
Dewa dan Naia saling pandang mendengar ucapan Silvia, bahkan Naia sampai tergagap menjawab ucapan sahabatnya itu. Melihat sikap Naia, Nuraini pun ikut menggoda Naia, "Eh kak Naia ngapain gugup..? Hhmmmm, Nur jadi makin curiga nih.." ucap Nuraini sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Naia.
"Ih.. Apaan sih Nur.. Eh.. Kok gak percaya banget sih sama kakak.." jawab Naia sambil menggelitik Nuraini..
"Hahahaha.. Ampun-ampun kak.. Geli.. Hahahaha.. Sudah kak. Ampun-ampun.. Hahahaha..." Nuraini berusaha menahan tangan Naia.
"Masih gak percaya sama aku.. Hayoo.." ucap Naia terus menggelitik Nuraini.
"Hahahha.. Iya-iya. Nur percaya.. Udah kak nanti Nur ngompol.." jawab Nuraini.
Dewa menggelengkan kepalanya sambil berkata, "Kalian ini, kok bisa-bisanya ya mikir kayak gitu..? Aku aja sampai bingung maksud kalian.." ucap Dewa.
"Ya kan baru kali ini kalian pergi berdua, biasanya juga kemana-mana pergi bertiga. Udah gitu kalian nginep lagi, pasti juga di hotel nginepnya. Kan kita jadi mikirnya kemana-mana.." ujar Silvia.
"Silviaa.. Ih.. Kok mikirnya kayak gitu sih..? Aku aja malah gak kepikiran ke sana.." jawab Naia.
"Eh.. Maaf-maaf, becanda aja tadi.. Jangan marah dong.." ucap Silvia sambil memegang pipi Naia.
Setelah makan malam, mereka melanjutkan obrolan di ruang tamu, sementara Nuraini ke dapur untuk membuat kopi dan teh. Beberapa menit kemudian, Nuraini menyuguhkan kopi dan teh lalu membuka laptopnya. Dia menunjukkan gambar desain rumah mbah Binti kepada Dewa, "Oiya kak, itu bagian samping ruang tamu baiknya dikasih jendela di atas, lebih irit biaya tapi sirkulasi udaranya tetap lancar. Nah kusen dan jendela yang udah dipesan bisa ditaruh di kamar cahaya bisa masuk ke kamar juga.. Gimana..?" tanya Nuraini.
"Atur aja, kamu kan ahlinya. Kakak ikut aja gimana baiknya.. Eh kok kopinya agak manis ya..?" tanya Dewa setelah menyeruput kopi.
"Oh, maaf tadi Nur lupa taruh gula di kopi, trus Nur ambil gulanya lagi tapi kayaknya masih ada sisa sedikit.. Nur buatin lagi aja kak.." ucap Nuraini sambil berdiri.
Dewa menahan tangan Nuraini, "Gak usah. Ternyata enak juga ya kopi dikasih gula sedikit.." jawab Dewa menenangkan adikku.
Kemudian, Nuraini duduk melanjutkan menghitung kebutuhan upah tukang dan pembantu tukang dan menunjukkan kepada kakaknya, "Ini kak total kebutuhan upah buat tukang dan pembantu tukang minggu ini, terus yang ini laporan dari bang Loreng biaya makan sama rokok di warung.." ucap Nuraini menjelaskan.
Dewa melihat dengan teliti laporan Nuraini, "Loh, ini perhitungan buat Loreng sama kamu kok gak ada..? Masukkan juga dong, bagaimanapun kamu sama Loreng ikut kerja, dan juga ini kan proyek diluar KKN mu.." ujar Dewa kepada Naia.
"Enggak ah, Nur gak usah kak. Nur ikhlas bantu kak Dewa, sekalian Nur berniat sedekah ilmu buat mbah Binti.." jawab Nuraini, Dewa hanya mengelus kepala adiknya sebagai apresiasi dari niat baik Nuraini.
Setelah mengetahui jumlahnya, Dewa memberikan uang kepada Nuraini untuk membayar biaya tersebut. Selanjutnya mereka hanya mengobrol seperti biasa, hanya obrolan ringan dan bercanda saja. Dewa melihat jam yang ada di hpnya, waktu menunjukkan jam 11.30 malam, "Udah jam setengah dua belas tuh. Buruan tidur, besok pagi masih ada yang harus dikerjakan.." ucap Dewa.
"Eh.. Cepetnya ini waktu.. Yaudah aku tidur dulu ya mas.." ucap Silvia tersenyum dan kujawab dengan anggukan kepala.
"Mas juga cepet tidur gih. Jangan sering duduk diluar, dingin. Ntar masuk angin jadi susah sendiri kan.. Met malam sayang.. Mas jangan terlalu sering begadang lho.." jawab Naia manja.
"Iya.. Udah buruan tidur.." jawab Dewa.
