Dewa Sang Patriot

Dewa Sang Patriot
Secercah harapan (Bag. 2)


__ADS_3

Naia berdiri di depan pintu dengan membawa gelas berisi teh hangat lalu menyapa Dewa,. "Mas Dewa kok duduk diluar..? Masuk gih, diluar dingin. Ntar masuk angin lho..?" ucapnya.


Suara Naia membuyarkan lamunan Dewa, "Eh.. Naia, kok belum tidur non..?" tanya Dewa.


"Gak bisa tidur mas, yaudah aku bikin teh hangat aja. Siapa tau habis minum teh hangat bisa tidur.." jawab Naia, lalu dia duduk di samping Dewa, "Aku duduk sini ya..? Eee.. Mas Dewa kok belum tidur..? Diluar dingin gini, emang mas Dewa gak kedinginan ya..?" tanya Naia.


Dewa hanya menganggukkan kepalanya sebelum dia menjawab pertanyaan Naia, "Belum bisa tidur aja, udah terbiasa juga tidur lewat tengah malam, lagian juga lagi pengen nikmati suasana malam di Lerengwilis sambil nikmatin kopi sama rokok.. Nah kamu gak bisa tidur kenapa..? Lagi mikirin aku ya..?" goda Dewa.


"Gak tau mas, mungkin karena di tempat baru kali ya..? Dulu waktu awal di basecamp aku juga gak bisa tidur.." jawab Naia, lalu dia melanjutkan ucapannya setelah menarik nafas panjang, "Ih.. Siapa juga yang mikirin mas. Kalau mas Dewa sih gak perlu aku pikirin.."ucap Naia.


"Lho kok gak dipikirin sih..?" tanya Dewa pura-pura protes.


"Ya karena mas Dewa itu ada di hatiku, bukan dipikiranku.." Naia memeluk tangan Dewa dan bersandar di pundaknya.


Dewa membiarkan Naia memeluk tangannya dan meberanikan diri untuk mencium kepala Naia, tercium aroma wangi shampoo di rambut Naia. Naia tidak menolak apa yang dilakukan Dewa, bahkan dia merasa senang dengan apa ynag dilakukan Dewa. Beberapa menit mereka saling terdiam, Dewa sendiri tidak tau harus membahas apa. Kemudian Naia mulai membuka obrolannya, "Eeemmm.. Oiya, tadi sore mama telepon nyuruh aku pulang besok pagi. Katanya ada hal penting yang ingin papa dan mama bahas.." ucap Naia


"Lalu..? Bukannya besok kamu emang pulang..?" sahut Dewa.


Naia melepaskan tangannya dan menggeser badannya sedikit menghadap kepada Dewa, "Iya, aku juga bilang begitu sama mama. Terus mama bilang, papa ingin mas Dewa ikut juga.. Tapi kenapa ya kok aku malah mikir macem-macem ya mas..?" lanjut Naia.


"Wajar lah, sekarang kan aku kerja sama papamu buat jadi pengawalmu. Apalagi pak Wira udah mengirimkan mobil untukku, ya yang jelas itu untuk sarana buat antar kamu kalau ingin kemana-mana. Kalau menurutku sih beliau hanya ingin kamu aman saja.." jawab Dewa berusaha menenangkan Naia.


"Awalnya aku juga berfikir seperti itu mas. Tapi aku tau papa itu seperti apa. Biasanya kalau seperti ini ada hal yang penting dan mendesak, aku merasa ada hal penting yang ingin papa bahas dengan mas Dewa juga.." Naia terlihat berfikir, "Eeemmmm.. Jangan-jangan papa ......." Naia tidak melanjutkan ucapannya saat Dewa memegang tangan Naia untuk menenangkannya.


Naia menatap mata Dewa, "Jadi mas besok akan menemui papa..?" tanya Naia.


Dewa menarik nafas panjang, "Mungkin.. Dilihat saja bagaimana kondisinya besok.. Udah jangan berfikir yang macam-macam. Tenang semua akan baik-baik saja.. Sekarang tidur gih.. Udaranya makin dingin diluar.." ucap Dewa, dijawab dengan anggukan kepalanya. Kemudian Naia mencium tangan Dewa sebelum dia beranjak pergi ke kamarnya, "Iya mas.. Aku tidur dulu ya.."


Naia masuk ke dalam kamar dan Dewa bermeditasi di teras rumahnya dengan merasakan aliran nafasnya. Dewa merasakan bagai tenggelam di dalam air yang sangat dalam hingga dia memasuki alam weningnya. Dewa merasakan ketenangan dan kedamaian batin yang membuatnya semakin larut di dalam keheningan. Waktu terus berjalan hingga tak terasa waktu shubuh segera datang. Deqa kembali pada kesadaran fisik atau kesadaran jaganya, dia merasakan seluruh tubuhnya menjadi sangat segar dan bugar. Dewa merasakan energi spiritual yang sangat besar mengalir di dalam tubuhnya memenuhi aliran prana, syaraf dan pembuluh darahnya. Semua pertanyaan dan keraguan yang menyelimuti hatinya, seakan terjawab dan menghilangkan semua keraguannya. Kemudian dia berdiri, "Sebaiknya aku segera mandi dan bersiap sholat shubuh.." gumamnya dalam hati lalu pergi ke kamar mandi.


