Dewa Sang Patriot

Dewa Sang Patriot
Tarian Kamatantra


__ADS_3

Rombongan keluarga pengantin langsung menuju salah satu hotel bintang 5 di kota L untuk melangsungkan resepsi pernikahan Dewa dan Naia juga Niko dan Nuraini. Pak Wira dan pak Gunawan sengaja mengadakan resepsi pernikahan putri-putri mereka bersamaan. Dengan pengawalan dari petugas keamanan Wiryawan Group dibantu oleh beberapa personel angkatan darat dimana, acara resepsi pernikahan berjalan lancar dan nyaris tanpa ada gangguan. Semua karyawan yang bekerja di bawah Wiryawan Grup hadir untuk memberikan selamat kepada kedua pasang pengantin. Tidak ketinggalan beberapa rekan bisnis pak Wira juga ikut memberikan selamat.


"Selamat pak Wira, akhirnya mentas juga putrinya. Tinggal menunggu ada yang memanggil kakek ya..? Hahahaha..." ucap pak Praja salah satu rekan bisnis pak Wira.


"Hahahhaa... Bisa saja sampean mas. Terimakasih atas kehadirannya, dan mohon do'anya saja biar aku cepet jadi kakek dan bisa pensiun dengan bahagia.. Silahkan menikmati apapun yang dihidangkan.." jawab pak Wira sambil menjabat tangan pak Praja.


Tak terasa beberapa jam berlalu, sebagian besar tamu undangan sudah meninggalkan lokasi resepsi. Demikian pula dengan keluarga pak Wira dan keluarga pak Gunawan yang juga meninggalkan lokasi resepsi, pulang ke kediaman masing-masing.


"Mas kami pulang dulu.." ucap Niko sebelum meninggalkan lokasi resepsi.


"Iya, jaga mereka Nik.. Nur, kamu gak usah pikirkan proyek dulu. Kemarin aku sudah perintahkan kepada Roni untuk menghentikan proyek pembangunan selama seminggu. Kamu nikmati saja dulu liburan ini. Sampaikan kepada ibu juga, lusa aku dan Naia akan mengunjungi beliau.." jawab Dewa diikuti anggukan Niko.


"Iya kak. Terimakasih kak.." ucap Nuraini.


Setelah mendapatkan beberapa arahan dari Dewa, Yuma dan yang lainnya kembali ke kota AG.


*****


"Alhamdulillah ya pa, hari ini semua berjalan dengan lancar tanpa satu kekurangan apapun.." ucap bu Santi dengan wajah bahagia.


"Benar ma, semua sesuai dengan rencana kita.. Oiya Naia dan Dewa, mulai hari ini kalian adalah pasangan suami istri. Sebagai seorang istri, perkataan suamimu adalah perintah buatmu, kamu harus selalu mematuhinya. Dan Dewa, aku percayakan Naia kepadamu, tuntun dia ke jalan yang baik, jaga dia seperti hal nya kami menjaganya dulu waktu kecil.." ucap pak Wira tegas.


"Baik pa, aku akan selalu berusaha untuk membawa Naia ke jalan kebenaran dan akan menjaga dan menyayanginya.." jawab Dewa dengan penuh keyakinan.


"Silvia, tugas papa sekarang tinggal kamu saja. Jika ada seseorang yang kamu cintai, segera bilang papa. Kalau memang dia baik buatmu, papa pasti akan menyetujuinya.." ucap pak Wira.


"Iya pa, tapi untuk sementara aku belum punya seseorang yang benar-benar aku cintai.." jawab Silvia pelan.


"Sudahlah tidak usah terburu-buru, mantapkan dulu saja hatimu.." sahut bu Santi.

__ADS_1


Setelah beberapa saat mengobrol, mereka pun masuk kamar masing-masing. Seperti layaknya pengantin baru, Dewa dan Naia menikmati malam pertama mereka berdua. Setelah membaca do'a, Dewa mulai dengan mencium kening istrinya kemudian turun kebibir, leher, dada dan perut istrinya.


"Apakah kamu menyukainya..? Adakah perasaan takut di hatimu..?" tanya Dewa dengan lembut.


"He ehhmm, aku menyukainya mas, dan tidak ada sedikitpun perasaan takut dihatiku.." jawab Naia dengan lembut dan wajah memerah.


"Apakah aku bisa melanjutkannya..?" sahut Dewa diikuti anggunan Naia dengan senyum manjanya.


Dewa kembali mencium bibir istrinya dengan lembut. Sementara itu di telaga kalbunya, Sang Adhimurti terlihat menari bersama Sang Dewi Kilisuci, sebuah tarian Kamatantra yang sangat indah melambangkan hubungan cinta kasih antara suami-istri. Setiap gerakan tari yang diperagakan oleh Sang Adhimurti selaras dengan apa yang dilakukan Dewa kepada Naia, demikian pula gerakan sang Dewi Kilisuci yang juga selaras dengan Naia. Setiap gerakan tari dari Sang Adhimurti dan Dewi Kilisuci yang selaras membuat energi spiritual Dewa dan Naia pun menjadi selaras sehingga kekuatan spiritual mereka pun meningkat.


