Dewa Sang Patriot

Dewa Sang Patriot
Kekuatan yang menghilang


__ADS_3

Disaat mbah Sastro dan mbah Sumi berbincang, sesuatu melesat dengan sangat cepat di atas rumah mbah Sastro.


Whuuuuuuzzzzzz....


"Siapa yang baru saja melintas diatas kita..?" tanya mbah Sumi.


"Dia adalah Gandarwamaya, putra penguasa Gunung Wilis, Gandarwa Raja. Dan yang satu lagi sepertinya adalah Srenggi, putra Gandarwa Rajabali penguasa gunung Lawu.." ucap mbah Sastro.


"Oh, mereka adalah bangsa jin yang menguasai gunung Wilis dan Lawu..? Apa yang akan mereka lakukan..? Mereka terlihat terburu-buru.." tanya mbah Sumi.


Sambil memejamkan matanya, mbah Sastro memanggil Gandarwamaya dan Srenggi, "Gandarwamaya berhenti..!! Ada hal yang ingin aku tanyakan kepadamu..!"


Gandarwamaya dan Srenggi segera menemui mbah Sastro, "Maaf ada apa gerangan guru tuanku memanggil kami..?" tanya Gandarwamaya.


"Apa yang terjadi..? Mengapa kalian terlihat sangat terburu-buru..?" tanya mbah Sastro.


Gandarwamaya kemudian menceritakan kejadian di pendopo agung kerajaan gunung Wilis dengan sangat hati-hati, "Jadi seperti itulah keadaan yang sebenarnya guru tuanku.." ujar Gandarwamaya mengakhiri ceritanya.


"Ternyata seperti itu.. Ini lebih gawat dari yang aku perkirakan. Baiklah Gandarwamaya, lakukan perintah tuanmu, jangan sampai ada kesalahan sedikitpun.." sahut mbah Sastro.


"Jika demikian, kami mohon diri.." ucap Gandarwamaya kemudian pergi menuju kerajaannya.


Raut muka mbah Sumi menjadi tegang, "Sastro, antar aku ke rumah muridmu, aku ingin melihat kondisi muridku sekligus ad hal yang ingin aku bicarakan dengannya.." ucap mbah Sumi.


Tak menunda waktu lagi, mbah Sastro dan mbah Sumi pergi ke rumah Dewa untuk memastikan keadaan Naia dan Silvia.


*****


"Mbah Sumi, kapan sampai..? Kakek juga datang..? Silahkan masuk, silahkan duduk mbah.." sapa Silvia sambil mencium tangan mbah Sumi dan mbah Sastro.


"Sudah beberapa saat yang lalu, aku mampir di rumah Sastro sebelum datang kemari.." jawab mbah Sumi sambil duduk.


Mendengar suara mbah Sumi, Naia segera keluar kamar dan menyapa gurunya, "Mbah Sum, Kakek, bagaimana kabar kalian..?"

__ADS_1


"Baik cah ayu.. Saat ini berapa usia kandunganmu..?" tanya mbah Sumi.


"Mana suamimu nak..?" sambung mbah Sastro.


"Masuk bulan ke tiga mbah. Alhamdulillah keduanya sangat sehat.. Itu kek, mas Dewa saat ini perjalanan pulang dari kota B. Mungkin sore baru sampai rumah.." jawab Naia.


"Ada apa kok tiba-tiba mbah Sumi mengunjungi kami..? Kebetulan juga ada yang ingin aku tanyakan kepada mbah.." ucap Silvia.


"Ada hal yang ingin aku katakan, mungkin juga akan menjawab pertanyaanmu. Apakah akhir-akhir ini kalian sangat kesulitan mengendalikan atau menggerakkan kekuatan spiritual kalian..?" tanya mbah Sumi.


"Benar mbah, itulah yang sebenarnya ingin aku tanyakan. Tidak hanya aku, tapi Naia juga mengalami hal yang sama. Ada apa dengan kekuatan kami mbah..?" sahut Silvia.


"Bahkan aku sering tidak bisa merasakan kekuatan spiritualku guru, aku merasa kekuatanku menghilang begitu saja. Aku bertanya kepada adik iparku, Nuraini, tapi dia tidak mengalami hal yang kami alami. Ada apa sebenarnya guru, apakah kami telah melakukan kesalahan..?" sambung Naia.


"Tidak, kalian tidak melakukan kesalahan apapun. Ini semua terjadi karena nak Naia sedang mengandung. Semua kekuatan spiritual kalian akan terfokus untuk melindungi bayi yang ada di dalam perutmu.." ujar mbah Sumi.


"Kalau seperti itu, mengapa aku juga tidak bisa menggerakkan kekuatan spiritualku guru..?" tanya Silvia heran.


"Karena kalian adalah satu jiwa dalam dua tubuh, itulah sebabnya telaga kalbu kalian sama.. Ingat ini nak, selama kehamilanmu, jangan sembarangan menggunakan kekuatan spiritualmu, karena akan sangat berbahaya bagi tubuhmu. Lebih baik fokuskan saja pada bayi yang ada di perutmu.." sambung mbah Sumi.


"Lakukan seperti biasa, bermeditasi untuk mempertebal kekuatan spiritualmu, karena itu akan sangat membantunya mengisi kekuatan spiritual yang terkuras akibat melindungi kedua bayi yang ada di dalam perutnya.." ucap mbah Sumi sambil mengelus perut Naia.


