
Mereka berpisah, Roni bersama dengan Yuma, Kosim, Icong, Loreng dan ketiga petarung sasana Lerengwilis langsung menuju kota AG, sedangkan Dewa dan Naia mampir di pusat oleh-oleh membelikan buah tangan buat Nuraini, Silvia dan mbah Binti sebelum menuju kota AG. Beban pikiran tentang keterlibatan komandannya yang selama ini menganggu pikiran Dewa, sedikit terangkat dengan cerita Santoso. Tapi disisi lain, ada masalah baru lagi akan hadapi oleh Dewa, yaitu kekuatan kegelapan yang dimiliki Sakri, "Aku merasa bahwa Sakri bukanlah satu-satunya yang memiliki kekuatan jahat itu. Pasti ada orang selain Sakri yang memiliki kekuatan lebih besar dari Sakri.. Bagaimana aku harus menghadapinya..? Mungkin guru tau juga tentang ini.." gumamnya dalam hati.
"Eh.. Mikir apa sayang..? Kok diem aja..? Pasti mikir belanjaanku yang banyak tadi ya..?" tanya Naia menyelidik.
"Eh.. Ah enggak, kenapa juga dipikir. Toh nanti dibagi-bagi juga kan..? Malah aku seneng kamu sudah bisa tersenyum dan tidak takut lagi.." jawab Dewa.
"Alhamdulillah, selama ada mas disisiku, aku merasa aman..? Coba aku bisa bela diri seperti mas Dewa, pasti kejadian seperti tadi gak akan terjadi.. Maaf ya mas, aku selalu saja membuat mas Dewa khawatir, terima kasih mas sudah melindungi aku.." ucap Naia pelan.
"Kenapa harus berterima kasih..? Kan memang udah kewajibanku buat lindungi kamu..? Selain aku itu sebagai pengawal, kamu adalah milikku yang paling berharga, yang akan selalu aku lindungi dengan nyawaku.." Dewa menjelaskan.
"Loh, aku malah gak merasa mas Dewa itu sebagai pengawalku. Eeee apalagi tadi mas bilang sama si dukun itu kalau aku istrinya mas.." ujarnya dengan wajah tersipu.
"Eh.. Benarkah aku bilang gitu..? Sebentar-sebentar kapan ya..? Yang aku inget itu cuma pas di kamar hotel itu aja. Lainnya entahlah sepertinya aku lupa
.." Dewa pura-pura lupa untuk menggoda Naia.
"Iiiiihh... Mas nakal ih.. Kok itu yang diinget..? Gak ah, lupain yang bagian itu.. Duuuhh kan aku jadi kebayang lagi.." protes Naia manja.
"Hahahaha... Iya-iya aku inget semuanya kok.. Yaa gak ngerti juga kenapa tiba-tiba kata-kata itu muncul di pikiranku terus ya diucapin aja.." jawab Dewa santai.
Mereka bercanda disepanjang perjalanan kembali ke kota AG. Dewa memacu mobilnya saat memasuki jalan tol hingga batas kecepatan di jalan tol, sedangkan Naia berulang kali berselfie ria sambil terkadang memfoto Dewa. Setelah setengah perjalanan di jalan tol, Dewa mengajak Naia untuk mampir ke rest area, "Kita mampir rest area ya..? Perutku lapar, dari pagi belum makan apa-apa.." ucap Dewa yang dijawab dengan anggukan Naia.
Dewa memasuki rest area, dan segera memarkir mobilnya, di area parkir food centre yang ada di rest area. Setelah memesan beberapa makanan, mereka duduk sambil bercanda dan terkadang berselfie bersama, "Gimana kabar Silvia dan...." belum sempat Dewa selesai ngomong, Naia memotong pembicaraannya, "Oh.. Ceritanya inget sama nyonya muda bos nih... hihihihi.." ucap Naia sambil tertawa.
"Eh.. Jadi yang kamu maksud nyonya muda bos itu Silvia..? Kok bisa sih, emang kenapa..? Padahal kan aku juga gak ada apa-apa sama dia.." protes Dewa
"Iya kalau bukan Silvia siapa lagi..? Eeee, Gak ngerti sih mas, apa ini hanya perasaanku aja atau memang bener. Aku ngrasa Silvia itu juga cinta sama mas. Kalau menurut mas gimana sih..?" tanya Naia ingin tau.
Dewa teringat ucapan adiknya, "Eh.. Kok sama seperti yang diucapkan adikku ya..? Apa Nur bilang ke Naia..?" gumam Dewa dalam hati, kemudian dia menjawab pertanyaan Naia, "Eehmmm.. Kalau menurutku sih gak seperti itu, Silvia hanya ingin menghormati aku saja. Ya karena aku lebih tua dari dia, selain itu dia tau kalau aku itu kekasih sahabatnya, kakak sahabatnya dan aku sendiri sudah menganggap dia sebagai saudara perempuan seperti Nuraini.." jawab Dewa serius.
"Tapi kalau ternyata dia beneran cinta sama mas gimana..?" tanya Naia menyelidik.
