
Sore itu suasana tempat latihan sedikit berbeda. Roni mengajak tiga orang masuk ke dalam sasana pada saat Naia dan teman-temannya berlatih. Roni memberitahu Dewa bahwa mereka bertiga adalah petarung yang didaftarkan pada kompetisi tarung bebas di Kabupaten AE. Ketiganya dipilih setelah sebelumnya menjalani berbagai pelatihan intensif dari Roni dan pelatih lainnya, "Bos, ini Junet, Barno dan Huda, yang akan menjadi wakil dari sasana Lerengwilis di kompetisi semi pro tarung bebas. Rencananya nanti malam kami akan berangkat bos, karena Senin kompetisi sudah dimulai. Mungkin ada hal yang ingin bos sampaikan..?" Roni meminta Dewa memberi arahan.
"Selain mereka bertiga, siapa saja yang berangkat..? Lalu kalian naik apa..?" tanya Dewa.
"Aku, Kosim dan Icong bos. Rencana kami membawa mobil sendiri.." jawab Roni.
"Kalian bertiga, tidak ada target apapun dariku, tapi lakukan semaksimal yang kalian mampu. Yang perlu kalian kalahkan adalah emosi dan rasa takut yang ada di dalam diri kalian sendiri. Ingat, tetap tenang dan jangan mudah terpancing emosi. Kalian paham..?" tanya Dewa serius.
"Kami paham bos..!!" jawab mereka serempak.
"Ron nanti tolong kamu kirim lokasi pertandingannya dan dimana kalian menginap. Jangan lupa, untuk jadwal pertarunganku, kamu informasikan sehari sebelumnya kepadaku.." ucap Dewa memastikan.
"Siap bos.. Sesuai perintah.." jawab Roni. Lalu Roni memberi perintah kepada mereka bertiga, "Kalian bertiga, silahkan pulang dulu, persiapkan segala sesuatu yang harus kalian bawa. Jam delapan malam ini kita berangkat.." Junet, Huda dan Barno pun meninggalkan sasana.
Setelah kepergian mereka bertiga, Loreng datang ke sasana untuk memberi sebuah informasi kepadaku, "Bos ini ada informasi terbaru dari pertarungan bos melawan Yuma. Barusan Suwarno pasang taruhan 200 juta untuk Yuma. Bagaimana bos..?" tanya Loreng.
"Lawan semuanya, kita sikat habis. Bukankah kita hanya perlu memasang 10% dari total uang taruhan..?" jawab Dewa dengan percaya diri.
"Hahaha.. Oke bos.."
"Trus ini kok ada grup aneh di hp saya ya..? Pagos 7E, ini grup apa bos..?" tanya Loreng bingung.
"Itu grup orang tua/wali dari Kartika. Gak usah bingung, kamu cukup ikuti aja infonya. Kalau ada panggilan orang tua, kamu antarkan mbah Binti saja, kalau ada masalah yang berhubungan dengan biaya sekolah Kartika, langsung kamu infokan ke aku.." ucap Dewa.
"Oh.. Baik bos.." jawab Loreng.
Setelah selesai dengan Roni dan Loreng, Dewa pun berlatih fisik menggunakan alat-alat fitnes yang ada di sasana. Tak lupa Dewa selalu memasang beban maksimum di tiap alat yang dipakainya, dan berlatih sekitar sepuluh menit untuk masing-masing alat. Tak terasa waktu berlatih pun selesai. Setelah beristirahat sebentar, Dewa mengantar Naia, Silvia dan Nuraini ke basecamp kemudian Dewa pulang ke rumahnya.
*****
Dewa membuka kitab Kalimasada bagian terakhir dimana bagian terakhir itu berisi tentang kidung sesanti atau kidung do'a kepada Sang Penguasa Alam Semesta. Dewa membaca secara perlahan dan mencoba untuk memahami arti di tiap katanya.
'Tan samar pamoring sukma, Sinuksmaya winahya ing ngasepi, Sinimpen telenging kalbu, Pambukaning warana, Tarlen saking liyep layaping aluyup, Pindha pesating sumpena, Sumusuping rasa jati. Sejatine kang mangkana, Wus kakenan nugrahaning Gusti, bali alaming ngasuwung, Tan karem arameyan, Ingkang sipat wisesa winisesa wus, Mulih mula ulanira'
Dewa membaca kalimat itu berulang kali lalu memejamkan matanya. Bunyi dari kidung sesanti itu menggema terus di kepalanya dan menariknya masuk ke dalam alam weningnya. Dewa berdiri di atas telaga kalbunya, dia melihat Sang Diri Sejati memancarkan warna keemasan, dan ada bunga lotus mekar yang memancarkan cahaya keunguan di atas kepalanya. Dewa bisa merasakan energi spiritualnya yang ratusan kali lebih kuat dan pekat, yang membuat hati dan pikiran Dewa menjadi damai dan tentram. Segala bentuk keraguan di hati Dewa mendadak sirna berganti dengan keyakinan yang sangat kuat, keyakinan terhadap dirinya sendiri dan keyakinannya terhadap Sang Maha Hidup.
