
Dewa segera menemui pak Wira di ruang tengah untuk menceritakan kejadian saat penyelamatan Naia, sedangkan Yuma menunggu Dewa di teras sambil mengawasi mobil dimana Karman berada. Naia duduk di sebelah Dewa, dengan sesekali menyandarkan kepala mereka di bahu kanan Dewa. Pak Wira hanya mengambil nafas panjang melihat kelakuan kedua putrinya itu. Dewa menceritakan kepada pak Wira kejadian di gudang. Dewa juga bercerita tentang orang dengan kekuatan gelap yang akan selalu mengintai Naia dan Silvia karena mereka memiliki keistimewaan pada tubuh fisik mereka, "Aku yakin bahwa pemilik kekuatan gelap itu tidak hanya satu orang saja. Mereka akan terus mengincar Naia dan Silvia, tujuannya adalah melakukan persetubuhan dengan Naia dan Silvia untuk membuat mereka menjadi semakin sakti.." ucap Dewa.
"Baru kali ini aku mendengar hal yang semacam ini, aku juga baru tau bahwa kedua putriku memiliki tubuh seperti itu.. Sungguh ini semua diluar nalar berfikirku.. Lalu apakah hanya Naia dan Silvia yang memiliki tubuh seperti itu..?" tanya pak Wira.
"Kalau itu, aku juga belum tau apakah ada orang lain yang memiliki tubuh seperti Naia dan Silvia.. Eeee, maaf pak Wira, sebagai seorang pengawal, aku telah gagal melindungi Naia. Aku siap menerima konsekuensinya.. Tapi aku berjanji hal ini tidak akan terulang lagi untuk kedua kalinya.." ucap Dewa.
Pak Wira menatap tajam Dewa, kemudian menghembuskan nafasnya pelan, "Hhuuuffhh.. Memang kejadian hari ini memang menunjukkan kegagalanmu sebagai pengawal. Meskipun kamu sudah menyelamatkan kedua putriku, tapi aku akan tetap memberhentikanmu sebagai pengawal.." jawab pak Wira tegas.
"Eh.. Maksudnya gimana pa..? Mengapa papa memecat mas Dewa..? Ini gak adil pa, kalau bukan karena mas Dewa aku pasti sudah…" protes Naia.
"Naia, papa harus mengambil keputusan ini. Hanya seorang pengawal saja tidak akan menjamin keselamatanmu. Terlebih lagi Dewa sudah berjanji kepada papa kejadian ini tidak akan terulang lagi. Jadi papa putuskan untuk segera menikahkan kalian, hanya kalau menjadi suamimu, Dewa bisa menepati janjinya kepada papa.." ucap pak Wira serius.
Naia sangat terkejut dengan ucapan papanya, walaupun dalam hati dia merasa senang, tapi Naia tidak dapat menutupi kegelisahan hatinya. Tak berbeda dengan Naia, Dewa pun juga terkejut mendengar ucapan pak Wira, "Eeee.. Maaf pak, apakah ini tidak terlalu cepat..? Apakah tidak akan menganggu pendidikan Naia jika harus menikah secepatnya..? Lagi pula aku juga khawatir dengan keadaanku sekarang justru akan membawa Naia ke dalam bahaya.." ucap Dewa.
"Aku setuju denganmu dik Wira, memang sebaiknya kedua anak muda ini secepatnya menikah.. Hai anak muda, kekhawatiranmu itu tidak beralasan, toh kalian juga bersama selama ini. Justru orang tua ini khawatir kalau kalian tidak segera menikah. Sekarang kamu bayangkan, dengan kondisi pakaian seperti tadi, apakah kamu rela Naia diselamatkan orang lain..?" ucap pak Gunawan membuat Dewa tersentak.
"Ya kalian bisa menunda dulu memiliki anak sampai Naia lulus kuliah.. Kami bisa bersabar menunggu cucu kami sampai Naia selesai pendidikan.." sahut bu Widya.