Terlihat oleh Dewa, Naia dan Silvia masih terlelap dalam tidurnya saat Nuraini membuka pintu kamar,, "Sudah bangun Nur..?" tanya Dewa


"Telat bangun kak. Biasanya jam tiga Nur udah bangun buat sholat malam. Gak tau hari ini rasanya badan capeeeek banget.." jawab Nuraini sedikit kesal.


"Waahhh.. Ternyata adikku ahli ibadah juga ya..?" ucap Dewa sambil mencubit pipi Nuraini.


"Apanya yang ahli kak. Nur masih jauh ah dari kata ahli, Nur masih pemula, masih belajar.." jawab Nuraini merendah.


"Yaudah.. Mandi gih, trus siap-siap ke musholla. Sebentar lagi shubuh.." ucap Dewa dan dianggukkan oleh Nuraini.


Nuraini menghentikan langkahnya, dia menoleh kepada Dewa, kakak tertuanya itu, "Eh.. Kak, kakak beneran cinta sama kak Naia..? Atau kakak berusaha mencintai kak Naia karena kalian sudah dijodohkan..?" tanya Nuraini.

__ADS_1


"Eh.. Kenapa kamu tanya seperti itu..? Ada apa emangnya..?" tanya Dewa heran


"Ya gak tau, pengen tanya aja dari kemaren pas pulang dari kafe itu.. Eeee, Nur bisa lihat kak Naia itu tulus sama kakak, jadi Nur ingin tau gimana perasaan kakak yang sebenarnya sama kak Naia.." jawab Nuraini.


Dewa tersenyum lalu membelai kepala adiknya, "Kamu pasti tau kakak seperti apa, seandainya Naia itu dijodohkan sama orang lain, kakak akan lakukan apapun untuk rebut dia.. Udah ah.. Anak kecil jangan ikut-ikut urusan orang dewasa, sana mandi gih.." ucap Dewa.


"Yeeeee.. Nur udah 21 tahun kak.. Weeeekk.." jawabnya sambil menyambar handuk.


Dewa tertawa kecil mendengar ucapan Nuraini, "Haaah.. Adikku sudah 21 tahun ternyata. Masih saja aku menganggapnya sebagai anak kecil. Emang nasib anak ragil.. Hihihi.." gumam Dewa dalam hati.


Matahari mulai mengintip di ufuk timur. Silvia, Naia dan Nuraini memasukkan tasnya ke dalam bagasi mobil. Setelah memastikan semuanya siap, merekapun berangkat menuju kota L.


*****


Dewa memacu mobil dengan kecepatan sedang. Jalanan yang tidak begitu ramai membuat mereka santai dan bisa menikmati perjalanan dengan santai sambil mengobrol di dalam mobil. Naia membuka obrolan mereka, "Nanti jadi ketemu sama papa mas..?" tanya Naia.


"Belum tau, Pak Wira belum hubungi aku juga.. Udah kamu tenang aja, kalau ada yang ingin dibahas, Pasti pak Wira udah hubungi aku.." jawab Dewa, kemudian dia bertanya kepada Silvia dan adiknya, "Nur, kamu nanti turun saja di rumah Naia. Nanti kakak pesankan taksi online buat antar pulang.. Gimana..? Eemm, terus Silvia diantar kemana..?" tanya Dewa


"Iya gak pa pa kak.." jawab Nuraini


"Eeeehhmmmm.. Aku ikut kemanapun mas Dewa pergi. Aku ikhlas mengikuti mas Dewa.." Silvia manja, dia sengaja menggoda Naia.


Dewa hanya menggelengkan kepala dan tertawa kecil melihat tingkah Naia, "Hihihihi.... Kamu tuh ya, digoda gitu aja udah manyun, gemes, cemberut. Jadi Silvia malah makin seneng godain kamu Non.." sambung Dewa.


"Tuh dengerin apa kata mas Dewa.. Lagian kamu tuh aneh deh, kan juga aku kan turun duluan di Wonokromo.. Baru mas Dewa anterin kamu kan..? Weeekkk… Dari dulu tuh kamu kalau marah lucu banget Nai.. Biki aku gemeeeees pengen godain kamu terus.." ucap Silvia sambil mencubit pipi Naia..


"Aaawwww... Sakit tau.." jawab Naia sambil mengusap pipinya.


"Eh.. Kok gak minta mas Dewa yang usap pipinya, kayak waktu di kafe.." sahut Silvia.


"Gak.. Bukan muhrim.. Weeeekkk.." jawab Naia membalas.


