Dewa Sang Patriot

Dewa Sang Patriot
Seorang ayah


__ADS_3

Dengan wajah panik, Tiara menerobos masuk ke ruangan Dewa tanpa mengetuk pintu sambil berteriak memanggil Dewa, "Bang.. Bang Dewa...!! gawat bang..!"


Melihat perilaku Tiara, Yuma pun menghardik Tiara, "Tiara..! Dimana sopan santunmu, apakah kamu tidak tau kami sedang membahas masalah penting..?!"


"Diam kau bang, ada hal penting yang ingin aku katakan kepada bang Dewa. Jangan ikut campur..!" balas Tiara.


"Hei..., kamu udah berani membentakku ya..! Aahhhh..., ini pasti karena bos selalu saja memanjakanmu.. Bos sudah sering aku ingatkan jangan terlalu memanjakan gadis tomboy ini.." ucap Yuma.


"Sudah.., sudah.., kalian ini ribut aja kalau ketemu. Udah Yud, biarkan Tiara ngomong dulu.. Tiara, sebenarnya apa yang ingin kamu sampaikan..? Cepat katakan, jangan bertele-tele.." sahut Dewa.


Tiara mendekatkan kepalanya ke telinga Dewa kemudian berbisik, "Kak Naia tiba-tiba pingsan saat akan masuk mobil, dan sekarang diantar oleh kak Silvia ke klinik yang ada di dekat SMP Bina Bangsa.."


Wajah Dewa berubah menjadi tegang, kemudian dia berdiri, "Mengapa bisa sampai pingsan..? Kalau begitu kita segera kesana.." ucapnya sambil pergi meninggalkan ruangannya disusul oleh Tiara.


Yuma dan Roni saling pandang, mereka terlihat kebingungan dengan apa yang baru saja terjadi.


"Pria kecil, apa kamu tau ada masalah apa, kok bos terlihat sangat panik..? Aku belum pernah melihat bos sepanik ini.." tanya Yuma.


"Aku juga gak paham bang.. Tapi tadi aku sempat mendengar sedikit, Tiara bilang kalau nyonya bos pingsan dan dibawa ke klinik. Apa kita ikut menyusul ke klinik saja bang..?" tanya Roni.


"Kamu tau kliniknya kan..? Ayo kita susul bos kesana sekalian kita pastikan kondisi nyonya bos.." ucap Yuma kemudian pergi bersama dengan Roni.


*****


Tak butuh waktu lama untuk sampai ke klinik Sumber Waras. Dewa segera turun dari mobil, dengan tergesa-gesa dia langsung menuju ruang tunggu pasien dan melihat Silvia sangat gelisah menunggu Naia yang sedang diperiksa oleh dokter.


Mengetahui kedatangan Dewa, Silvia segera menghampiri Dewa, "Bagaimana Vi, apa kata dokter..?" tanya Dewa.


"Naia masih diperiksa sama dokter. Aku juga tidak tau apa yang terjadi dengan Naia, tiba-tiba saja pas kita mau pulang, Naia pingsan di parkiran, padahal sebelumnya tidak ada tanda-tanda kalau dia sakit. Apa mungkin dia diserang sesuatu yang tidak kasat mata mas..?" Silvia menjelaskan kepada Dewa.


"Semoga saja tidak.. Tapi kalau memang ada yang berani menyerang dia, maka aku akan membuatnya tidak bisa melihat matahari lagi.. Eeemmmm.., apakah dulu Naia pernah mengalami hal seperti ini..?" tanya Dewa.


"Belum pernah, ini pertama kali Naia mengalami hal seperti ini. Sebaiknya kita tunggu saja pemeriksaan dokter.." ucap Silvia.

__ADS_1


Silvia dan Dewa menunggu hasil pemeriksaan dokter dengan perasaan cemas. Setelah beberapa saat, dokter keluar dari ruang pemeriksaan, "Apakah ada keluarga dari mbak Naia..?"


"Saya dokter, saya suami dari Naia. Bagaimana kondisi istri saya dokter, apakah terjadi sesuatu yang serius pada kesehatan istri saya dok..?" tanya Dewa dengan wajah tegang.


"Iya benar, bahkan bisa dibilang ini sangat serius....." Dewa segera memotong ucapan dokter.


"S-sangat serius, mak-maksudnya bagaimana dokter..? Apa yang terjadi dengan istri saya..?" sahut Dewa sambil memegang kedua lengan dokter.


"Tenang mas, biarkan saya menyelesaikan ucapan saya dulu. Begini, jika istrimu terus kelelahan seperti ini, maka bersiaplah kehilangan janin yang ada di dalam perut istrimu.." ucap dokter.


"J-jadi Naia hamil dok..? Alhamdulillah..." sahut Silvia dengan perasaan lega dan bahagia.


Perasaan lega dan bahagia juga terpancar pada wajah Dewa, Tiara, Yuma dan Roni. Mereka serempak mengucapkan syukur kepada Sang Maha Hidup dan Menghidupi.


"Hah..? Apakah benar istri saya hamil dok..? Alhamdulillah... A-aku akan menjadi seorang ayah.. Dimana istriku dokter, apakah aku bisa menemuinya..?" tanya Dewa.


"Istrimu sekarang sedang diperiksa oleh dokter Naning, spesialis kandungan untuk memastikan kondisi janin yang ada di perutnya. Masuk saja lurus, ruangan kedua setelah ruangan perawat. Selamat ya mas, tolong dijaga istrinya, jangan sampai hal seperti ini terjadi di kemudian hari.." ucap dokter sambil tersenyum.