Keselarasan energi ini hanya terjadi pada saat kedua insan terikat dalam satu hubungan sah, yaitu pernikahan. Leluhur Nusantara meyakini bahwa hubungan intim suami dan istri adalah sesuatu yang sakral dan tidak dapat dilakukan oleh pasangan diluar pernikahan, karena akan berakibat menurunkan kekuatan spiritual dan akan mengakibatkan karma buruk bagi mereka yang melakukannya. Hal ini selaras dengan agama apapun yang melarang manusia melakukan perbuatan zina.


Beberapa jam berlalu, Dewa berbaring di samping Naia sambil memeluknya. Senyuman bahagia terlukis di bibir Naia dan Dewa, "Kamu tidurlah dulu, aku akan menyusulmu setelah mandi.." ucap Dewa kemudian duduk di tepi ranjang.


"Mandi bareng aja ah, boleh kan..?" sahut Naia diikuti anggukan Dewa.


Jalan menuju Rahim Tuhan adalah jalan tersembunyi dan tidak sembarang orang bisa melewatinya. Hanya orang-orang yang memenuhi persyaratan dan terikat oleh pernikahanlah yang bisa melewatinya. Karena kehidupan suci yang hadir di dunia ini berawal dari rahim.


Pagi hari, Silvia membuka mata kemudian duduk di tempat tidur sambil memeluk guling dengan wajah memerah seperti menahan sesuatu, "Ada apa dengan diriku..? Memgapa aku sampai bermimpi seperti itu..? Apakah aku benar-benar menginginkan mas Dewa..?" gumam Silvia dalam hati.


Silvia kembali merebahkan tubuhnya di kasur dengan masih memeluk guling, "Tapi mimpi itu benar-benar terasa begitu nyata. Bahkan aku masih bisa merasakan bibir mas Dewa menyentuh setiap bagian tubuhku. Aahhhh, ada apa dengan diriku ini..? Apakah karena semalam mas Dewa melakukannya dengan Naia, sehingga aku juga merasakannya..?" pikir Silvia.


Silvia terus mempertanyakan apa yang terjadi pada dirinya, sehingga dia bermimpi sedang bercinta dengan Dewa. Tiba-tiba terdengar suara pintu kamarnya diketuk dan terdengar teriakan Naia yang membuyarkan lamunannya.


Tok.. Tok.. Tok...


"Vi, masih tidurkah..? Sarapan yuk..? Itu papa, mama dan mas Dewa udah nungguin.." teriak Naia.


"Iya, bentar aku mandi dulu Nai, kalian duluan aja gak pa pa.." sahut Silvia.

__ADS_1


"Yaudah, buruan mandi.. Kami tunggu di ruang makan.." sahut Naia.


Silvia segera bangkit dari tidurnya kemudian menyambar handuk dan pergi ke kamar mandi dan melepas semua pakaiannya. Silvia berdiri di depan cermin besar yang ada di kamar mandi, dilihatnya seluruh bagian tubuhnya dan membayangkan kembali kejadian yang ada di mimpinya, "Aaahhhh.. Silvia, itu semua hanya mimpi dan bukan kenyataan. Sebaiknya kamu segera mandi, mereka sudah menunggumu untuk sarapan.." gumam Silvia sambil melihat bayangan dirinya di cermin.


*****


"Sini makan bareng Vi.. Kebetulan mama masak makanan kesukaanmu juga.." ucap bu Santi saat melihat Silvia.


"Iya ma.. Waaahh terimakasih ma, udah lama juga aku gak makan gurami asam manis buatan mama.." jawab Silvia sambil duduk.


"Tumben bangun siang Vi..? Biasanya kamu bangun sebelum aku.." tanya Naia.


"Karena tidur sendiri, jadinya terlalu tenang gak ada kaki yang tiba-tiba nindih perutku.. Lagian juga gak ada yang tiba-tiba ngrebut selimut dan bantalku seperti biasanya.. Emang mas Dewa bisa tidur tenang semalam..?" goda Silvia.


"Kamu tuh, kok bisa-bisanya lho bikin alasan kayak gitu.. Hiiiih.." jawab Naia gemes.


"Udah-udah jangan ribut didepan makanan. Silvia makan yang banyak, Naia juga biar tubuh gak kekurangan nutrisi.." ucap pak Wira.


Setelah selesai sarapan, pak Wira, bu Santi dan Dewa mengobrol di ruang keluarga, sedangkan Naia dan Silvia duduk di taman belakang rumah.


"Bagaimana perkembangan perusahaan yang kamu buat..? Apa lagi yang bisa papa bantu..?" tanya pak Wira.


"Alhamdulillah semua berjalan seperti rencana pa. Selama ini lancar dan tidak ada masalah yang serius.." jawab Dewa kemudian menceritakan secara detail perkembangan perusahaan yang dia dirikan.


"Untuk alat-alat pertanian dan pengolahan hasil pertanian yang kamu butuhkan itu, kamu bisa bekerja sama dengan salah satu perusahaan milik Wiryawan Grup juga. Nanti biar papa atur buatmu.." ucap pak Wira.


"Terimakasih pa, tapi aku ingin kali ini biar aku sendiri yang menanganinya sekalian aku ingin belajar bernegoisasi juga. Aku akan masukkan proposal kerja sama ke perusaan yang papa rekomendasikan itu, nanti bagaimana prosesnya biar aku ikuti dulu.." jawab Dewa.


"Hahahaha.. Bagus, papa bangga sama kamu, memang seharusnya seperti itu.." ucap pak Wira sambil menepuk pundak Dewa.

__ADS_1


__ADS_2