
Pagi itu setelah menerima akta pendirian perusahaan dan mendapatkan arahan dari sang Notaris untuk mengurus legalitas perusahaan, Dewa bersama Naia dan Silvia menuju pusat kota AG untuk mencetak buku panduan operasional perusahaan dan mengurus ijin pendirian perusahaan di kantor pemerintah kota AG. Sementata itu, dibaeah komando Roni dan Yuma, Loreng dan anak buahnya membersihkan lokasi gudang yang rencananya akan digunakan sebagai tempat pelatihan personel keamanan.
Sistem pengurusan satu pintu yang diterapkan pemerintah daerah AG mempermudah Dewa dalam mengurus legalitas perusahaan. Pada awalnya semua berjalan lancar, hingga saat Dewa mengurus surat ijin usaha, mulai terjadi masalah. Oknum nakal pejabat pemerintah mulai menggunakan kekuasaannya untuk mendapatkan keuntungan pribadi setelah mengetahui usaha yang akan Dewa jalankan berskala besar.
"Jadi begini mas, untuk usaha yang akan mas jalankan ini pasti akan menimbulkan dampak negatif terutama bagi kelestarian lingkungan. Yang jelas limbah yang dihasilkan pasti akan sangat tinggi dan dapat merusak ekosistem.." ucap pejabat bernama Sarko mulai mencari-cari alasan.
"Dampak negatif..? Limbah..? Bapak jangan mengada-ada. Yang saya dirikan hanya pusat pelatihan dan pendidikan tenaga keamanan, dan usaha kemitraan pertanian.." protes Dewa.
Sarko tergagap saat Dewa mulai menjelaskan jenis usahanya, "Eh, yang jelas kan itu mas, pasti akan ada banyak orang yang ikut pelatihan, jadi pasti akan ada penumpukan sampah disana. Dan usaha kemitraan pertanian yang akan mas jalankan pasti juga memakai pupuk kimia untuk meningkatkan produksinya. Pasti dampak lingkungannya juga besar.. Dan juga di kota AG ini bisa terjadi kekurangan bahan pangan kalau perusahaan mas membeli semua beras milik petani.." ucapnya.
"Apakah bapak tidak membaca analisa dampak lingkungan yang saya buat..? Sudah dijelaskan bagaimana manajemen sampah di tempat diklat tersebut dan penggunaan pupuk organik untuk pertaniannya.." kemudian Dewa menjelaskan sistem kemitraan yang akan dia jalankan nantinya, "Mungkin bapak memang belum membaca analisis usaha saya. Jadi perusahaan kami nanti akan menyediakan bibit dan peralatan pertanian, kemudian kami mendorong petani untuk mendirikan kelompok tani yang terintegrasi, memiliki ternak yang kotorannya akan diolah oleh kelompok tersebut sebagai pupuk tanaman, bahkan kami akan memberikan pelatihan produksi pupuk organik dan pengolahan limbahnya.. Hasil pertanian memang akan dibeli oleh perusahaan kami, tapi prosesnya melalui koperasi atau badan usaha desa yang dikelola oleh kelompok tani tersebut. Kemudian hasil dari proses pengolahan hasil pertanian berupa beras akan dijual kembali ke masyarakat desa melalui badan usaha milik kelompok tani tersebut sesuai kebutuhan masyarakat di desa tersebut. Dengan seperti itu, maka keuntungan bagi petani bisa lebih besar dan pasti harga beras akan lebih stabil.." Dewa menjelaskan lebih terperinci.
Sarko dengan entengnya mwnjawab, "Ah.. Itu kan hanya analisis usaha diatas kertas saja, penerapannya belum tentu seperti itu. Kalau seperti itu, mas sama saja mematikan usaha yang lain, seperti toko pertanian, pengusaha beras dan persewaan alat pertanian.." ucapnya menyepelekkan.
"Jadi intinya pemerintah daerah tidak bisa menyetujui usaha yang akan saya jalanlan..?" tanya Dewa.
"Sebenarnya masih ada cara agar ijin itu keluar, tapi tentunya biayanya juga tidak sedikit. Atau begini saja, mas bisa melibatkan pejabat pemerintah daerah di dalam perusahaan mas, misalnya saya. Pasti perusahaan mas akan lebih aman kedepannya. Gak harus banyak, cuma 10% saham saja.." ucap Sarko mulai menampakkan tujuan yang sebenarnya.
