
Salah satu murid dari Taring Harimau itu segera pergi setelah merekam teman-temannya yang merintih kesakitan. Naia berlari kearah Dewa kemudian memeluknya dan menangis sejadinya. Dia tidak perduli lagi dengan teman-temannya yang memperhatikannya, "Sudah-sudah.. Gak usah nangis gitu ah. Malu tuh dilihatin sama Risa dan yang lainnya.." ucap Dewa menenangkan Naia.
"Gak mau.. Salah sendiri tadi gak mau antar. Coba tadi mas antar, gak akan seperti ini kejadiannya.." Naia makin menjadi nangisnya.
"Eh.. Kan juga mereka udah aku kasih pelajaran..? Udah malu tuh dilihatin lainnya.. Sini duduk, biar lebih tenang.." ucap Dewa lalu Naia duduk dengan bersandar di bahu kanan sambil memeluk tangan Dewa.
Naia meluapkan kekesalannya kepada Dewa, "Mas tau gak sih mereka itu udah ngelecehin kita. Mereka anggap kita lagi main begituan disini.." jawab Naia emosi, kemudian dia menceritakan kejadian yang baru saja terjadi.
Dewa mendengar cerita Naia dengan sesekali tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Dia pun menanggapi cerita Naia, "Jadi yang bikin kamu gak terima itu Silvia dikatain seperti itu sama orang tadi..? Kan udah aku kasih pelajaran juga dia, lebih parah malahan.." jawab Dewa berusaha menenangkan Naia.
Risa mengamati apa yang dilakukan Naia, dia bingung dengan hubungan mereka seperti apa, "Sebenarnya mas Dede itu ada hubungan apa sama Naia..? Gak mungkin kalau cuma pengawal, lihat tuh mesra banget mereka. Jangan-jangan mereka...." bisik Risa kepada Oki.
"Aku juga gak tau, tanya aja sendiri.." balas Oki sambil mengangkat bahunya.
Silvia menggeser duduknya agar lebih dekat kepada Dewa, kemudian dia mengucapkan, "Mas.. Maaf ya, kami jadi beban mas terus.." ucap Silvia pelan. Entah keberanian darimana, Silvia memeluk tangan kiri Dewa dan menyandarkan kepalanya di bahu kiri Dewa, sehingga Dewa menjadi salah tingkah. Dewa tidak ingin Naia menjadi salah paham dengan karena kejadian itu, "Eh.. Kalian ini ngapain lho..? Ini cuma masalah kecil aja. Udah ah, sebentar aku mau bantu Icong dulu. Sepertinya dia cidera.." ucapnya sambil berdiri.
Naia dan Silvia melepaskan tangan Dewa dari pelukannya, dan Dewa segera berjalan ke arah Icong dan memeriksa kondisi Icong, "Hanya luka memar aja, tapi aku harus pura-pura serius. Wah bisa gawat ini.." gumam Dewa dalam hati sambil melirik ke arah Naia dan Silvia.
"Aku gak pa pa bos. Bos tenang aja, tapi beneran, pukulan orang itu sangat keras.." ucap Icong.
"Ron, sebenarnya apa yang terjadi, kok Naia sampai nangis seperti itu..? Gak biasanya seperti ini" bisik Dewa.
"Oh.. Maaf bos, aku juga gak ngerti. Mungkin nyonya bos marah saat dikatain kalau kita bukan mau latihan tapi mau bikin film begituan.." jawab Roni.
"Ah.. Masak hanya karena itu sih..? Apa mungkin Naia tidak terima karena Silvia yang jadi targetnya..?" gumam Dewa pelan.
Setelah hampir satu jam menunggu, akhirnya guru dari Taring Harimau datang dengan beberapa orang dan menerobos masuk begitu aja. Laki-laki kekar berumur 40 tahunan itu berteriak-teriak di dalam sasana, "Siapa yang udah buat murid-muridku seperti ini..? Sudah bosan hidup..?!" teriaknya.
"Woi, udah tua gak tau sopan santun. Masuk tempat orang bukannya salam malah teriak-teriak seperti simpanse..!!" bentak Dewa sambil berdiri.
