Dewa Sang Patriot

Dewa Sang Patriot
Cidera yang sama


__ADS_3

Setelah selesai acara di rumah mbah Binti, Naia bersama dengan teman-teman KKNnya melanjutkan aktifitas mereka. Sedangkan Dewa berencana ikut Roni dan yang lainnya ke kantor polisi Kota AG. Mereka memenuhi panggilan polisi untuk membuat berita acara pemeriksaan sebagai saksi atas kejadian di gudang semalam.


"Kamu bawa aja mobilnya, aku mau antar Roni dan yang lain ke kantor polisi kota AG, sekalian mau cari informasi tentang perampok Bank of Asia.." ucap Dewa kepada Naia sambil memberikan kunci mobil.


"Kok ditinggal lagi sih..? Kapan waktu buatku..? Mas sibuk terus akhir-akhir ini.." protes Naia sambil menggembungkan pipinya.


Dewa tersenyum mendengar protes dari Naia, "Kan nanti malam ada acara di kafe bareng teman-temanmu..? Eeee, nanti aku luangkan waktu buat kamu deh..?" jawab Dewa merayu.


"Janji ya..? Waktu buat aku aja gak ada yang lain. Sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan juga sama mas.." sahut Naia.


"Jangan gitu Nai, mas Dewa sibuk juga buat memastikan keamananmu, keamanan kita semua..? Kasihan mas Dewa pikirannya kadang gak bisa fokus karena rengekan-rengekan kamu.." ucap Silvia.


"Eh.. Udah-udah. Iya nanti malam aku janji hanya berdua saja. Kamu sekalian reservasi aja tempatnya. Jangan lupa kasih tau yang lain juga biar gak salah paham mereka.." ucap Dewa.


Mendengar jawaban dari Dewa, Naia mulai tersenyum, kemudian bersama dengan Silvia dan Nuraini kembali ke tempat KKN mereka. Kemudian Dewa pergi ke kota AG dengan mobil Roni. Di dalam mobil, Dewa berfikir, "Kasihan Naia, beberapa hari ini aku jarang memberikan perhatian kepada dia. Aaahh, Entahlah, aku sendiri bingung dengan Naia. Tapi entahlah, semakin lama aku semakin jatuh cinta sama dia. Aku gak tau apakah aku bisa membahagiakan dia nantinya.." gumam Dewa dalam hati.


"Ada apa bos..? Sepertinya ada yang menganggu pikiran bos..? Nyonya bos marah ya bos ikut kita ke kota AG..?" Roni berusaha menebak.


"Eh biasa lah Ron, tapi sudahlah gak usah bahas masalah itu. Oiya, nanti kalau polisi tanya siapa yang buat tangan Johan patah, jawab aja Icong. Gimana Cong..?" tanya Dewa


"Kok aku bos..? Gak Roni atau bang Loreng aja..?" jawab Icong.


"Gak mungkin kalau mereka, gak masuk akal. Justru kamu yang masuk akal, bela dirimu kan jiujitsu sama taekwondo, jadi gerakan kakimu pasti cepat selain itu kamu juga menguasai kuncian sampai patahan.." ujar Dewa.


Icong sempat berfikir. Dia merasa khawatir, "Nanti aku malah dijadikan tersangka karena menyerang polisi..?" ucapnya.


"Gak usah khawatir, kamu itu hanya membela diri karena Johan udah menodongkan pistolnya. Toh bukti senjata juga ditemukan.." ucap Dewa.


"Baiklah kalau begitu. Aku percaya aja sama bos.." ucapnya.


"Terus kalian jangan sampai lupa, semua ini Loreng yang atur rencananya.. Eeee, jadi Reng, kamu yang paling paham bagaimana rencana semalam. Udah ceritakan aja itu, anggap itu idemu.." ucap Dewa.


"Siap bos, sesuai perintah.." jawab Loreng yakin


"Selama kronologi yang kalian ceritakan sama, itu akan mempermudah pemeriksaan.. Intinya apapun yang aku rencanakan semalam, itu adalah rencana Loreng. Dan gak usah khawatir, kalian hanya diperiksa sebagai saksi.." ucap Dewa kepada mereka.

__ADS_1


Loreng, Roni, Icong dan Kosim bisa memahami apa yang dikatakan oleh Dewa. Selanjutnya mereka hanya ngobrol ringan selama perjalanan, Loreng bercerita kejadian dimana dia dan Icong merasa dikejar kuntilanak malam itu yang membuat semua tertawa terpingkal-pingkal, "Mungkin itu kuntilanak cari suami Reng, kenapa gak kamu kenalkan aja sama Icong..?" gurau Roni.


Tidak terasa mereka sudah sangat dekat dengan kantor polisi kota AG. Dewa kemudian menyuruh Roni untuk berhenti beberapa ratus meter sebelum mobil masuk halaman kantor polisi, "Ron berhenti di samping halte itu. Aku turun disini saja, kalian lanjut aja ke kantor polisi.." ucap Dewa.