"Nah itu yang jadi masalah, tapi aku juga gak bisa ngelarang hal itu terjadi. Bagaimanapun cinta itu anugrah dari Sang Maha Welas Asih. Hanya saja jangan sampai salah dengan memaksakan cinta itu sehingga akhirnya hanya menuruti apa yang menjadi hawa nafsunya saja. Kalau seperti itu pasti gak bagus juga kan..?" Dewa berusaha menjelaskan dengan sederhana.
"Gimana maksudnya sih mas..? Mencintai orang yang salah gitu..?" tanya Naia bingung.
__ADS_1
"Gini-gini, kalau memang benar seperti yang kamu bilang, cinta Silvia mungkin akan berakibat tidak baik kedepannya. Seandainya alau aku masih sendiri sih gak pa pa, tapi saat ini kan berbeda. Silvia tau kita saling mencintai, dia tau juga kita udah dijodohkan, sedangkan kamu adalah sahabat dia, maka akibatnya juga gak akan bagus kan..? Hal ini bisa merusak hubungan persahabatan kalian. Dan satu hal lagi, hatiku cuma cukup untuk satu orang aja, dan itu kamu.." jawab Dewa sambil menatap mata Naia, lalu dia melanjutkan ucapannya, "Udah, jangan terlalu berprasangka. Gini aja, kalau kamu ingin tau, kamu bisa tanyakan langsung sama Silvia, ajak ngobrol dia, jadi kamu bisa tau yang sebenarnya.." jawab Dewa sambil tersenyum.
Naia hanya mengangguk dan membalas senyum Dewa. Entahlah apa yang ada di dalam pikiran Naia setelah mendengar ucapan Dewa. Kemudian setelah makan, mereka melanjutkan perjalanan ke kota AG.
*****
Sementara itu di salah satu kamar yang ada di basecamp KKN, Nuraini terlihat sibuk dengan laptopnya. Dia sedang memindahkan foto-foto proyek KKN dan renovasi rumah mbah Binti ditemani dari hp ke laptopnya. Sedangkan Silvia yang terlihat gelisah, dia berulang kali mengubah posisi tidurnya di atas tempat tidur.
"Kamu kenapa Vi..? Dari tadi Nur perhatiin gelisah banget..? Ada masalah kah..?" tanya Nuraini pelan.
"Gak tau Nur, aku bingung, perasaanku gak tenang aja dari tadi siang. Pikiranku kacau Nur.." jawab Silvia gelisah.
"Lho kok aneh..? Kepikiran kak Naia kah..? Udah di wa..?" tanya Nuraini memastikan.
"Iya Nur, Naia, ih.. bener-bener dia tuh.. Dia gak ada kabar dua hari ini, aku wa juga gak bales.. Trus aku wa mas Dewa juga centang satu dari tadi pagi.." jawab Silvia gemes
"Udah berdo'a aja semoga mereka baik-baik saja, lagian ada mas Dewa, Insyaa' Allah semuanya akan aman.. Eeeemm.. Eh Vi, aku boleh tanya gak..?" Nuraini menatap dengan lembut.
"Kalau mau tanya ya tanya aja, kenapa mesti tanya dulu boleh tanya apa gak..? Eh, kok jadi banyak tanyanya..?" canda Silvia menutupi kegelisahannya.
"Hihihi.. Iya juga ya..? Tapi ini pertanyaan sensitif, janji gak marah kan..?" tanya Nuraini lagi.
"Eeee.. Kamu suka sama kak Dewa..? Kamu cinta sama kak Dewa..?" tanya Nuraini serius.
Silvia terkejut dengan pertanyaan Nuraini. Hal yang dia sembunyikan dalam hatinya selama ini ternyata diketahui salah satu sahabatnya itu. Silvia mengambil nafas panjang sebelum menjawab untuk menenangkan hatinya, "Hhmmm... Jujur Nur, aku memang sangat mencintai mas Dewa, bahkan sebelum aku tau kalau itu kakakmu. Gak tau saat pertama kali aku melihat mas Dewa malam itu, aku merasakan ketentraman di hatiku, aku merasa bahwa mas Dewa adalah orang yang sudah aku tunggu-tunggu selama ini. Tapi entah mengapa aku juga merasakan bahwa Naia juga merasakan hal itu. Nur, Aku lebih sayang sama Naia. Aku gak ingin melukai hatinya, lebih baik ku kubur saja perasaan ini dalam-dalam.. Eeehh tapi agaimana kamu tau Nur..? Jangan bilang Naia ya..?" ujar Silvia.
"Eeee.. Sebenarnya feeling aja sih, karena Nur perhatiin, cara kalian memandang mas Dewa itu sama persis, makanya aku buat kesimpulan seperti itu.. Tapi Nur pikir kak Naia sudah tau kalau kamu suka sama kak Dewa. Karena apa yang kamu rasakan itu kak Naia pasti juga merasakannya.." ucap Nuraini. Silvia terdiam, kemudian Nuraini melanjutkan ucapannya, "Eee.. Kamu sakit hati saat tau kak Naia dijodohkan sama kak Dewa?.." tanya Nuraini disambut gelengan kepala Silvia.
