Dewa Sang Patriot

Dewa Sang Patriot
Amplop putih


__ADS_3

Bayu mengamati Dewa dengan seksama untuk memastikan sesuatu. Kemudian, dia mengajak Dewa mengobrol di luar warung. Dewa melangkah mengikuti Bayu keluar warung dengan sedikit perasaan curiga. Mereka pun duduk di sebuah halte yang berada tak jauh dari warung, "Apa maksudmu mengajakku kemari..?" tanya Dewa curiga.


Bayu berusaha untuk tetap bersikap tenang saat mengatakan tujuannya, "Aku ingin memberikan sesuatu yang dititipkan ayahku kepada anda, beliau berpesan agar jangan sampai seorang pun tau saat aku memberikannya kepada anda.." jawabnya tegas.


"Siapa ayahmu, apakah aku mengenalnya..? Lalu bagaimana kau bisa yakin akulah orang yang dimaksud ayahmu..?" Dewa memberondong Bayu dengan beberapa pertanyaan sekaligus.


Bayu membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah amplop berwarna putih kemudian mengucapkan sesuatu, "Aku tidak mungkin salah mengenali anda kapten Dewangga.." ucap Bayu.


Dewa terkejut mendengar Bayu menyebut nama dan pangkatnya, Dewa menjadi sedikit emosi hingga refleks menarik kerah baju Bayu kearahnya, "Katakan..!! Siapa sebenarnya kamu dan apa tujuanmu. Aku tidak akan segan-segan membunuhmu kalau kau berbohong, meskipun kau tunangan Novi. Katakan yang sebenarnya..!!" ucap Dewa serius sambil menatap matanya Bayu.


Meski sedang emosi, tapi Dewa merasa heran tidak ada rasa takut sedikitpun dari diri Bayu. Bahkan dia tetap tenang walaupun Dewa sedang mengancamnya. Bayu tersenyum sebelum dia mengatakan sesuatu, "Tenang kapten, aku bukan musuhmu dan aku juga bukan dari militer. Aku adalah anak sulung Kol. Sunardi, kapten mengenalnya bukan..? Beliau menitipkan amplop ini kepadaku dan memintaku untuk mencarimu dua hari sebelum beliau berangkat ke Gaza. Beliau hanya berpesan mungkin yang di dalam amplop ini bisa membantu kapten mengetahui kebenaran dari apa yang menimpa tim anda. Selain itu beliau berharap anda dapat memulangkan beliau ke tanah air.." ungkap Bayu sambil menyerahkan amplop putih bertanda tangan Kol. Sunardi.


"Lalu bagaimana kau bisa mengenaliku, dan bagaimana kau tau aku disini..?" tanya Dewa menyelidik.


"Tolong lepaskan bajuku dulu kapten.." ucapnya kemudian perlahan Dewa lepaskan tangannya dari kerah baju Bayu.


Bayu merapikan kerah bajunya lalu mengambil sebuah foto dari dalam tas nya. Foto Dewa bersama teman-temannya saat kami menghadiri acara santai pada jamuan makan yang diadakan Kol. Sunardi di rumah dinasnya. Jamuan untuk merayakan keberhasilan pasukan Ganendra menangkap ******* dan membebaskan sandra di kota F waktu itu. Bayu menarik nafas panjang sebelum melanjutkan ucapannya, "Ayah memberiku foto ini, sehingga aku bisa mengenali anda, walaupun aku masih harus memastikan bahwa itu memang benar-benar anda kapten. Seminggu yang lalu, Novi secara tidak sengaja melihat anda di foto ini dan bilang bahwa anda adalah sahabatnya, hanya saja dia tidak tau posisi anda berada. Yang dia tau, adik anda adalah salah satu mahasiswinya di kampus dan sedang melakukan KKN di kota AG.. Itulah yang membuat aku kemari.. Sebenarnya akupun tidak menyangka dapat menemukan anda disini. Rencananya aku akan menitipkan amplop ini kepada adik anda.." ucap Bayu menjelaskan.


"Apakah Novi mengetahui tentang latar belakangku setelah melihat foto ini..?" tanya Dewa.


"Kurasa Novi tidak mengetahuinya kapten, akupun tidak memberitahu dia karena ayah pun sudah berpesan seperti itu.." jawabnya.


Setelah mendengar cerita Bayu, terlihat penyesalan di wajah Dewa karena telah berbuat berlebihan kepada Bayu. Bagaimanapun semua itu terjadi karena ketidak tahuan Dewa tentang siapa sebenarnya Bayu. Setelah terdiam beberapa saat, Bayu kemudian melanjutkan ucapannya, "Ternyata apa yang ayah katakan benar, anda memang sangat waspada dan kejam terhadap musuh, tapi sebenarnya anda orang baik dan penuh kasih kepada orang lain. Itulah yang membuat aku sama sekali tidak merasa takut berhadapan dengan anda.." jawabnya tenang.


