Dewa Sang Patriot

Dewa Sang Patriot
Gandarwa Raja (Bag. 2)


__ADS_3

Ditemani Gandarwamaya, Dewa bertemu dengan sang Raja penguasa gunung Wilis. Tidak ada rasa takut sedikitpun di hati Dewa saat berhadapan dengan sosok tinggi besar berwajah menyeramkan itu, tapi sebaliknya dia menjawab keraguan Gandarwa Raja, "Aku tidak tau seperti apa aji kulhugeni itu, aku pun merasa tidak pernah mempelajarinya. Tapi yang aku punya hanyalah ini.." ucap Dewa kemudian mengeluarkan api putih di telapak tangannya.


Gandarwa Raja sangat terkejut dan berteriak kepanasan. Tidak hanya sang Raja, seluruh yang hadir di dalam ruangan itu, semua merintih kepanasan.


"Aaargggg.. Cukup tuan, simpan apimu itu. Aku sekarang percaya tuan menguasai aji kulhugeni.." ucap sang raja.


Dewa menarik kembali api putih itu ke dalam tubuhnya, kemudian dia bertanya, "Sebenarnya apa yang terjadi, mengapa kamu mencari orang yang menguasai kulhugeni..?" tanya Dewa.


"Maaf tuan, aku minta bantuan tuan untuk melepas rantai Bathari Uma yang membelengguku ini.." ucap Gandarwa Raja kemudian membuka jubahnya dan terlihat rantai yang menembus leher, mengikat tangan dan kaki sang Raja.


Dewa terkejut dengan pemandangan di depannya, kemudian dia bertanya, "Siapakah Bathari Uma dan mengapa dia melakukan itu kepadamu..?"


"Bathari Uma adalah ratu kegelapan, istri dari penguasa kegelapan. Manusia sering menyebutnya dengan Bathari Durga atau Nyai Permoni. Hal ini berawal dari sekitar berabad-abad yang lalu, dimana Bathari Uma ingin mengubah tempat ini menjadi tempat pemujaan Sang Penguasa Kegelapan, tapi aku tidak mengijinkannya. Akhirnya kami bertarung selama berbulan-bulan. Akibat pertarungan itu, bathari Uma kehilangan tubuh fisiknya karena terluka, tapi dia tidak mati. Penguasa kegelapan menyegel jiwa bathari Uma di dalam sebuah patung yaksa untuk menyelamatkannya. Tenaga yang terkuras akibat pertarungan membuat penguasa kegelapan dengan mudah merantaiku seperti ini.." Gandarwa Raja memulai penjelasannya.


"Mengapa engkau menolak keinginan bathari Uma..?" tanya Dewa.


"Aku tidak sama dengan para brekasaan atau siluman pengikut penguasa kegelapan itu. Aku adalah abdi dari tuanku Ismaya atau Badranaya dan tempat ini adalah salah satu tempat peninggalan beliau yang digunakan untuk pemujaan kepada Sang Maha Tunggal. Tuanku Ismaya adalah utusan Sang Maha Tunggal untuk menyebarkan ajaran Ketuhanan. Sebelum pergi, beliau memberikan tugas kepadaku untuk menjaga kemurnian tempat ini agar tidak disalah gunakan oleh manusia. Kemudian atas ijin tuanku, aku mendirikan kerajaan disini.." jawab Gandarwa Raja.


Dewa mendengarkan penjelasan Gandarwa Raja sebelum bertanya lebih jauh, "Lalu apa yang terjadi selanjutnya, dengan kekuatannya, penguasa kegelapan seharusnya bisa saja membunuhmu, tapi mengapa penguasa kegelapan tidak membunuhmu..?" tanya Dewa penasaran.


"Saudara kembarku, Gandarwa Rajabali, penguasa gunung Lawu datang membantuku, sehingga terjadi pertarungan antara keduanya. Meskipun sudah mengeluarkan seluruh kemampuannyanya, saudaraku tidak bisa membunuh penguasa kegelapan, hanya bisa melukainya saja. Dengan terluka, penguasa kegelapan berhasil kabur membawa patung yaksa yang berisi jiwa istrinya. Kemudian sepuluh tahun setelah pertarungan kami, para manusia mulai mencari tempat ini dan menjadikannya tempat untuk mencari pesugihan, kesaktian, dan hal lainnya yang berujung pada pemujaan terhadap penguasa kegelapan. Sampai akhirnya aku bertemu dengan seseorang yang membantuku menutupi tempat ini, dan kemudian aku menjadikannya penasehat kerajaanku.." cerita Gandarwa Raja.