__ADS_1
Mereka masuk ke dalam kamar, sementara Nuraini mengambil air wudhu dan melakukan sholat Isya'. Setelah beberapa menit, Nuraini duduk di sebelahku dan mulai membicarakan sesuatu, "Kak.. Kok aku ngrasa ada yang aneh dengan Silvia ya..?" ucap Nuraini berbisik
"Heee..? Aneh gimana maksudnya..? Eemmm, Kakak lihat biasa aja tuh.." jawab Dewa heran.
"Eeee, ya aneh kak, jadi kalau Nur perhatikan cara Silvia melihat kakak itu sama seperti kak Naia melihat kakak. Terus kalau pas kak Naia manja sama kakak, dia seperti orang iri gitu, kayak kepingin dimanja juga.. Apa mungkin Silvia itu suka sama kakak..? Masak kakak sama sekali gak ngerasa sih..? kalau beneran suka sama kakak, gimana lho..?" bisik Nuraini heran.
"Eh.. Ngomong apa sih..?.. Gak usah mikir yang macem-macem ah.. Mungkin itu hanya perasaanmu aja.." jawab Dewa sambil mengelus kepala adiknya.
Nuraini hanya mengiyakan ucapan Dewa lalu pergi ke kamar menyusul Naia dan Silvia yang sudah terbang ke alam mimpi.
Dewa diam sambil memikirkan ucapan adiknya, "Mbah Sastro bilang persepsi jiwa adikku sangat kuat. Jangan-jangan bener yang diucapkan Nuraini, tapi kalau sampai benar seperti itu, Naia bisa benci banget sama Silvia. Ini gak boleh dibiarkan, jangan sampai persahabatan mereka rusak hanya karena masalah sepele.." ucapnya dalam hati.
Pagi menjelang, Dewa segera bersiap untuk berangkat, bahkan Naia sudah menunggu di dalam mobil. Tak butuh waktu lama, Dewa dan Naia berangkat setelah mengantar Silvia dan Nuraini ke basecamp KKN mereka. Kota AE berjarak sekitar 120 km dari kota AG. Dewa memacu mobilnya dengan kecepatan sedang diatas batas minimun kecepatan di jalan tol. Setelah sekitar satu jam perjalanan, Naia meminta untuk mampir ke rest area, "Berhenti di rest area dulu mas. Kebelet nih.." ucap Naia.."
"Oke, satu kilometer lagi ada rest area.." jawab Dewa.
Setelah beberapa menit, Dewa mengarahkan mobilnya untuk masuk rest area. Dengan setengah berlari, Naia pergi ke toilet, sedangkan Dewa pergi ke sebuah cafe untuk memesan kopi. Dewa membuka hp, Roni sudah mengirimkan lokasi dimana Dewa akan bertemu dengan Yuma, "Raja Neraka, sebentar lagi kita akan bertemu kawan.." gumam Dewa dalam hati.
*****
Sementara itu di ruang makan sebuah hotel, dimana orang-orang yang mengikuti kompetisi tarung bebas sedang berkumpul untuk sarapan. Hotel Antareja II adalah hotel yang khusus disewa oleh panitia untuk tempat istirahat petarung dan official. Sedangkan kompetisi diadakan di GOR yang berjarak sekitar 100 meter dari hotel tersebut.
Yuma sama sekali tidak melihat Roni, dia hanya menunjuk sebuah meja kosong di ruangan itu. Roni tau bahwa Yuma menyuruh dia untuk tidak duduk bersama dia, tapi Roni tidak menyerah, "Eeee.. Maaf bang, bukannya saya bermaksud menganggu, tapi bos saya ingin bertemu dengan abang.." ucap Roni sambil mencoba duduk di depan Yuma.
Ucapan Roni membuat Yuma emosi, Yuma menggebrak meja hingga meja itu terbelah.
Jdaaaaaaarrr.. Bruaaaaaakk..
Yuma memperingatkan Roni sambil menatapnya, "Aku tidak kenal bos mu, dan aku tidak perduli dengan bos mu.. Kau sudah menganggu kentenanganku.." ucap Yuma. Suara yang berat dan kasar semakin membuat kesan ngeri terhadap Yuma. Roni ketakutan hingga badannya bergetar.
Mendengar suara gebrakan meja, orang-orang yang berada di ruang makan melihat Roni dan Yuma lalu saling berkomentar, "Wah.. Sepertinya akan ada ambulance datang mengangkat orang mati nih..
"Siapa dia..? Berani sekali memprovokasi Yuma..?" orang-orang saling berceletuk.
Roni sekali lagi memberanikan diri mengatakan seperti ucapan Dewa, "M-maaf bang, tapi b-bos saya cuma bilang ada seseorang yang ingin menemui raja Yama.." ucap Roni dengan suara bergetar karena takut.
