Dewa Sang Patriot

Dewa Sang Patriot
Masa lalu Silvia


__ADS_3

Naia mencari cara untuk mengungkapkan apa yang menjadi keinginannya kepada Dewa. Dia memulai obrolan dengan membahas ucapan mbah Sastro dan bertanya kepada Dewa maksud dari ucapan gurunya itu, "Emang maksudnya jagain yang seperti apa sih mas..? Kita berdua harus nikah sama mas Dewa gitu..?" ucap Naia serius.


Dewa terkejut dengan pertanyaan Naia, "Eh ya gak gitu juga maksudnya. Mbah Sastro itu tau kaliab berdua adalah sahabat karib, makanya beliau bilang seperti itu.. Udah gak usah terlalu dipikirkan, yang jelas kalaupun itu permintaan beliau, aku juga gak yakin mampu menjalankannya dengan baik.." jawab Dewa.


"Pengennya sih gak mau mikir, tapi gak tau kenapa ucapan mbah Sastro terus menggema di kepalaku. Sebenarnya aku juga gak keberatan kalau memang mas Dewa menikahi kami berdua.." ucap Naia.


Lagi-lagi Dewa dibuat terkejut dengan ucapan Naia, "Ada apa dengan Naia ya..? Mengapa dia begitu mudahnya mengatakan hal ini..? Apa Naia sedang menguji ku..?" gumam Dewa dalam hati.


"Naia, kamu kenapa sih..? Pliss jangan bercanda, ini masalah


serius. Jangan seperti itu dong.." protes Silvia.


"Emang aku terlihat sedang bercanda..?" sahut Naia.


"Sudah-sudah, tuh bener kan..? Belum apa-apa saja kalian sudah ribut, apalagi kalau beneran terjadi kalian jadi istri-istriku, pasti lebih dari ini. Gini Nai, masalah ini bukan hanya antara kita saja, tapi juga melibatkan orang tua kalian. Ya mungkin kalian tidak masalah, tapi bagaimana dengan pak Wira dan orang tua Silvia..? Apalagi aku belum mengenal sama sekali dengan orang tua Silvia.." ucap Dewa berusaha memberikan penjelasan.


"Tenang aja, aku tau harus bagaimana menghadapi papa dan mama. Jadi mas Dewa gak usah terlalu khawatir.." jawab Naia enteng.


Dewa sangat paham dengan karakter pak Wira. Beliau akan melakukan apapun untuk memenuhi keinginan putrinya, apalagi dengan sifat keras kepala Naia pasti pak Wira juga gak akan bisa berbuat banyak. Dewa menarik nafas panjang, "Mungkin kamu bisa dengan mudah menghadapi papamu, tapi bagaimana dengan orang tua Silvia..? Apa kamu memikirkan bagaimana susahnya Silvia memghadapi orang tuanya..?" tanya Dewa serius.


Silvia menarik nafas panjang, lalu berkata dengan suara pelan, "Aku yatim piatu mas. Papa dan mamaku meninggal kecelakaan waktu aku SMP kelas VIII.." jawab Silvia sedih.


"Oh.. Maaf aku gak tau. Lalu yang kemaren pas antar kamu itu berarti..?" sahut Dewa.

__ADS_1


"Iya gak pa pa mas. Di rumah itu tidak ada siapa-siapa rumah itu kosong. Itu satu-satunya yang tersisa dari peninggalan mama. Jadi kalau aku pas pulang ke kota L, aku disana sendiri aja, kadang Naia yang temani, kadang aku pulang ke rumah Naia. Aku pulang ke kota L dua minggu sekali hanya untuk bersih-berih rumah aja. Dulu masih awal kuliah sih masih ada yang jaga dan bersih-bersih. Tapi gak lama dia pergi juga.." jawab Silvia.


"Katamu itu satu-satunya yang tersisa, berarti ada yang lainnya kan..? Lalu sekolahmu gimana..?" tanya Dewa.


"Iya, tapi semua harta peninggalan papa dan mama diambil oleh saudara-saudara papa, dulu mereka bilang hanya ingin mengelolanya saja, agar nanti saat aku Dewasa bisa menggantikannya. Tapi yang terjadi malah sebaliknya, mereka hanya memanfaatkan harta papa untuk bersenang-senang dan berfoya-foya sedangkan aku malah dititipkan di tempat eyang di kota S. Di tempat eyang, aku sering sakit-sakitan, mereka merasa aku menghabiskan banyak biaya, bahkan eyang sendiri mengatakan bahwa aku anak pembawa sial, hingga eyang tidak mau lagi merawatku.. Beruntung om Wira dan tan...." ucapan Silvia terhenti setelah Naia memotong ucapan Silvia.


"Kamu kan sudah janji tadi, kok gak ditepati..?" protes Naia.


"Eh iya, maaf Nai.. Maksudku papa Wira dan mama Santi yang membiayai sekolah dan merawatku.." sambung Silvia. 


Dewa terkejut mendengar Silvia memanggil pak Wira dan bu Santi dengan sebutan papa dan mama. Tapi dia dia tidak berani menanyakannya, "Pasti telah terjadi sesuatu dengan mereka tadi. Sudahlah, sebaiknya tidak aku tanyakan saja.." pikir Dewa.


"Sayang tau gak, hari, tanggal, bulan, tahun, jam, menit dan detik lahirku sama persis dengan Silvia lho.. Mungkin itu sebabnya kita gak pernah bisa berpisah jauh dalam waktu yang lama.." sahut Naia.