Dewa hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum melihat tingkah Naia dan Silvia. Setelah itu dia memacu mobil lebih kencang ketika mereka sudah memasuki jalan tol. Setelah beberapa saat memasuki area tol, Dewa bertanya kepada mereka, "Kita istirahat sebentar di rest area ya..? Sekalian cari makan.." ujarnya.


"Iya kak. Nur juga udah lapar.. "Oiya kak.. Tadi kan Nur kasih kabar ibu kalau pulang, terus ibu bilang kalau aku disuruh tunggu aja di rumah kak Naia aja. Katanya ayah sama ibu nanti siang mau ke rumah kak Naia.." ucap Nuraini.


"Lho..? Emang ada urusan apa ayah sama ibu ke rumah Naia..? Jam berapa mereka kesananya..?" tanya Dewa heran.


"Gak tau juga kak, ibu aku tanya juga cuma bilang mau silaturahmi aja.. Nngggg.. Kalau kesananya sih tadi bilangnya siang, tapi gak tau jam berapa.." jawab Nuraini.


"Eh.. Ada apa ya mas, om Gunawan sama tante Widya ke rumah..? Kok aku jadi mikir yang aneh-aneh ya..? Apa ada hubungannya sama papa yang nyuruh mas Dewa ikut pulang..?" tanya Naia.

__ADS_1


Gunawan, 53 tahun adalah ayah Dewa, seorang tentara angkatan darat berpangkat Sersan Mayor yang berdinas sebagai anggota koramil di kecamatan Mulyorejo. Sedangkan Widyawati, 50 tahun, adalah Ibunya. Seorang guru PNS di salah satu Sekolah Dasar Negeri di kelurahan Benowo.


"Udah, gak usah mikir macem-macem. Gak akan terjadi apa-apa.." ucap Dewa menenangkan Naia tapi Dewa dalam pikiran Dewa, "Sepertinya tidak hanya sekedar silaturahmi. Pasti ada hal penting yang ingin ayah dan ibu bicarakan dengan pak Wira, apa berhubungan dengan perjodohanku dengan Naia..?" ucap Dewa dalam hati.


Dewa memasuki Rest Area di KM 45 untuk beristirahat dan mengisi perut. Setelah memesan dan membayar makanan, Dia pergi ke tempat yang agak sepi untuk mencoba menghubungi Niko. Setelah beberapa kali mencoba menelepon, akhirnya Niko menjawab teleponnya.


Niko,  "Hallo, siapa ini..?"


Dewa,  "Ini aku Dewa. Kamu sekarang kamu ada dimana Nik..?"


Niko,  "Dewa..? Eh Wa, kamu sekarang dimana..? Aku pengen ketemu, ada hal yang ingin aku bahas denganmu.."


Dewa,  "Sama.. Aku juga pengen ketemu, ada hal yang ingin aku bahas juga. Oiya, kalau kamu mau tangkap aku, siapkan 50 personel. Kalau hanya 20 orang gak akan ada artinya bagiku.."


Niko,  "Dampuuuutt..!! Kamu pikir aku teman seperti apa Wa..?"


Dewa,  "Oke.. oke.. Nanti aku hubungi lagi.."


Belum sempat Niko menjawab, Dewa segera menutup panggilannya dan kembali bergabung dengan Naia.


Nuraini melihat Dewa yang terkihat serius, "Eh.. Dari mana kak..? Kakak habis telepin siapa..?" tanya Nuraini


"Dari telepon, ada deh, cuma teman lama aja.." jawab Dewa


"Heh siapa mas..? Nanti kalau dia cerita tentang mas Dewa gimana..?" tanya Naia khawatir.


"Ya yang pasti orang itu bisa dipercaya lah Nai.. Bisa jadi telepon mantan tuh.." goda Silvia.


Dengan wajah serius, Naia bertanya kepada Dewa, "Hhahhh.. Yang bener mas..? Emang telepon siapa sih..? Jangan-jangan bener lagi yang dibilang Silvia..?" tanya Naia.


"Eh.. Ngomong apa sih. Emang aku punya mantan..? Itu teman lama, ya yang pasti dia bisa dipercaya dan mungkin dia bisa bantu aku cari informasi.." jawab Dewa, kemudian Dewa melanjutkan ucapannya buat Silvia, "Silvia ini suka bener nyebar gosip ya..? Tuh, Naia jadi curiga kan..?" ucap Dewa.


"Waduuuhh.. Mulai ada yang cemburu nih.. Cemburu itu jelous, tapi jelous yang gak jelas.. Hahahaha.." goda Silvia lagi.


"Silvia... Ih.." jawab Naia lalu menggembungkan pipinya.


"Aduuuhh.. Ini nih yang bikin aku gemeessss, udah mirip bakpao.." ucap Silvia sambil memegang pipi Naia..


"Iihhhhh.. Udah dong ah.. Oiya, katanya kemaren kamu bilang mau cerita masalahmu..? Gak jadi..?" Naia bertanya sama Silvia.


"Belum saatnya. Tunggu deh, pasti aku akan cerita.." jawab Silvia.

__ADS_1


__ADS_2