Disaat semua menyimak obrolan Dewa dan pak Wira, Bu Santi terus memperhatikan Naia, dia bisa melihat kegelisahan yang terpancar dari wajah putrinya itu, "Mama perhatiin dari tadi kamu gelisah, sepertinya kamu tidak setuju dengan rencana papa. Ada apa sayang, coba kamu katakan apa yang membuat kamu gelisah..?" ucap bu Santi lembut.
Naia terdiam beberapa saat, kemudian dia menarik nafas panjang sebelum bicara, "Pa, Ma, aku tau maksud papa baik, semua papa lakukan untuk melindungi aku. Tapi pemilik ilmu hitam itu tidak hanya mengejarku, tapi juga Silvia. Lalu siapa yang melindungi Silvia..? Pa, ma, aku punya permintaan, ijinkan kami berdua menikah dengan mas Dewa.." ucap Naia serius.
Semua yang ada di ruang tengah terkejut mendengar omongan Naia. Mereka tidak menyangka Naia berani mengatakan hal itu. Silvia segera angkat bicara, "Gak-gak gak mungkin, jangan seperti itu Nai. Bukankah hal ini sudah kita bicarakan..? Kalau kamu menganggapku saudaramu, tolong jangan lagi kamu minta hal ini.." protes Silvia.
"Kamu sadar dengan apa yang kamu ucapkan sayang..? Memang Silvia juga perlu dijaga, tapi bukan dengan cara yang seperti itu.." sahut bu Santi.
"Lalu siapa yang akan menjaga Silvia ma..? Kalau sampai terjadi apa-apa dengan Silvia bagaimana..?" Naia membalas ucapan bu Santi dengan pertanyaan.
Dewa tersenyum mendengar ucapan Naia, "Sayang, kamu percaya kan sama aku..?" ucap Dewa diikuti anggukan Naia. Dewa menghembuskan nafasnya sebelum melanjutkan ucapannya, "Hhuuuuuff... Guruku pernah berkata bahwa kalian adalah dua tubuh tapi satu jiwa. Aku sekarang paham, dengan menikahi salah satu dari kalian saja, maka jiwa kalian ada bersamaku, dan aku pasti akan bisa melindungi tubuh kalian dari orang-orang laknat itu.." ucap Dewa serius.
"Apa yang diucapkan kak Dewa itu benar. Nur juga merasakan hal yang sama bahwa kalian itu adalah satu.." sambung Nuraini.
Naia terdiam beberapa saat, kemudian Silvia memegang tangan Naia dan tersenyum. Setelah menatap mata Silvia, Naia berkata, "Baiklah kalau seperti itu, aku hanya bisa menerimanya. Terus kapan rencana papa menikahkanku dengan mas Dewa..?" tanya Naia.
__ADS_1
"Bulan depan, sepertinya bulan depan adalah bulan yang baik untuk melangsungkan pernikahan.." ucap pak Wira.
"Dik Wira, aku belum menyiapkan apapun mengenai hal ini. Tapi hari ini aku secara resmi melamar Naia untuk Dewangga anakku. Untuk hal lainnya akan kita bicarakan lagi saat sudah sampai di kota L.." ucap pak Gunawan.
"Sudahlah mas Gun, jangan terlalu formal. Melihat anak-anak kita bahagia dan penjelasan dari Nuraini, aku hanya bisa setuju. Toh ini semua kita lakukan demi kebahagiaan mereka juga.. Hanya pesanku kepada Dewa, penuhi janjimu. Jaga Naia dan Silvia. Jangan sampai kejadian seperti ini terulang lagi.." ucap pak Wira tegas.
"Baik.. Aku pasti akan menjaga mereka dan menepati janjiku. Aku pasti melindungi mereka berdua dengan nyawaku.." jawab Dewa tegas.
