
Beberapa hari kemudian, pagi itu di kediaman pak Wira di kota L,
"Bulan depan kalau gak salah usia kandungan Naia sudah akhir tujuh bulan ya ma..? Udah waktunya kita adakan selamatan tujuh bulanan, kita mohon kepada Yang Maha Kuasa, agar saat proses persalinan Naia diberikan kelancaran, juga keselamatan untuk ibu dan bayinya.." ucap pak Wira.
"Bener pa, kalau menurut perhitungan mama sih seharusnya awal bulan depan. Enaknya selamatan kita adakan disini apa di Lerengwilis pa..?" sahut bu Santi.
"Kalau papa sih lebih baik disini saja ma, sekalian biar Naia melahirkan di kota L, setidaknya ada mama, ada mbak Widya juga yang membantu Naia mengurus bayinya. Bagaimanapun Naia juga belum berpengalaman mengurus bayi kan..?" jawab pak Wira.
"Iya mama juga setuju dengan papa. Mama juga sudah gak sabar menggendong cucu. Kalau begitu, mama akan minta Naia untuk nelahirkan disini saja pa. Mama akan telepon Naia.." ucap bu Santi kemudian mengambil hpnya.
"Telepon Dewa saja ma, karena Dewa lebih berhak menentukan masalah ini.. Bagaimanapun kita sudah menyerahkan Naia kepada Dewa.." sahut pak Wira.
"Yaudah mama telepon Dewa dulu.. Oiya pa, kalau papa gak sibuk, nanti siang temani mama belanja kebutuhan bayi dan perawatan pasca melahirkan buat Naia ya..?" pinta bu Santi dijawab dengan anggukan kepala pak Wira.
*****
Disaat yang sama, Dewa terlihat sedang berbincang dengan Naia di ruang tamu rumahnya.
"Tidak terasa sebentar lagi kandunganmu akan memasuki akhir tujuh bulan, saatnya mempersiapkan selamatan tingkepan atau tujuh bulanan buat mereka.." ucap Dewa sambil mencium kening Naia.
"Iya mas, sepertinya mereka juga sudah gak sabar menunggu. Ini baru aja diomongin mereka udah gerak-gerak. Hihihi... Sabar ya sayang-sayangku, tidak lama lagi kalian akan hadir di dunia ini. Ibu pasti akan memberikan yang terbaik buat kalian.." ucap Naia sambil mengelus perutnya.
"Ayah juga udah gak sabar menunggu kehadiran kalian di dunia ini. Jadi anak baik, anak yang sholeh ya..?" sambung Dewa kemudian mencium perut istrinya.
"Oiya mas, aku perhatiin beberapa hari terakhir mas Dewa sangat sibuk dan terlihat begitu cemas. Entahlah mengapa aku merasa akan ada sesuatu yang besar terjadi. Emang ada apa sebenarnya mas..?" ucap Naia.
"Aku juga merasa seperti itu, bahkan belakangan ini Tiara juga over protektif kepada kami. Ada apa mas, kalau ada sesuatu mas cerita saja kepada kami, kami tidak ingin menjadi beban buat mas Dewa.." sahut Silvia sambil membawa nampan berisi secangkir kopi dan segelas susu.
Dewa terdiam beberapa saat, dia bingung haruskah menceritakan semuanya kepada Naia dan Silvia atau tetap merahasiakannya dari mereka. Berulang kali Dewa harus menarik dan melepas nafas panjangnya, "Baiklah tidak ada gunanya juga merahasiakan dari mereka. Mereka berhak tau apa yang sebenarnya.." gumamnya dalam hati.
"Selama ini aku belum pernah melihat mas Dewa bersama dengan bang Yuma dan yang lainnya melakukan latihan dengan serius. Tapi beberapa hari terakhir, mas Dewa bersama dengan bang Yuma dan yang lainnya berlatih dengan sangat serius, bahkan sampai membuat beberapa skenario dan simulasi dalam latihan. Apakah kalian berencana akan kembali ke militer..?" tanya Naia.
__ADS_1
"Hhhuuufftttt.. Baiklah aku akan mengatakannya, semua aku lakukan karena demi melindungi kalian berdua juga anak yang ada di dalam perut Naia.........." Dewa kemudian menceritakan apa yang direncanakan Baros terhadap mereka.
"Jadi semua ini adalah rencana Baros dan dia menginginkan tubuh kami..? Seandainya saja aku dan Silvia seperti wanita pada umumnya, mungkin kehidupan kita akan lebih tenang.." gumam Naia.
"Sudahlah, tidak perlu menyesalinya. Ini semua adalah ujian yang diberikan Sang Pencipta Kehidupan kepada kita dan anak-anak kita. Kalian jangan khawatir, aku akan selalu melindungi kalian meskipun nyawaku sebagai taruhannya.." ucap Dewa dengan melihat Naia dan Silvia bergantian.
"Mas, maaf aku masih saja menjadi beban buat mas Dewa.." ucap Silvia dengan tertunduk.
"Silvia, kamu juga Naia tidak pernah menjadi beban buatku. Sudahlah jangan pernah lagi punya pikiran seperti itu, aku sudah mengatakannya berulang kali tentang hal ini.." ucap Dewa.
Kriiiiinggg.. Kriiiiinggg...
Sebuah panggilan video call di hp Dewa membuat obrolan mereka terhenti. Dewa melihat layar hp nya, keheranan terlukis jelas di wajah Dewa.
"Siapa sayang..?" tanya Naia.