Tidak terima gurunya aku bilang simpanse, dua orang langsung menyerang Dewa, "Keparat... Bangsat.." teriak mereka.
Dewa dengan gesit menghindari serangan mereka, dan membalasnya dengan tendangan yang telak mendarat di dada salah seorang dari mereka dan mendorong seorang lagi ke arah murid-murid yang mengawal guru mereka.
Sreeeeetttt.. Jduuuuuuugg..
Seeeetttt.. Bugggh..
Beberapa murid lain bersiap untuk menyerang Dewa, tapi guru mereka melarangnya, "Berhenti kalian, aku ingin bicara dulu sama orang ini.." ucapnya, kemudian orang itu bertanya kepada Dewa, "Mengapa kamu melukai murid-muridku..?" tanyanya.
"Kamu ini sudah tidak punya sopan santun, goblok lagi.. Harusnya kau perkenalkan dirimu dulu sebelum teriak-teriak, jangan seperti monyet. Dan goblokmu adalah kamu gak tanya sama muridmu yang melapor tadi bagaimana kejadiannya.." jawab Dewa memprovokasi.
"Anak muda gak ngerti tata krama, bicara sama orang tua itu yang sopan..!!" hardiknya lalu menyerang Dewa dengan tendangannya.
__ADS_1
Dewa sudah bersiap dari awal mereka bertemu. Dengan menggunakan kekuatan fisiknya, Dewa meninju telapak kaki orang itu yang membuat dia mundur beberapa langkah sebelum dia jatuh.
Jdaaaaaakkkk.. Tap.. tap.. Bruuugg..
Dewa berencana menguji kemampuan fisiknya, bertarung melawan orang yang berlatih tenaga dalam, "Sepertinya dugaanku, pengawak wojo. Jelas kemampuannya lebih baik daripada muridnya tadi.. Lumayan bisa bisa buat bahan latihan.." ucapnya dalam hati. Dewa kembali memprovokasi orang itu, berharap dia lebih emosi dan mengeluarkan seluruh kekuatannya. "Lucu juga nih topeng monyet, ternyata tebal juga mukamu bilang tata krama. Emang kamu punya tata krama..? Bertamu ke tempat orang teriak-teriak hanis itu tidur.." ucap Dewa.
Mendengar ucapan Dewa, dia menjadi sangat emosi, "Bangsat..!! Kau belum tau kalau Sukirno marah.." ucapnya lalu mulutnya berkomat-kamit.
Setelah selesai membaca mantra, Sukirno, nama orang itu, merangsek maju dan menyerang Dewa dengan pukulan dan tendangannya. Entah mantra seperti apa yang dia baca, tapi setelah membaca mantra itu, kecepatan dan kekuatan Sukirno meningkat drastis. Meski demikian, Dewa tetap menggunakan kekuatan fisiknya untuk menghindar dan menangkis setiap serangan Sukirno dan sesekali membalasnya.
Whussss.. Seeettt.. Ctaaaaapp..
Jbuuuugg.. Jdaaaaaakk.. Ctaaaaappp..
Sukirno mundur beberapa langkah setiap kali terkena tendangan atau pukulan Dewa. Sepuluh menit lebih mereka bertukar serangan. Entah berapa puluh kali pukulan dan tendangan Dewa mendarat di tubuh Sukirno, di kepala, bahu, dada, perut, kaki semua area pernah terkena pukulan atau temdangan Dewa. Tapi sepertinya Sukirno tidak merasakan sakit sama sekali sekalipun mengenai titik rawan tubuhnya.
Jbuuuuuugg.. Jdaaaaaagg.. Ctaaaaakk
Whusssss.. Jbuuuuuug.. Jbuuuuuuugg..
Ctappppp.. Jdaaaaaaag..
Pertarungan yang panjang membuat Dewa menyadari bahwa kecepatan dan kekuatan Sukirno berangsur menurun, hingga benar-benar kehilangan kekuatannya, bahkan hanya dengan tamparan dari Dewa, Sukirno bisa terjatuh. Darah mulai mengalir di sudut bibir Sukirno.
