Dewa Sang Patriot

Dewa Sang Patriot
Sang Penguasa Kegelapan


__ADS_3

Malam itu, Loreng segera mengabari Dewa bahwa uang hasil taruhan sudah ditransfer ke rekening milik Dewa, Loreng menjelaskan juga bahwa hasil taruhan sudah dipotong sebesar 5% oleh panitia untuk biaya penanganan, sehingga Dewa hanya menerima sebesar 375 juta, "Benar kata Yudha, cari uang yang gampang memang melalui pertarungan terselubung. Tapi apakah uang ini berkah buatku..? Sudahlah, besok aku akan membaginya. Masih butuh juga membelikan peralatan rumah buat mbah Binti.." gumam Dewa dalam hati.


Malam semakin larut, Naia, Silvia dan Nuraini sudah terbang ke pulau kapuk, entah apa yang mereka mimpikan. Banyak hal yang bergelayut dalam pikiran Dewa, selain kekuatan jahat Sakri, juga ucapan Sakri tentang tubuh Naia, "Aku merasa bahwa kekuatan Sakri itu adalah entitas lain yang menguasai Sakri. Lalu apa maksud ucapannya tentang Naia, mengapa dia mengejar Naia..?" pikir Dewa.


Malam semakin dingin, Dewa melirik jam tangannya, waktu sudah menunjukkan jam 11 malam. Dewa melangkah masuk ke dalam kamar untuk mengambil kitab Kalimasada, kemudian dia pergi ke goa untuk menenangkan diri dan berlatih bab terakhir dari kitab Kalimasada. Dengan menggunakan langkah kalimasada Dewa berlari bagaikan angin menuju ke goa.


*****


Hanya butuh waktu tak lebih dari lima menit untuknya sampai di mulut goa dan segera memasukinya. Dewa duduk bersila di atas batu persegi sesaat setelah menyalakan damar yang ada di dinding goa. Dewa membuka perlahan kitab itu, dan mulai membaca salah satu bait kidung yang ada di bab terakhir kitab itu.


'Ana kidung Rumeksa ing wengi, Teguh hayu luputa ing lara, luputa bilahi kabeh, jim setan datan purun, paneluhan tan ana wani, niwah panggawe ala, gunaning wong luput, geni atemahan tirta, maling adoh tan ana ngarah ing mami, guna duduk pan sirno. Pagupakaning warak sakalir, Nadyan arca myang segara asat, Temahan rahayu kabeh, Apan sarira ayu, Ingideran kang widadari, Rineksa malaekat, Lan sagung pra rasul, Pinayungan ing Hyang Suksma'


Dewa memejamkan matanya, bait kidung yang dibacanya terus menggema di dalam pikirannya, turun menuju relung hatinya dan membawanya masuk ke dalam alam wening yang ada di pusat hatinya. Dewa melihat air telaga kalbunya bergejolak membuat dirinya harus terus bergerak menjaga keseimbangannya agar tetap bisa berdiri. Akan tetapi hal yang berbeda terjadi dengan Sang Diri Sejati Dewa, Dia tetap berdiri tenang diatasnya, seakan tidak terpengaruh dengan gelombang air telaga kalbunya. Dewa melihat dari dalam tubuh Sang Diri Sejati mengeluarkan api berwarna putih yang perlahan menyatu dengan cahaya emas yang memancar dari tubuh Sang Diri Sejati. Bunga lotus yang berada di atas kepala Sang Diri Sejati perlahan semakin membesar kemudian turun dan menjadi tahta bagi Sang Diri Sejati. Dewa masih tidak mwngerti apa yang sedang terjadi, "Apa yang sebenarnya terjadi..? Hatiku, pikiranku sangat damai, dingin seperti tersiram air es..?"


