
Setelah melihat Dewa bermeditasi, tiba-tiba Nuraini ingin belajar bagaimana cara bermeditasi. Dia mendesak kakaknya untuk mengajarinya. Demikian juga dengan Naia dan Silvia, mendengar ucapan Nuraini, merekapun merengek kepada Dewa agar mau mengajari mereka, "Ajari kami juga dong mas.." rengek Naia.
"Iya mas, ajari kita juga ya..? Eee, aku pernah baca di buku, meditasi itu bisa juga digunakan untuk meningkatkan kesehatan dan imunitas. Hanya saja aku gak tau penjelasan ilmiahnya seperti apa dan bagaimana hal itu bisa terjadi.. Makanya kami juga ingin belajar mas.." sambung Silvia.
Dewa menjadi bingung harus menjawab bagaimana, karena meditasi yang dipelajari Dewa berasal dari kitab Kalimasada yang hanya boleh dipelajari oleh laki-laki, sedangkan mereka seharusnya mempelajari kitab yang lain, pasangan dari kitab Kalimasada. Tapi tiba-tiba entah darimana Dewa mendapatkan ide untuk menjawab keinginan mereka, "Sebenarnya kalian itu sudah melakukan meditasi setiap hari, bahkan lima kali sehari.. Apakah kalian tidak pernah merasakannya..?" tanya Dewa.
"Heh.. Maksudnya kak..? Nur gak mudheng maksud kakak.." jawab Nuraini yang juga dianggukkan Naia dan Silvia.
"Eeemmm kalian kan sholat lima waktu, nah sholat kalian itu juga salah satu bentuk meditasi. Hanya saja kalian tidak meresapi makna dari tiap gerakan dan bacaan sholat. Kebanyakan kalian hanya menganggap sholat itu kewajiban belaka, sehingga dalam sholat pikiran masih kemana-mana, gak khusyu' istilahnya.." ucap Dewa.
Mereka bertiga menyadari apa yang diucapkan Dewa ada benarnya, "Oh, iya sih. Nur sih seringnya gitu, buru-buru lakuin sholat karena memang diwajibkan sama agama. Nur baru tau kalau ada pemahaman seperti itu..
"Coba deh dalam sholat kalian fokus menikmati dan menyelaraskan tiap bacaan dan gerakan sholat dengan aliran nafas kalian. Kalian rasakan tiap gerakan sholat itu, seakan-akan tubuh bergerak dengan sendirinya. Nah pasti ketenangan dan kedamaian yang kalian rasakan.." Dewa memberikan analogi kepada mereka
"Eeeemm.. Iya juga sih, yang sering terjadi aku yang penting sholat aja. Syarat syah dan rukunnya udah kulaksanakan yaudah selesai. Ternyata ada pemahaman seperti itu. Apa mungkin itu maksud dari perintah tegakkanlah sholat kak..?" sahut Nuraini
"Eeemmm.. Kalau masalah itu kakak kurang tau, coba deh kamu tanya sama guru ngajimu.." jawab Dewa.
"Lalu apakah dengan sholat kesehatan dan imun kita bisa meningkat mas..?" tanya Silvia.
"Gak hanya kesehatan dan imun. Imanpun akan semakin tebal. Kunci kesehatan dan imunitas kita itu pada ketentraman dan kedamaian hati dan pikiran kita, nah kedamaian dan ketentraman itu akan terwujud kalau ada iman di dalam diri kita, atau dengan kata lain keyakinan kita kepada Sang Pemberi Kehidupan.." jawab Dewa.
Mereka bertiga tersenyum setelah nendengar penjelasna singkat dari Dewa. Sepertinya mereka menemukan sebuah pemahaman baru tentang hal yang sebenarnya sudah biasa mereka lakukan. Dewa pun juga tidak menyangka bisa menjelaskan hal seperti itu kepada mereka, "Udah jangan terlalu dipikirkan, jalani saja dan kalian buktikan sendiri aja. Nikmati setiap gerakan dari ibadah yang kalian lakukan, selaraskan dengan aliran nafas kalian. Sekarang siap-siap gih, udah jam tujuh tuh.." ucap Dewa lalu mereka segera bersiap untuk menuju balai desa.