Setelah berbincang cukup lama, mbah Sastro dan mbah Sumi berpamitan kepada Naia dan Silvia. Sesaat setelah sampai rumah mbah Sastro, mbah Sumipun berpamitan untuk kembali ke padepokan Tunjung Seto, "Sastro aku pamit dulu.."


"Sebentar Sumi, mengapa tidak kamu katakan saja semuanya kepada mereka..? Mereka juga harus tau semuanya.." ucap mbah Sastro.


"Tidak Sastro, aku tidak mau membebani mereka, terutama kepada nak Naia. Aku yakin muridmu pasti punya cara untuk mengatasinya. Lagipula masih ada Dewi Agni selalu membantu mereka.." ucap Mbah Sumi.


"Hhmmmm.. Baiklah aku ikut saja apa maumu.." sahut mbah Sastro.


"Aku pamit dulu Sastro, terimakasih sudah menjaga mereka. Aku akan kembali lagi kemari jika waktunya tiba, kita akan bekerja sama kembali seperti saat masih muda dulu Sastro.." ucap mbah Sumi kemudian menghilang dari pandangan mbah Sastro.


"Iya Sumi.. Mungkin juga ini tugas terakhir kita sebelum menghadap Sang Maha Hidup.." gumam mbah Sastro dalam hati.

__ADS_1


*****


Tak terasa tiga bulan berlalu dengan cepat. Selama tiga bulan, orang-orang pilihan yang dikirimkan Dunhill dan Loreng membuat Dewa dan Yuma tidak kesulitan untuk memilih dan melatih pasukannya sendiri, dan tak kurang dari 20 orang pasukan elit berhasil dilatihnya.


"Yud, bagaimana pelatihan mereka..?" tanya Dewa memulai pertemuan.


"Kemampuan mereka luar biasa bos, seharusnya mereka sebanding dengan pasukan khusus militer, bahkan ada beberapa yang lebih dari itu bos. Kalau saja waktu pelatihan mereka lebih lama lagi, kekuatan dan kemampuan mereka pasti akan meningkat lagi.." jawab Yuma.


"Benar kata bang Yuma bos, kemampuan dan ketahanan mereka masih sangat mungkin ditingkatkan.." ucap Santoso.


"Hanya saja sudah tidak ada waktu lagi. Baros sudah mulai mengirimkan pasukannya.. Lihat ini.." ucap Dewa sambil memberikan lembaran kertas kepada Yuma.


Raut muka Yuma mendadak berubah menjadi tegang saat membaca kertas yang diberikan Dewa, "M-mereka ini..?"


"Ada apa bang..?" tanya Santoso.


"Ya, beberapa dari mereka adalah rekan kita di pasukan Ganendra. Tapi aku yakin, mereka hanya menjalankan perintah saja.." sahut Dewa.


Yuma memberikan kertas yang dipegangnya kepada Santoso, "B-bukankah mereka mantan anggota Ganendra..? Sebentar, ini-orang inilah yang menyebarkan isu di kesatuanku bahwa kalian akan menyelundupkan senjata. Aku tidak menyangka bahwa dia dari pasukan Ganendra.." ucap Santoso sambil menunjuk foto orang yang dimaksud.


"Bukankah dia mantan ketua regu I..? Pantas saja, dia beberapa kali memprovokasi bos, ternyata ada Baros di belakang dia. Mengapa setelah sekian lama mereka masih mentargetkan kita..? Lalu apa yang harus kita lakukan bos..?" tanya Luki.


"Kita akan hadapi mereka, kita akan ikuti permainan mereka. Asal kalian tau, sasaran mereka adalah istriku dan Silvia. Bagaimanapun jangan sampai orang-orang ini tau dimana mereka berdua, tugas kita adalah melindungi mereka berdua.." ucap Dewa.


Yuma dan yang lainnya terkejut mendengar ucapan Dewa, "Nyonya bos..? Mengapa mereka mentargetkan nyonya bos..? Apakah alasannya sama seperti yang diungkapkan Karman waktu itu bos..?" tanya Yuma.


"Sebagian benar, tapi ada alasan lain yang lebih dari sekedar bisnis.." ucap Dewa kemudian menceritakan siapa sebenarnya Baros dan apa tujuannya ingin menangkap Naia dan Silvia, "Ingat, jangan sampai ceritakan masalah ini kepada orang lain. Cerita ini hanya kalian yang tau.." ucap Dewa mengakhiri ceritanya.


"Bang apa gak sebaiknya kita ungsikan dulu kak Naia dan kak Silvia sampai situasi aman..? Biar aku nanti yang menjaga mereka.." tanya Tiara.


"Benar bos, disamping itu kita bisa lebih leluasa menghadapi mereka.." sahut Yuma.


"Tidak, untuk saat ini sebaiknya mereka berada di sini, sehingga mudah bagi kita untuk mengawasi Naia dan Silvia.. Tiara, hubungi Dunhill dan Sandhi, suruh dia dan beberapa orang terbaiknya untuk segera berkumpul disini.. Yud, siagakan pasukanmu dalam situasi darurat.. Yang lainnya tetap waspada dan tunggu perintahku selanjutnya.." ucap Dewa.

__ADS_1


"Baik bos.." ucap Yuma, Santoso, Luki, Faruq dan Tiara.


__ADS_2