Perlahan Dewa kembali pada kesadaran fisik atau kesadaran jaganya. Dewa merasa tubuhnya jauh lebih segar, lebih sehat dan bugar. Dia merasa bahwa setiap sel di dalam tubuhnya beregenerasi. Dewa juga merasakan suatu kekuatan besar mengalir di dalam dirinya. Tak lama kemudian adzan Shubuh berkumandang, "Sudah shubuh.. Lebih baik aku mandi dulu lalu pergi ke musholla untuk berjamaah.." gumam Dewa dalam hati.
Setelah selesai berjamaah, Dewa melihat hpnya dan Roni sudah mengirimkan pesan berisi lokasi dimana kompetisi itu berlangsung dan dimana tim sasana Lerengwilis menginap.
__ADS_1
*****
Waktu berjalan sangat cepat, tak terasa beberapa hari terlewati. Proses renovasi rumah mbah Binti pun terus dikerjakan. Dibawah kendali Loreng, para tukang tidak pernah berani membantah apapun yang diperintahkan Nuraini, sehingga pekerjaan renovasi rumah mbah Binti berjalan sesuai jadwal yang direncanakan.
Dari arena pertandingan, Roni juga selalu memberikan berita tentang kompetisi kepada Dewa. Hingga pada sore itu saat mereka selesai latihan, "Bos ada berita bagus, Huda menang lagi, dia masuk babak final.." ucap Loreng senang.
"Bagus.. Lalu kapan finalnya diadakan..? Terus jadwalku bagaimana..?" tanya Dewa memastikan.
"Finalnya lusa bos, hari Sabtu. Berarti jadwal bos juga hari yang sama. Hanya saja jam berapanya aku juga tidak tau.." jawab Loreng.
"Oke.. Besok setelah shubuh aku akan berangkat. Ada hal yang harus aku lakukan sebelum pertandingan. Kamu sudah pasang taruhannya..?" tanya Dewa memastikan.
"Beres bos. Ada satu orang lagi yang pasang di sisi bos. Aku gak tau siapa.. Eeeee, Sabtu sore setelah selesai mengawasi renovasi rumah mbah Binti, aku akan menyusul kesana bos, pengen lihat pertarungannya bos secara langsung.. Boleh kan bos..?" tanya Loreng.
"Emang masih sempat..? Jadwal pertarunganku saja kita belum tau jam berapanya.." ucap Dewa.
"Tenang aja bos, biasanya pertarungan puncak itu diadakan malam hari bos. Aku yakin masih sempat.." jawab Loreng dan dianggukkan oleh Dewa.
Naia yang sedari tadi mengamati pembicaraan Dewa dengan Loreng tiba-tiba mendekat kemudian bertanya, "Mas mau kemana..? Kok aku gak dikasih tau..?" tanya Naia protes
"Eee... Itu ada urusan sedikit di eee disana. M-Maksudku kan hanya sebentar, jadi itu gimana kalau kamu gak usah ikut dulu. Lagian ini juga...." jawabku gugup. Belum selesai aku bicara, Naia memotong ucapanku sambil melotot.
"Gak bisa. Aku ikut, kalau gak boleh ikut, mending gak usah berangkat aja..!!" jawab Naia lalu menggembungkan pipinya.
"Lah.. Reng mau kemana..? I-ini waduuh...." Dewa bingung harus beralasan apa sama Naia.
"Gimana..? Beneran gak boleh ikut nih..?" ucap Naia mendekatkan wajahnya ke wajah Dewa.
"I-iya-iya ikut-ikut boleh ikut.. Hihihihi.." jawab Dewa.
Nuraini dan Silvia hanya tertawa melihat tingkah Dewa dan Naia, "Hihihi.. Eh Nur, kenapa itu mereka..?" tanya Silvia.
"Aku juga gak ngerti Vi, udah beberapa hari ini tingkah mereka aneh gitu. Selama ini, baru kali ini aku lihat kakak merasa terintimidasi.. Kak Naia emang sesuatu banget.. Hihihi.." jawab Nuraini sambil ketawa.
"Waduh.. Kayaknya dapat kakak ipar galak kamu Nur.. Hahahha.." celetuk Silvia.
"Eh.. Bener juga ya..? Hahahhaha.." Nuraini pun tertawa bersama Silvia.
*****
__ADS_1
Setelah melakukan beberapa persiapan, Dewa membuka laptopnya berharap ada berita terbaru dari Niko, dan benar saja Niko mengirimkan sebuah video rekaman cctv dimana komandan pasukan Ganendra bertemu dengan Santoso, sang sniper, sehari sebelum mereka berangkat menjalankan misi. Dewa melihat video itu dengan seksama, muncul pertanyaan di kepalanya, "Mengapa kolonel menemui Santoso..? Apakah dia yang merencanakannya..? Benar yang dikatakan Niko, Santoso adalah petunjuk awal..?" pikir Dewa sambil mematikan laptopnya. Kemudian Dewa menghubungi Roni.