"Dewa terdiam terlihat sedang berfikir, " Sungguh tidak tau malu pejabat ini, bisa-bisanya dia minta gratis 10% saham..? Padahal mereka digaji oleh negara, tapi dia malah menggunakan kekuasaannya untuk mencari keuntungan pribadi. Baik, aku akan menemaninya bermain.." gumam Dewa dalam hati.
"Bagimana mas..? Apakah bisa dipahami apa yang saya katakan tadi..?" ucap Sarko.
"Baik, lebih baik saya bayar saja pak, kalau sharing saham, saya tidak yakin pemodal ini mau. Kira-kira berapa biaya yang harus saya keluarkan agar ijin usaha saya bisa diterbitkan pak..?" tanya Dewa.
"Agak lumayan sih mas, sediakan saja antara 1-2 Meter, paham kan maksud saya..?" jawabnya.
"Bangsat, dia meminta satu sampai dua miliar untuk ijin usaha ini. Benar-benar mereka lebih busuk dari sampah.." gumam Dewa dalam hati. Dewa menarik nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan Sarko, "Kalau hanya segitu gak masalah pak, saya kira lebih dari itu. Baik saya akan bayar setelah ijin usaha saya jadi.." ucap Dewa.
"Wah tidak bisa seperti itu mas, bagaimanapun ya setidaknya 50% dimuka baru proses berjalan. Sisanya boleh lah saat ijin usaha jadi.. Masalahnya banyak yang harus ditutup mulutnya mas.." jawab Sarko.
"Oh, jadi seperti itu ya pak..? Baiklah saya akan bicarakan dulu dengan pemegang saham lainnya. Saya minta nomer kontak bapak, agar lebih mudah dalam berkomunikasi kedepannya.." ucap Dewa
Setelah menyimpan nomor kontak Sarko, Dewa segera meninggalkan kantor tersebut dan pergi menjemput Silvia yang menunggu di percetakan. Setelah itu mereka bertiga kembali ke Lerengwilis. Dalam perjalanan mereka membicarakan yang baru saha mereka alami, "Bagaimana urusan ijin usaha mas..? Ini tanda daftar perusahaan yang aku urus udah jadi. Artinya perusahaan kita sudah terdaftar.." tanya Naia.
__ADS_1
"Pejabat terkait memberiku dua pilihan, memberi dia saham atau membayar 2 miliar untuk ijin usaha itu.." Dewa menceritakan pembicaraannya dengan Sarko sang oknum pejabat sampah itu.
"Loh, bukankah itu penyalahgunaan wewenang..? Lalu rencana mas gimana..? Atau masalah ini kita bicarakan dulu dengan papa besok..?" tanya Naia.
"Ya rencanaku juga seperti itu. Tapi aku juga ingin menjebak oknum sampah itu, nanti kita bicarakan di sasana.." jawab Dewa.
*****
Dewa segera mengumpulkan tim nya sesaat setelah sampai di sasana. Tidak butuh waktu lama, mereka berkumpul di dalam ruangan kantor sasana. Kemudian Dewa menceritakan apa yang terjadi saat dia mengurus ijin usaha perusahaannya, "Begitulah, dia sengaja memanfaatkan jabatannya untuk menekan kita. Nah, rencanaku aku ingin menjebak dia, bagaimanapun pejabat sampah seperti Sarko harus mendapatkan karmanya.." ucap Dewa.
"Apa rencana bos untuk menjebak dia..?" tanya Yuma.
"Aku akan berpura-pura menuruti apa yang dia mau. Disini aku butuh bantuan kalian untuk menjalankannya. Ron, bagaimana kepala daerah disini..? Apakah dia termasuk orang yang berintegritas atau sejenis dengan bawahan sampahnya itu..?" tanya Dewa.
"Bupati sangat berintegritas bos, tapi entah kenapa akhir-akhir ini beliau jarang turun ke bawah lagi. Yang aku dengar anaknya sedang sakit.." jawab Roni.
"Kebetulan, kalau seperti itu bawahannya yang kurang ajar. Baik, begini rencannaya.." Dewa menjelaskan rencananya menjebak Sarko kepada Yuma dan teman-temannya. Beberapa saat kemudian, "Maaf Ron, untuk kali ini biar ditangani sama Yuma dan tim nya.." ucap Dewa.
"Siap bos, hal seperti yang bos katakan tadi, hanya kalian orang-orang terlatih yang bisa melakukannya.. Hehehehe.." jawab Roni.
"Setelah aku bicara dengan pak Wira.." jawab Dewa.
Disaat mereka sedang membicarakan rencana untuk menjebak Sarko, Icong dengan berteriak-teriak sambil mengetuk pintu ruang kantor, "Bos..!! Gawat bos..!!"