Dewa sama sekali tidak mendengarkan ucapan Bayu, dia hanya mengamati amplop putih yang ada di tangannya, lalu dia bertanya, "Apa kau tau isinya..?" tanya Dewa.


"Maaf kapten, aku hanya menjalankan amanah ayahku. Aku sama sekali tidak berani membukanya.." jawab Bayu tegas.


"Hhmmm.. Baiklah, aku terima amplop ini. Maaf aku sudah berlebihan terhadapmu. Dan tolong jangan terlalu sopan, kamu adalah tunangan Novi, berarti kita teman juga. Dihadapan Novi, jangan oernah panggil aku kapten. Oiya, maafkan sikapku tadi.." ucap Dewa sambil mengulurkan tangannya.


Bayu membalas uluran tangan Dewa, sambil berjabat tangan, Bayu berkata, "Aku bisa memahami, anda hanya bersikap waspada. Kalau boleh aku punya permintaan kepada anda Kapten, tolong pulangkan ayahku. Ayah bilang, hanya anda yang bisa melakukannya.." ucapnya pelan.


"Aku akan berusaha semampuku.. Oiya, tolong rahasiakan identitasku kepada Novi. Dan satu hal lagi, tolong jaga Novi, jangan pernah tinggalkan dia seperti yang dulu pernah aku lakukan padanya.." ucap Dewa.


"Siap Kapten, eh mas.." jawab Bayu.

__ADS_1


*****


Setelah selesai, mereka pun kembali bergabung dengan yang lainnya. Perasaan penasaran terlihat di wajah Novi, "Ada apa sih mas..? Ada apa Wa, kok sampai ngobrolnya diluar..? Emang kalian saling kenal ya..?" tanya Novi.


"Gak pa pa, hanya kesalah pahaman saja. Aku terlalu cemburu dengan mantanmu, jadi aku minta sedikit penjelasan saja dari dia.." ucap Bayu berbohong.


"Hadeeehh.. Kirain apa, kan bisa minta penjelasannya disini.." jawab Novi tidak percaya.


"Udah-udah. Masalahnya kecil aja, gak perlu dibesar-besarkan.." ucap Dewa.


Mendengar kata mantan yang keluar dari mulut Bayu, membuat Naia dengan cepat bereaksi, "Jadi mbak Novi ini mantannya mas Dewa..? Pantesan kok….." ucapan Naia terhenti saat Novi memotongnya, "Eee, gimana ya..? Sebenarnya teman-teman kami aja yang menganggap kami pacaran, walaupun aku juga berharap begitu. Memang sih setelah lulus, kami sempat kita menjalin hubungan sebentar sampai Dewa pergi tanpa kabar.." ucap Novi.


"Oh.. Nur tau cerita itu, nanti deh Nur ceritain ke kak Naia. Oiya mbak, setelah ini mbak mau langsung balik ke kota AB atau mau kemana nih..?" sahut Nuraini.


"Kami mau pulang dulu ke kota L, udah lama gak pulang, sekalian lihat keadaan bapak sama ibu.." jawab Novi.


Mereka pun melanjutkan obrolan sampai menjelang sore. Novi dan Bayu langsung menuju kota L, sedangkan Dewa bersama Naia, Silvia dan Nuraini pulang ke rumah untuk persiapan latihan.


*****


"Kak aku tidur dulu ya..? Badan capek banget rasanya.." ucap Nuraini setelah membuatkan secangkir kopi buat Dewa.


"Iya. Kasih balsem otot kalau perlu, biar gak terlalu sakit badannya.." saran Dewa dijawab dengan anggukan kepalanya.


Dewa membuka amplop yang diberikan Bayu siang tadi. Di dalam amplop hanya terdapat secarik kertas bertuliskan user name dan password dari media penyimpanan online. Tidak ada penjelasan apapun yang tertulis disana, "Semoga saja ini kepingan puzzle lainnya. Benar kata mbah Sastro, kebenaran akan menemukan jalannya sendiri.." gumam Dewa dalam hati.


Naia dan Silvia keluar dari dapur dengan membawa segelas teh hangat dan duduk di ruang tamu menemani Dewa, "Apa itu mas..? Surat dari mbak Novi ya..?" tanya Naia.


"Bukan. Ini tadi amplop yang diberikan Bayu kepadaku pas kami keluar warung tadi.." jawab Dewa.


Kemudian Dewa menceritakan kepada mereka kejadian di halte saat mereka mengobrol tadi. Naia dan Silvia hanya mendengar cerita Dewa tanpa banyak bertanya, "Jadi begitu ceritanya. Gak nyangka juga kalau Bayu itu anak komandanku.." ucap Dewa mengakhiri cerita.


