
Mbah Binti terdiam mendengar ucapan Nuraini, dia masih belum bisa mempercayai apa yang didengarnya. Terlihat air mata keluar dari sudut mata mbah Binti. Naia menarik nafas panjang lalu melangkah keluar rumah. Dia mengambil beberapa foto rumah mbah Binti dengan kamera hpnya.
Mereka semua diam menunggu jawaban dari mbah Binti, sampai Kartika bertanya kepada Dewa, "Lalu kabar gembira buatku apa om..?" tanya Kartika polos.
"Oh iya, om hampir lupa. Eeee, Kartika mau sekolah..?" tanya Dewa.
Naia, Silvia dan Nuraini terkejut dengan ucapan Dewa dan mengalihkan pandangannya kepada Kartika. Mungkin mereka tidak percaya bahwa Kartika tidak sekolah.
"S-sekolah om..? Aku mau om, mau banget.." jawabnya bersemangat. Terlihat kegembiraan terlukis di wajah polos Kartika.
"Tapi ada syaratnya, syaratnya adalah Kartika harus bersungguh-sungguh dan tidak boleh malas untuk belajar.. Bagaimana..?" tanya Dewa sambil mengelus kepala Kartika.
"B-baik om. Aku janji om, aku akan rajin sekolah dan rajin belajar.." jawabnya sambil menangis bahagia.
"Bagus, itu jawaban yang om ingin dengar. Besok kak Naia akan mengantarkanmu untuk mendaftar sekolah sekalian beli kebutuhan sekolahnya.." jawab Dewa lalu Kartika memeluk Dewa sambil menangis.
Mbah Binti pun terkejut mendengar ucapan Dewa, kemudian mbah Binti bertanya kepada Dewa, "Nak.. Apa ini tidak berlebihan..?" tanyanya dengan suara bergetar.
Dewa tersenyum kemudian menjawab pertanyaan mbah Binti, "Berlebihan..? Tidak mbah, menurutku ini malah masih kurang, tapi mbah tidak usah khawatir. Semua akan terpenuhi dan ini rejeki yang diberikan Tuhan kepada mbah Binti.." jawab Dewa sambil memegang tangan mbah Binti.
Mbah Binti bangkit dari duduknya dan mengangkat tangannya, "Ya Allah, kebaikan apa yang sudah aku lakukan sehingga Engkau memberikan anugrah sebesar ini kepada hambamu..?" kemudian mbah Binti bersujud di lantai tanahnya diikuti oleh Kartika.
Dewa, Naia, Silvia dan Nuraini membiarkan nenek dan cucu itu larut dalam syukurnya hingga saat mereka bangun, Dewa berpamitan untuk pulang. Terdengar sayup-sayup adzan magrib saat mereka berjalan menuju basecamp, mereka bertiga mempersiapkan yang akan mereka bawa untuk menginap di rumah Dewa.
*****
Setelah mandi dan sholat magrib, Nuraini membuka laptopnya bersiap untuk membuat desain rumah mbah Binti. Sedangkan Naia dan Silvia membuat kopi dan teh untuk mereka.
"Nur, gak usah terlalu detail, yang penting denahnya dan ukurannyajelas, terus kebutuhan materialnya jangan sampai lupa.." ucap Dewa kepada Nuraini.
"Iya kak beres.. Eh, kok kakak bisa kenal sama mereka..?" tanya Nuraini.
"Iya gimana ceritanya mas..?" sambung Silvia sambil meletakkan kopi dan teh di meja.
Dewa menceritakan kejadian saat dia ke pasar pagi tadi. Naia, Silvia dan Nuraini mendengarkan cerita Dewa dengan sesekali menggelengkan kepalanya keheranan.
"Begitulah ceritanya. Oiya, besok kamu sama Silvia bantuin Kartika daftar sekolah ya non..? Itu di SMP Tunas Bangsa, sebelah kantor pos. Kemarin aku baca di spanduk sepertinya masih terima murid baru gelombang ke tiga. Sekalian beli seragam sama perlengkapan sekolahnya.." ucap Dewa kepada Naia.