Sang Diri Sejati bergerak maju ke arah Dewa, tersenyum dan mengucapkan sesuatu yang mengandung kekuatan dan pengetahuan yang sangat besar. Kemudian dengan senyuman di bibirnya, Sang Diri Sejati menyentuh tiga titik di tubuh Dewa menggunakan telunjuknya, di ubun-ubun, di tenggorokan dan di jantungnya. Dewa memejamkan matanya, dia meraskan perubahan di tubuhnya. Perlahan tubuh Dewa memancarkan cahaya keemasan dibalut cahaya ungu dan menyatu dengan api putih. Dewa merasakan energi spiritual yang sangat tebal dan besar terserap masuk ke dalam tubuhnya lalu berpendar keluar. Dewa telah menyatu dengan telaga kalbunya, membuat air di telaga kalbu yang semula bergejolak menjadi tenang dan semakin jernih, hingga dapat terlihat dasar dari telaga itu dan semua yang berada di dalamnya, seakan tidak ada air disana.


Dewa membuka matanya, "Perasaan ini, kedamaian ini, aku tidak ingin kemana-mana, aku ingin disini menikmati setiap kedamaian dan ketentraman ini. Seandainya Naia, Silvia, Nuraini, kedua orang tuaku, kedua orang tua Naia, Kartika, mbah Binti, teman-temanku, siapapun orang yang aku sayangi, bisa aku ajak ke dalam sini, menikmati semua kedamaian disini, aku rela menukarnya dengan apapun.."


Sang Diri Sejati tersenyum, kemudian terdengar suara yang keluar dari Sang Diri Sejati,


Tugasmu adalah menciptakan kedamaian bagi mereka. Lakukan dharmamu, lakukan kewajibaanmu, berusahalah mewujudkannya. Tugasmu bukan berhasil, tapi berusah sesuai batas kemampuanmu.


Hooongggggg..

__ADS_1


Terdengar seperti suara gong yang dipukul dan membawa Dewa kembali pada kesadaran jaganya. Dewa membuka matanya, dia merasakan bahwa setiap sel yang ada di dalam tubuhnya beregenerasi yang membuat fisiknya semakin kuat, segar dan bugar. Dewa juga merasakan energi spiritual di dalam tubuhnya semakin besar dan mengalir deras di dalam tubuhnya. Dewa mengakhiri meditasinya, kemudian melangkah keluar goa. Sebelum pulang, Dewa pergi ke sumber air yang berada tidak jauh dari goa untuk mandi.


*****


Terdengar kumandang adzan Shubuh di musholla, seakan menyambut kedatangan Dewa, memanggilnya untuk ikut melaksanakan jamaah shubuh di musholla. Setelah sholat shubuh selesai, seperti biasa, mbah Sastro mengajak Dewa duduk di teras musholla untuk mengobrol. Tawa khas mbah Sastro memulai obrolan mereka, "Hehhehhehhe.. Sungguh luar biasa, memang kitab Kalimasada berjodoh denganmu. Tidak percuma aku memberimu kitab itu. Bahkan kamu bisa berlatih sampai tahap ini. Aku dulu butuh waktu 3 tahun untuk bisa sampai di tahapmu, tapi kamu bisa menguasai sampai tahap ini dalam waktu singkat.." ujar mbah Sastro sambil menepuk pundak Dewa.


"Semua ini berkat nasehat-nasehat guru. Tanpa wejangan guru, mana mungkin aku bisa sampai di titik ini..? Mempelajari kitab yang guru berikan, seperti mempelajari alam semesta, seakan tidak ada ujungnya. Itulah yang membuatku berusaha untuk terus belajar.." jawab Dewa.


"Bagus.. Itulah yang seharusnya semua anak muda lakukan. Tidak pernah merasa puas akan ilmu dan sebisa mungkin mengamalkannya.. Hehhehhehhe, Aku juga sudah mendengar apa yang kamu lakukan di dusun Wilis, membantu seorang anak dan neneknya.." ujar mbah Sastro.


"Hal kecil saja guru, lagian juga bukan saya saja yang membantu, tapi seluruh warga disana juga ikut membantu.." jawab Dewa.