*****
Dewa memarkirkan mobilnya di halaman gedung serbaguna di samping balai desa. Suasana cukup ramai pagi itu, belasan mahasiswa dengan almamater berwarna hijau tua berkumpul di depan gedung serbaguna. Mereka adalah mahasiswa dari Universitas Bhakti Nusa kota AG.
Tersengar celoteh mahasiswa itu saat melihat mobil Dewa masuk ke halaman gedung serbaguna, "Mahasiswa dari kampus di kota besar, KKN aja bawa mobil BMW, sok keren ah.."
"Eh.. Ternyata cewek cantik yang turun dari mobil itu.." sahut lainnya
Belum sempat mereka berjalan, dua orang mahasiswa mendekati rombongan Dewa, tepatnya mendekati Naia yang ada di sebelah kanan Dewa, "Hai.. Aku Bagus, ini temanku Dimas.. Boleh kenalan..?" tanyanya sambil mengulurkan tangannya.
"Aku Naia, mereka teman-temanku. Ini Silvia dan dia adikku Nuraini, kalau di sebelah ku ini calon suamiku mas Dew, eh mas Dede namanya.." jawab Naia sambil menelangkupkan tangannya di depan dada. Hal serupa juga dilakukan Silvia dan Nuraini.
"Oh.. Sudah punya calon suami ya..? Tapi masih calon kan, belum suami. Jadi masih ada kesempatan.. Hehehehe.." ucap Bagus sekenanya.
Dewa sama sekali tidak memperdulikan ucapan Bagus, tapi dia merasa ada hal aneh darii dalam diri Bagus, yang membuat perasaan Dewa menjadi tidak nyaman.
__ADS_1
"Yuk sayang kita ke tempat Oki aja.." ucap Naia pergi diikuti Silvia dan Nuraini tanpa menghiraukan Bagus.
Setelah menyapa mereka, Dewa segera menuju ruang kepala desa untuk menanyakan perihal bantuan yang pernah diajukannya untuk mbah Binti, "Bagaimana pak, apakah permintaan bantuan buat mbah Binti bisa direalisasikan..? Ya saya pikir mbah Binti itu perku untuk dibantu modal usaha biar kehidupannya lebih layak.." ucap Dewa.
"Bisa mas, Alhamdulillah oleh badan musyawarah desa setuju atas usulan untuk memberi kodal usaha buat mbah Binti, tapi kita tidak bisa memberikan dalam wujud uang. Rencana bantuan itu akan kita wujudkan berupa barang kebutuhan untuk mbah Binti membuka usaha, antara lain gerobak, kompor dan tabung gas, dan bahan untuk berjualan. Tapi jangan khawatir, saya pribadi sudah menyiapkan uang tunai untuk menyokong biaya hidup mbah Binti selama tiga bulan kedepan. Sedangkan untuk biaya sekolah Kartika, kami benar-benar minta maaf karena tidak ada pos anggaran untuk itu di pemerintah desa. Tapi kedepan akan kami anggarkan untuk hal tersebut mas. Sementara ini untuk membantu sekolah Kartika, kita akan berikan surat keterangan tidak mampu sebagai bahan untuk mengajukan bantuan ke pemerintah. Pengajuannya bisa melalui pihak sekolah.." jawab pak kepala desa.
"Alhamdulillah. Itu saja sudah cukup pak. Masalah biaya pendidikan Kartika, pak Kades tidak usah khawatir, semua sudah saya tanggung. Tapi memang seharusnya pemerintah desa mengadakan pos anggaran untuk itu pak, mungkin di desa ini maih ada anak-anak selain Kartika yang butuh bantuan pendidikan. Eeemm, mungkin sekitar tiga hari lagi rumah mbah Binti siap ditempati, sekalian saya minta bapak untuk menyambut mbah Binti di rumah barunya, sekalian memberikan bantuan tersebut pak.." ucap Dewa.