"Iya beres sayang.. Oiya mas, papa barusan transfer ke rekening mas Dewa.." ucap Naia.
"Hee..? Transfer buat apa..?" tanya Dewa bingung.
"Tadi aku bilang sama papa kalau mas mau renovasi rumah nenek Binti. Ya makanya aku tadi foto-foto terus aku kirim ke papa. Nah barusan papa wa udah transfer ke mas, kata papa hanya sekedar buat bantu aja.." Naia menjelaskan. Dewa hanya diam sambil menarik nafas panjangnya.
Waktu terus berjalan. Malam semakin larut, jam sudah menunjukkan jam 11 malam. Dewa menyuruh mereka beristirahat lalu membuat segelas kopi dan menggelar karpet di teras rumahnya.
__ADS_1
Setelah satu jam, Naia menyusulnya ke teras. Dia duduk di samping Dewa lalu memeluk tangan Dewa dan menyandarkan kepalanya di bahu Dewa, "Mas, maafin aku ya..? Mas marah ya waktu aku kasih tau papa kalau mas mau renovasi rumah mbah Binti..? Mas Dewa pasti kecewa sama aku kan..?" tanya Naia pelan.
"Eh.. Enggak kok, aku tau kamu ingin membantuku. Tapi lain kali sebaiknya kita obrolin dulu.. Terimakasih ya udah berusaha bantu aku.." jawab Dewa.
"Apapun yang mas Dewa lakukan aku akan dukung sepenuhnya. Jadi mas gak perlu berterimakasih.." ucap Naia sambil tersenyum.
"Oiya, besok bawa aja mobilnya buat antar Kartika daftar sekolah. Biaya kebutuhan sekolah, nanti aku transfer ke rekeningmu aja. Nanti sekalian deposit ke sekolah untuk kebutuhan biaya Tika, jadi sekolah tinggal kirim laporan bulanan aja ke kita.." Naia mengangguk tanda mengerti maksudku.
Naia terdiam beberapa saat, kemudian dia bertanya, "Mas kasihan sama mbah Binti dan Kartika..?" tanya Naia.
"Sama sekali tidak. Aku justru salut sama beliau, mbah Binti melarang cucunya mengemis karena mereka merasa punya tenaga untuk bekerja. Itulah alasanku mau membantu mereka. Kamu tau sendiri tadi, mbah Binti berusaha menolak niat baik kita tadi. Bahkan dalam syukurnya beliau masih bertanya kepada Tuhan, kebaikan apa yang sudah dilakukannya sehingga dia menerima rejeki yang begitu besar.." ucap Dewa.
Naia melepas pelukannya, dia berganti posisi menghadap ke arah Dewa dan memegang tangannya, "Terimakasih ya mas, mas Dewa sudah mengajariku menilai kehidupan ini dari sisi yang berbeda.. Aku tidur dulu ya mas.. Mas Dewa masuk gih, diluar dingin.." ucap Naia lalu tiba-tiba mencium pipi Dewa.
Dewa terkejut dengan yang baru saja dilakukan Naia. Tapi Naia hanya tersenyum lalu pergi ke kamar. Tak lama berselang, Dewa masuk ke dalam untuk sejenak memejamkan mata.
Dewa terbangun ketika mendengar lantunan ayat suci Al-Qur'an yang dibaca Nuraini di ruang tengah. Terlihat jam dinding sudah menunjukkan jam setengah lima pagi. Dewa bangkit dari tidurnya dan segera menuju kamar mandi. Nuraini mengakhiri mengajinya ketika melihat Dewa melakukan sholat shubuh.
Setelah selesai sholat, Dewa bertanya kepada adiknya, "Naia sama Silvia belum bangun Nur..?"