Selanjutnya Dewa menceritakan semua kejadian yang dialaminya saat kota AE. Mbah Sastro mendengarkan cerita Dewa sambil mengernyitkan dahinya dan sesekali menggelengkan kepala. Dewa merasa mbah Sastro mengetahui sesuatu. Mbah Sastro menarik nafas panjang sebelum memulai menjelaskan, "Suwarno, lagi-lagi dia membuat masalah, tidak ada kapok-kapoknya dia.. Tentang laki-laki bernama Sakri itu aku belum pernah mendengar tentang dia sebelumnya. Tapi kalau energi jahat itu, nak Dede benar, dia adalah sebuah entitas dari kegelapan.." ujar mbah Sastro.


Mbah Sastro terdiam beberapa saat sebelum menjelaskan, "Dia adalah energi iblis yang mempunyai keinginannya sendiri. Energi iblis itu datang karena kesalahan manusia dalam menjalani laku, mereka hanya menuruti hawa nafsu, sehingga mereka mempelajari ajaran sesat dan bersekutu dengan iblis. Mereka umumnya hanya ingin menjadi sakti saja. Lalu menjalani cara-cara yang tidak sesuai dengan tuntunan Tuhan, bahkan ada yang dampai menumbalkan bayi dan meminum darahnya, bersetubuh atau memperkosa gadis bahkan orang tua, membunuh dan lain sebagainya.." ujarnya.


"Sampai seperti itu guru..? Lalu bagaimana energi itu punya keinginannya sendiri..?" Dewa makin penasaran.


Kemudian mbah Sastro menjawab, "Sudah berabad-abad lamanya, pelaku ajaran sesat terus dipelajari dan selalu membutuhkan tumbal. Jiwa orang yang menjadi tumbal adalah jiwa yang sengsara, arwah mereka tidak tenang dan penasaran. Sehingga selama berabad-abad lamanya, jiwa yang tidak tenang ini ditambah dengan jiwa pelaku ajaran sesat, menyatu dengan energi iblis, membuatnya semakin kuat dan akhirnya memiliki keinginannya sendiri, yaitu keinginan menyebarkan angkara murka di muka bumi ini. Semakin lama keinginan itu akan semakin besar sehingga energi iblis ini memiliki kemampuan untuk bergentayangan, memilih sendiri siapa yang diinginkannya dengan cara menyusup ke dalam raga seseorang dan mengambil jiwanya, sehingga orang tersebut akan dikuasai sepenuhnya oleh energi itu.." mbah Sastro menjelaskan.


"Lalu bagaimana energi itu memilih orang yang akan dirasukinya guru..?" tanya Dewa


"Hehhehhehhe.. Mereka yang hatinya gelap, hatinya kotor karena frustasi, dendam, dengki, iri dan sejenisnya, sehingga cahaya Ilahi hilang dari dalam dirinya. Orang seperti itu jiwanya akan kosong karena pikirannya dikendalikan oleh hawa nafsu mereka sendiri. Merekalah yang disukai energi iblis ini. Itulah mengapa energi iblis ini disebut juga dengan penguasa kegelapan.." mbah Sastro memberi penjelasan.

__ADS_1


"Lalu mengapa dia mengejar Naia..? Apakah hanya untuk melampiaskan hasrat seksualnya..?" tanya Dewa memastikan.


"Tidak hanya menyalurkan hasrat seksual saja tapi keinginan energi iblis itu untuk mewujud, mempunyai tubuh fisik mereka sendiri, tidak dengan menyusup ke dalam raga seseorang. Mereka berfikir bahwa berhubungan badan dengan gadis yang memiliki fisik dewi kilisuci atau fisik dewi candrakirana bisa membuat dia memiliki tubuh fisik sendiri. Tapi dia salah berfikir tentang hal itu, salah besar. Memang benar calon istrimu itu memiliki tubuh Dewi Kilisuci, tubuh perawan abadi. Tapi tidak seperti yang mereka pikirkan. Mereka berfikir fisik Dewi Kilisuci selalu kembali perawan setelah berhubungan, jelas itu melawan kodrat Ilahi, tidak ada yang seperti itu. Demikian juga dengan tubuh Dewi Candrakirana, tubuh yang dimiliki sahabat calon istrimu itu.." mbah Sastro menjelaskan panjang lebar.