"Baik mas, dengan senang hati saya akan datang bersama perangkat yang lainnya.." jawab kepala desa.
Setelah cukup mengobrol, bapak kepala desa mengajak Dewa untuk menghadiri pertemuan dengan rombongan mahasiswa itu tapi Dewa menolaknya. Dia memilih keluar menuju warung di samping gedung serbaguna kemudian mengundang Loreng dan Roni. Dewa duduk di teras warung menunggu mereka datang. Sambil menunggu, Dewa menghubungi Yuma untuk menanyakan perihal tugas yang diberikannya kepada Yuma.
[Dewa] "Bagaimana Yud, sudah berhasil apa yang aku perintahkan..? Sudah bertemu Faruq juga..?"
[Yuma] "Hahaha.. Beres bos.. Ini aku bersama Petruk di sasana yang beberapa hari lalu aku dapatkan. Terus masalah preman, aku sudah menaklukkan preman di dua wilayah bos.."
[Dewa] "Bagus kamu memang sangat bisa diandalkan Yud"
Tiba-tiba terdengar suara Faruq yang berteriak di dekat Yuma.
[Faruq] "Kapten, gimana kabarmu..? Kapan nih kita beraksi lagi..?"
[Dewa] "Woi.. Faruq, kebetulan sekali aku ada tugas buat kamu, pergi ke pondok pesantren Sunan Lawu di desa Lerenglawu, kabupaten AD. Temui Sandhi disana, ajak dia ke kota AB.."
[Dewa] "Siip, sambungkan aku kepda Yudha.."
[Yuma] "Siap bos, ada perintah apa..?"
[Dewa] "Berikan uang kepada Faruq untuk perjalanan dia menjemput Sandhi.."
Setelah menutup teleponnya, Dewa mengirim pesan kepada Yuma lokasi Sandhi sesuai yang diberikan Kol. Sunardi, serta meminta agar Faruq mengirimkan nomor kontak dan rekeningnya kepadanya.
Sekitar lima belas menit kemudian, Roni dan Loreng datang dengan berboncengan sepeda motor. Setelah memesan minuman, mereka pun mulai mengobrol, "Gimana Reng rumah mbah Binti..? Masih ada yang kurang materialnya..?" tanya Dewa mengawali obrolan.
"Hari ini mulai dipasang lantai keramiknya bos, sama tinggal finishing aja. Ya setidaknya butuh dua hari lagi lah bos, rumah siap ditempati. Material sebenarnya kurang sepuluh sak semen, tapi warga berinisiatif untuk patungan buat beli kekurangan semennya.." jawab Loreng.
"Alhamdulillah, akhirnya semua tergerak hatinya buat saling membantu. Terus siapkan tumpeng buat acara syukuran ya..? Sekalian pesan 100 nasi kotak buat dibagi-bagi ke masyarakat disana.." ucap Dewa dan dianggukkan oleh Loreng.
"Bos, urusan tumpeng sama nasi kotak biar aku sama Loreng yang tanggung biayanya. Kami juga ingin berbagi dengan mbah Binti. Gimana Reng..?" tanya Roni.
__ADS_1
"Sip.. Pikirku juga begitu, ya biar bisa masuk ke surga bareng-bareng sama bos.. Hehehehe.." jawab Loreng antusias.
"Kalian dulu aja deh masuk surganya, aku masih pengen disini temani Naia.. Hahahaha.." jawab Dewa sekenanya dan diikuti tawa Loreng dan Roni.
Mereka duduk dan mengobrol santai di warung itu sambil menunggu Naia dan teman-temannya selesai acara. Hp Roni berdering, dia meminta ijin buat mengangkat telepon yang masuk ke hp nya. Tidak lama, Roni kembali dengan wajah yang serius, "Ada apa Ron..?" tanya Dewa.