"Justru sebaliknya, gak ngerti kenapa aku bahagia banget saat tau ternyata mereka itu ternyata sudah dijodohkan oleh orang tua kalian. Keinginanku itu cuma satu, aku akan melakukan apapun untuk kebahagiaan Naia.." ucap Silvia, Nuraini tersenyum dengan ucapan Silvia.
"Saran Nur sih, lebih baik kamu ceritakan semuanya sama kak Naia, biar gak ada kesalahpahaman diantara kalian nantinya. Nur yakin kak Naia bisa mengerti.." jawab Nuraini.
Sementara itu, setelah perjalanan sekitar hampir tiga jam, Dewa dan Naia sampai di depan basecamp KKN. Naia segera turun dari mobil, sedangkan Dewa tetap di dalam mobil menunggu Naia, Silvia dan Nuraini, "Assalamu'alaikum.." teriak Naia.
"Wa'alaikumsalam.." mereka yang disana kompak menjawab.
__ADS_1
Mendengar suara Naia, Silvia langsung melompat dari tempat tidur dan segera menemui Naia, Silvia langsung memeluk Naia, "Naia.. Aku kangen, tega banget sih gak kasih kabar..? Di wa gak dibuka sama sekali.." ucap Silvia sambil memeluk Naia.
"Eh.. Aku kan cuma dua hari aja perginya, udah segitu kangennya kah..?" jawab Naia heran.
"Kakak sayang.. Ih kak Naia ada yang beda ya, hayoo habis ngapain aja kalian disana..?" goda Nuraini.
"Beda..? Emang apa yang beda..? Hhiih, Nur jangan mulai mikir yang enggak-enggak ya..? Kami gak ngapa-ngapain lah.." jawab Naia gemes.
Kemudian Naia mengeluarkan tas plastik ukuran sedang, lalu berjalan ke arah Ivan dan Oki yang lagi asik merokok di ruang tamu, "Van, Makasih ya udah nge back up kerjaanku. Ini aku bawain oleh-oleh, kalian bagi deh.." ucap Naia sambil tersenyum.
"Waduhh.. Makasih Naia, wah sering-sering pergi aja deh, ntar urusan back up gampang itu.." sahut Ivan lalu membuka tas plastik dan membagi isinya kepada teman-temannya.
"Nur, Vi, ke rumah mas Dewa aja yuk..? Tadi mas Dewa bilang, sebaiknya kita nginep disana aja. Nanti deh aku ceritain detailnya.." ajak Naia.
"Iya bentar, kita kemas barang dulu ya..?" jawab Silvia.
Gak butuh waktu lama, Silvia dan Nuraini pun selesai berkemas. Kami berangkat menuju rumah Dewa.
*****
Begitu sampai rumah, Silvia langsung menuju dapur untuk membuat kopi dan teh saat kami sampai di rumah, sedangkan Naia langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setelah mandi mereka berkumpul di ruang tengah untuk saling bercerita, "Eh.. Kok bersih rumahnya..? Kalian yang bersihkan kah..?" tanyak Dewa kepada Silvia dan Nuraini.
"Silvia kak yang bersihkan, kan aku ngawasi proyek renovasi rumah mbah Binti..?" jawab Nuraini.
"Oh.. Makasih ya Vi, udah dibantu bersihkan rumah.. Lho minggu emang gak libur pekerjanya..?" ucap Dewa
Silvia hanya tersenyum kecil sambil menganggukkan kepalanya. Nuriani menjelaskan kepada Dewa, "Mereka gak pengen libur kak, biar cepat selesai katanya. Semangat banget mereka, apalagi itu Bagio yang selalu kasih semangat teman-temannya.." jawab Nuraini.
"Eh.. Bener yang dibilang Nur, kalian berdua kok kelihatan beda ya..? Hayo kalian ngapain aja disana berdua..?" goda Silvia.
"Ih.. Curiga gitu sih. Beneran kita gak ngapa-ngapain.. Tanya aja sama mas Dewa tuh.. Iya kan mas, kita gak ngapa-ngapain kan..?" jawab Naia berusaha meyakinkan Silvia.
"Tapi emang sih kak, Nur perhatiin kalian makin hari tuh makin beda. Seneng juga sih ngelihatnya, kalian makin akrab, makin mesra. Tapi Nur takut juga, kalian gak bisa kontrol diri kalian.." ucap Nuraini menasehati.
"Iya, makasih ya kamu sudah ingatkan kami.." jawab Dewa.
__ADS_1
Lalu Naia bercerita apa yang sudah dialaminya selama di kota AE kepada Silvia dan Nuraini, "Kalian harus waspad sama Rendi. Aku melihat dia bersama Wawan dan bapaknya itu. Ditambah lagi orang tua mesum itu.. Hiiii.. Jijik aku ngelihatnya.." ucap Naia dengan begidig.
"Makanya mulai malam ini, kalian nginep disini aja. Aku khawatir akan terjadi apa-apa sama kalian.." ujar Dewa.