Dewa Sang Patriot

Dewa Sang Patriot
Bantuan sang Guru


__ADS_3

Kecerdasan Roni membuatnya cepat memahami apa yang diajarkan oleh Nuraini, demikian hal nya dengan Tiara yang juga cepat mengerti apa yang diajarkan oleh Naia dan Silvia.


"Bang Roni kalau ada hal yang belum bang Roni mengerti, langsung tanya Nur aja, gak usah sungkan.." ucap Nuriani.


"Siap bos kecil.. Berarti mulai minggu depan itu aku hanya fokus ngerjakan bagian ini saja ya..?" tanya Roni sambil menunjuk layar laptop yang ada di depannya.


"Yup bener, tapi tetap harus sesuai dengan progrea yang ada di lapangan bang. Biar sinkron antara pekerjaan lapangan dengan laporannya.." jawab Nuraini disambut dengan anggukan kepala Roni.


Sementara itu, Tiara terlihat serius mengikuti penjelasan dari Silvia, "RAB ini hanya sebagai acuan saja, laporanynya tetap sesuai dengan yang dilapangan. Kalau memang ada hal yang kamu rasa janggal, langsung aja cek ke lapangan.." ucap Silvia menjelaskan.


"Nah, cara rekapnya nanti seperti ini.." sambung Naia kemudian menjelaskan tahapan membuat laporan.


"Siap kak.." jawab Tiara.


"Kalian ajari Roni dan Tiara dulu sampai paham, aku mau ke rumah mbah Sastro, rencana aku akan berpamitan dengan beliau.." ucap Dewa kemudian pergi meninggalkan sasana menuju rumah gurunya.


*****


Mbah Sastro mengajak Dewa duduk di halaman belakang rumahnya, "Kita kebelakang saja, sekalian aku mau kasih makan kambing sama ayam.." ucap mbah Sastro.


Halaman belakang rumah mbah Sastro cukup luas, setidaknya ada enam kandang kambing dan puluhan kandang ayam disana. Dewa duduk di kursi bambu yang ada di bawah pohon mangga, sedangkan mbah Sastro memberi makan kambing dan ayamnya, "Hehhehhehhe.. Aku sungguh tidak menyangka dan sangat bangga kepadamu, selain bisa menaklukkan kerajaan Gunung Wilis, nak Dede juga berhasil menguasai ilmu pamungkas dari kitab kalimasada, aji caraka balik dan mantra kalacakra.." ucap mbah Sastro.


"Alhamdulillah guru, semua berkat kesabaran dan ketelatenan guru dalam membimbingku.." jawab Dewa santun.


"Hehhehhe.. Sudahlah tidak perlu dibahas, memiliki murid sepertimu adalah berkah dan anugrah buat orang tua ini.. Oiya, aku dengar KKN calon istrimu akan berakhir, jadi apa rencana nak Dede selanjutnya..?" ucap mbah Sastro.


"Aku akan menemani Naia di kota AB sekaligus melakukan beberapa persiapan untuk kantor yang ada di kota AB. Sedangkan urusan pembangunan disini, aku menyerahkan kepada teman-teman disini untuk mengawasinya. Walau demikian, aku akan tetap akan sering ke Lerengwilis.." jawab Dewa.


Mendengar penjelasan Dewa, mbah Sastro terkekeh. Dia bisa memahami ada sedikit rasa khawatir dalam pikiran muridnya itu, "Hehhehhehhe.. Lalu apa yang menjadi beban pikiranmu..? Seperti ada yang membuatmu khawatir.." tanya mbah Sastro.


"Aaahhhh.. Memang tidak mungkin menyembunyikan sesuatu dari guru. Sebenarnya yang aku khawatirkan adalah keselamatan teman-teman. Guru tau sendiri musuh yang kami hadapi sama sekali berbeda dengan waktu kami di militer. Musuh kami adalah entitas penguasa kegelapan dan semua anak buahnya, aku khawatir teman-teman tidak akan bisa menghadapi mereka.." ucap Dewa.


"Bukankah nak Dede bisa memerintahkan penguasa Gunung Wilis untuk menjaga mereka..?" tanya mbah Sastro.


"Tidak guru, aku tidak ingin melakukan itu. Aku sudah berjanji untuk membiarkan mereka bebas memilih kehidupannya. Jika mereka mau menjaga teman-temanku, itu bukan karena perintahku, tapi kemauan mereka sendiri. Dan aku juga tidak ingin bergantung kepada mereka.." jawab Dewa.