"Baik dokter, terimakasih atas nasehatnya.." ucap Dewa kemudian menuju ruangan dimana Naia diperiksa.


Dokter Naning sangat terkejut sehingga langsung menegur Dewa, "Loh siapa mas ini, mengapa masuk ke ruang periksa..? Apakah mas tidak melihat tanda bahwa dokter sedang memeriksa pasien..?!"


"Oh, maaf dokter. Saya suami dari pasien, maafkan saya karena langsung masuk tanpa mengetuk pintu.." ucap Dewa.


"Mas Dewa..? Dia suami saya dok, mungkin dia khawatir karena tidak tau kalau saya dibawa ke klinik ini.." ucap Naia pelan.


"Oh begitu.. Tapi lain kali tolong ketuk pintu dulu, atau setidaknya bilang sama perawat yang berjaga di depan sehingga tidak terjadi salah paham lagi.." ucap dokter Naning kemudian melanjutkan memeriksa perut Naia.


"Bagaimana kondisi anak saya dokter, apakah ada masalah..?" tanya Naia pelan.


"Alhamdulillah, kondisi janin bagus, sehat dan saat ini berusia enam minggu. Tapi tolong jaga kondisi dan jangan sampai kecapekan lagi.. Eh sebentar-sebentar..." dokter Naning melihat monitor di sampingnya dengan serius sambil menggerak-gerakkan alat yang menempel di perut Naia.


"Ada apa dokter, apakah terjadi sesuatu dengan anak kami..?" tanya Dewa khawatir.

__ADS_1


Dokter Naning tersenyum kemudian berkata, "Ternyata di dalam rahim istrimu tidak hanya ada satu, tapi ada dua janin. Selamat kalian akan memiliki anak kembar. Untuk jenis kelaminnya masih belum bisa diketahui, mungkin dalam empat atau lima minggu lagi baru bisa terdeteksi.." ucap dokter Naning kemudian menarik kertas yang keluar dari mesin periksa.


"Alhamdulillah.... Tidak perduli apa jenis kelaminnya, yang penting anak kami sehat dan sempurna.." ucap Naia.


Dewa berjalan kesamping Naia, kemudian mencium kening istrinya, "Terimakasih sayang. Maaf aku terlalu sibuk sehingga tidak mengetahui kondisimu.." ucap Dewa.


"Iya mas, aku bisa ngerti kok. Yang penting kita jaga bersama mereka, bos kecil kita.." ucap Naia sambil memegang perutnya, kemudian mencium Dewa.


"Sebentar saya tuliskan dulu resep obat untuk penguat kandungan dan vitamin.." ucap dokter Naning.


"Berikan vitamin dan obat terbaik buat istri saya dok.." ucap Dewa.


"Apapun obatnya sama saja, obat terbaik untuk istri dan calon anakmu adalah perhatianmu sebagai seorang suami dan calon ayah.." sahut dokter Naning kemudian menjelaskan kepada Dewa dan Naia apa yang harus dihindari pada saat awal kehamilan.


*****


Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya Silvia tersenyum lega melihat Naia bersama dengan Dewa keluar. Silvia langsung memeluk Naia sambil bertanya tentang kondisi Naia, "Apa kata dokter..? Apakah calon bayimu baik-baik saja..?"


"Alhamdulillah mereka sehat.. Sebentar lagi mereka pasti akan merepotkan kamu.. Hihihihi.." jawab Naia.


"Mereka..? Maksudnya mereka siapa..? Aku tanya bayi yang ada di perutmu, kok mereka..?" tanya Silvia bingung.


"Iya mereka, karena disini gak cuma satu tapi ada dua.." jawab Naia.


"Haaa..!! Berarti kembar..? Makin gak sabar denger mereka menangis bareng.. Kalian baik-baik ya di dalam, tante akan sabar menunggu kalian. Nanti tante pasti akan berikan apapun yang kalian mau.." ucap Silvia sambil memegang perut Naia.


"Tiara, tolong bantu tebus resep ini di apotik ya..?" ucap Dewa sambil memberikan secarik kertas.


"Wah.. Selamat ya bos.. Oiya bos sekalian aku minta ijin kedepan aku tidak bisa lagi loyal kepada bos Dewa, karena sebentar lagi aku akan punya dua bos kecil yang pastinya akan membuat aku tidak punya waktu untuk melayanimu lagi bos... Hehehehe.." gurau Yuma.


"Bener bang, aku juga seperti itu sepertinya. Gak pa pa lah bos pecat kami, karena aku yakin mereka lebih garang daripada bos besar.. Hahahaha.." sahut Roni.


"Eh.. Kalian itu bercanda saja. Mana boleh seperti itu..?" sahut Naia.

__ADS_1


"Sudah gak udah ditanggapi mereka itu.. Yud, kamu temani Tiara ambil obat, lalu setelah selesai, antar Tiara ke rumahku. Ron, kabarkan berita ini kepada semua yang ada di kantor. Jangan lupa pesan nasi kotak, hitung semua yang ada di kantor beserta keluarganya. Jangan lupa juga untuk keluarga mbah Sastro, Kartika, mbah Binti, juga semua dokter dan perawat yang ada di klinik ini.." ucap Dewa.


"Siap bos, sesuai perintah.." ucap mereka hampir bersamaan.


__ADS_2