
Beberapa orang polisi yang berusaha masuk ke dalam bank melalui pintu belakang disambut dengan tembakan oleh dua orang perampok yang membuat beberapa dari mereka menderita luka tembak di badannya. Perampok itupun tertawa lebar setelah berhasil menembak beberapa polisi itu.
Waktu terus berlalu, sekitar hampir satu jam mereka beraksi. Mereka pun hendak pergi setelah berhasil menguras uang yang ada di Bank of Asia, "Hahahaha.. Bagaimana uang sudah siap semua..?" tanya pemimpin mereka.
"Sudah bos.. Lumayan, hari ini kita berhasil mendapat lebih banyak dari yang kita dapatkan di kota S minggu lalu.." jawab yang lainnya.
"Jadi mereka sudah sering beraksi..? Setidaknya sudah beberapa kali mereka melakukan ini. Tapi bagaimana mereka selalu
dari kejaran polisi..?" gumam Dewa dalam hati.
Dengan persepsi jiwanya, Dewa mempelajari setiap apa yang mereka kerjakan dan menyusun strategi untuk meningkatkan keberhasilan melumpuhkan mereka tanpa menimbulkan korban diantara pengunjung bank, "Aku sudah mengunci mereka dengan persepsi jiwaku. Hanya butuh satu gerakan yang melupuhkan empat orang anak buahnya dan menyerang pimpinan mereka.." gumam Dewa dalam hati sambil melihat sekeliling.
Dewa melihat beberapa customer servise wanita menggunakan tusuk rambut untuk sanggul mereka dan beberapa pegawai laki-laki mengantongi pulpen. Pada saat perampok yang bertugas mengawasi sandra sendang berbicara dengan pimpinannya, Dewa meminta Naia untuk meminjam tusuk rambut customer servis tersebut dan meminta Silvia meminjan pulpen kepada pegawai laki-laki.
"Ssstttt.. Bisa pinjam itu..?" bisik Naia sambil memberi kode kepada salah seorang customer servis. Wanita itu paham apa yang dimaksud Naia dan segera meminta tusuk rambut teman-temannya. Demikian juga dengan Silvia yang memberi kode kepada pegawai bank laki-laki untuk meminjam pulpen yang mereka kantongi, lalu menyerahkan barang-barang tersebut kepada Dewa. Dewa menggenggam enam tusuk rambut dan empat pulpen kemudian menyalurkan kekuatan spiritualnya ke dalam benda tersebut.
Sementara itu, pemimpin perampok kembali berteriak kepada polisi yang masih berjaga di depan bank, "Kalian masih belum pergi dari sini..? Kalian mau main-main denganku..?" teriak pimpinan tersebut kemudian dia menarik seorang pengunjung wanita dan mendekapnya sambil menodongkan pistol ke arah kepala wanita itu.
"Aaaaahhhh.. A-ampuuunn.. Jangan tembak saya.. Ampun.." teriak wanita itu sambil memohon.
Dengan menggunakan pengeras suara tangan, komandan polisi berusaha untuk bernogoisasi, "Lepaskan dia, apa yang kalian minta sedang kami usahakan. Sekarang anggota kami sedang menyiapkan akses jalan kepada kalian.." jawabnya.
"Dalam lima menit kalian tidak pergi dari sini, maka akan kuledakkan kepala wanita ini.." ancam pimpinan perampok itu.
Perampok-perampok itu telah selesai melakukan aksinya, mereka berkumpul di dekat pimpinannya sambil menunggu polisi-polisi itu meninggalkan lokasi bank. Para perampok itu merasa aksinya telah berhasil dan tertawa puas melihat hasil rampokan mereka, kesempatan itu tidak disia-siakan Dewa. Setelah memakai maskernya, dengan sekali gerakan Dewa melempar empat tusuk rambut kearah siku kanan empat perampok itu.
Whuuungg.. Whuuung.. Jleeeeebb.. Jleeeebb..
Whuuss.. Swiiingg.. Slaaaaapp.. Jleeeeeebb..
Keempat perampok itu pun mengerang kesakitan, "Aaarrggghh... Tanganku.. Aaaarrrghh.."