"Eeee.. Walaupun semua sudah direncanakan dan kalian berdua sudah mendapatkan restu dari kami, tolong tetap jaga diri kalian. Jangan berbuat yang melebihi batas dan jangan langgar norma susila dan agama. Ingat.. Kalian belum resmi menikah.." pak Gunawan mengingatkan.
"Siap ayah. Kami akan selalu mengingat pesan ayah.." jawab Naia.
Suasana perlahan berubah menjadi lebih santai. Seperti biasa, Silvia selalu menggoda Naia saat ada kesempatan, hingga berulang kali dia harus merengek kepada mamanya. Dalam suasana yang lebih santai, Dewa meminta kepada pak Wira untuk meminjam salah satu mobilnya, "Eeee.. Maaf pak Wira, saya akan pinjam mobil yang tadi dipakai oleh Yudha tadi, karena di dalam sana ada Karman yang sudah kami lumpuhkan. Rencana aku dan Yudha akan membawa Karman untuk kami interogasi.."
"Karman..? Orang serakah seperti dia, mengapa tidak kalian serahkan saja kepada pihak berwajib..?" tanya pak Wira heran.
"Percuma saja kalau dilaporkan polisi, di belakang Karman ada banyak perwira bintang baik dari kalangan militer ataupun polisi. Lagipula dia adalah salah satu kunci dari kasus yang menimpaku.. Untuk mobilnya, jika sudah selesai, aku akan mengantarnya ke kota L.." jawab Dewa.
"Jadi begitu..? Terserah kamu saja. Kamu boleh bawa mobil itu.." jawab pak Wira singkat.
Pak Wira terkejut dengan ucapan Dewa. Sama sekali tak terpikirkan oleh pak Wira apa yang baru saja dikatakan oleh Dewa. Kemudian pak Wira menceritakan kepada Dewa, "Jadi sebenarnya besok aku berencana akan pergi ke kota H untuk membicarakan bisnis dengan rekan baru bernama Tio, pemilik perusahaan properti dari kota H. Nah, sebenarnya Tio lah yang merekomendasikan tempat ini.." jawab pak Wira sambil mengernyitkan dahinya.
Dewa merasa tidak asing dengan nama yang disebutkan pak Wira, kemudian teringat berkas yang dikirimkan oleh komandannya bahwa ada pengusaha bernama Man Tio, seorang warga negara Malaya, salah satu pengusaha yang menginginkan kematian Dewa dan Yudha, "Tio..? Apakah dia bernama Man Tio, warga negara Malaya..?" tanya Dewa.
"Ya benar.. Bagaimana kamu tau..?" tanya pak Wira terkejut.
"Jadi sebenarnya ada tiga pengusaha besar yang menginginkan kematianku dan Yudha. Dibelakang mereka banyak perwira bintang baik dari militer maupun kepolisian, mereka adalah Sarpan Baros, Man Tio dan Karman Adikusuma. Mereka bertiga menjalankan bisnis perjudian, senjata ilegal, narkotika dan diduga sering melakukan suap terhadap para jendral itu untuk tetap aman menjalankan bisnis kotornya. Perusahaan mereka juga sering dijadikan tempat pencucian uang dari oknum jendral tersebut.." Dewa memulai ceritanya.
"Baros..? Bukankah dia salah satu pejabat di negara ini..? Tapi mengapa mereka menyimpan dendam kepadamu..?" sahut pak Gunawan
"Mereka dendam kepadaku dan Yudha karena secara tidak sengaja aku menghancurkan beberapa bisnis kotor mereka di kota B dan yang di pulau Dewata. Mereka akhirnya membuat rekayasa pada misi terakhirku di perairan Borneo.." jawab Dewa dengan emosi.
"Jadi seperti itu. Kalau memang yang kalian hadapi adalah perwira bintang, saran ayah lebih baik kamu mundur saja nak.." ucap pak Gunawan.
