
Setelah menyelesaikan beberapa urusannya, Dewa berangkat menuju kota AB bersama dengan Naia dan Silvia. Setelah sampai di kota AB, Dewa segera menemui Dunhill yang sudah menunggunya di sasana Yamadipati ditemani Sandhi dan Niko.
"Hahahaha..., Bos besar, bagaimana kabarmu..? Sudah lama kita tidak bertemu, sepertinya bos semakin hebat hingga punya tempat pelatihan seperti ini.." ucap Dunhill berbasa-basi sambil menjabat tangan Dewa.
"Sudahlah, hentikan basa-basimu itu, sekarang saatnya kita bahas masalah pekerjaan.. Sebelumnya aku ingin tau, bagaimana tugas yang pernah aku berikan dulu..?" ucap Dewa sambil duduk.
"Memang bos ini tidak bisa dirayu dengan kata-kata, hehehehe.. Seperti yang bos besar perintahkan, kita sudah melatih ratusan orang, dan saat ini mereka tersebar di wiliyah kota D dan B.." jawab Dunhill.
"Bagus.., bawa sebagian orangmu ke kota AB dan buat jaringan bawah tanah disini. Tapi kamu harus tetap waspada, ada kelompok tersembunyi yang kekuatannya tidak bisa kita remehkan.. Satu hal lagi, dalam dua minggu kedepan, kumpulkan semua hal yang berhubungan dengan kematian wapres.." ucap Dewa.
"Siap bos, aku akan segera mengaturnya. Percayakan saja urusan ini kepada kami. Jika tidak ada lagi yang perlu dibahas, aku akan berkeliling kota ini untuk memahami situasinya.." jawab Dunhill.
"Kalau kamu butuh apa-apa, langsung hubungi Sandhi saja. Dia yang akan membantumu menyiapkan semua yang kamu butuhkan.." sahut Dewa. Dunhill hanya mengacungkan jempolnya sambil pergi meninggalkan ruang pertemuan.
"Siapa sih dia mas..? Tidak sopan sama sekali dia.." gerutu Niko.
Dewa menggelengkan kepalanya kemudian menjawab pertanyaan Niko, "Dia Daniel atau lebih dikenal dengan Dunhill. Dia mantan komandan tentara bayaran yang akhirnya dia dan anak buahnya mengakui kekalahannya dan bersedia tunduk pada pasukan Ganendra. Dia adalah pemimpin geng Serigala Darah di kota D, geng yang aku dirikan setelah dia menyerah kepadaku.." jawab Dewa.
"Tunduk pada pasukan Ganendra..? Kamu yakin menjadikan dia anak buahmu..? Kamu tau sendirilah bagaimana perilaku tentara bayaran, apalagi dia masih punya anak buah yang setia. Kamu tidak khawatir dia berkhianat..?" tanya Niko.
"Sudahlah tidak usah khawatir begitu. Kalau memang dia mau berkhianat, dia tidak mungkin bersedia jauh-jauh datang kemari. Terlebih lagi, dia melindungi salah satu rekanku saat dia melarikan diri.." jawab Dewa meyakinkan.
Niko mengangkat bahunya dan menggelengkan kepalanya sambil menghidupkan laptopnya, "Sudahlah terserah kamu saja Wa.. Oiya yang kamu minta semua ada di laptop ini. Beberapa nama yang kamu berikan, aku hanya merekomendasikan satu nama saja, pak Handoko. Dia salah satu petinggi angkatan darat yang tidak terlibat sama sekali dengan kasusmu. Sampai aku mendapat informasi ini, dia selalu menolak saat Baros ingin menemuinya. Diluar nama yang kamu berikan, aku sarankan temuilah juga jendral Rahman, meskipun sudah pensiun, tapi pengaruh beliau masih sangat besar di lingkungan militer. Kamu pelajari dulu saja, nanti kalau ada informasi terbaru aku akan langsung mengabarimu.." ucap Niko sambil berdiri.
__ADS_1
"Kamu mau kemana dik..?" sahut Sandhi.
"Aku akan menyusul calon istriku ke kota AG, lalu kembali ke kota L. Aku sudah lega tau sendiri kondisimu, jadi saat paman bertanya, aku bisa menjawabnya. Dan udah saatnya kembali bekerja, jatah cutiku sudah habis.. Oiya mas, bulan depan aku akan menikahi Nuriani, aku harap mas Dewa dan mas Sandhi bisa datang nenjadi saksi. Mas Dewa tenang aja, acara ini hanya dihadiri oleh keluarga saja.." jawab Niko.
"Tenang saja, aku pasti datang dan menjadi saksi sumpahmu kepada adikku. Setidaknya jika suatu saat kamu menyakiti adikku, aku tidak akan sungkan mengirimmu kehadirat Tuhan.." ucap Dewa dengan tatapan tajam.
"Haish... Sebegitu rendahkah kepercayaanmu padaku..? Sudahlah, paling tidak aku juga tidak akan sungkan meminta hadiah besar kepadamu saat adikmu bahagia bersamaku.." jawab Niko santai.
Dewa berdiri kemudian merangkul Niko sambil tertawa, "Hahahaha... Aku percayakan kebahagiaan adikku padamu. Jaga dia dengan nyawamu.. Aku akan mengantarmu kedepan.." ucap Dewa sambil berjalan mengantar Niko.