"Eeeee.. Mbak Novi gak tau kalau mas itu tentara..?" tanya Silvia.


"Teman SMA yang tau aku tentara cuma 2 orang aja, si Jaka dan Niko. Nih ya, kita bertiga itu dulu tukang bikin onar, sering dihukum sama guru. Sampai wali kelas kami menamai kami trio Wajan, Dewa-Jaka-Niko, disingkat wajan.." jawab Dewa disambut tawa mereka berdua. Kemudian Dewa menceritakan masa-masa dia SMA, mulai dari kenakalannya sampai hubungan yang tidak jelas dengan Novi. Naia dan Silvia hanya mendengarkan sambil sesekali tertawa mendengar kelucuan cerita Dewa.

__ADS_1


"Ternyata beda dengan jaman kita SMA dulu ya Vi..?" ucap Naia menanggapi cerita Dewa.


"Eeee.. Lain kali kalau tanyakan dulu dengan jelas sebelum bertindak. Aku tau kamu cemburu lihat aku di warung sama Novi, tapi gak harus gitu juga kan..?" ucap Dewa kepada Naia dengan pelan


"Eh.. Siapa yang bercanda..? Aku serius mas, bukan lagi bercanda.." jawab Naia protes.


"Tuh kan, aku bilang juga apa, tanyakan dulu jangan keburu marah. Kamu kalau dibilangin ngeyel sih.." sahut Silvia.


"Lho.. Kok aku yang disalahin..? Sekarang siapa coba yang gak salah paham, mas Dewa kayak mesra gitu sama mbak Novi.." protes Naia.


"Yaudah, yang penting lain kali jangan seperti itu lagi ya..?" ucap Dewa.


" Iya-iya maaf.. Yaudah, kami tidur dulu ya, mas juga jangan bergadang terus.." ucap Naia lalu mencium pipi Dewa.


Mereka pergi menyusul Nuraini yang sudah lebih dulu pergi ke alam mimpi. Dewa hanya melihat mereka berdua masuk kamar, "Aku bener-bener gak ngerti apa yang ada di dalam hati mereka berdua. Bahkan persepsi jiwaku pun tidak mampu menembusnya.. Apakah ini karena pengaruh dari tubuh Dewi mereka atau tidak aku juga tidak tau. Kupikir cerita tubuh Dewi itu hanya dongeng sebelum tidur belaka, tapi yang baru saja aku alami membuatku benar-benar merasa bahwa itu bukan hanya sekedar dongeng.." gumam Dewa dalam hati.


Dewa memikirkan banyak hal sepanjang malam, mulai dari pertemuannya dengan mbah Sastro hingga pertemuannya dengan Bayu, putra dari Kolonel Sunardi. Hal itu membuat energinya habis hingga dia merasa kelelahan dan tertidur di sofa ruang tamu.


Pagi harinya, Nuraini heran melihat kaklanya yang tertidur di ruang tamu, lalu dia membangunkannya, "Kak.. Bangun kak, kok tidur di kursi sih..?" Nuraini menggoyangkan kakaknya.


Dewa terbangun dan bingung saat dia tau sudah ada bantal di kepalanya dan selimut yang menutupi tubuhnya, "Eh.. Jam berapa sekarang..? Ini kok ada bantal sama selimut, kamu yang kasih kah..?" tanya Dewa heran.


"Jam lima kak.. Lah, bukan kakak sendiri yang ambil ya..?" sahut Nuraini bingung.


"Mana berani kakak masuk kamar saat kalian bertiga tidur..?" jawabnya sambil melipat selimut kemudian beranjak dari kursi dan berjalan ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.


Dewa segera masuk ke kamar mandi, dan tiba-tiba, "Aaaaaaaaa...!!!  Mas Dewaaaaa....!!!" teriak Naia.


"Eh.. Maaf-maaf aku gak tau, lagian pintu kamar mandi gak ditutup sih.." ucap Dewa sambil keluar kamar mandi.


Mendengar teriakan Naia, Silvia dan Nuraini segera berlari ke belakang, "Eh.. Maaf kak, ini salah Nur. Kemaren Nur lupa bilang sama kak Dewa kalau lampu kamar mandi mati, terus Nur lupa juga bilang juga kalau ada kak Naia di kamar mandi.. Hehehehe" ucap Nuraini kemudian tertawa.


"Waduh mas Dewa dapat rejeki nih pagi-pagi, hihihi.. Makanya Naia cepetan mandinya, biar bisa gantian. Mas Dewa tunggu di depan aja deh.." ucap Silvia, lalu Dewa pergi ke depan.


"Untung aja di tadi kondisi gelap, coba kalau tadi terang di kamar mandi, kan bisa tambah bahaya.. Hihihihi.." gumam Dewa dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2