"Salah satu atau keduanya akan sakit, itulah yang terjadi padaku. Hanya sekitar satu bulan eyang merawatku sampai akhirnya aku dikembalikan lagi ke rumah mama, dan hanya ditemani oleh seorang pembantu, sampai akhirnya mama Santi mengajakku ke rumah beliau.." jawab Silvia dengan mata berkaca-kaca.


"Iya. Waktu Silvia dibawa eyangnya, kalau gak salah seminggu kemudian aku sakit. Badanku panas tinggi, dan aku sering tiba-tiba pingsan. Nah, anehnya dokter sama sekali tidak menemukan ada penyakit di dalam tubuhku, udah di cek juga di lab juga semuanya normal. Dan tiap-tiap aku sadar, bukan mama dan papa yang aku cari, tapi Silvia. Kondisi seperti itu berlangsung selama satu bulan lamanya. Kemudian mama telepon eyangnya Silvia agar Silvia disuruh balik lagi aja ke kota L, nanti mama yang akan ngerawat dia.." sambung Naia.


"Nah apa yang terjadi sama Naia seperti yang aku alami, sakitku sama seperti yang dikatakan Naia.." sahut Silvia.


Dewa mendengarkan cerita Naia dan Silvia, "Mereka seperti saudara kembar, ikatan batin mereka sangat kuat.." ucap Dewa dalam hati. Kemudian Dewa bertanya kepada Silvia, "Tadi kamu bilang semua peninggalan papamu diambil oleh saudara-saudara papamu, lalu rumah yang kemaren aku antar kamu itu, mengapa mereka membiarkannya..? Apa memang sengaja mereka lakukan itu..?" tanya Dewa heran.


"Ya benar, saudara-saudara papa membagi harta peninggalan papa. Rumah, tanah, mobil, perusahaan, bahkan usaha toko perhiasan milik mama juga diambil mereka. Mereka bilang kalau hanya ingin mengelolanya saja sampai aku dewasa, tapi buktinya mereka malah menjual aset-aset milik papa. Bahkan perusahaan papa sampai bangkrut.." jawab Silvia dengan meneteskan air mata.

__ADS_1


"Hanya demi uang mereka sampai tega memakan harta anak yatim piatu. Sungguh keji mereka.." umpat Dewa dalam hati.


Silvia terdiam sesat sebelum melanjutkan ucapannya, "Mereka tidak bisa mengambil rumah itu, karena rumah itu atas nama budhe, kakak dari mama. Aku juga baru tau kalau rumah itu sebenarnya rumah pemberian dari kakek untuk mama.. Aku juga tidak tau detail ceritanya.." jawab Silvia sesenggukan.


Dewa merasakan dadanya mau meledak saat mendengar cerita Silvia, dia segera menarik nafas panjang untuk meredam emosinya, "Mereka sungguh biadab.. Aku tidak akan membiarkanmu menangis lagi. Siapapun tidak kuijinkan membuat air matamu keluar.." gumam Dewa dalam hati.


"Maaf mas, seharusnya aku gak cerita tentang masalah ini kepada mas Dewa.." ucap Silvia pelan.


"Sudahlah, kamu yang sabar dan ikhlaskan saja. Tuhan pasti akan mengganti semua yang telah mereka ambil suatu saat nanti. Yang pasti, tidak akan kubiarkan mereka merebut lagi apapun dari tanganmu.." ucap Dewa serius, dijawab dengan anggukan kepala Silvia.


"Udah dong ah.. Dari tadi sedih mulu ceritanya.. Ganti bahasan ah.." protes Naia. Kemudian dia mengalihkan topik pembicaraan, "Oh iya mas.. Kakek Sastro itu sebenarnya siapa sih..? Terus tadi pagi apa yang mas bahas sama beliau..?" tanya Naia penasaran.


Dewa menceritakan siapa sebenarnya mbah Sastro dan apa yang tadi shubuh mereka bahas di musholla, Dewa tidak menceritakan semua yang mbah Sastro katakan kepada mereka berdua. Naia dan Silvia hanya sesekali manggut-manggut walaupun sebenarnya mereka gak begitu paham dengan cerita Dewa, "Jadi maksudnya aku dan Silvia ini punya tubuh istimewa sehingga dikejar oleh orang yang mempelajari ilmu hitam..? Terus kit harus bagaimana mas..? Aku jadi takut sama diriku sendiri.." ucap Naia.


"Udah, aku pasti akan melindungi kalian. Tidak akan kubiarkan siapapun mencelakai kalian, jadi tenang aja.." ucap Dewa.


"Tuh kan, jadi bener apa yang aku bilang. Mending kita jadi istri mas Dewa aja Vi, biar lebih aman juga.." sahut Naia.


"Naia.. jangan bahas itu lagi dong.. Ada masalah yang jauh lebih penting ini daripada sekedar bahas masalah itu.." protes Silvia.


"Silvia benar sayang, kalau menurutku kalian secepatnya belajar bela diri saja. Setidaknya itu bisa melindungi kalian saat terjadi hal-hal yang diluar dugaan.." jawab Dewa sambil membelai rambut Naia. Mendapati kedua orang tersayangnya tidak sependapat dengan dia, "Iya-iya. Terserah kalian aja..." ucap Naia lalu menggembungkan pipinya.


Saat mereka sedang asyik mengobrol, Nuraini keluar dari dapur dengan membawa masakan, lalu mengajak mereka makan bersama, "Makanan sudah siaaappp.. Buruan gih sarapan. Kak Dewa mau Nur ambilin kah..?" tanya Nuraini.

__ADS_1


"Udah kakak ambil sendiri aja.." ucap Dewa sambil berjalan ke ruang tengah.


__ADS_2