__ADS_1
"Sempat terpikir seperti itu yah.. Tapi jika aku mundur, maka kejadian serupa juga akan menimpa yang lainnya. Bagaimanapun kejahatan mereka harus diungkap dan mereka harus mendapat balasan yang setimpal.." jawab Dewa meyakinkan mereka.
Pak Wira dan ayahku terdiam. Tampak kekhawatiran terlukis dalam raut wajah mereka.
"Satu hal lagi pak Wira, kali ini aku mohon dukungan anda. Aku berencana akan mendirikan perusahaan keamanan untuk menjalankan semua rencanaku. Apakah pak Wira bisa membantuku..?" tanyaku
"Hei anak muda, dari awal kau selalu memanggil calon mertuamu dengan namanya. Dimana sopan santunmu..? Ulangi dengan benar permohonanmu.." ucap ayahku tegas.
"Eeee.. S-saya akan mendirikan perusahaan keamanan. Apakah p-papa bersedia membantuku..?" ucap Dewa setengah tergagap.
"Hahahaha.. Mas Gun ini bisa saja. Tapi memang begitu seharusnya. Baik papa akan dukung kamu. Kirim konsep perusahaan yang ingin kamu bangun, papa akan siapkan semua kebutuhannya.." ucap pak Wira yang membuat Dewa salah tingkah yang membuat Naia tertawa melihatnya.
Setelah mengobrol agak lama, pak Wira meminta kepada Dewa agar Yuma bergabung bersama mereka di ruang tengah, "Ayah, ini raja neraka yang sering aku ceritakan kepada ayah.." ucap Dewa sambil memperkenalkan Yuma.
"Memang pantas sebagai Raja Neraka. Namamu sangat ditakuti di lingkungan angkatan darat, terkenal cepat dan kejam.." ucap ayah Dewa sambil menepuk pundak Yuma.
"Ah.. Itu melebih-lebihkan saja ndan. Ada yang lebih kejam lagi, bahkan raja neraka saja tidak sanggup melawannya. Ya dia itu si bos, kapten kami, kapten Dewangga, putra komandan. Aku hanya bisa bertahan paling lama sepuluh menit saat bertarung dengannya.." jawab Yuma.
"Kamu kalah sama anak ini..? Ah.. Jangan bohong kamu.." ucap pak Gunawan tak percaya.
"Iya yah, Yudha ini memang tukang bohong dan tukang cari masalah.. Hahahaha.." ucap Dewa sambil tertawa.
"Betul yah. Di pertandingan tarung bebas, bang Yuma kalah sampai gak sanggup berdiri.. Iya kan bang..?" ucap Naia dan dianggukkan Yuma.
Silvia yang belum pernah melihat Yuma tampak tidak nyaman dengannya, berbeda dengan Naia yang sudah pernah bertemu dengan Yuma.
"Eh.. Maaf nyonya muda bos. Kalau belum pernah lihat saya memang gitu. Sama seperti nyonya bos dulu waktu pertama kali melihat saya.." ucap Yuma merendah.
Setelah cukup mengobrol, Dewa dan Yuma berpamitan untuk menuju suatu tempat yang akan mereka gunakan menginterogasi Karman.
"Sayang, kamu bisa bawa mobilnya kan..? Kalian nanti pulang dulu aja ke kota AG.." ucap Dewa sambil menyerahkan kunci mobil kepada Naia.
"Eeee kalau nanti orang itu membuntuti kami gimana mas..?" tanya Silvia.
__ADS_1
"Kalian tenang aja, dia untuk sementara waktu tidak akan berani muncul. Kekuatannya sudah aku bakar habis tadi.." jawab Dewa
Dewa melirik jam tangannya, waktu sudah menunjukkan jam 09:32 pagi, bersama dengan Yuma, dia berangkat menuju lokasi interogasi. Tampak Karman masih belum sadarkan diri berada di belakang mobil dengan kaki, tangan yang terikat dan kepala yang tertutup kain hitam.