarko bukan orang bodoh, dia pasti memiliki segudang rencana juga untuk hal ini. Jadi mas Dewa harus benar-benar bisa membuktikan bahwa mas Dewa tidak melakukan tindakan suap, agar Sarko tidak bisa membela dirinya.." ucap pak Hendra.


"Baik pak, aku pasti akan mempersiapkannya dengan matang.." jawab Dewa.


Setelah tidak ada lagi yang perlu dibahas, mereka berpamitan kepada pak Hendra. Dewa berpisah dengan pak Wira yang langsung kembali ke kota L, sedangkan Dewa bersama dengan Naia, Silvia dan Nuraini kembali ke Lerengwilis.


*****


Setelah mematangkan rencananya dengan mantan pasukannya, Dewa segera menghubungi pak Hendra untuk menjelaskan detail rencana mereka. Sementara itu, tidak membuang banyak waktu, Luki mempersiapkan peralatan yang biasa dia gunakan untuk menyusup dan mencuri informasi. Beberapa alat untuk merekam suara dan kamera kecil seperti kancing baju dan pulpen. Sedangkan Sandhi mempersiapkan peralatannya.


"Bos, ini peralatan yang bisa kita gunakan besok, tinggal menyinkronkan saja dengan peralatan Sandhi.." ucap Luki.


"Bagus.. Rencananya aku akan bertemu dengan Sarko di kafe sekitar kantornya. Jadi seperti yang sudah kita bahas tadi, tim Luki akan berangkat awal untuk mempersiapkan semuanya disana.." ucap Dewa.


"Luk, mana alat-alatmu tadi, biar aku sinkronkan dulu dengan peralatanku, jadi besok tinggal on aja.." ucap Sandhi. Setelah menerima alat dari Luki, dia kemudian melakukan singkronisasi peralatan yang ada ke dalam laptopnya, sehingga pada saat di lokasi mereka langsung dapat menggunakan peralatannya. Hari yang ditunggu pun tiba, Dewa membut janji dengan Sarko di sebuah kafe di sekitar kantor perijinan pemerintah kota AG.


Tidak lama kemudian Dewa bersama Naia masuk ke dalam kafe dan duduk di tempat yang sudah ditentukan lalu menghubungi Sarko. Lokasi yang tidak terlalu jauh, membuat Dewa tidak menunggu lama kedatangan Sarko, "Maaf mas, sedikit terlambat. Maklum harus memberikan briefing kepada staf.. Sudah lama menunggu..?" ucap Sarko sambil menjabat tangan Dewa.


"Oh tidak pak, saya juga baru saja datang. Mari silahkan duduk, bapak mau pesan apa..?" tanya Dewa kemudian memanggil pelayan kafe.


Setelah selesai memesan minuman, mereka mulai bernegoisasi, "Jadi begini pak, terus terang pemodal tidak setuju dengan sharing saham yang bapak inginkan, tapi mereka bersedia membayar, asalkan ijin usaha bisa segera keluar. Tapi kalau angka 2 M terlalu tinggi, apakah tidak bisa dikurangi lagi..?" Dewa memulai aksinya.


"Jadi begini mas, biaya segitu itu sudah sangat murah. Apalagi lahan pertanian di kota AG ini sangat subur, pasti hasilnya juga akan sangat bagus.." jawab Sarko.


"Ya kalau masalah itu saya mengakuinya pak, makanya saya membangun usaha ini disini. Cuma ya itu, apakah tidak bisa lebih rendah lagi..? Bukannya seharusnya pengurusan seperti ini seharusnya gratis..? Tolong lah pak.." ucap Dewa pura-pura memohon.


"Gimana ya mas, masalahnya setoran ke atas juga tinggi mas, setidaknya keatas itu 1 meter, belum lagi yang kesamping, mereka pasti akan minta bagian juga, malah saya sering gak kebagian.." jawab Sarko.

__ADS_1


"Keatas..? Maksudnya bupati pak..? Padahal saya bermaksud untuk bertemu dengan beliau membicarakan masalah ini.." ucap Dewa mulai memancing.


Meskipun terkejut dengan ucapan Dewa, Sarko berusaha untuk tetap tenang. Dia menarik nafas panjang kemudian berkata, "Justru masalah utamanya disana mas, karena setiap pengajuan ijin usaha, harus sepengetahuan orang nomer 1 itu. Melihat dari analisis usaha yang mas buat, pasti nomer 1 itu akan mematok harga yang tinggi. Apalagi mas juga berniat mendidik petugas keamanan, itu sama seperti bisnis orang yang mendanai dia waktu kampanye.." ucap Sarko beralasan.


Dengan persepsi jiwanya, Dewa bisa mengetahui kebohongan dalam setiap ucapan Sarko, terlebih lagi Dewa sudah pernah menceritakan tentang usahanya kepada Sang Bupati. Dewa menghembuskan nafasnya perlahan sebelum mulai bicara, "Hhuufffftt.. Lalu bagaimana cara pembayarannya pak..? Apakah bisa saya transfer atau bagaimana..? Karena uang segitu banyaknya juga gak mungkin kalau diberikan tunai.." ucap Dewa.


"Sebenarnya kalau pakai mata uang asing juga bisa, lebih praktis. Atau bisa juga mas tulis cek, setelah saya cairkan baru proses berjalan.." ucap Sarko.


"Baiklah kalau begitu.. Mbak Naia, tolong buku cek nya.." ucap Dewa memberikan kode.


"Siap pak, sebentar saya ambil di mobil dulu.." Naia menuju mobil dan menghubungi pak Hendra dan setelah itu segera kembali ke dalam kafe.


Menerima buku cek dari Naia, Dewa segera menulisnya, uang sejumlah satu miliar. Dewa sengaja menuliskan tanggal sehari setelah pertemuan mereka dan menyerahkan cek itu kepada Sarko, "Loh kok ini tanggalnya bukan hari ini mas..? Ini tanggal besok ya..?" ucap Sarko setelah memeriksa cek itu.


"Waduh, kok saya lupa ya pak..? Lalu bagaimana pak, apa perlu diganti..?" tanya Dewa.


"Sudahlah tidak apa-apa, hanya selisih sehari saja.." ucap Sarko sambil memasukkan cek itu ke buku agendanya.


Tanpa sepengetahuan Sarko, pak Hendra memasuki kafe dan segera disambut oleh Dewa, "Loh.. Om Hendra kebetulan ketemu disini..?" ucap Dewa sambil menjabat tangan pak Hendra kemudian memperkenalkan kepada Sarko, "Silahkan duduk om, kebetulan urusan kami sudah selesai dan sekarang tinggal santai saja.."


"Loh.. Kamu tumben ke kota AG..? Ada keperluan apa Wa..? Eh, pak Sarko kok disini..?" ucap pak Hendra sambil duduk.


"Eh.. Anu pak itu, kok bapak kenal sama mas Dewa..?" jawab Sarko gugup.


"Ini keponakan saya, dia selama ini bekerja di pulau Borneo dan jarang sekali ketemu. Paling ketemu juga pas lebaran saja. Kok pak Sarko kenal sama keponakan saya..?" tanya pak Hendra.


"Jadi gini om, kebetulan aku ingin buka usaha disini, makanya aku minta tolong sama pak Sarko untuk mengurus ijin usahanya. Beliau bilang bupati disini sulit kasih ijin dan pasti minta setoran.." ucap Dewa berpura-pura tidak tau bahwa pak Hendra adalah sang Bupati yang dimaksud.

__ADS_1


__ADS_2