"Aaarrggghh... Sakiiiitt.. Aaaarrrghh.." teriak keempatnya saat tusuk rambut yang dilempar Dewa menancap tembus ke siku mereka dan senjata merekapun jatuh.
Sesaat setelah melempar tusuk rambut, dengan satu tarikan nafas Dewa langsung melempar empat pulpen yang dipegangnya mengarah ke belakang lutut mereka. Pulpen melesat dengan cepat menancap hingga tembus ke lutut dan membuat keempatnya ambruk sambil mengerang kesakitan.
Whuuungg.. Swiiingg.. Jleeeeebb.. Jleeeebb..
Whuuss.. Whuuuss.. Slaaaaapp.. Jleeeeeebb..
Bruuugg.. Bruuuuugg..
"Aaaaarrgg.. Kakiku... Kakiku..."
"Aaarrggghh... Sakiiiitt.. Kakiku.."
"Aaarrggghh... Lututku.. Aaaarrrghh.." teriak mereka sambil terus memegang lutut dan sikunya yang tertembus tusuk rambut dan pulpen.
Mendengar erangan anak buahnya, pemimpin perampok itu pun menoleh kepada mereka, dan mendapati Dewa yang berdiri. Dewa tidak membuang kesempatan, dengan sekali gerakan, dia melempar dua barang terakhir ke arah siku dan kaki pemimpinnya, tapi dengan gesit pemimpin itu berhasil menghindarinya, dan membuat wanita yang menjadi sandranya lepas. Serangan Dewa hanya menimbulkan luka gores di tangan dan merobek celananya.
Craaaassshh.. Sraaaakk..
Dengan sangat marah, pemimpin perampok itu mengarahkan senjatanya kepada Dewa, "Keparaaatt..!! Mati kau..!!" teriaknya sambil menekan pelatuk senjatanya. Dengan langkah kalimasada Dewa bergerak secepat kilat dan menendang tangan pemimpin perampok, sehingga tembakannya mengarah ke atas.
Dooorr.. Doorr..
__ADS_1
Dewa segera menyusulkan pukulannya ke arah perut perampok itu.
Jbuuuuugg.. Braaaaangggg..
Senjata yang dibawa perampok itu pun terjatuh dan dia terpental ke belakang menabrak kursi tunggu. Fisik yang kuat membuat perampok itu bangkit. Dia berdiri dan mancabut pisau dari samping pahanya.
"Bajingaaann..!! Kau bukan orang itu, siapa kau..!!" teriaknya sambil merangsek maju menyerang Dewa.
Serangannya sangat cepat, tapi dengan mudah Dewa dapat menghindari dan menangkis setiap serangannya.
Sreeeeett.. Ctaaapp.. Ctaaakk..
Dan akhirnya Dewa berhasil mendaratkan tendangannya ke arah rahang perampok.
Praaaaakk..
Pemimpin perampok itu terhuyung-huyung mundur beberapa langkah. Dengan langkah kalimasada, Dewa berpindah ke belakang perampok itu, kemudian menyerang pinggang dan menendang lutut samping perampok itu.
Seet.. Jdaaaaaaggg.. Kraaaaaakkk..
"Aaaaaaarrggghh..." dia berteriak kesakitan.
Lutut yang bergeser membuatnya tidak kuat menahan beban tubuhnya sehingga perampok itu jatuh ke arah depan. Tapi sebelum dia jatuh, Dewa berpindah ke depan orang itu.
Seeettt..
Dan dengan kekuatan spiritualnya Dewa memukul ke arah dada perampok itu hingga membuat dia terpental dan muntah darah.
Jbuuuuuggg...
Pemimpin perampok itu jatuh menimpa salah satu meja customer servise. Rompi anti peluru yang dia pakai tidak bisa menahan pukulan Kalimasada milik Dewa.
Bruaaaaakk..
"Huuuuuaahh.. Uhhuk.. uhhuk. S-siapa k-kk.." pimpinan perampok itu terbatuk-batuk sambil memuntahkan darah segar sebelum dia pingsan.
Melihat perampok-perampok itu sudah dikalahkan, para sandra langsung berlari berhamburan keluar bank. Polisi segera merangsek masuk ke dalam bank untuk menangkap para perampok itu.
"Cepat keluar.. Perampoknya mati itu.."