Roni membuka pintu sambil memarahi Icong, "Ada apa kamu teriak-teriak..! Kamu tidak tau kami sedang membahas masalah penting..?!" bentak Roni.
"M-maaf Ron, tapi ini darurat. I-itu Bag-bagio.. Bos gawat bos, Bagio menyerang semua orang yang sedang membersihkan gudang.." ucap Icong.
"Bukankah jumlah kalian banyak..? Masak gak bisa melumpuhkan dia..?!" ucap Roni.
Dewa beranjak dari kursinya dan mendekati Icong, sambil menepuk pundak Icong, Dewa berkata, "Ceritakan dengan jelas apa yang sudah terjadi.." ucap Dewa.
"Itu bos, saat kita sedang bersih-bersih, mendadak Bagio mengamuk dan menyerang siapun. Beberapa orang, termasuk Kosim dan Lireng meringkusnya, tapi tidak ada yang bisa menghentikannya. Bahkan Loreng beberapa kali dibanting dan dilempar oleh Bagio. Selain itu, ada tiga orang yang sepertinya kesurupan bos, mereka tertawa tapi suaranya cewek, salah satu dari mereka malah menuduh kami memperkosanya.." ucap Icong.
__ADS_1
"Wah gawat.. Baik sekarang ayo kita kesana. Ron, Yud, kalian ikut. Sisanya tunggu disini.." ucap Dewa kemudian pergi ke gudang.
*****
Tidak butuh waktu lama untuk sampai di gudang. Dewa melihat orang-orang dipimpin Kosim dan Loreng mengepung Bagio dan ketiga orang yang kesurupan itu. Dewa berjalan ke arah Bagio, tapi tiba-tiba Bagio maju dan menyerang Dewa dengan cakarnya.
Whussss.. Settttttt..
Dewa dengan mudah menghindari serangan Bagio, kemudian mendorong dada Bagio sambil memasukkan kekuatan spiritualnya dan membuat Bagio berteriak, "Aaarrrgghhh.. Panaaaaaasss..!!" setelah itu Bagio pun ambruk tak sadarkan diri.
"Kalian, pegang ketiganya. Mereka tidak seperti Bagio..!" ucap Dewa.
Loreng dan Kosim dibantu oleh anak buahnya memegangi ketiga oramg yang kesurupan itu, kemudian hal yang sama dilakukan kepada kegitanya. Hal yang sama juga terjadi kepada ketiganya, mereka berteriak kepanasan, "Ampuuunn.. Panaaaasss...!!"
Dewa melihat sekeliling, yang yang membuatnya terkejut, dia melihat ada bangunan lain di gudang itu. Bangunan yang sangat megah dan di depannya terlihat ribuan orang sedang berdiri seperti sedang melindungi bangunan itu.
"Hari ini cukup..! Sekarang kalian pulang saja. Pekerjaan disini kita lanjutkan besok saja.. Reng, bawa Bagio dan ketiganya ke sasana.." ucap Dewa.
Merekapun meninggalkan gudang.
*****
Di dalam sasana, Dewa memberikan air putih kepada Bagio dan ketiganya, kemudian bertanya kepada Bagio, "Sebenarnya apa yang terjadi..?"
"Aku juga tidak tau bos, saat aku membersihkan semak yang ada di sebelah utara, tiba-tiba ada yang mencekikku kemudian aku tidak tau lagi apa yang terjadi. Dan aku tersadar sudah ada di sasana ini bos.." jawab Bagio.
"Kalau kalian, apa yang terjadi..?" tanya Dewa.
"Aku melihat perempuan cantik menangis. Dia memakai baju putih panjang, tapi di sekitar *********** terlihat ada bercak darah. Aku pikir itu Yuni, keponakan Bagio. Setelah aku datangi, tiba-tiba aku tidak ingat lagi apa yang terjadi.." ucap Darto.
"Sepertinya perempuan itu yang gantung diri di gudang. Lebih baik malam ini aku ke gudang, aku akan meruwat perempuan itu agar lebih tenang dan tidak menganggu lagi. Tapi bangunan tadi apa ya, dan siapa mereka..?" gumam Dewa dalam hati.
"Ada apa bos, sepertinya bos tau sesuatu..?" ucap Yuma.
__ADS_1
"Ah.. Hanya berfikir saja, mungkin mereka lupa berdo'a sebelum bekerja, dan tidak permisi sebelum memulai bersih-bersih. Baik nanti malam aku akan meruwat tempat itu.." ucap Dewa sambil tersenyum.