"Kak Naia udah, tadi sholat di kamar. Kalau Silvia belum kayaknya.." jawab Nuraini.
"Siapa yang belum bagun..? Hhooooaaahem.. Ini udah bangun, mau mandi dulu.." jawab Silvia lalu pergi mandi.
"Met pagi mas Dewaku sayang.. Bentar aku buatin kopi ya..?" ucap Naia sambil tersenyum.
Dewa hanya bisa tertawa kecil melihat ketidak biasaan pagi ini. Entahlah, tapi yang pasti pagi ini mereka semua akan sangat sibuk. Tak terasa sudah jam enam pagi, Dewa menghubungi Roni dan Loreng untuk berkumpul di warung pasar jam tujuh pagi.
*****
Dewa dengan sepedanya sampai di pasar disusul Naia, Silvia dan Nuriani yang mengendarai mobil. Terlihat Roni dan Loreng sudah menunggunya di warung bersama dengan Bagio. Loreng menyerahkan dua lembar kertas berisi tanda tangan warga sekitar rumah mbah Binti sesuai yang diperintahkan Dewa.
Dewa memulai pembicaraannya, "Hari ini mungkin kita akan sedikit sibuk. Kita bagi tugas, Roni kamu pagi ini jemput mbah Binti sama Kartika terus antar ke rumahmu, ajak bang Kosim sama Icong buat bantu angkat barang-barang mbah Binti. Kemudian Loreng ke toko bangunan, pesan material sesuai dengan catatan ini. Jangan lupa kamu minta nomer rekening toko, biar saya transfer pembayarannya.." ucap Dewa sambil menyerahkan catatan dari Nuraini.
"Siap bos. Sesuai perintah.." jawab mereka kompak.
"Bag, sudah dikasih tau Loreng..? Gimana, udah siap orang-orangnya..?" tanya Dewa.
"Sudah bos. Ada 3 orang tukang dan 6 orang pembantu tukang dan mereka juga sudah siap. Lalu kapan mulai dikerjakan bos..?" tanya Bagio.
"Hari ini juga dimulai. Di pekerjaan ini pimpinan proyeknya adikku, Nuraini. Kalian ikuti saja apa yang dia perintahkan. Lalu untuk upah pekerja bagaimana..?" ucap Dewa.
"Umumnya disini untuk tukang 85 rb per hari dan pembantu tukang 70 ribu perhari. Biasanya dibayarkan tiap hari sabtu bos.." jawab Bagio.
"Oke. Untuk catatan upah, tiap hari jum'at kamu serahkan sama Loreng atau sama adikku saja. Untuk makan, kalian minta saja di warung ini, biar aku nanti yang bayar. Kalau rokok akan dihandle oleh Loreng.." kemudian Dewa mengatakan rencananya untuk Naia, "Naia dan Silvia, kalian ikuti Roni, kalian ajak Kartika kalau sudah ada di rumah Roni. Jangan lupa syarat administrasi seperti ijasah SD dan akta kelahiran Kartika.. Nanti masukkan nomor hp Loreng untuk walinya.." ucapku kepada Naia pelan.
__ADS_1
Setelah semuanya paham, mereka berangkat sesuai dengan yang sudah direncanakan. Roni menjemput mbah Binti dan Kartika lalu mengantar ke rumahnya yang berada di perumahan depan pasar. Setelah kepergian mbah Binti, tim Bagio mulai membongkar rumah mbah Binti dengan pengawasan Nuraini dan Loreng. Materialpun satu demi satu mulai berdatangan. Dewa bersama ketua RT dan Kepala Dusun dimana mbah Binti tinggal, juga sudah menyerahkan permohonan bantuan modal usaha kepada pemerintah Desa Lerengwilis. Kartika pun sudah berangkat bersama Naia dan Silvia mendaftar sekolah. Berita tentang renovasi rumah mbah Binti dengan cepat tersebar di seluruh pasar dan lingkungan mbah Binti tinggal.
