
Dewa segera berkumpul bersama teman-temannya sesaat setelah sampai di Lerengwilis. Pengalaman yang pernah didapatkannya saat berada di pasukan Ganendra membuat Dewa bisa dengan cepat menyusun rencana pengamanan agar acara pernikahannya berjalan dengan lancar dan aman, "Besok pak Wira akan menjemput Naia pulang ke kota L untuk menjalani pingitan. Demikian juga ayahku yang menjemput Nuraini. Hari ini aku akan membagi tugas buat kalian.." ucap Dewa.
"Siap bos, apapun tugas yang bos berikan akan kami laksanakan.." ucap Yuma.
"Kosim dan Icong, besok ajak beberapa orangmu, kawal pak Wira dan ayahku. Selanjutmya Kosim berjaga di rumah pak Wira dan Icong di rumah ayahku. Tiara, aku percayakan penjagaan mbak-mbakmu, Naia dan Silvia kepadamu........" Dewa menjelaskan rencananya. Yuma dan yang lainnya hanya menganggukkan kepala tanda mengerti apa yang menjadi tugas mereka.
"Lalu bagaimana dengan aku bos..?" tanya Roni.
"Tugasmu adalah menjemput mbah Sastro, mbah Binti dan Kartika. Ron, terserah bagaimana caramu membujuk mbah Binti dan Kartika, mereka harus datang di acara pernikahanku. Pastikan mbah Binti dan Kartika memakai pakaian yang bagus, jika perlu ajak mereka ke toko untuk membeli pakaian.. Satu hal lagi, pastikan mulai besok semua kegiatan proyek berhenti dulu sampai acaraku selesai.." ucap Dewa.
"Siap bos.." ucap mereka hampir bersamaan.
******
Pada keesokan paginya, Pak Wira dan pak Gunawan telah sampai di rumah Dewa di desa Lerengwilis untuk menjemput Naia dan Nuraini.
"Sudah siap semua..?" tanya pak Wira kepada Naia.
"Sudah pa, tinggal nunggu Nur masih pakai jilbab dia.." jawab Naia.
"Wa, ini kenapa teman-temanmu semua berkumpul disini..?" tanya pak Gunawan.
"Oh, aku meminta mereka untuk mengawal kalian kembali ke kota L kemudian tugas mereka ikut menjaga keselamatan calon pengantin.."
Tak butuh waktu lama, Nuraini keluar kamar, "Itu Nur udah siap, mari kita berangkat sekarang. Itu teman-teman Dewa juga sudah standby dari tadi.." ucap pak Wira.
"Baiklah anak muda, kami tunggu kepulanganmu. Tiga hari sebelum hari H, kamu sudah harus ada di rumah.. Aku peringatkan, jangan ulangi kejadian beberapa tahun yang lalu, atau aku sendiri yang akan memberimu pelajaran..!" ucap pak Gunawan sambil menepuk pundak Dewa.
__ADS_1
"Siap laksanakan ndan.." jawab Dewa tegas.
Setelah semua berangkat, Dewa segera menuju rumah mbah Sastro untuk memberitahu kabar gembira itu kepada gurunya, meskipun Dewa merasa bahwa gurunya sudah mengetahuinya.
"Assalamu'alaikum guru, bagaimana kabar guru..?" tanya Dewa.
"Wa'alaikumsalam.. Hehhehhe..., alhamdulillah kabarku baik nak Dede. Mari silahkan duduk, kebetulan aku tadi membuat dua cangkir kopi, karena aku tau nak Dede pasti akan datang kemari.." ucap mbah Sastro.
"Terimakasih guru... Sebenarnya maksud kedatanganku kemari adalah untuk memberitahu sekaligus meminta guru menjadi saksi pernikahanku dengan Naia.." ucap Dewa penuh harap.
"Hehhehhehhe... Hanya itu saja..?" tanya mbah Sastro.
Dewa menjadi bingung dengan ucapan gurunya, "Maksud guru..? Ya ini sekaligus undangan juga untuk guru, aku takut guru tidak bisa hadir, makanya aku meminta guru untuk menjadi saksi penikahanku.." jawab Dewa.
"Bukan itu, aku pikir selain menjadi saksi pernikahanmu dengan Naia, aku juga akan menjadi saksi untuk pernikahanmu dengan sahabatnya juga, ternyata hanya dengan satu orang saja to..? Hehhehhehhe.." jawab mbah Sastro kemudian menyeruput kopinya.
"Sudahlah, hal seperti itu memang tidak mudah, dibutuhkan kejernihan hati dan pikiran untuk melakukannya, jika tidak maka nafsu akan mengendalikanmu. Ingat baik-baik, pernikahan adalah hal yang sangat sakral dan suci, jadi jangan sampai kau nodai pernikahanmu dengan perbuatan yang melanggar norma kesusilaan. Lebih baik kamu menikahi dua, tiga atau bahkan empat wanita dengan seijin istrimu daripada kamu melakukan hubungan diluar penikahan. Karena hal itu akan merusak pondasi keluargamu yang akan mempengaruhi masa depan anak-anakmu.." ucap mbah Sastro kemudian menghisap rokoknya dalam-dalam.