__ADS_1


"Lalu, apa rencana nak Dede utuk teman-temanmu..?" tanya mbah Sastro ingin tau.


"Aku ingin guru mengajari mereka kekuatan spiritual.." pinta Dewa.


"Hhmmmm.. Bukankah kamu sudah mengajari mereka teknik pernafasan dari kitab kalimasada..? Setidaknya mereka semua mempunyai tenaga dalam, lalu apa yang membuatmu khawatir..?" tanya mbah Sastro.


Dewa menarik nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan gurunya, "Hhuuuufftt.. Iya memang aku sudah mengajari mereka tenaga dalam dan sering berlatih dengan mereka, tapi aku merasa tenaga dalam mereka tidak bisa berkembang. Jadi aku mohon kepada guru untuk mengajari dan membimbing mereka juga.." ucap Dewa penuh harap.


Mbah Sastro tersenyum, dia sangat memahami karakter dari muridnya itu. Setelah beberapa saat berfikir akhirnya mbah Sastro menyetujui permintaan Dewa, "Baik, aku akan mengajari mereka pukulan dan langkah kalimasada. Tapi aku tidak menjadikan mereka muridku, jadi berhasil atau tidak, semua tergantung usaha dari mereka sendiri.." jawab mbah Sastro.


"Terimakasih guru, itu sudah membuatku tenang. Aku yakin mereka tidak akan mengecewakan guru. Dan maaf merepotkan guru, aku mohon kepada guru untuk selalu mengawasi mereka.." ucap Dewa.


"Hehhehhehhe.. Sudahlah, gak usah terlalu dipikirkan. Aku akan membantu nak Dede untuk mengawasi mereka.." jawab mbah Sastro.


"Terimakasih guru. Kalau guru berkenan, nanti selepas sholat isya' aku akan mengajak teman-teman untuk bertemu dengan guru, bagaimana menurut guru..?" tanya Dewa.


"Hehhehhe.. Baiklah, undang mereka ke musholla sebelum isya', nanti setelah jamaah sholat isya', kita bicarakan semuanya.. Mari kita duduk di dalam, sekalian minum kopi.." ucap mbah Sastro sambil berjalan menuju rumah.


Dewa mengikuti mbah Sastro dari belakang, kemudian dia duduk di kursi panjang yang ada di ruang tamu rumah gurunya. Mbah Sastro segera menemui Dewa setelah mengambil sesuatu dari dalam kamarnya, "Hehhehhehhe... Aku hampir lupa, saat nak Dede ke kota AB nanti, pergilah ke padepokan Tunjung Seto di Desa Prambanan. Temui nyai Tunjung Seto dan berikan ini padanya.." ucap mbah Sastro sambil memberikan sebuah bungkusan berwarna hitam.


"Hehhehhehhe.. Nak Dede akan mengetahuinya saat berada disana. Ajaklah juga calon istrimu dan sahabatnya kesana, nak Dede juga boleh mengajak sekalian adikmu kesana.." jawab mbah Sastro.


Dewa dan mbah Sastro mengobrol hingga menjelang magrib sebelum akhirnya Dewa berpamitan kepada gurunya.


*****


Sesuai dengan yang dikatakan mbah Sastro, Yuma bersama dengan yang lainnya berkumpul di musholla sebelum waktu sholat isya', "Emang ada apa bos, mengapa bos minta kami berkumpul disini..?" tanya Yuma heran.


"Sudahlah, kalian semua akan tau nanti. Sekarang ambil air wudhu, kita bersiap jamaah sholat isya' dulu. Tiara kamu pinjam mukena Naia atau Silvia gih, mumpung mereka berdua sedang halangan.." ucap Dewa.


Seperti biasa, mbah Sastro segera memimpin jamaah sholat isya', dan setelah selesai berjaah, mereka berkumpul di teras muholla.


"Bos, bukankah itu mbah Sastro..?" tanya Roni.


"Benar, kamu mengenalnya..? Beliau adalah guruku.." jawab Dewa.

__ADS_1


Wajah Roni pucat karena kaget mendengar jawaban Dewa, demikian pula dengan Loreng, "J-jadi mbah s-Sastro adalah guru bos..? Waduh a-aku...." ucap Loreng terbata-bata.


"Ada apa dengan kalian..? Kalian ketakutan seperti melihat hantu gitu..?!" bentak Yuma.


Belum sempat Roni dan Loreng menjawab, mbah Sastro keluar dari dalam musholla menghampiri mereka. Roni dan Loreng langsung bersujud di hadapan mbah Sastro sambil memohon maaf kepada mbah Sastro, "Aku minta maaf kepada mbah Sastro atas apa yang pernah aku lakukan kepada mbah. Maafkan aku mbah, aku benar-benar dibutakan oleh uang waktu itu.." ucap Roni dan Loreng hampir bersamaan.