Waktu berlalu dengan cepat, tak terasa matahari sudah berada di atas kepala. Dewa menghubungi Naia karena sampai siang tidak ada kabar.
[Dewa] |Lagi dimana Non..? Kok sampai siang belum balik..? Ada masalah dipendaftarannya..?|
[Naia] |Gak ada mas, alhamdulillah sudah diterima, besok sudah mulai masuk sekolah. Ini lagi beli hp buat Kartika akses internet, barusan tadi beli sepatu, tas sama alat tulis..|
[Dewa] |Oh.. Seragamnya udah beres juga..?|
[Naia] | Udah dong, seragam beli di koperasi sekolah.. Yaudah ini aku mau antar Kartika pulang..|
[Dewa] |Kalian antar Kartika ke rumah yang dibelakang pasar ya..? Sekalian jemput Nuraini. Setelah itu biar dia diantar Loreng ke rumah sementaranya.. Kalian hati-hati dijalan..|
[Naia] |Okey sayang..|
Dua puluh menit kemudian Naia, Silvia dan Kartika datang. Kartika terlihat sangat senang sekali, "Ooomm.. Aku sama kak Naia dan kak Silvi didaftarkan sekolah, dibelikan sepatu, buku, tas, terus ini hp, banyak deh om.." ucapnya kegirangan.
"Waahhh.. Tapi ngomong-ngomong udah terimakasih belum sama mereka..?" tanya Dewa.
"Sudah dong.. Tapi kak Silvi bilang kalau om yang suruh ya..? Makasih ya om.." ucapnya sambil memeluk Dewa.
"Eits tapi ingat ya, belajar sungguh-sungguh ya..? Oiya Kartika mau hadiah lagi gak..?" sahut Dewa.
"Iya om. Kan aku udah janji sama om kemaren.. Eh.. Emang masih ada hadiah apa lagi..?" tanya Kartika.
Dewa menggandeng Kartika menuju penjual sepeda di pasar. Nuraini, Naia, Silvia dan beberapa warga juga mengikutinya.
Tak butuh waktu lama untuk sampai di tempat penjual Sepeda, "Pak, sepedanya sudah siap..?" tanya Dewa.
"Sudah mas, sudah tinggal serrr.. Loh, jadi sepeda ini buat Tika mas..?" tanya penjual sepeda kaget.
"Iya pak, mulai besok Kartika sudah masuk sekolah. Kasihan kalau dia jalan kaki, agak jauh sekolahnya.." Dewa mengeluarkan beberapa lembar uang, "Ini kekurangannya kemaren pak.." ucap Dewa sambil menyerahkan uang.
"Wah mas, kalau seperti ini, kekurangannya gak usah dibayar. Saya juga ingin sedikit berbuat baik. Sudah kekurangannya saya ikhlas mas.." ucap penjual sepeda, "Oiya nduk, kalau sepedanya rusak, bawa kesini aja. Nanti pakdhe betulkan, gak usah bayar.." ujarnya kepada Kartika.
"Asiiik.. Terimakasih om, terimaksih pak dhe.." jawab Kartika spontan.
Sementara itu beberapa warga berteriak kepada Loreng, "Bang Loreng, kalau butuh air, ambil aja air galon di tokoku, gratis.." celetuk salah satu ibu.
"Iya bang, tiap pagi mampir aja ke rumahku, tak buatkan kopi seteko.." sahut lainnya
"Gorengannya ambil aja di warungku bang Loreng.." sahut lainnya.
Dewa tersenyum mendengar ucapan tetangga mbah Binti, dalam hatinya dia berkata, "Inilah gotong royong, semangat kebersamaan untuk kebaikan. Seandainya dalam satu lingkungan ada sepuluh orang saja yang seperti ini, mungkin tidak akan ada Kartika lainnya.."
__ADS_1
Tepuk tangan para tetangga mbah Binti mengiringi kepergian Dewa bersama dengan Kartika dan yang lainnya.
*****