"Lalu bos mau kemana..? Atau gini aja bos, mobil bos bawa aja biar kami masuk jalan kaki.." ujar Roni.


"Tidak perlu, kalian bawa aja masuk. Nanti kalau sudah selesai hubungi saja aku, nanti aku share lokasiku, kalian jemput disana.." jawab Dewa lalu turun dari mobil.


Roni melanjutkan masuk ke dalam kantor polisi, kemudian Dewa menghubungi pak Yan, untuk mengantarnya jalan-jalan.


*****


Sementara itu didalam kantor polisi, Roni dan yang lainnya menjalani pemeriksaan sebagai saksi kejadian di gudang kemarin malam. Mereka menceritakan kejadian semalam kepada petugas kepolisian. Roni, Kosim dan Icong diperiksa oleh petugas yang berbeda sesaat setelah Loreng membuat keterangannya. Proses pemeriksaan mereka berjalan dengan sangat lancar. Baik Roni, Loreng, Kosim dan Icong memberikan keterangan yang bersesuaian.


Selesai pemeriksaan dan menandatangani berita acara pemeriksaan, Husain memanggil Roni ke ruangannya, sedangkan Loreng, Icong dan Kosim menunggu di luar ruangan, "Ron, apa benar yang mematahkan tangan dan kaki Johan itu temanmu yang bernama Icong itu..?" tanya Husain.


"Benar om. Emang ada apa om..?" tanya Roni heran.


"Jadi gini Ron, beberapa hari lalu ada perampokan di Bank of Asia, mungkin kamu juga udah tau beritanya. Para perampok itu adalah orang-orang terlatih. Mereka berhasil dilumpuhkan oleh seseorang dalam waktu singkat. Nah cidera kaki salah satu perampok itu sama persis dengan cidera kaki Johan. Cidera yang sama juga dialami oleh kelompok begal yang ada di alas Carupan satu bulan lalu. Apa mungkin Icong yang melakukannya..?" tanya Husain.


Icong segera masuk ke ruangan Husain dan duduk di sebelah Roni, "Saudara Icong santai saja gak usah tegang. Saya Husain om nya Roni, jadi saya hanya mau tanya, kira-kira dalam beberapa hari ini saudara Icong ada urusan di Bank..?" tanya Husain.


"Tidak ada pak. Saya hanya fokus melatih teman-teman di sasana saja. Ada apa ya pak..?" tanya Icong heran.


"Oh.. Gak pa pa. Hanya ingin tau saja.." jawab Husain.


"Bener kata Loreng, pasti bos yang melakukannya.." ucap Roni dalam hati, kemudian memastikan sesuatu kepada Husain, "Om, maksudmu tadi mereka terlatih, terlatih seperti apa om...?" tanya Roni penasaran.


"Terlatih seperti pasukan khusus militer. Mereka juga ahli dalam memakai senjata. Selain itu mereka juga merampok di beberapa bank di kota lain, makanya kasus mereka ditangani oleh Polda.." jawab Husain.


"Oh begitu ya, yaudah om, kalau menang tidak ada apa-apa lagi kita mau pamit. Oiya, masak sih polisi gak bisa menemukan orang itu..? Intelijen polisi kan banyak..?" tanya Roni sambil berdiri disusul Icong.


"Kamu boleh gak percaya, yang jelas, dia yang melumpuhkan perampok itu, tidak kalah terlatihnya dibanding perampok itu. Bayangkan dengan tusuk rambut sama pulpen yang dia lempar, benda itu menancap dan tembus di siku dan lutut perampok. Herannya lagi di benda-benda itu tidak ada sidik jarinya sama sekali. Yang ada hanya sidik jari dari pemiliknya saja.." ucap Husain sambil menggelengkan kepala. Kemudian Husain mengijinkan mereka pergi, "Oke deh.. Kalian hati-hati dijalan. Terimakasih sudah membantu kami mengungkap kasus narkoba ini.." ucap Husain sambil mengantar Roni dan Icong keluar. Setelah kepergian Roni, Husain menjadi semakin penasaran, "Siapa ya kira-kira orang itu..? Apa dia dari militer..? Atau jangan-jangan......." gumam Husain dalam hati.


*****

__ADS_1


Sementara itu, sudah tiga jam lebih Dewa bersama pak Yan berada di salah satu warung kopi langganan pak Yan yang berada di sekitar taman Kota. Dewa merasakan ada hal yang aneh saat mereka berdua mulai memasuki warung. Dewa melihat salah seorang pramusaji warung berusia 27 tahun yang terlihat terkejut saat melihat Dewa. Pemuda itu terus mengawasi Dewa yang sedang mengobrol dengan pak Yan. Dewa berusaha untuk tidak perduli, sementara pak Yan berulang kali mengecek hp nya, "Pak Yan, kalau ada order diterima saja gak pa pa. Nanti teman-teman saya yang jemput kesini.." ucap Dewa.