"Lagi-lagi penguasa kegelapan. Ternyata tidak hanya menjadi musuh manusia, dia adalah musuh dari sebagian bangsa jin juga.." gumam Dewa dalam hati.


"Penasehatku mengatakan bahwa hanya aji kulhugeni yang bisa membebaskanku dari rantai ini. Selama berpuluh tahun, sampai dengan dia meninggal, penasehatku tidak berhasil menguasai aji kulhugeni. Tapi sekarang aku melihat tuan memiliki aji kulhugeni, bisakah tuan membantuku melepaskan rantai ini..? Jika tuan bersedia, maka kerajaan gunung Wilis bersedia mengabdi kepada tuan.." ucap Gandarwa Raja memohon.

__ADS_1


"Baik, aku akan membantumu, dan kalian tidak perlu mengabdi kepadaku. Kalian bebas menentukan nasib kalian sendiri. Tapi sebelumnya aku ingin kamu sebagai penguasa kerajaan gunung Wilis berjanji kepadaku, apakah kamu bersedia..?" tanya Dewa.


"Aku bersedia dan aku akan memegang janjiku kepada tuan seperti aku memegang janjiku kepada tuanku Badranaya.." jawabnya tegas.


"Pertama, tetap jadikan tempat ini tidak terlihat, agar tidak disalahgunakan oleh manusia, kecuali terhadap manusia yang berhati lurus. Kedua, jangan pernah menganggu siapapun yang naik ke gunung ini, bantu mereka apabila tersesat, kecuali mereka yang tidak menjaga diri dan sengaja menganggu keharmonisan alam.. Lalu bagaimana caraku untuk melepas rantai itu..?" ucap Dewa.


"Baik tuan, aku berjanji kepadamu.. Untuk membebaskanku, tuan hanya perlu memasukkan sedikit api putih ke dalam rantai ini, maka rantai ini akan hancur dengan sendirinya.." ucap Gandarwa Raja.


Dewa mendatangi Gandarwa Raja, kemudian mengeluarkan api putih di ujung jarinya. Walaupun hanya seujung jari, Gandarwa Raja sudah bisa merasakan panas luar biasa. Dewa menyentuh rantai yang membelenggu Gandarwa Raja, dan perlahan rantai itu semakin pudar dan menghilang.


"Hahahahaha... Akhirnya setelah berabad-abad lamanya aku bisa terbebas dari belenggu rantai bathari Uma. Terimakasih tuanku, meskipun tuanku tidak ingin menerima pengabdianku, tapi aku dan seluruh prajuritku mulai sekarang akan menjadi pengikut tuanku.. Tuanku, kami akan mengikuti semua perintahmu, kapanpun tuan membutuhkanku, tuan hanya tinggal memanggilku saja, maka aku akan datang menemui tuan. Dan tuan dapat berkomunikasi denganku kapanpun dan dimanapun tuan berada.." ucapnya sambil berlutut dan diikuti oleh seluruh prajurit kerajaan Gunung Wilis.


"Terserah kamu saja, tapi aku tidak punya perintah apapun untukku. Hanya penuhi janji yang sudah kamu ucapkan tadi.." ucap Dewa.


Perlahan tubuh Gandarwa Raja mengecil dan menjadi sosok seperti manusia dengan mahkota berwarna kuning keemasan yang dipakai di kepalanya. Dewa sedikit takjub dengan perubahan tubuh Gandarwa Raja, "Ternyata ini adalah wujudmu yang lain.." ucap Dewa.


"Kekuatan Badranaya..? Dan apa kau tau isi gulungan ini..?" ucap Dewa sambil menerima gulungan itu.


"Benar, kekuatan yang ada di dalam tubuh tuanku sama persis dengan kekuatan tuanku Badranaya. Perihal isi gulungan itu, aku mohon maaf tuan, aku sama sekali tidak berani membukanya. Tapi penasehatku pernah mengatakan kepadaku bahwa gulungan itu mungkin berisi aji caraka balik dan mantra kalacakra.." jawab Gandarwa Raja.