Mendengar ucapan Roni, Yuma langsung menarik kerah baju Roni dan mendekatkan wajahnya ke wajah Roni, "Jangan bermain-main denganku, sebutkan nama bos mu, kalau aku kenal dia, maka kau selamat. Tapi kalau aku tak mengenalnya, lehermu akan kupatahkan.." ucap Yuma sangat serius.
"M-maaf bang. A-aku hanya menyampaikan p-pesan dari bosku. Eeee, A-apakah raja berani melawan perintah dewa..? B-begitu pesannya.." ucap Roni semakin ketakutan
__ADS_1
Yuma melepaskan kerah Roni sambil tertawa lepas. Orang-orang yang berada di ruangan itu hanya melihat dengan heran, "Hahahahaha... Dimana dia, dimana bos mu sekarang..? Cepat kau antar aku menemuinya. Sepertinya akan ada pesta sebentar lagi.. Hahahaha.." ucap Yuma sambil menepuk pundak Roni.
"S-sebentar bang, bos sedang perjalanan kemari. Nanti kalau bos sudah menghubungi, abang bisa berangkat bersamaku.." jawab Roni masih ketakutan tapi juga bingung.
"Baguusss.. Temui aku di 219 kalau kau sudah mendapat kabar dari bos mu. Kalau sampai kau bohong, hhhheeeeh.." jawab Yuma sambil memberi isyarat jempol memotong leher lalu pergi.
Kepergian Yuma membuat kaki Roni lemas. Dia duduk bersandar di kursi sambil mengumpat dalam hatinya, "Asuuuu-asuuu.. Dampuuutt.. Kok ada ya orang semengerikan itu..? Apa bos bisa menang melawan dia..? Jarinya aja sebesar pisang ambon.."
*****
Sementara itu, Dewa sudah memasuki wilayah kabupaten AE. Jalan yang sedikit ramai membuat mobil berjalan pelan.
"Ini kita kemana mas..?" tanya Naia.
"Kita ke suatu tempat dulu, di pinggiran Kabupaten AE. Aku ingin reuni sebentar dengan teman lama.. Sabar ya, habis ketemu orang ini, kita cari tempat menginap.." jawab Dewa sambil membelai rambut Naia.
"Iya, mas selesaikan dulu aja urusan mas. Emang ketemuannya dimana..?" tanya Naia ingin tau.
"Ada sebuah kafe kecil, Roni yang carikan.." jawab Dewa.
Jalanan yang macet membuat Dewa sedikit lebih lama untuk sampai ke tempat yang dipilihkan Roni. Rasa ingin segera bertemu dengan Yuma, membuat Dewa menggerutu, "Ahhh.. Jalanan kenapa ramai gini ya..? Orang-orang ini pada mau kemana sih..?"
"Sabar sayang.. Ih.. Kelihatan gak sabar banget mau ketemu seseorang..?" ucap Naia menenangkan Dewa.
"Eh.. Iya ya. Makasih ya udah diingetin.." jawab Dewa yang disambut senyum Naia yang manis.
Hampir satu jam untuk Dewa bisa sampai di kafe pilihan Roni. Sebuah kafe yang berada di pinggir danau buatan, tempat yang rindang dengan banyaknya pohon besar disana. Setelah memarkirkan mobilnya, Dewa melangkah masuk dan memesan dua tempat sekaligus dan mengabari Roni bahwa dia sudah sampai lokasi. Situasi di kafe itu masih sepi, mungkin karena masih belum terlalu siang.
Naia merasa heran dengan Dewa, "Kok pesannya dua tempat mas..? Berjauhan lagi tempatnya. Emang satunya buat siapa..?" tanya Naia.
"Jadi nanti teman ku itu datang sama Roni, nah nanti aku pengen ngobrol disana, kamu sementara biar ditemani Roni dulu.. Ada hal yang aku gak ingin Roni tau dulu.." jawab Dewa sambil menunjuk satu tempat lain yang dia pesan.
"Kok nyuruh orang lain temani aku sih..? Ih.. Gak suka aku ah.. Aku kan maunya ditemani sama mas aja.." protes Naia sambil menggembungkan pipinya.
"Bukan gitu, aku khawatir kamu gak nyaman sama temanku itu. Orangnya tinggi besar, wajahnya sangar.. Eeee... yaudah kalau gitu aku pesan satu tempat lagi buat Roni.." jawab Dewa menenangkan Naia.
"Eh.. Jangan. Aku lihat dulu aja deh orangnya, kalau mengerikan ya gak pa pa lah seperti yang mas bilang tadi aja.." jawab Naia.
Sekitar dua puluh menit mereka menunggu kedatangan Yuma dan Roni. Dewa segera berdiri menyambut kedatangan Yuma dan Roni, "Kita berjumpa lagi kawan.. Apakah kau masih ingat aku..?" gumam Dewa dalam hati.
__ADS_1