"Itu bos, Sukirno telepon, dia bilang semalam mereka diserang oleh perguruan naga hitam saat sedang berlatih. Beberapa anak muridnya sampai dibawa ke rumah sakit karena terkena sabetan senjata tajam. Sukirno sudah melaporkan kejadian ini di polsek Ujung Barat, saat ini kasusnya masih diselidiki polsek.." ucap Roni sambil duduk.
"Lalu mau dia bagaimana..? Kan kasusnya sudah ditangani pihak berwajib..?" tanya Dewa.
"Dia sebenarnya mau minta ijin buat ikut mencari pelaku pengeroyokan.." jawab Roni.
"Memang dari dulu kedua perguruan ini selalu saja seperti ini. Saling balas membalas, sampai polisi saja bosan menangani masalah mereka.." sahut Loreng.
Dari pernyataan Loreng, Dewa dapat memahami apa yang diinginkan Sukirno, "Lah pelakunya kan jelas dari naga hitam, lagian juga sudah ditangani pihak berwajib. Terus yang dia cari siapa..? Dia hanya ingin balas dendam saja, dan Sukirno mencoba menyeret kita dalam masalah mereka. Tegaskan, biarkan pihak berwajib yang menanganinya.." ucap Dewa tegas.
"Siap bos, aku akan memberitahu Sukirno.." jawab Roni.
"Ini juga masalah serius bos, dua hari yang lalu anak buahku memergoki beberapa pemuda yang sedang pesta miras sama sabu-sabu di bekas gudang itu bos. Tapi mereka berhasil kabur sehingga tidak jelas siapa saja mereka, tapi salah satu anak buahku melihat Komeng juga ada disana.." lapor Loreng.
"Bukankah Komeng itu anak buah Suwarno..?" tanya Dewa.
"Betul bos. Sebelumnya polisi menggrebek tempat karaoke milih Suwarno, polisi berhasil mengamankan beberapa orang yang berpesta narkoba di salah satu ruangan karaoke.." jawab Loreng.
"Reng, Ron, dalam beberapa hari kedepan, awasi pergerakan mereka dan gudang itu. Mungkin mereka akan menggunakan tempat itu lagi untuk berpesta. Jika ada yang mencurigakan, segera hubungi aku.." Dewa memberi perintah kepada Loreng dan Roni.
"Siap bos. Sesuai perintah.." jawab mereka serempak.
Tidak lama kemudian, Silvia tampak keluar gedung serba guna mencari Dewa. Loreng pun menyapa Silvia, "Eh.. Nyonya muda bos. Sudah selesai acaranya..?" tanya Loreng.
"Eeemmm.. Pantesan betah di warung, lha wong ada bang Roni sama bang Loreng. Tuh dicariin sama Naia, mulai bete dia nungguin dari tadi.." ucap Silvia.
"Loh udah selesai ya acaranya..?" tanya Dewa.
"Belom sih, tapi Naia pengen pulang dulu, dia jengkel sama si siapa tadi tuh.. Makanya males dia, lalu ajak kita pulang duluan. Eh begitu sampai mobil nyariin mas gak ketemu, yaudah makin bete dia.." jawab Silvia.
"Waduuuuhh gawat ini.. Ron, Reng aku balik dulu, nanti kalau ada apa-apa langsung hubungi aku aja ya..? Eh.. Kopiku sekalian kalian bayar ya..?" ucap Dewa sambil meninggalkan mereka.
"Waduuuhh..., ternyata bos seperti ban traktor bocor ya bang saat berhadapan dengan mereka berdua..?" ucap Loreng heran.
__ADS_1
"Ho-oh Reng. Berarti mereka lebih garang dari bos Dede, untung kita gak pernah singgung mereka berdua bang.." jawab Roni yang juga heran.
Mendengar pembicaraan Roni dan Loreng, Silvia tiba-tiba menoleh dan menatap mereka berdua dengan tatapan tajam yang membuat Roni dan Loreng salah tingkah, dan langsung masuk ke dalam warung untuk membayar makanan dan minuman mereka. Kemudian Roni dan Loreng iseng mengintip Dewa di luar pagar gedung serbaguna dan entah apa yang mereka obrolkan selanjutnya.