"Mama.." jawab Dewa singkat
"Tumben mama video callnya ke hp mas Dewa..? Angkat gih, mungkin ada sesuatu yang penting.." sahut Naia.
[Bu Santi] [Wa'alaikumsalam.. Loh kamu belum berangkat ke kantor..? Mana Naia..?]
[Naia] [Mama.. Eh.., tumben mama video call ke mas Dewa..? Biasanya juga kalau gak langsung ke aku, mama teleponnya ke Silvia..]
[Bu Santi] [Bulan depan kan waktunya selamatan tujuh bulanan, mama sama papa sih pengennya diadakan di kota L, sekalian kamu juga melahirkan disini. Selain peralatan medisnya lengkap, nanti pasca melahirkan mama dan ibu mertuamu bisa bantu kamu buat urus anak-anakmu. Tapi semua harus dengan persetujuan Dewa.. Bagaimana..?]
[Dewa] [Sebenarnya aku juga punya pemikiran yang sama ma, tapi situasinya tidak memungkinkan untuk Naia melahirkan disana..]
[Bu Santi] [Loh ada apa Wa..? Tidak memungkinkan bagaimana maksudnya..?]
[Dewa] [Baros sedang mengincar Naia dan Silvia juga bayi yang dikandung Naia..]
__ADS_1
[Pak Wira] [Apa..? Mengapa dia menginginkan putri dan cucuku..? Apakah dia masih dendam kepadaku atas kekalahannya dalam proyek pembangunan PLTN..?]
Dewa kemudian menceritakan siapa sebenarnya Baros dan hubungannya dengan penguasa kegelapan yang membuat pak Wira sangat terkejut.
[Dewa] [Jadi itulah alasan mengapa Baros mengejar mereka. Hal ini memang diluar nalar berfikir kita, dan mungkin sulit bagi papa dan mama mempercayainya, tapi itulah kenyataannya..]
[Pak Wira] [Jangan terlalu banyak berfikir, papa sangat percaya apa yang kamu ucapkan. Kamu adalah orang kedua yang mengatakan bahwa Naia itu istimewa, orang pertama yang mengatakan itu adalah kakeknya. Kakek Naia, yang juga mertuaku adalah seorang kyai.. Hanya saja aku tidak menyangka bahwa Baros bersekutu dengan iblis.. Apa tidak sebaiknya kita ungsikan dulu Naia, jauhkan dulu dari Lerengwilis sampai kondisi aman..?]
[Dewa] [Tapi apakah hal itu bisa menjamin keamanan Naia dan Silvia pa..? Musuh kita bukan hanya yang tampak, tapi sesuatu yang tidak tampak oleh mata juga. Mereka adalah bangsa siluman yang sama sekali tidak terbatas pada ruang dan waktu kita.. Aku merasa Naia dan Silvia akan lebih aman jika tetap berada di dekatku..]
[Pak Wira] [Aahhhh.., benar juga ya, aku sampai melupakan hal itu. Jika memang seperti itu, biarkan aku dan ayahmu ikut membantu menjaga Naia dan Silvia..]
[Dewa] [Jika itu keinginan papa, aku tidak akan menolaknya.. Terimakasih pa..]
Setelah menutup sambungan teleponnya, Dewa kembali melanjutkan obrolan dengan Naia dan Silvia hingga Yuma datang bersama dengan Faruq, Sandhi, Luki, Tiara dan Dunhill.
"Sandhi, Dunhill kapan kalian sampai..? Bagaimana keadaan di kota AB..?" sapa Dewa.
"Begitu Tiara telepon, aku dan Dunhill langsung berangkat kemari, mungkin sekitar jam 11 malam kami sampai di sasana. Oiya bos, Yuma sudah menceritakan semuanya kepada kami. Bos mungkin ini saatnya kita membalas semua perbuatan mereka.." jawab Sandhi.
"Ya kamu benar, mungkin memang ini saatnya. Tapi kita harus tetap waspada, keselamatan Naia dan Silvia adalah yang utama. Jangan sampai Baros mendapatkan mereka berdua.." sahut Dewa diikuti anggukan Sandhi dan yang lainnya.
"Bos lihat ini, sepertinya mereka sudah ada di desa ini. Sepertinya mereka sedang mencari keberadaan nyonya bos.." ucap Yuma sambil menunjukkan beberapa foto yang ada di dalam hp nya.
"Trik yang sama selalu mereka lakukan, mulai dari menyamar menjadi tukang bakso, tukang siomay sampai menjadi pengamen dan pengemis. Jumlah mereka sekitar 30 orang, mungkin juga lebih.." sambung Tiara.
Dewa melihat dengan teliti setiap gambar yang ada di hp Yuma, "Apa kalian melihat Benny diantara mereka..?"
"Mantan ketua grup I itu, sepertinya dia tidak ada diantara mereka yang sedang menyamar. Tapi aku yakin kapten Benny sudah berada disini.." sahut Faruq.
"Tapi ada berita baiknya bos, lihat ini.. Ada beberapa mantan anggota regu III diantara mereka. Mereka dari tim support dan logistik. Aku yakin mereka tidak tau bahwa kitalah yang akan mereka hadapi.." sambung Yuma.
__ADS_1
"Luki, hari ini temui mereka dan bawa mereka bertemu denganku. Aku yakin saat mereka melihatku, mereka akan beralih membantu kita. Sandhi dan Dunhill, awasi pergerakan mereka. Untuk Tiara, Yudha dan Faruq, kalian lakukan sesuai dengan rencana awal.." ucap Dewa.
"Siap boss.." jawab mereka serempak.