
Sementara itu di halaman belakang rumah pak Wira, Naia dan Silvia terlihat sedang duduk santai di pinggir kolam renang sambil mengobrol.
"Kalian ada rencana honeymoon kemana..?" tanya Silvia.
"Sepertinya sih kita honeymoon di kota AG aja sekalian bantu mas Dewa selesaikan proyek yang tertunda.. Toh disana juga udah ada rumah sendiri dan udaranya juga sejuk.." jawab Naia.
"Yah gak asih ah, masak honeymoon sambil kerja..? Ke pulau Dewata kek, ntar pas kalian udah pulang honeymoon aku udah punya calon ponakan.." sahut Silvia.
"Ih... Kamu tuh asal ngomong aja. Aku pengennya menunda kehamilan dulu sampai selesai kuliah, setidaknya sampai selesai skripsi lah.. Tapi semuanya terserah Tuhan bagaimana mengaturnya, aku tinggal jalani aja.." ucap Naia.
"Nah itu baru bener, seperti kata mbah Sumi, pasrah pada Yang Maha Mengatur.. Manusia hanya sebatas merencanakan dan berupaya, tapi semua keputusan tetap ada di tangan Sang Maha Hidup.." sahut Silvia dan dijawab acungan jempol oleh Naia.
Merekapun melanjutkan obrolan sambil menikmati hangatnya matahari pagi kota L.
******
Tak terasa satu minggu berlalu, proyek pembangunan tempat pendidikan dan pelatihan tenaga keamananpun kembali dilanjutkan. Nuraini sebagai pengawas internal proyek pembangunan menjalankan tugasnya dengan penuh semangat sehingga proses pembangunan berjalan dengan sangat lancar dan sesuai dengan rencana.
Demikian pula dengan Loreng dan Luki, mereka kembali melakukan rekruitmen kelompok tani yang ingin bergabung menjadi mitra tani. Satu per satu koperasi usaha tani berdiri di desa tempat kelompok tani berasal. Dalam waktu singkat, telah berdiri puluhan koperasi usaha tani di wilayah kota AG. Hal ini tentunya membuat kepala dinas koperasi merasa heran sehingga melaporkan kejadian tersebut kepada kepala daerah kota AG, "Maaf pak, ada hal yang ingin saya laporkan. Jadi beberapa bulan terakhir ini, banyak pengajuan permohonan ijin pendirian koperasi oleh kelompok tadi di desa wilayah kota AG. Hampir semua desa mengajukan permohonan tersebut, kemudian setelah kami periksa, ternyata koperasi tersebut akan berafiliasi dengan PT. Perkutut Emas dalam program kemitraan pertanian organik milik perusahaan itu. Apakah tetap kita keluarkan ijinnya pak..?" tanya kepala dinas koperasi.
"Hhmmm.. Tidak masalah, keluarkan saja. Selama ini hasil pertanian kita tidak begitu maksimal, mungkin dengan kemitraan PT. Perkutut Emas bisa meningkatkan hasil produksi dan keuntungan para petani di kota kita.." jawab pak Hendra.
"Tapi pak, apakah nanti tidak menimbulkan benturan dengan program dari dinas pertanian dan peternakan..? Juga para pengusaha beras pasti akan terganggu usahanya.." sambung kepala dinas.
__ADS_1
Pak Hendra menarik nafas panjang mendengar alasan dari bawahannya itu. Dengan sedikit emosi, "Program yang hanya menghambur-hamburkan APBD, tapi hasilnya nihil. Kenyataannya kita masih saja mendatangkan bahan pangan dari kota lain untuk menutup kekurangan kebutuhan warga kota AG.. Pengusaha beras itu, mereka hanya memikirkan keuntungannya sendiri. Selama ini mereka membeli hasil panen petani dengan harga dibawah harga yang sudah ditetapkan pemerintah dengan berbagai alasan. Tolong catat ini, sesuatu yang mudah jangan dipersulit. Segera keluarkan ijin koperasi para kelompok-kelompok tani itu..! Juga keluarkan anggaran untuk mensubsidi koperasi-koperasi mereka..!" sahut pak Hendra serius.
"B-baik pak, kami akan menjalankannya.." jawab kepala dinas koperasi.
"Aku berharap program PT. Perkutut Emas bisa benar-benar membantu petani meningkatkan produksi dan keuntungan para petani, juga menghindarkan petani dari para tengkulak. Nak Dewa, aku yakin kamu pasti berhasil.." gumam pak Hendra dalam hati.
Beberapa hari setelah kepala dinas koperasi menghadap, pak Hendra sebagai kepala daerah segera mengadakan rapat dengan beberapa kepala dinas, diantaranya dinas pertanian dan peternakan, dinas ketahanan pangan dan dinas koperasi. Pak Hendra menekankan agar memberikan kemudahan kepada para petani yang ingin berafiliasi dengan PT. Perkutut Emas.
Sementara itu meskipun gedung pelatihan masih dalam proses pengerjaan, Yuma dibantu oleh Kosim dan Faruq, melatih anak buah Loreng dan beberapa pemuda yang dikirimkan oleh Jono menjadi tenaga pengawal dan keamanan profesional. Mereka, sekitar 40 orang, mendapatkan pelatihan keras dengan disiplin tinggi layaknya militer. Meskipun pada awalnya ada beberapa yang mengeluh, tapi lama kelamaan mereka terbiasa dengan porsi dan tekanan latihan yang diberikan oleh Yuma.