"Iya mas, beberapa minggu ini sepi orderan mas. Tapi alhamdulillah masih cukup buat kebutuhan sehari-hari. Yang penting dapur ngebul mas.. Hehehe" jawab pak Yan.


"Oh.. Emang kenapa bisa begitu pak..? Lalu sekarang sehari dapat sampai berapa orderan..?" tanya Dewa heran.


"Ya gimana lagi mas, sekarang kredit mobil sama motor udah makin mudah, mereka kredit lalu mereka daftar ojol juga, saingan tambah banyak, penumpang berkurang. Akhirnya imbasnya orderan turun, sehari rata-rata dua sampai tiga aja.." jawab pak Yan dengan wajah murung.


"Cari kerja makin susah pak, demi uang apapun dilakukan. Tapi yakin aja pak, rejeki sudah ada yang ngatur gak mungkin salah sasaran.." ujar Dewa.


"Betul mas, saya setuju itu. Makanya saya tetap semangat aja mas. Alhamdulillah istri sekarang juga bantu jualan es di depan mini market. Ya lumayan lah bisa nabung buat persiapan kuliah anak.." sahut pak Yan.


Dewa kagum dengan karakter pak Yan, dia mendapat banyak pelajaran dari kenalannya itu, orang yang pantang menyerah apapun masalah yang dihadapinya. Obrolan mereka terhenti, hal yang ditunggu pak Yan datang, sebuah orderan sedang menunggu pak Yan, "Mas, ini ada orderan masuk, saya tinggal ya..? Kalau nanti tidak dijemput temannya, hubungi saya aja. Nanti saya antar ke Lerengwilis deh.." ucap pak Yan lalu berdiri.


Dewa menganggukkan kepala, kemudian mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu dan memberikannya kepada pak Yan, "Pak Yan, ini saya titip buat anak-anak pak Yan. Ya sekedar buat beli kuota internet sama jajannya anak-anak saja pak Yan.." ucap Dewa sambil menyerahkan uang tersebut.


"Terimakasih mas. Waduh, jadi gak enak saya mas, tiap kali ketemu, saya pasti merepotkan mas Dede.." ucap pak Yan. Dewa hanya tersenyum sambil menepuk pundak pak Yan, lalu pak Yan pergi menjemput rejekinya. 


Sementara itu, pemuda pramusaji itu terus mengawasi Dewa, tapi dia berpura-pura tidak melihat saat Dewa juga melihatnya. Beberapa kali pandangan mata mereka bertemu dan Dewa hanya tersenyum saja melihat tingkah orang itu, "Kamu pikir aku tidak tau..? Oke, aku ikuti dulu permainan kamu. Jangan menyesal kau nanti.." ucapnya dalam hati. Dewa melihat jam tangannya, "Hhmmmm.. Udah tiga jam, apa mereka belum selesai juga..? Semoga saja tidak ada masalah sama mereka.." gumam Dewa dalam hati.


Dewa kemudian memasang hands free dan memutar musik dari hpnya. Dia menikmati alunan musik dengan sesekali melirik pramusaji itu. Akhirnya hilang sudah kesabaran Dewa. Dia berjalan menuju kasir untuk memesan kopi manis, kopi tanpa gula lagi dan meminta dua bungkus rokok berbeda merk, "Mbak, tolong nanti kopi dan rokok ya diantar ke meja saya ya..? Sekalian bonnya juga.." ucap Dewa lalu pergi meninggalkan kasir kembali ke meja.


Tidak butuh waktu lama, apa yang dipesan Dewa siap dan kasir menyuruh pramusaji yang mengawasinya tadi mengantar. Pramusaji itu berjalan sambil membawa nampan, lalu menyuguhkannya ke meja Dewa.


"Ee.. Mas kopi manisnya taruh di sisi situ saja, terus kopi tanpa gulanya taruh di depanku.." ucap Dewa dijawab dengan anggukan kepala pramusaji itu.


"Ini bang bonnya. Totalnya 79 ribu" ucapnya sambil menyerahkan bon kepadaku.


"Duduk.. Kamu duduk di situ, jangan berdiri saja.." ucap Dewa setelah menerima bon itu.


"Maksudnya gimana bang..?" tanyanya panik.


"Udah duduk saja disitu. Paham kan..?" jawab Dewa tegas.


"I-iya bang paham.. T-tapi kenapa ya bang..?" tanyanya bingung dan panik. Kemudian Dewa menyodorkan rokok yang dipesannya tadi kepada pramusaji itu, "Kamu belum berhenti merokok kan..?" tanya Dewa dengan tatapan tajam sambil tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2