"Baiklah, gulungan ini aku terima. Sekarang aku akan kembali ke duniaku. Gandarwamaya, antarkan aku kembali ke tempat tadi.." ucap Dewa.


Gandarwa Raja dan para prajuritnya berjongkok untuk mengantar kepergian Dewa. Hanya beberapa detik Dewa sudah berada di area gudang, "Alhamdulillah malam ini bisa menyelesaikan dua masalah sekaligus. Dengan seperti ini, besok orang-orang bisa lebih tenang membersihkan area gudang ini.." gumam Dewa dalam hati.


Hal yang sama dilakukan Gandarwamaya dan para prajuritnya, mereka berjongkok saat Dewa pergi dari gudang. Dewa melirik jam tangannya, waktu sudah menunjukkan pukul tiga pagi, "Waduh.. Sudah jam tiga pagi. Aku harus cepat sampai rumah, kalau tidak Naia bisa manyun sepanjang hari.." ucap Dewa dalam hati sambil mengayuh sepedanya.

__ADS_1


*****


Dewa melihat Naia tertidur di sofa ruang tamu saat dia masuk ke dalam rumahnya. Tidak ingin membangunkan Naia, dengan berjingkat Dewa langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap menyambut shubuh.


Tak lama kemudian adzan shubuh berkumandang, Dewa segera pergi ke musholla sambil berharap bertemu dengan gurunya dan menceritakan pengalaman yang baru saja dialaminya. Seperti biasa, setelah berjamaah sholat shubuh, dengan duduk di teras musholla, Dewa menceritakan kejadian yang baru saja dialaminya, "Jadi begitulah guru ceritanya. Ternyata yang guru bilang waktu itu, agar aku menghindari puncak sebelah selatan, disanalah kerajaan jin Gunung Wilis berada.. Tapi apakah guru tidak ingin melihat dan membaca gulungan itu..?" tanya Dewa.


"Hehhehhehhe.. Bisa kuwalat saya kalau sampai berani membacanya. Gulungan itu adalah amanah yang ditujukan kepadamu, orang yang menguasai kulhugeni, jadi orang yang tidak memiliki api putih itu tidak berhak untuk membacanya. Bahkan raja jin saja tidak berani membukanya.." jawab mbah Sastro.


"Padahal aku sama sekali tidak merasa mempelajari aji kulhugeni, tapi mengapa aku bisa menguasainya..?" tanya Dewa penasaran.


"Mungkin nak Dede lupa dengan ucapanku, Dewi Agni dengan sukarela menyerahkan dirinya kepadamu. Aku juga baru tau kalau api putih Dewi Agni disebut oleh bangsa jin dengan kulhugeni.." ucap mbah Sastro.


"Lalu siapa yang membimbingku mempelajari gulungan itu guru..? Aku sama sekali tidak paham apa yang tertulis di dalamnya. Bahkan gulungan mantra kalacakra itu hanya gambar saja, tidak ada tulisannya sama sekali.." ucap Dewa heran.


"Hehhehhehhe.. Guruku pernah bilang, dengan menguasai aji caraka balik, maka akan mengerti makna dari gambar mantra kalacakra. Perihal siapa yang membimbingmu, Sang Guru Sejati lah yang akan membimbingmu.." jawab mbah Sastro.


"Semoga saja apa yang guru harapkan terjadi, aku berjodoh untuk mempelajari aji caraka balik dan mantra kalacakra.." ucap Dewa pelan.


Mereka berbincang hingga matahari mengintip di ufuk timur, mereka pun mengakhiri pembicaraan dan berjalan pulang..


*****


"Kak, jangan lupa pagi ini ada pertemuan dengan om Wira dan perwakilan perusahaan konstruksi lho.. Nanti kakak jelaskan saja sama mereka konsep yang ingin kakak buat.." ucap Nuraini saat Dewa baru masuk rumah.


"Iya kakak ingat, nanti kalian tolong temani ya..? Aku belum pernah menghadiri pertemuan seperti itu.." ucap Dewa.

__ADS_1


"Iya, mas tenang aja.." ucap Naia.


Mereka segera bersiap menuju salah satu hotel yang ada di pusat kota AG dimana pertemuan itu akan diadakan.


__ADS_2