"Mengapa bisa begitu guru..?" tanya Dewa.
"Pondasi utama pernikahan adalah cinta yang dilandasi oleh rasa saling percaya. Saat salah satu menghianati kepercayaan itu, maka perlahan tapi pasti, pondasi itu akan rusak dan pernikahanmu pasti akan hancur.. Satu hal lagi, wanita sebagai istri adalah makhluk paling sabar di alam ini, tapi jangan pernah menguji kesabarannya. Saat kesabaran seorang wanita sudah pada batasnya, maka saat itulah kehancuranmu dimulai.." jawab mbah Sastro.
Dewa cukup penasaran dengan ucapan gurunya itu, "B-bukankah wanita lebih sering mengeluh, marah tanpa sebab, dan terburu-buru..? Bagaimana bisa dikatakan makhluk paling sabar..?"
"Itulah cara mereka menekan batas kesabarannya. Ingatlah nak, saat wanitamu, istrimu, mengeluh, marah kepadamu, itu artinya dia masih menganggap dirimu ada. Tapi jika dia tidak melakukan itu semua, maka itu tandanya harga dirimu sebagai seorang suami sudah tidak dianggap lagi, dan itulah awal kehancuranmu.." jawab mbah Sastro serius.
"Aku paham guru, akhirnya istriku pasti akan mencari sosok laki-laki lain yang dianggapnya masih mempunyai harga diri. Membayangkannya saja membuat hatiku sakit.." sahut Dewa.
__ADS_1
"Dan pesanku yang terakhir, wanita adalah makhluk yang sangat spesial dan istimewa, bahkan Tuhan menamai salah satu bagian tubuh wanita dengan namaNya sendiri, itulah Rahim tempat dimana kehidupan manusia dimulai.." ucap mbah Sastro.
"Aku paham maksud guru, aku akan selalu mengingat dan menjalankan nasehat guru. Terima kasih guru selalu membimbing dan mengingatkanku dalam segala hal.. Tapi apakah guru bersedia hadir dan menjadi saksi pernikahanku..?" sahut Dewa.
"Hehhehhehhe.. Iya aku akan datang dan menyaksikan langsung pernikahanmu.." jawab mbah Sastro.
"Terima kasih guru, aku akan meminta Roni menjemput guru berangkat ke kota L.." sahut Dewa dengan senang.
*****
Hari bahagia yang ditunggu oleh Dewa telah datang, bertempat di masjid Ar-Rahim, salah satu masjid tertua di kota L, Dewa terlihat mondar-mandir di teras masjid sambil sesekali memperhatikan arah pagar masjid.
Pak Gunawan mendekati Dewa dan menepuk pundaknya, "Tenanglah anak muda, tidak akan terjadi apa-apa terhadap pengantin wanitamu. Setelah engkau mengucapkan ijab qabul, kau akan segera bertemu dengannya. Lebih baik duduklah, temani ayah mertuamu sambil menunggu penghulu datang.."
Pak Wira pun datang menghampiri Dewa, "Benar apa kata ayahmu, Naia pasti akan baik-baik saja, bukankah ada teman-temanmu yang mengawal dia..? Sabar, kalian akan segera bertemu dan setelah itu tidak ada yang akan menganggu kalian.."
"Ayah, papa, itu anu, bukan masalah Naia, tapi aku sedang menunggu seseorang yang akan menjadi saksi pernikahanku.." ucap Dewa.
Belum sempat pak Gunawan bertanya, Dewa tersenyum lega setelah melihat sebuah mobil MVP berwarna putih milik Roni memasuki halaman masjid Ar-Rahim.
Kartika segera turun dari mobil dan berlari ke arah Dewa, "Om Dede....!" teriaknya kemudian memeluk Dewa, "Om Dede mau menikah sama kak Naia ya..? Apa sama kak Silvi..? Kok aku gak dikasih tau sebelumnya, untung om Roni memberitahu kami dan mengajak kami kemari. Jadi aku sama nenek bisa datang dan melihat om Dede menikah. Tapi kak Naia sama kak Silvi mana..?, kok gak kelihatan..? Apa ada di dalam masjid om...?" celoteh Kartika.
"Ssstttt.. Kalau Tika ngomong terus, kapan om akan jawab pertanyaan Tika..? Sudah sekarang lebih baik Tika duduk saja di dalam sambil menunggu kak Naia datang. Dia pasti senang melihat Tika datang.." ucap Dewa sambil tersenyum.
Kedatangan Kartika, mbah Binti dan mbah Sastro membuat pak Gunawan sangat terkejut. Tak terasa butiran air mata meleleh dari sudut mata pak Gunawan. Dewa pun heran melihat ayahnya meneteskan air mata, "Ada apa sebenarnya sampai membuat ayah sampai menangis..? Baru pertama kali aku melihat ayah menangis, tapi apa yang membuat ayah menangis..?" tanya Dewa dalam hati.
Pandangan pak Gunawan tertuju pada sosok orang tua yang sedang berjalan ke arahnya.
__ADS_1