"Maksud guru sahabat Naia, itu Silvia..? Lalu yang benar tentang kedua tubuh itu bagaimana guru..?" tanya Dewa makin penasaran.


"Hehhehhehhe.. Kebenarannya ada di dalam diri kita sendiri. Bukankah kamu sudah bersetubuh dengan keduanya..? Selain itu Dewi Agnipun juga sudah menyatu denganmu..?" ucap mbah Sastro yang membuat Dewa semakin bingung, "Maksudnya guru..? Saya benar-benar tidak paham.." ucapnya.


Tawa khas mbah Sastro menjadi ciri beliau sebelum mengucapkan sesuatu, "Hehhehhehhe.. Bukankah kamu mendapati Sang Diri Sejatimu memancarkan warna keemasan..? Lalu teratai ungu mekar dan menjadi singgasananya..? Dan api putih menyatu dengan Sang Diri Sejati..? Kemudian menyerahkan semuanya kepadamu melalui ubun-ubun, tenggorokan dan jantungmu..?" 


Jawaban mbah Sastro membuat Dewa terkejut, "Bagimana guru bisa tau..?" pikir Dewa.


Mbah Sastro tidak perduli dengan apa yang dipikirkan Dewa. Dia melanjutkan penjelasannya, "Warna keemasan itulah perwujudan dewi kilisuci, teratai adalah perwujudan dewi candrakirana. Keduanya, mulai saat ini akan selalu bersetubuh denganmu. Karena mereka adalah perwujudan dari energi, mereka akan selalu kembali perawan. Sedangkan api putih itu adalah perwujudan dewi Agni. Semua yang aku katakan hanyalah kiasan saja, bagaimana kamu mencari maknanya itu tergantung dari dirimu sendiri.." ucap mbah Sastro.


Dewa tidak tau harus bertanya apalagi kepada mbah Sastro. Dia hanya terdiam mendengar wejangan mbah Sastro yang semuanya diluar nalar berfikirnya, "Aku benar-benar tidak menyangka ada hal semacam ini dalam kehidupan ini. Semua ini diluar kemampuan berfikirku.." gumam Dewa dalam hati


"Hehhehhehhe.. Aku tidak seberuntung kamu, bisa menyatu dengan keduanya. Kamu sangat beruntung bertemu dan memiliki keduanya di kehidupan ini. Satu hal lagi, jaga dan bahagiakan keduanya, kamu bisa menikahi keduanya kalau kamu mampu.. Tetap berbuat kebaikan dan menjunjung tinggi rasa kemanusiaan agar kamu selalu jumbuh dengan Sang Diri Sejati. " ucap mbah Sastro.


Dewa terkejut dengan ucapan gurunya itu, "Mengapa guru..? Apa alasannya..? Apakah ini tidak akan menyakiti salah satu dari mereka..?" tanya Dewa heran.


"Aku tidak akan menjawab pertanyaanmu itu, temukan jawabannya sendiri.. Hehhehhe.." mbah Sastro berdiri dan mengajak Dewa pulang.


Matahari sudah menampakkan dirinya saat mereka mengakhiri obrolannya. Mereka berjalan beriringan, sesampainya di depan rumah Dewa, terlihat Naia dan Silvia melakukan olah raga ringan. Naia dan Silvia menghentikan aktifitasnya dan menyapa mbah Sastro dengan tersenyum dan mengangguk, "Guru.. Mari mampir dulu, saya buatkan kopi.." ucap Dewa.

__ADS_1


"Lain kali saja nak.." jawab mbah Sastro. Kemudian mbah Sastro melihat Naia dan Silvia lalu berkata, "Oiya, kalian berdua tetaplah bersama dan aku titip muridku ini kepada kalian..? Hehhehhe" ucap mbah Sastro kepada Naia dan Silvia lalu pergi.


__ADS_2