
Tak terasa tiga hari dilalui Dewa dengan melakukan kegiatan rutinnya yaitu melakukan latihan untuk meningkatkan kekuatan fisiknya pada pagi hari dan bermeditasi untuk meningkatkan kekuatan spiritualnya pada malam hari. Selain itu Dewa juga fokus mempelajari file yang diberikan oleh Niko pada siang hingga sore hari. Dari file dan analisa yang diberikan oleh Niko melalui email, Dewa mulai bisa menemukan kepingan puzzle dari kasus yang menimpa timnya di perairan Borneo, "Selanjutnya adalah Santoso, sniper itu pasti mengetahui sesuatu. Kebetulan kompetisi ada di kabupaten AE. Aku bisa memanfaatkan momen ini untuk mencari dia.." gumam Dewa dalam hati.
Pagi itu, setelah tiga hari, Dewa melihat jam dinding di dalam kamarnya, "Ternyata sudah jam 8 pagi, hari ini aku ke pasar saja melihat situasi disana. Selama di Lerengwilis aku belum pernah pergi ke pasar, siapa tau ada toko sepeda disana. Hhhmm, cukup merepotkan juga kalau kemana-mana harus bawa mobil.." ujar Dewa dalam hati sambil mematikan laptopnya.
*****
Pagi itu Dewa pergi ke pasar melihat kondisi pasar yang sebenarnya dan membeli beberapa keperluannya. Pasar Lerengwilis walaupun pasar desa, tapi merupakan pasar yang lumayan ramai. Tidak hanya ada pedagang buah dan sayur, tapi juga ada pedagang lainnya, seperti kain, baju, perlengkapan rumah tangga, dan lain-lain. Bahkan tidak sedikit yang menjual jasa seperti salon, penjahit, tukang cukur rambut.
Setelah memarkirkan mobilnya, Dewa terlihat bingung. Dia tidak tau harus kemana membeli beberapa barang kebutuhannya. Dia hanya menoleh kanan dan kiri sambil berfikir, "Eh.. Dimana ini toko-toko yang menjual barang yang kubutuhkan..?" gumamnya dalam hati.
Di tengah kebingungannya, ada seseorang yang menyapanya dan menawarkan bantuannya untuk mengantarnya berkeliling pasar Lerengwilis. Dia adalah anak buah Loreng, "Loh tumben bos ke pasar..? Mau cari apa, saya bisa tunjukkan tempatnya bos.." ucapnya dengan sopan.
"Eh.. Kamu anak buah Loreng kan, yang ikut latihan di sasana milik Roni..? Eeeee itu, kalau toko yang jual sepeda ada..?" tanya Dewa.
"Iya bener bos, anak buah bos juga berarti, hehehehe.. Nama saya Bagio bos, kebetulan hari ini saya yang jaga parkir sama teman-teman. Oh jadi bos mau cari sepeda..? Mari saya antar bos.. .." Bagio mengantarkan Dewa sambil mengajak ngobrol, "Sebenarnya kalau bos perlu apa-apa tinggal kasih tau bos Loreng aja, biar bos Loreng yang perintah kami. Nanti kami bisa antar ke tempat bos.." ucapnya ringan.
"Gak harus seperti itu juga, lagian aku juga pengen lihat situasi pasar. Ternyata rame juga ya..?" jawab Dewa sekenanya.
Tidak butuh waktu lama, mereka pun sudah sampai di tempat pedagang sepeda. Ada sepeda baru dan ada juga yang bekas. Dengan ramah, penjual itu menyapa Bagio, "Eh.. Kang Bag, lagi cari apa kang..?" tanya penjual.
"Ini antar bos cari sepeda.." jawab Bagio
"Oh.. Monggo silahkan mas, yang sebelah sini kondisi sepedanya baru, semua full baru dari pabrik. Nah yang disana itu bekas, tapi walau bekas, dijamin masih bagus dan yang paling penting bukan barang curian mas.." ucap pedagang mulai menawarkan.
"Sebentar, sebelum ada kesepakatan aku mau tanya. Ini kalau aku jadi beli, sepedanya diantar kerumah atau bagaimana..? Terus harga masih bisa nego kan..?" tanya Dewa.
"Bisa diantar atau dibawa sendiri. Kalau diantar, selama di wilayah kecamatan Kota Barat, gratis biaya kirim. Tapi kalau luar kecamatan tambah dua puluh lima ribu. Masalah harga, masih bisa nego mas, tenang saja.." jawabpedagang itu.
Setelah mendapat jawaban dari pedagang, Dewa lanjut melihat-lihat sepeda yang dipajang. Setelah beberapa saat, Dewa memilih sepeda gunung berwarna putih dan membayarnya sesuai harga kesepakatan, "Tolong dikirim saja ya..? Ini alamatnya. Kira-kira dikirim kapan ini..?" tanya Dewa.
"Hari ini mas, ya siang lah antara jam satu atau dua siang, sekalian tutup toko, bagaimana..?" tanya pedagang itu.