Cplaaaaakk.. Bruuuug..
Akhirnya Dewa memperoleh kesempatan untuk menyerang Sukirno, tapi saat Dewa hendak melakukan serangan dengan pukulannya, tiba-tiba Sukirno berlutut dan mengangkat tangannya, "J-jangan, jangan pukul aku.. A-ampun-ampun. Aku mengaku kalah. Mohon ampuni aku.." ucap Sukirno lalu bersujud memohon ampun.
"Berikan aku satu alasan mengapa aku harus mengampunimu.." tanya Dewa.
"A-aku tidak mempunyai alasan. Aku hanya memohon belas kasihanmu saja. A-aku mohon ampunilah aku.." jawab Sukirno mulai ketakutan.
"Kau menginginkan belas kasihanku..? Dimana sikap aroganmu tadi hah..?!" bentak Dewa.
"A-aku khilaf, k-kau memang benar, aku tidak tau t-tebalnya mukaku.." jawabnya makin ketakutan.
"Hahahaha.. Khilaf..? Kalau begitu aku akan membuatmu cacat seumur hidup dan aku tinggal bilang khilaf terus semua bida selesai..?" tanya Dewa
Sukirno tidak bisa menjawab, dia hanya memohon agar Dewa mengampuninya. Seluruh murid yang dibawa Sukirno pun sampai berlutut memohon ampun, "Mohon ampuni aku, aku bersedia melakukan apapun untuk mu. Aku bersumpah akan menepati apa yang aku katakan.." jawab Sukirno memohon.
"Hhmmm.. Aku gak butuh sumpahmu. Tapi baiklah, aku akan mengampunimu kali ini, tapi mulai saat ini perguruanmu berada di bawah kendali sasanaku ini dan kalau sampai aku mendengar satu saja anggota taring harimau berbuat onar lagi, maka kupastikan kau akan duduk di kursi roda selamanya.." jawab Dewa tegas.
"Baik-baik. Aku akan melaksanakan seperti yang kau perintahkan.. Mulai saat ini perguruanku akan berada di bawah perintahmu..?" tanyanya.
__ADS_1
Roni melangkah maju dengan tertatih, "Mulai sekarang kau memanggilnya bos.."
"Berdirilah. Satu hal lagi, jangan pernah ajarkan lagi kanuragan itu pada murid-muridmu. Mulai sekarang taring harimau hanya belajar bela diri, mengandalkan kekuatan fisik sendiri, bukan meminjam energi dari luar.." ucap Dewa.
Ucapan Dewa membuat Sukirno terkejut. Dia tidak menyangka Dewa tau rahasia dari ilmu kanuragannya, "Baik, mohon maafkan aku bos. Bos hancurkan saja ilmuku ini jika bos mau, aku ikhlas dan pasrah.." jawabnya
"Tidak perlu, asal kau pegang janjimu untuk tidak mengajarkannya pada siapapun. Sekarang kamu bawa murid-muridmu pergi.." perintah Dewa.
"B-baik bos. Terimakasih bos.." jawab Sukirno.
Sementara itu diluar sasana, beberapa orang sedang membantu mengembalikan tulang murid-murid taring harimau yang bergeser karena pukulan dan tendangan Dewa. Setelah semua beres, Dewa mengajak Naia dan teman-temannya pulang, "Sekarang kita pulang aja. Besok dilanjutkan lagi latihannya.." ucap Dewa disambut anggukan teman-teman Naia.
*****
Sesampainya di rumah, Naia masih marah-marah gak jelas hingga semua pun dibuat bingung. Berulang kali Dewa merayunya, "Kok masih manyun aja..? Kenapa lho, kan juga udah selesai masalahnya..?" tanya Dewa heran.
"Biarin.. Emang kenapa..?! Gak suka aku marah..? Yaudah aku turun aja disini..!!" tanya Naia ketus.
"Eeeee.. Kamu pasti marah sama aku gara-gara aku peluk mas Dewa tadi kan..? Maaf ya Naia, aku tadi itu......." Naia langsung memotong kata-kata Silvia.