*****
Hanya berselang satu bulan setelah pak Hendra mengeluarkan perintahnya, kini para petani bisa tersenyum bahagia setelah menerima ijin pendirian koperasi mereka. Bahkan pemerintah kota AG juga memberikan bantuan permodalan untuk koperasi mereka sebesar sepuluh juta untuk setiap koperasi. Kemudian secara bertahap PT. Perkutut Emas mengadakan pelatihan untuk para petani dan pengurus koperasi tentang pelaksanaan program kemitraan.
Sore itu di kantor sasana, Dewa memimpin rapat bersama dengan Yuma dan yang lainnya.
"Aku juga sudah mentransfer pembayaran termin ke tiga kepada perusahaan kontraktor.." sambung Silvia.
"Oiya bos, ini grafik perkembangan dari orang-orang yang sudah aku latih. Kemampuan mereka bervariasi, dengan paling rendah mereka memiliki kemampuan dan ketahanan setara dengan petarung profesional.." ucap Yuma sambil menyodorkan laporannya.
Dewa memeriksa laporan yang diberikan Yuma sambil tersenyum. Setelah beberapa saat, "Alhamdulillah.. Kalau begitu aku gedung akan kita resmikan minggu depan. Aku akan membagi tugas, Tiara tolong bikin undangan resmi kepada beberapa orang yang ada di daftar ini. Loreng tugasmu memberikan undangan kepada kapolsek Kota Barat sekaligus pemberitahuan akan kegiatan peresmian. Roni undang pamanmu yang polisi baik itu.........." Dewa menjelaskan tugas masing-masing untuk acara peresmian.
"Siap bos, sesuai perintah.." jawab mereka serempak.
__ADS_1
"Oiya, aku juga ingin memberitahu kepada semua, karena pembangunan gedung pelatihan telah selesai dan semua data yang Nur butuhkan untuk skripsi juga sudah selesai. Saatnya Nur harus selesaikan tugas akhir, dan setelah itu Nur akan membantu ayah dan om Wira mengurus Wiryawan Grup. Jadi kedepan Nur tidak akan bersama kalian lagi. Nur mengucapkan terimakasih kepada kak Dewa dan abang-abang semua atas kerjasamanya. Nur juga mohon maaf atas semua perkataan maupun perilaku Nur yang kurang berkenan di hati abang-abang semua.." ucap Nuraini sambil tersenyum.
"Loh jadi kamu mau tinggalin kita dik..? Bukannya papa setuju kamu ada disini..?" tanya Naia terkejut.
"Jadi bos kecil gak bergabung dengan kita lagi..? Waduh istri dan anakku bisa sedih kalau tau bos kecil gak disini lagi.." sahut Loreng dengan wajah sedih.
Selama pengerjaan proyek, setiap hari minggu, Nuraini dan Silvia sering mengajak Kartika juga anak dan istri Loreng ke pusat kota AG untuk sekedar jalan-jalan atau berenang.
"Iya memang om Wira setuju Nur ada disini, tapi masalahnya adalah suami Nur kan dinas di kota L, jadi Nur harus mengikuti mas Niko, makanya lebih baik Nur kembali ke Wiryawan grup. Bang Loreng jangan sedih, kan dua minggu sekali suami Nur juga jadi instruktur disini, jadi kita bisa tetap ketemu dan berkumpul bersama.." jawab Nuraini.
"Iya kakak paham kondisimu. Memang kurang baik kalau sudah berkeluarga tapi tidak tinggal serumah.." ucap Dewa.
"Kakak tenang aja, Nur akan rekomendasikan teman Nur untuk menghandle semua pekerjaan Nur. Yang pasti dia jauh lebih pintar dari Nur.." ucap Nuraini.
"Baiklah kalau seperti itu, kakak percaya sama kamu.. Oiya, hari ini aku juga akan mengubah struktur organisasi perusahaan kita. Posisi direktur utama aku percayakan kepada Roni, direktur satu membidangi keuangan aku serahkan kepada Silvia dan istriku akan menjadi direktur dua yang mengurusi administrasi perusahaan. Tiara kedepan akan menjadi asisten Silvia, sedangkan urusan teknik aku serahkan kepada Faruq. Yuma, Loreng, bang Kosim dan Icong tetap pada tugas semula. Sandhi juga tetap menjadi kepala kantor perwakilan di kota AB, selain itu dia juga menjadi asisten dari Naia. Untuk job diskripsi bisa kalian lihat di buku panduan ini.." ucap Dewa sambil menunjukkan buku yang dimaksud.
"Lalu bos sendiri bagaimana..?" tanya Yuma penasaran.
"Aku akan berada di posisi komisaris bersama mbah Sastro.. Jika sudah jelas semua, kalian bisa meninggalkan ruangan ini. Yudha dan bang Kosim bisa tinggal disini dulu.. Ada hal yang ingin aku bahas dengan kalian.." ucap Dewa.
Semua meninggalkan ruangan kantor sasana, hanya tinggal Dewa, Yuma dan Kosim.
"Mas aku pulang dulu ya, gak tau nih badanku gak begitu nyaman, mungkin kecapekan. Kalau mas sudah selesai telepon aja, nanti aku jemput.." ucap Naia.
__ADS_1
"Gak usah, biar nanti aku diantar sama Yudha, kamu istirahat aja.." ucap Dewa kemudian mencium kening istrinya.
Naia bersama dengan Silvia, Nuraini dan Tiara meninggalkan sasana dan pulang. Dewa kembali ke kursinya dan mulai berdiskusi dengan Yuma dan Kosim.