Dewa heran melihat perilaku kedua anak buahnya itu, "Ada apa ini sebenarnya..? Roni, Loreng apa yang terjadi..?" tanya Dewa heran.


"Bos, maafkan aku, aku benar-benar khilaf waktu itu. Dulu aku pernah diperintah Suwarno untuk menghajar mbah Sastro dengan imbalan uang. Dan aku menghajar beliau hingga babak belur, kemudian aku dan Loreng meninggalkan beliau begitu saja.." ucap Roni.


Dewa hampir saja memukul Roni jika mbah Sastro tidak menghentikannya, "Kalian ini..!! Kok bisa kalian melakukan ini kepada guruku.." ucap Dewa geram. Seandainya saja tidak di musholla, mungkin Dewa sudah memaki Roni dan Loreng.


"Hehhehhe... Sudahlah, kamu tidak perlu marah. Mereka melakukan itu jauh sebelum mereka mengenalmu. Sekarang aku melihat mereka sudah berubah, dan itu karena bimbinganmu. Jadi tidak ada alasan kamu marah hingga memukul mereka.." jawab mbah Sastro sambil tersenyum.


Mendengar penuturan mbah Sastro, amarah Dewa mereda, "Roni, Loreng, maafkan aku. Aku sudah berbuat melebihi batas tanpa menanyakan kepada kalian dahulu.." ucap Dewa pelan.


"Kami yang minta maaf bos, kami benar-benar buta waktu itu. Dan kami mohon maaf mbah, aku benar-benar menyesal. Tapi mengapa waktu itu.......?" mbah Sastro segera memotong ucapan Loreng.


"Hehhehhe.. Sudahlah, itu sudah sangat lama sekali, aku sudah memaafkan kalian sebelum kalian meminta maaf.." ucap mbah Sastro.


"Maaf mbah, jika bos Dewa adalah murid mbah, berarti kemampuan mbah sangatlah tinggi. Tapi mengapa mbah tidak melawan kami waktu itu..?" tanya Roni.


"Hehhehhehhe.. Jika aku melawan kalian, maka tidak akan ada penyesalan di hati kalian, dan kalian pasti akan terus menyimpan dendam padaku. Dan saat itu aku yakin bahwa suatu saat kalian pasti akan bertobat, bertemu dengan orang yang tepat dan menunjukkan jalan kepada kalian.." jawab mbah Sastro sambil tersenyum.


Dewa menarik nafas panjang kemudian memperkenalkan teman-temannya satu persatu, "Ini teman-teman yang aku ceritakan tadi guru. Yang tinggi besar itu bernama Yudha, dia juga biasa dipanggil Yuma. Yang ada di sebelahnya adalah Faruq, Lukman, Sandhi dan yang paling cantik ini adalah adikku, Tiara dan dua mereka berdua, guru sudah mengenalnya, sedangkan mereka berdua ini adalah bang Kosim dan Icong, mantan petarung yang sekarang menjadi instruktur di sasana milik Roni. Mereka adalah teman-teman terbaikku guru.." ucap Dewa.


"Jadi beliau adalah guru dari bos..? Lalu bagaimana kami harus memanggil beliau..?" tanya Yuma.


"Kalian bebas memanggilku apa, mbah boleh, kakek boleh, apapun sesuka kalian.." jawab mbah Sastro.


"Jadi aku ingin kalian belajar tentang kekuatan spiritual kepada beliau. Aku khawatir jika hanya mengandalkan kekuatan kalian sekarang, kalian tidak akan mampu menghadapi kekuatan kegelapan.. Jadi apapun yang diajarkan mbah Sastro, kalian harus mengikutinya dengan benar.." ucap Dewa.


"Apakah kekuatan kegelapan begitu hebat bos..?" tanya Loreng.


"Bang Kosim pernah berhadapan dengan pemilik kekuatan kegelapan, tanyakan sendiri nanti kepada bang Kosim.." jawab Dewa.

__ADS_1


Disaat Dewa memperkenalkan apa itu kekuatan spiritual, mbah Sastro melihat Yuma dan yang lainnya satu per satu. Tentunya mbah Sastro ingin tau keadaan sebenarnya dari mereka, agar jangan sampai mbah Sastro mengajari orang yang salah sehingga memyalahgunakan kekuatan yang diajarkan olehnya.


__ADS_2