"Awas kaca itu, hati-hati jangan dorong-dorong dong.." teriak pengunjung.
Melihat keadaan di dalam bank, komandan polisi segera memerintahkan anak buahnya, "Unit satu, unit dua Cepat masuk ke dalam.. Sepertinya perampok-perampok itu sudah tumbang, ringkus mereka semua. Unit tiga lindungi orang-orang itu, kumpulkan di samping mobil dalmas, lalu data mereka.." perintahnya
Situasi yang tidak terkendali saat para sandra berlarian berebut keluar bank, dimanfaatkan Dewa untuk mengajak Naia dan Silvia keluar dari bank dengan ikut berkerumun diantara orang yang ingin keluar, "Ayo cepat.. Mumpung rame, sekalian kita pergi. Kita langsung ke mall aja, kamu hubungi Nuraini.." ucap Dewa kepada Naia dan Silvia sambil menggandeng mereka keluar menuju mall.
Suasana chaos dan teriakan histeris para sandra membuat polisi hanya fokus kepada para perampok tidak begitu peduli kepada Dewa, Naia dan Silvia yang keluar dari dalam bank.
Sementara itu Dewa, Naia dan Silvia sudah menginggalkan Bank of Asia, komandan polisi memerintahkan kepada anak buahnya untuk mencari Dewa, "Cepat temukan orang yang tadi melumpuhkan mereka semua. Tanya kepada semua pengunjung dan pegawai bank dimana orang itu.." perintah komandan polisi.
"Mereka tidak tau dimana orang itu ndan. Tapi ciri-cirinya adalah seperti ini.." jawab seorang polisi menjelaskan ciri-ciri Dewa.
"Maaf komandan, ini barang yang dipakai orang itu untuk melumpuhkan para perampok itu.." ucap petugas lain yang menunjukkan sebuah plastik berisi tusuk rambut dan pulpen yang digunakan Dewa untuk menyerang pimpinan perampok.
"Cepat temukan sidik jarinya. Mungkin kita masih bisa melacak siapa orang itu.." perintah komandan polisi.
__ADS_1
Kemudian beberapa petugas polisi terlihat mendata para pengunjung dan menanyai para saksi kejadian. Para pegawai bank pun menceritakan bahwa tusuk rambut itu punya mereka yang tadi dipinjam.
"Siapa orang itu..? Bagaimana aku membuat laporannya nanti..?" gumam komandan polisi.
Tak lama berselang petugas medis dari Rumah Sakit datang ke lokasi kejadian dan segera mengobati petugas keamanan bank dan beberapa polisi yang tertembak.
*****
Setelah sampai di area mall, Dewa segera masuk ke sebuah kafe, sesaat kemudian Nuraini segera menyusul mereka ke kafe. Mereka tidak jadi jalan-jalan dan berbelanja di mall samping Bank of Asia. Mereka akhirnya memutuskan untuk langsung pulang. Dalam perjalanan pulang, Naia, Silvia dan Nuraini saling bercerita tentang kejadian waktu di bank tadi. Naia dan Silvia berulang kali memuji aksi Dewa melumpuhkan kelima perampok tadi. Siaran radio lokal pun juga memberitakan tentang kejadian di Bank of Asia, bahkan di medsos menjadi berita viral dalam waktu singkat. Tapi beruntung tidak ada foto atau rekaman video saat Dewa beraksi tadi, hanya beberapa komentar orang-orang yang kebetulan mengalaminya. Tentunya banyak bumbu-bumbu berupa komentar negatif yang menyertainya.
"Wah.. Alhamdulillah Nur tidak mengalaminya tadi.." ucap Nuraini.
"Iya beruntung kamu Nur, aku tadi takut setengah mati. Apalagi dengar suara tembakan, suaranya bikin sakit di telinga.." sahut Naia.
"Nur tadi denger suara tembakan, pengen sih lihat langsung, tapi sama polisi dilarang mendekat, disuruh dibelakang garis polisi.." jawab Nuraini.
"Bentar aja udah jadi viral medsos. Waaahh.. Apaan orang ini, main komentar seenaknya aja.." gerutu Silvia.
"Udah, gak usah ditanggapi. Biarkan aja, jangan ikut komentar ya..?" sahut Dewa.