"Oke.. Sekalian di cek ya, mungkin ada baut atau mur nya yang kendor. Tekanan anginnya jangan lupa ditambah, dirumah gak ada pompa masalahnya.." ucap Dewa sambil menyerahkan alamat rumahnya.
"Tenang mas. Pasti kita servis dulu, kita cek semuanya. Eeee.. Tenang saja mas, nanti saya kasih bonus pompa tangan mas..?" jawab pedagang itu dan dibalas oleh Dewa dengan ucapan terimakasih.
Setelah selesai dengan urusan sepeda, Dewa lanjut berkeliling pasar dengan diantar Bagio. Mereka berhenti di sebuah toko yang menjual baju olahraga. Dengan ramah pedagang menawarkan dagangannya, "Mari silahkan mas, cari baju yang seperti apa..?"
"Ada celana training mbak..? Sama baju kaos buat olah raga.." jawab Dewa.
"Oh ada, kalau mau manset juga ada mas. Ukuran buat mas ini XXL kayaknya.." jawab pedagang itu.
"Oh bukan buat saya, saya cari buat adik saya, perempuan.." jawab Dewa lalu menjelaskan ciri-ciri dari Nuraini, Naia dan Silvia.
__ADS_1
Pedagang itu pun paham dengan apa yang dimaksud Dewa. Dia segera mengambilkan beberapa model training dan manset wanita dengan berbagai ukuran. Setelah melihat-lihat dan memilih, Dewa membeli untuk Naia, Silvia dan Nuraini masing-masing dua set dan segera membayar barang yang dipilihnya tadi.
"Oh.. Itu mbak, sekalian jilbab hitam itu dua ya..?"
"Udah, jilbabnya bayar satu aja mas, 45 ribu. Yang satu buat kasih bonus aja deh, biar jadi langganan.." ucapnya ramah.
Dewa merasa pengalaman belanja di pasar sangat menyenangkan, "Ternyata seperti ini ya belanja di pasar itu, gak seperti kalau belanja di mall. Di pasar belanja agak banyak dikit kasih bonus.." pikirnya.
"Terus sekarang bos mau cari apa lagi..?" tanya Bagio.
"Kita cari warung Bag, ngopi sama makan dulu. Kamu belum makan kan..?" tanya Dewa.
"Kalau warung di depan aja bos, langganan kami. Yang pasti enak, harganya pun murah bos.." jawabnya bersemangat.
Mereka berjalan menyusuri jalanan pasar yang bisa dibilang agak sempit. Harus sedikit memiringkan badan saat berpapasan sama orang. Tiba-tiba berlari dari arah depan, seorang anak perempuan berusia sekitar 12 tahun dan menabrak Dewa. Setelah berbasa-basi meminta maaf, dia bermaksud untuk pergi, tapi dengan cepat Dewa menangkap tangan anak itu. Dan benar saja, dompet Dewa terjatuh dari selipan bajunya.
Dewa sadar apa yang dilakukan anak itu, tapi dalam hatinya dia merasa ada yang aneh, "Anak ini mencopetku, tapi gerakannya lambat, sangat mudah ketahuan kalau dia nyopet.. Walaupun sebenarnya aku mengetahui tujuan dia dari awal.." ucapnya dalam hati.
Anak itu terlihat sangat ketakutan hingga berjongkok, apalagi Bagio langsung membentak dan ingin memukulnya, "Bajingan kau..!! Kecil-kecil belajar jadi copet..!!" bentak Bagio sambil mengangkat tangannya mau memukul anak itu.
"A-ampun.. ampun om.. S-saya minta maaf, s-saya terpaksa om.." tangisnya sambil melindungi kepalanya.
Dewa dengan cepat menangkis tangan Bagio yang hampir mengenai kepala anak itu, "Tahan..!! Cukup, jangan pukul dia.." hardik Dewa.
Para pedagang meneriaki anak itu hingga membuat dia semakin takut. Pengunjungpun langsung melihat tas mereka, memastikan dompet dan uangnya masih ada.
Pedagang dan pengunjung pasar langsung memaki anak itu, "Udah laporin aja polisi om. Gak bisa dibiarkan anak seperti itu.." ucap salah satu pedagang.
"Masih kecil udah nyopet, besar mau jadi koruptor kamu..?" umpat lainnya.
"A-ampun o-om.. J-jangan laporin aku ke p-polisi. M-maafin aku om.." tangisnya.
Dewa melihat anak itu, wajahnya pucat dan tangannya gemetaran. Dia tampak ketakutan, "Sudah gak usah takut. Sekarang ikut om makan ya..? Kamu lapar kan..?" ujar Dewa pelan. Diapun mengangguk dan berdiri dan Dewa merangkulnya sambil berjalan meninggalkan tempat itu.
Setelah beberapa puluh meter berjalan, mereka sampai di warung yang dimaksud Bagio. Dewa menawarkan kepada anak itu, "Sekarang kamu pesan makanan apapun yang kamu suka.." anak itupun hanya mengangguk pelan.