"Bukan.. Bukan karena itu, aku gak marah sama kamu Vi, aku itu lagi sebel sama mas Dewa.." jawab Naia emosi.
"Eh.. Kok aku sih..? Kan aku tadi udah kasih pelajaran mereka semua..? Iya aku minta maaf, karena gak antar kalian jadinya seperti ini. Tapi kan semua udah beres..?" jawabnya bingung.
"Bukan itu maaaass.. Iiihhhh.. Mas tau gak sih, tadi tuh bang Kosim nglatihnya jahat banget. Aku sampai dibentak-bentak sama dia, disuruh pulang juga katanya gak niat latihan.." tangis Naia mulai pecah, tapi dia masih terus melanjutkan ucapannya, "Pokoknya mas harus kasih pelajaran sama bang Kosin. Aku gak terima, emang dia gak tau aku ini siapa..?" ucap Naia emosional.
Dewa tersenyum, akhirnya Naia mengatakan apa yang dirasakannya, "Eh.. Emang bilang gitu bang Kosim..? Hhhmmm memang harus dikasih pelajaran ini bang Kosim, berani-beraninya dia ya..? Dia gak tau siapa yang dilatihnya..?" ucap Dewa pura-pura marah untuk menenangkannya.
"Iya.. Mas kasih pelajaran dia ya..? Biar nglatihnya gak galak-galak.." ucap Naia mulai reda emosinya.
"Eeee.. Kalau menurut Nur sih itu dilakukan bang Kosim untuk kebaikan kita juga, lihat deh tadi pas bang Kosim ngelawan si taring harimau, bang Kosim yang ahli aja sampai bisa kalah. Itu tandanya dunia bela diri memang kejam, siapapun yang gak serius berlatih, bisa dipastikan babak belur.." ujar Nuraini.
"Ooh.. Jadi itu alasan bang Kosim tadi keras sama kita..?" sahut Silvia pelan
Dewa menarik nafas panjang, lalu menjelaskan kepada mereka, "Aku paham, kalian memang belum terbiasa dengan latihan bela diri. Yang kalian alami belum apa-apa, masih jauh dengan yang aku alami dulu. Dulu latihan kami bisa dibilang seperti neraka hingga kami merasa hidup segan mati tak mau, ribuan kali lebih kejam dari yang dilakukan bang Kosim terhadap kalian. Dan apa yang dikatakan Nur itu benar, sebenarnya niat bang Kosim itu baik. Semua dia lakukan untuk membentuk mental dan pondasi bela diri yang kuat untuk kalian. Aku melihat hanya bang Kosim yang mampu melakukannya, bahkan aku pun mungkin gak sanggup seperti bang Kosim.." ucap Dewa.
"Kenapa bisa gitu kak..? Kakak hebat gitu, berarti pasti lebih hebat ngelatihnya daripada bang Kosim..?" tanya Nuraini penasaran.
"Seorang petarung beda dengan pelatih, belum tentu petarung itu bisa melatih. Kakak ini petarung tapi bukan pelatih yang baik seperti bang Kosim. Kakak mana tega melakukannya kepada kalian. Kalau kakak yang nglatih, takutnya malah gak akan bermanfaat bagi kalian.." jawab Dewa.
"Ya minimal kasih tau bang Kosim mas, jangan terlalu galak gitu. Jujur aku kaget, gak pernah dibentak-bentak seperti itu.." ucap Naia pelan.
"Lho jadinya dikasih tau apa dikasih pelajaran nih bang Kosimnya..?" tanya Dewa disambut pukulan manjal Naia dan tawa mereka, "Hahahaha..."
__ADS_1
Kemudian mereka bertiga ke dapur untuk memasak makan malam. Tak lupa, Naia membuatkan Dewa minuman favoritnya, kopi tanpa gula.
"Aku akan percayakan pelatihan mereka kepada bang Kosim sampai mereka selesai KKN. Setidaknya mereka memiliki dasar bela diri untuk menjaga diri mereka sendiri.." gumam Dewa dalam hati.