"Enggak mas, gak pengen komentar. Jengkel aja bacanya, masak dia bilang yang lumpuhkan perampok itu sebenarnya mantan anggota perampok juga yang sebelumnya gak dapat bagian. Makanya habis lumpuhkan langsung kabur biar gak ketahuan kalau dia mantan anggota mereka.. Kan kurang ajar itu namanya, emang dia tau apa, asal bunyi aja tuh orang..!!" protes Silvia emosi.
"Hahahaha.. Ya dia gak sepenuhnya salah, orang-orang tadi itu tentara bayaran. Mereka sama seperti aku, sama-sama menjalani pelatihan tingkat ekstrim. Bedanya mereka dilatih lalu disewakan untuk melakukan pekerjaan apapun, kalau aku dilatih untuk mengamankan negara.. Jadi gak salah juga komentar tadi, toh sekarang aku juga buronan kan..?" jawab Dewa.
"Iya bener mas, memang mas kan buronan, dan sebentar lagi kita akan laporkan mas Dewa.." sahut Naia.
"Eh maksudmu gimana Nai..?" tanya Silvia.
"Ya kita harus laporkan Vi, mas Dewa itu kan buronannya pak Wira karena bawa kabur putrinya yang cantik.. Hihihi.." jawab Naia
"Loh.. Kok beda ya sama berita yang aku baca di tabloid tadi..?" sahut Dewa pura-pura serius.
"Berita apaan mas..?" tanya Naia serius.
"Tadi aku di bank itu baca berita. Katanya pak Wira menjadikanku buronan bukan karena bawa kabur putrinya, tapi karena ketahuan lihat putrinya yang lagi mandi.." jawab Dewa.
"Mas Dewaaaa... Iihhhh.. Masih aja diinget-inget sih.." protes Naia..
"Hahahaha.. Yaudah, kita belanja di pasar aja ya..? Buat kebutuhan harian.." ucap Dewa dijawab dengan anggukan mereka bertiga.
*****
Dewa langsung menyandarkan tubuhnya di kursi panjang dan memejamkan matanya. Sementara mereka bertiga sibuk menurunkan barang belanjaannya yang lumayan banyak dari mobil. Naia duduk di sebelah kanan Dewa sesaat setelah mengeluarkan barang dari dalam mobil, "Mas... Makasih ya udah temani kita ke bank sama belanja tadi.." ucap Naia manja.
"Kayaknya gak cukup makasih deh, sebentar kalian disini aja dulu, aku akan buatin minuman.." sahut Silvia.
Sementara itu Nuraini tampak kerepitan membawa barang belanjaan dari mobil, "Yeeee... Malah pacaran kalian ini, bantuin dong kak, berat nih.." protes Nuraini.
"Eh.. Iya maaf ya adikku.. Hihihi.. Sini kakak bantuin.." jawab Naia.
Naia pun segera berdiri dan membantu Nuraini mengangkat barang-barang kebutuhan rumah ke dapur. Dewa hanya geleng-geleng kepala melihat mereka berdua, lalu lanjut memejamkan matanya sambil memikirkan kejadian di bank tadi, "Kalau mereka benar tentara bayaran, untuk apa mereka merampok..? Bukankah gaji mereka sangat tinggi..? Atau memang sengaja ada yang menyewa mereka untuk melakukan ini..?" tanyanya dalam hati.
Dewa menarik nafas panjang dan membuangnya perlahan. Hal itu dapat membuat pikiran dan tubuh menjadi rileks, "Terlalu banyak yang kupikirkan, sampai aku tidak sempat memikirkan adikku sendiri. Nur justru sering berkorban untukku. Tapi aku bahkan tidak pernah bertanya sekalipun tentang dirinya, siapa pacarnya, bagaimana kuliahnya.. Hhhuuffh.. Maaf Nur, aku mungkin bukan kakak yang baik, yang tidak bisa kamu jadikan panutan. Apa aku kenalkan saja sama Niko ya..?" gumam Dewa dalam hati.
Beberapa saat kemudian mereka keluar dari dapur, Silvia membawa nampan berisi secangkir kopi dan tiga gelas teh hangat. Siang itu mereka duduk sambil mengobrol santai di ruang tamu.
__ADS_1