"Bu, tolong buatkan saya kopi tanpa gula ya..? Sekalian anak ini mau pesan apapun ibu layani saja.." ucap Dewa.
Anak itu pun memesan nasi dengan lauk opor ayam dan es teh sebagai minumnya. Dewa juga menyuruh Bagio memesan makanan untuk dirinya dan teman-temannya yang sedang jaga parkir. Selanjutnya dia menanyai anak itu, "Namamu siapa..? Umurmu berapa..? Lalu mengapa kamu mencopet..?" tanya Dewa dengan lembut
"Namaku Kartika Wulansari om, umurku 12 tahun.." ucapnya.
jawaban Kartika membuat Dewa terkejut, "Kamu gak sekolah..?" tanya Dewa
__ADS_1
"Enggak om, aku gak sekolah.." jawabnya sedih.
"Kenapa..? Bukannya seharusnya anak seusiamu itu sekolah..?" sambung Dewa.
"Setelah lulus SD aku tidak melanjutkan sekolah om.." jawabnya.
"Loh, kenapa gak sekolah..? Orang tuamu dimana..?" tanya Dewa heran.
"Karena bapak sama emak tiap hari ribut akhirnya bapak tinggalin emak. Lalu aku diajak kesini, ke rumah nenek, katanya aku akan sekolah disini. Tapi gak lama emak juga pergi sama adikku, gak tau kemana emak perginya.. Nenek gak ada biaya buat sekolahku.." jawabnya lalu dia menangis.
Dewa menarik nafas panjang, dadanya terasa sesak mendengar cerita Kartika, "Lalu mengapa kamu mencopet..? Apa kamu terbiasa mencopet..?"
"A-Aku lihat om nya pas b-beli sepeda t-tadi, lalu beli baju. K-Kulihat om nya punya banyak uang. a-aku terpaksa o-oom, aku tidak tidak pernah mencopet sebelumnya.." jawab anak itu sesenggukan.
"Terpaksa..? Terpaksa kenapa..?" Dewa penasaran.
"Jangan percaya bos. Dia cuma pengen dilepaskan saja, kalau dilepas dia akan seperti itu terus.." ucap Bagio meragukan cerita Kartika.
Dewa hanya meletakkan satu jarinya ke mulut untuk memberi isyarat agar Bagio diam. Kartika pun melanjutkan ceritanya, "Nenek sakit om, nenek gak punya uang buat beli obat, dan dari kemaren nenek juga belum makan.." jawabnya sambil mengusap air matanya.
"Ok. Habis makan, kita ke rumah nenekmu. Nanti om bantu buat periksakan nenekmu ke dokter. Gimana..?" tanya Dewa memastikan cerita Kartika.
"Beneran om..? Alhamdulillah.. Terimakasih om.. Terimakasih.." ucapnya lalu mencium tangan Dewa berulang kali.
Setelah makan, mereka pergi ke rumah nenek Kartika. Tidak sampai lima menit mereka sampai di rumah nenek Kartika, tepat di dibelakang Dewa membeli sepeda. Rumah nenek Kartika sudah sangat tidak layak huni, banyak genteng bolong, berlantai tanah dan hanya ada beberapa kursi rusak, dan satu dipan beralas kardus di ruang tamu, dimana nenek Kartika sedang tidur.
"Mbah.. mbah.. mbah..." teriak Kartika.
"Ada apa to nduk..?" sahut nenek Kartika sambil berusaha bangun dari tidurnya.
"Mbah, ayo kita ke dokter, biar mbah sembuh.. Om ini nanti yang bayarin dokternya.." ucap Kartika riang.
"Kamu ngemis sama om nya ini ya..? Nduk.. Sudah berapa kali mbah bilang, kita memang orang gak punya, tapi kita pantang ngemis karena kita masih punya tenaga untuk bekerja." ucap Nenek Kartika.
"Maaf nek, nama saya Dede, kebetulan tadi saya bertemu sama Kartika di pasar. Kartika, dia tidak ngemis seperti yang nenek bilang, saya yang bertanya sama dia.." ucap Dewa menutupi kejadian sebenarnya.
"Saya mbah Binti, neneknya Kartika. Maaf ya nak, cucuku ini sudah gak sopan dan bikin repot.. Gak usah ke dokter nak, malah merepotkan nak Dede. Paling ini cuma masuk angin saja.." jawabnya.
"Walaupun masuk angin harus tetap diobati, sekarang kita ke dokter ya nek, biar nenek cepet sembuh.." ajak Dewa. Rumah mbah Binti yang masuk gang kecil membuat Dewa tidak bisa mengantar mbah Binti dengan mobilnya, sehingga Dewa menelepon Loreng, memintanya mengantar mbah Binti.
Loreng segera tiba setelah Dewa menutup sambungan teleponnya. Dia berpesan kepada Loreng, "Kalian berangkat dulu, nanti aku nyusul.." ucap Dewa kepada Loreng.
*****
__ADS_1