Roni, "Hallo.. Iya bos, ada apa..?"
Dewa, "Ron, besok pagi aku akan berangkat kesana. Eeee, aku ingin menemui Yuma sebelum bertanding apakah kamu bisa mengaturnya..?"
Roni, "Akan ku usahakan bos. Emangnya ada apa bos..? Kalau memang dia mau, bos akan bertemu dia dimana..?
Dewa, "Aku pengen rekrut dia. Masalah tempat pertemuan, kamu atur aja, yang penting tempat itu sepi dan tidak banyak orang. Kalau dia menolak, bilang saja ada seseorang yang ingin ketemu Raja Yama, kalau dia marah, kamu tanya kepadanya, apakah raja berani melawan perintah dewa..?"
Roni, "Siap bos. Akan ku usahakan.."
Hanya berselang beberapa saat, Naia, Silvia dan Nuraini datang sambil membawa beberapa bungkus nasi pecel untuk makan malam, "Assalamu'alaikum.." ucap mereka bertiga.
"Wa'alaikumsalam.. Eh bawa apaan itu..?" tanya Dewa.
"Makan malam dong.. Sayang belum makan kan..?" tanya Naia manja.
Silvia dan Naia langsung ke dapur untuk mengambil peralatan makan, sedangkan Nuraini duduk bersandar di kursi, terlihat dari wajahnya, Nuraini sedang capek. Dewa menatap Nuraini, "Kasihan adikku, dia pasti capek bolak-balik rumah Mbah Binti dan proyek KKN nya.." pikir Dewa, lalu mendekati Nuraini dan mencium keningnya, "Maafin kakak ya Nur, udah buat kamu begitu sibuk beberapa hari ini. Kamu pasti capek ngurus dua proyek bersamaan.." ucap Dewa disambut senyum dan gelengan kepala Nuraini.
"Enggak kok kak, malah Nur seneng bisa bantu kakak. Selama ini justru Nur yang selalu merepotkan kak Dewa.." jawabnya pelan lalu Dewa mengajak Nuraini untuk makan.
Saat makan bersama, Naia kembali bertanya, "Emang besok mas mau kemana sih mas..? Terus tujuannya apa..?" tanya Naia penasaran.
"Eh.. Mas mau pergi..? Kemana..?" tanya Silvia.
Dewa menceritakan tujuannya pergi ke kabupaten AE kepada mereka dan juga menawarkan kepada mereka untuk ikut, "Itulah tujuannya. Aku merasa bahwa yang akan aku lawan adalah salah anggota regu III juga. Ini kesempatan ku untuk bertemu dengannya lalu aku akan ajak dia bersama-sama mencari kebenaran dari peristiwa itu.. Oiya, gimana kalau kalian ikut juga kedana..?" ucap Dewa mengakhiri ceritanya.
"Pengen sih kak, tapi Nur gak bisa ikut, kalau Nur ikut nanti siapa yang awasi renovasi rumah mbah Binti..?" ujar Nuraini.
"Aku ikut. Tadi mas udah janji aku boleh ikut kan..?" ucap Naia dan dijawab dengan anggukan kepala oleh Dewa.
"Lah sama, aku juga gak bisa ikut. Aku sama Risa udah janji sama Kartika buat ajari dia bahasa Inggris sama Matematika.." jawab Silvia sedikit kecewa.
"Hheeee..? Kalian ini kompak ya, kalian pasti sengaja kan..? Biar aku sendirian ini yang ikut..?" Protes Naia, lalu dia bergumam, "Tapi gak pa pa deh, itung-itung temani mas Dewa.." walaupun dengan suata pelan, tapi mereka bertiga masih bisa mendengarnya.
Mendengar jawaban Naia, Nuraini dan Silvia kompak melihat Naia, "Eh.. Kenapa kalian lihat aku kayak lihat hantu gitu..?" tanya Naia bingung.
"Kalian pergi berdua, yang jelas kalian pasti akan nginep di hotel sekamar berdua, awas jangan macem-macem ya..? Metang-mentang kalian udah dapat restu jangan sampai kalian nanti ngelakuin itu sebelum sah.." ucap Silvia.
__ADS_1
Dewa dan Naia saling pandang, Naia paham dengan maksud Silvia dan segera menjawab, "Eh.. Apaan sih kmau itu Vi.. Ya enggak lah. Anu emangnya kalian pikir itu kita mau ngelakuin apa..?" jawabnya gugup dengan wajah memerah
"Eh, kok kak Naia gugup..? Hhmmmm, Nur jadi makin curiga nih, kalian pasti udah ngrencanain ini kan..?" ucap Nuraini sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Naia.