Sandhi melihat dua orang yang dia sayangi itu sambil bergidig, "Candaan mereka membuat aku merinding.." gumam Sandhi dalam hati kemudian menyusul mereka kedepan sasana.
Setelah keepergian Niko, Dewa meminta Sandhi untuk melakukan beberapa hal, "San, siapkan tempat di salah satu hotel, pertengahan bulan ini aku akan melakukan koordinasi tentang progres pekerjaan kita dengan Yuma dan yang lainnya.. Dan satu hal lagi, apa yang sudah diajarkan oleh mbah Sastro, jangan lupa untuk terus melatihnya. Aku harap kalian siap untuk memasuki tahap selanjutnya dari yang sudah diajarkan mbah Sastro.." ucap Dewa.
"Dibandingkan dengan musuh yang akan kita hadapi, kekuatanmu yang sekarang bukanlah apa-apa, mungkin tidak sampai setengah dari kekuatan mereka. Sudahlah yang penting mumpung masih ada waktu, terus tingkatkan kekuatanmu hingga menembus batasan dirimu sendiri.. Aku pergi dulu.." ucap Dewa diikuti anggukan Sandhi, kemudian Dewa berjalan menuju mobilnya dan meninggalkan Sasana Yamadhipati.
*****
Dua minggu berlalu dengan capat, Dewa merasa bahwa semua pekerjaan berjalan sesuai dengan yang diharapkannya. Pagi itu di hotel Blue Safir kota AB, Dewa berkumpul bersama Roni dan yang lainnya untuk membahas progres pekerjaan yang sudah mereka selesaikan.
Roni, sebagai orang yang ditunjuk Dewa untuk bertanggung jawab terhadap pekerjaan di kota AG, memberikan laporan apa yang sudah mereka selesaikan dan apa yang akan mereka kerjakan selanjutnya.
"Jadi itu bos sementara yang sudah kami kerjakan selama beberapa minggu ini.." ucap Roni mengakhiri laporannya.
__ADS_1
"Bagus semua masih sesuai dengan time schedule yang kita buat, tapi aku memiliki beberapa catatan dari laporan yang disampaikan Roni. Catatan pertama masalah mitra desa, ini diluar perhitunganku, ternyata program kita membuat banyak petani tertarik bermitra dengan kita, bahkan ada yang berasal dari luar kota AG.. Aku harap kalian lebih waspada, jangan sampai ada pihak lain memanfaatkan program kita untuk menipu para petani.." ucap Dewa.
"Lalu bagaimana sebaiknya bos..? Apakah kita batasi dulu pendaftarnya..?" tanya Loreng.
"Tidak, jangan.. Lebih baik desa yang belum dilakukan sosialisasi dipending dulu saja, dengan seperti ini, kita akan lebih mudah dalam melakukan verifikasi kepada kelompok tani calon mitra desa. Selain itu, kelompok yang desanya sudah dilakukan sosialisasi dan sudah terverifikasi, secepatnya harus membuat koperasi mitra tani.." ucap Dewa menjelaskan.
Satu persatu permasalahan dijawab oleh Dewa, kemudian diskusi mereka terhenti saat pak Wira dan pak Gunawan masuk kedalam ruangan bersama dengan Naia.
"Maaf kalau kedatangan kami menganggu acara rapat kalian, silahkan dilanjutkan, kami hanya sebagai pendengar saja.." ucap pak Wira kemudian duduk di deretan paling belakang.
Dewa segera berdiri menjemput calon mertuanya itu kemudian mengajaknya duduk di depan, "Tidak pa, kebetulan kami sudah selesai membahas semua permasalahan. Mari duduk di depan, kebetulan papa dan ayah datang, jadi sekalian aku ingin papa memberikan masukan kepada kami tentang bagaimana mengelola perusahaan agar semakin berkembang.." ucap Dewa.
Pak Wira tidak bisa menolak keinginan calon menantunya itu. Setelah diperkenalkan oleh Dewa, pak Wira kemudian berbagi cerita sekaligus memberikan saran dan masukan kepada Dewa dan teman-temannya tentang membangun sebuah perusahaan yang sehat, "Jadi itulah yang dulu pernah kami lakukan saat membangun perusahaan hingga alhamdulillah perusahaan kami menjadi sebesar sekarang.." ucap pak Wira diikuti tepuk tangan Roni dan yang lainnya.
"Terimakasih atas saran papa..........." pak Gunawan segera memotong ucapan Dewa
"Sebenarnya kedatangan kami kemari sebenarnya ada hal penting yang ingin kami sampaikan kepada Dewa dan Naia. Tapi kebetulan semua ada disini, jadi hal ini bisa menghemat waktu dan tenaga.." ucap pak Gunawan.
"Hal penting apa yah..? Kok tidak ayah sampaikan lewat telepon tadi..? Ada apa sih pa..?" tanya Naia.
"Ayah juga tidak memberitahuku, kalau memang ada hal penting, kan lebih baik aku bisa pulang, daripada ayah dan papa datang kemari.." sahut Dewa.
"Sudahlah, toh kami sudah sampai disini juga dan disini juga ada teman-temanmu, jadi kedatangan kami adalah keputusan yang terbaik.." sahut pak Wira kemudian tersenyum.
__ADS_1
Semua yang ada di ruangan itu terdiam menunggu hal penting apa yang akan disampaikan oleh pak Wira dan pak Gunawan.